Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Barang Branded tapi KW Dijadikan Hadiah, Lalu Dijual sebagai Barang Ori. Jual Barang Pemberian Itu Etikanya di Mana?

Mempertanyakan etika menjual barang pemberian orang

Ajeng Rizka oleh Ajeng Rizka
30 Agustus 2021
A A
ilustrasi Barang Branded tapi KW Dijadikan Hadiah, Lalu Dijual sebagai Barang Ori. Jual Barang Pemberian Itu Etikanya di Mana? mojok.co

ilustrasi Barang Branded tapi KW Dijadikan Hadiah, Lalu Dijual sebagai Barang Ori. Jual Barang Pemberian Itu Etikanya di Mana? mojok.co

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Ngasih hadiah ke orang lain berupa barang branded mahal memang bikin gengsi kita naik. Tapi, kalau cuma buat “kelihatan” berduit lalu ngasih barang KW, itu nggak ngotak.

Beberapa orang seleb lagi santer dibicarakan perkara ribut-ribut tas mahal senilai Rp380 juta yang begitu saja diumbar ke publik yang kebanyakan lagi memperjuangkan UMR. Keributan ini nggak penting dan bikin kita bodoh. Lalu, sehari kemudian, muncul desas-desus lain soal seleb yang menjual tas mahal dan barang branded KW dengan harga original. Bodohnya, kok banyak seleb yang ketipu.

Kita layak berteriak “BODO AMAT, NDES!” ke seleb-seleb yang punya gaya hidup mobat-mabit, sama sekali nggak peka sama keadaan, dan tampil ke publik bak “penyelamat yang akan memotivasi kalian cari uang”. Hilih kintil. Tapi, ada satu hal mahakonyol yang layak kita obrolin lebih jauh, yaitu kebiasaan beberapa seleb yang menjual lagi barang pemberian atau kado dari orang lain. Sekilas kelihatan nggak menghargai pemberian orang dong.

Aib pemilik sosialita pebisnis centang biru di ig, yg terbuka satu demi satu. Seram pic.twitter.com/rRyym8Y74k

— Gitcha (@itsgitcha) August 28, 2021

Perlu diketahui, orang kaya atau setidaknya yang merasa kaya, memang sering punya kebiasaan bertukar hadiah, bertukar kado, atau hampers. Sebagian dari tujuan pemberian ini tentu bukan murni karena pengin membahagiakan orang lain atau ngasih sumbangan, wong yang dikasih juga sama-sama orang kaya. Mereka punya misi membentuk relasi sosial hingga melanggengkan pride sebagai sosialita. Ya liat aja, kalau musim mau lebaran, mereka juga pasti berlomba-lomba bikin hampers mahal nan bagus biar orang-orang yang dikasih bisa mengunggah nama mereka di akun-akun media sosial. Semakin keren hampers-nya, semakin orang-orang respek dan pengin berteman. Relasi sosial yang kemungkinan bisa dijadikan relasi bisnis pun terbentuk.

Barang branded juga kerap dipertukarkan saat ada special occasion, misal saat ulang tahun, menikah, melahirkan anak, hingga sekadar pindahan rumah. Lucunya, ada seleb yang memberikan barang branded KW sebagai hadiah. Kurang lebih ya tujuannya biar kelihatan ngasih barang bagus dan mahal. Biar pride-nya makin tinggi. Bisa jadi, orang yang dikasih barang branded tapi KW itu juga nggak menyadari. Teknologi membuat barang KW bisa sangat mirip dengan perbandingan 1:1. Iya, bedanya cuma dari segi produsen. Barang branded asli diproduksi oleh pemilik brand resmi, barang KW diproduksi oleh pabrik lain.

Sayangnya ada hal yang lebih nggak habis pikir, yaitu menjual barang pemberian dari orang lain. Sebab saya bukan termasuk kalangan sosialita, saya tentu nggak ngerti seberapa lumrah hal ini. Yang saya tahu, kalau dikasih hadiah dari orang lain, ya baiknya barang itu disimpan sebagai kenangan dari orang tersebut.

Barang branded yang diberikan sebagai hadiah mungkin saja memang menggiurkan untuk dijual. Nggak heran karena harganya memang puluhan hingga ratusan juta rupiah. Lumayan tuh kalau lagi BU. Tapi, lagi-lagi, kita harus berpikir dengan perspektif orang kaya, orang kaya beneran lho ya! Uang puluhan sampai ratusan juta bagi mereka kan kayak recehan. Masa sih mengorbankan barang hadiah untuk dijual?

Gini aja deh, kita menganalogikan barang branded orang kaya adalah kado yang terbilang “lumayan” bagi kita. Misalnya saya dapat kado tas Kanken (ini bagi saya barang branded), mirip dengan orang kaya yang dapat tas Hermes. Tentu saja saya nggak akan menjual tas ini. Kalaupun sudah bosan dan punya pengganti yang lebih oke, tas Kanken pemberian teman bakal saya hibahkan ke adik, sahabat dekat, atau orang yang memang butuh tas.

