Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Rachel Vennya dan Medina Zein Ngeributin 380 Juta, dengan Bodohnya Kita Merayakannya

Rachel Vennya dan Medina Zein terlibat utang piutang sebesar Rp380 juta di hadapan rata-rata followersnya yang nggak tahu itu seberapa banyak.

Ajeng Rizka oleh Ajeng Rizka
29 Agustus 2021
A A
ilustrasi Nggak Ada Pelajaran yang Bisa Dipetik dari Kasus Rachel Vennya kabur dari Wisma Atlet mojok.co
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Saya pernah begitu muak dengan artis dan influencer Indonesia yang pamer kekayaan dan bersembunyi di balik misi “memotivasi orang-orang”. Pada dasarnya di negara kita, nasib berbicara lebih lantang daripada usaha dan keuletan. Lalu, siapa sebenarnya yang benar-benar berhasil lebih kaya dari orang yang memotivasinya? Orang yang sudah punya privilese duluan? Kali ini urusan utang piutang Rachel Vennya dan Medina Zein menguar di media sosial, mereka membahas ini seolah-olah tanpa dosa. Dan, tahukah kamu apa yang lebih buruk? Netizen “merayakan” kekayaan mereka dalam bentuk pemujaan, pujian, kekaguman.

Sedikit menjabarkan konteksnya, Rachel Vennya tiba-tiba saja mengomentari unggahan Medina Zein dengan nada “menagih utang” Rp380 juta yang juga belum Medina Zein bayarkan sebagai ongkos pembelian tas mewah. Tak lama kemudian muncul klarifikasi dari Medina Zein dan Rachel Vennya yang intinya mereka telah menyelesaikan transaksi, meskipun pakai drama duluan. Mereka sempat bikin netizen mabok darat karena nominal harga tas yang lebih mahal dari harga rumah rata-rata orang Indonesia struggle. Prahara duit itu tambah runyam ketika Citra Kirana juga “menagih” Medina Zein di media sosial.

Iklan

Well, apa pun yang mereka perdebatkan dengan ini saya menyampaikan bodo amat. Mau ada yang utang belom dibayar, alasan beli tas, drama limit transfer, transferannya mental balik, saya nggak peduli. Saya lebih khawatir sama mental netizen yang sedikit-sedikit memuja sosok ignorant yang bahkan nggak mengecek mutasi rekening mereka setiap bulan. Sosok yang nggak bakal merasa bersalah pamer liburan ke sana kemari, naik mobil mewah, pakai tas mewah, dan ke klinik kecantikan seminggu sekali di tengah krisis moral dan ekonomi. Iya, itu memang uang-uang mereka sendiri. Tapi, media sosial juga konsumsi informasi banyak orang. Mereka punya sekian banyak audiens yang akan “terpengaruh” dengan apa pun yang mereka katakan. Herannya, orang begini kok banyak dijadikan panutan?

Saya nggak munafik, saya juga follow banyak influencer Indonesia dan akun gosip karena saya pikir apa yang ramai dibicarakan anak muda, budaya populer baru yang mulai terbentuk, penting saya ikuti karena saya bekerja di sebuah media. Tapi, kok lama-lama ngeselin juga ya? Jangan salah paham, saya bukannya menyalahkan semua influencer dan menganggap profesi mereka sama sekali tidak ada yang berguna. Awalnya saya memang berpikir begitu, dalam hati yang senyap selalu bertanya, “Apa sih gunanya influencer?” Lalu membayangkan sosok Rachel Vennya, Awkarin, dan jajaran selebgram mahal dengan segala konten mereka yang nggak ada spesifikasinya (spesifik bergaya hidup mungkin, iya).

Lalu, obrolan ini pernah benar-benar saya lantaikan bersama beberapa redaktur Mojok di suatu hari yang terik. Agus Mulyadi sebagai orang yang juga layak disebut influencer memiliki alasan yang cukup bagus. “Influencer termasuk profesi yang bisa diraih siapa saja. Termasuk dari kalangan yang tidak berduit dan tidak berakal. Dari kalangan yang rupawan dan tidak rupawan. Kerja marketing mereka juga benar-benar berimbas ke sektor UMKM dan banyak usaha online.”

Untuk poin yang dikatakan Agus Mulyadi, saya sulit menyangkal. Namun, seseorang yang tidak kaya dan tidak rupawan akan menyusuri jalan yang jauh lebih terjal untuk menjadi seorang influencer. Kalau gaya hidupnya nggak mirip-mirip Rachel Vennya atau minimal nggak kenal dia, bakal sulit rasanya dipuja sebegitu banyak orang dan ditasbihkan sebagai orang “terkenal”. Sedangkan orang yang tidak berakal, justru jauh lebih mudah populer karena masyarakat nggak butuh ada influencer pintar, masyarakat menyenangi drama dan kontroversi, lalu dengan mudah memaafkan sosok yang sebelumnya penuh gimik.

Agus Mulyadi menjadi influencer itu satu dari sekian anomali yang pada akhirnya ia pun tidak punya tarif endorsement yang sama dengan Rachel Vennya. Udah beda lagi tujuannya.

Memperdebatkan uang Rp380 juta kayak Rachel Vennya dan Medina Zein seketika bikin orang menyadari bahwa ada “sesuatu yang nggak beres”. Sebagian ornag-orang ini lalu memilih unfollow dan sebagian lainnya bersyukur karena semenjak sebelumnya juga nggak follow mereka berdua. Saya yakin yang begini juga banyak, latang mengatakan bahwa influencer Indonesia kebanyakan memang “nggak berguna” dan marketing yang mereka jalankan juga nggak ngaruh. Tapi, tahukan kamu bahwa terkadang yang kamu lakukan adalah hal sebaliknya?

Sebuah penelitian di Australia menyajikan data bahwa hanya 3% masyarakat yang mengaku mempercayai informasi dari influencer. Tapi, yang benar-benar terjadi, influencer sangat mudah menciptakan tren yang membuat hampir sebagian besar masyarakat terlibat. Ini mungkin juga bisa terjadi di Indonesia.

Sebagian besar netizen boleh saja mengaku mereka nggak follow Rachel Vennya dkk., tapi justru dari Rachel sebuah tren bisa terbentuk. Yang terjadi adalah, kita begitu malu mengakui bahwa kita percaya influencer. Orang-orang terpengaruh atas apa yang dilakukan influencer tanpa mereka sadari. Hampir sama kayak iklan televisi dan iklan di majalah, orang selalu mengaku mereka “tidak terbeli” dengan iklan dan promosi. Padahal perilaku mereka ya sebenarnya sedang kemakan iklan