Beberapa kawan yang saya kenal saat dapat kado pernikahan yang terbilang lumayan, tapi nggak terpakai, juga kerap mentransformasikan barang itu menjadi hadiah untuk orang lain. Jadi setidaknya, saat butuh memberikan kado ke kawan lain yang menikah, mereka nggak perlu pusing cari hadiah lagi. Pemberian yang berakhir jadi pemberian. Ini etika sederhana untuk menghargai orang pemberi hadiah. 

Saat ibu saya dapat banyak parcell lebaran berupa biskuit kaleng yang memang jadi template standar itu, blio juga menyimpannya untuk cangkingan saat berkunjung ke rumah saudara atau minimal untuk oleh-oleh tamu. Tidak ada di antara kaleng-kaleng biskuit itu yang kemudian dijual kembali meskipun jumlahnya bisa sampai lusinan. Kembali lagi, ini memang etika sederhana.

Sulit membayangkan betapa kacaunya dunia orang kaya yang punya kebiasaan memberikan barang branded, tapi KW, lalu barang itu berakhir dijual lagi sebagai barang ori. Yang beli kok ya juga nggak sadar kalau ternyata itu barang KW, nggak habis pikir. Mungkin itulah sebabnya banyak netizen di unggahan soal keributan seleb ini yang nggak bisa berkomentar saking nggak relate-nya. Kebanyakan masih berada di fae kaget, kok bisa-bisanya orang beli tas ratusan juta yang fungsinya buat wadah dompet dan hape. Sebanyak 380 juta sudah bisa beli rumah sederhana untuk keluarga kecil bahagia.

BACA JUGA Rachel Vennya dan Medina Zein Ngeributin 380 Juta, dengan Bodohnya Kita Merayakannya atau artikel AJENG RIZKA lainnya. 

Terakhir diperbarui pada 30 Agustus 2021 oleh

Tags: barang brandedbarang KWorang kayaselebgramtas mahal
Ajeng Rizka

Ajeng Rizka

Penulis, penonton, dan buruh media.

Artikel Terkait

Saya Setuju Orang Jakarta Tajir Tak Betah Slow Living di Desa (Unsplash)
Pojokan

Orang Tajir Jakarta Tak Akan Sanggup Slow Living di Desa karena Menolak Srawung Itu Omong Kosong Kebanyakan Gagal Betah karena Ulahnya Sendiri

7 April 2026
Tuntutan sosial dan gengsi bikin kelas menengah jadi orang kaya palsu hingga abaikan tabungan demi kejar standar sukses MOJOK.CO
Urban

Gara-gara Tuntutan, Nekat Jadi Orang Kaya Palsu: “Hambur-hamburkan” Uang demi Cap Sukses padahal Dompet Menjerit

14 Maret 2026
Lula Lahfah Beri Pelajaran Penting tentang Kabar Duka: Saat Kematian Tak Dibiarkan Hening MOJOK.CO
Esai

Lula Lahfah Beri Pelajaran Penting tentang Kabar Duka: Saat Kematian Tak Dibiarkan Hening

28 Januari 2026
kebiasaan flexing mojok.co
Sosial

Fenomena Orang Tajir Pamer Kekayaan, Pakar UGM Ungkap Alasan Flexing

1 Maret 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Atlet pencak silat Unair, Faryska Ozi Faradika. MOJOK.CO

UKM Pencak Silat Unair Selamatkan Mimpi Atlet PSHT, Gelanggang Pertandingan Lebih “Menyeramkan” daripada Ruang Kelas Kuliah

20 April 2026
Pertamax Turbo Naik, Curiga Pertamax dan Pertalite Langka Stres

Kata Siapa Pemakai Pertamax Turbo Nggak Ngamuk Melihat Kenaikan Harga? Saya Juga Stres karena Curiga Pertamax dan Pertalite Akan Jadi Barang Langka

19 April 2026
Beli produk hp Apple, iPhone

Pengguna iPhone Ingin “Naik Kelas” Bikin Muak, Gaya Elite padahal Dompet Sulit

22 April 2026
Deep talk dengan bapak setelah 25 tahun merasa fatherless, akhirnya tahu kalau selama ini bapak juga sangat kesepian MOJOK.CO

Baru Deep Talk dengan Bapak di Usia 25, Bikin Sadar kalau Selama Ini Dia Sangat Kesepian dan Pikul Beban Sendirian

20 April 2026
Orang Desa Nggak Cocok Jadi PNS Jika Tak Punya Ilmu Menjilat Atasan. MOJOK.CO

PNS Tinggalkan Suasana Slow Living di Desa karena Muak dengan Teman Kantor yang Suka Menjilat Atasan, Ujungnya Malah Bernasib Lebih Buruk

17 April 2026
Pasang WiFi IndiHome di kos. MOJOK.CO

Penyesalan Pasang WiFi di Kos: Dipalak Mahasiswa yang Kerjanya Main Game Online Ramai-ramai dan Ibu Kos yang Seenaknya Sendiri

22 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.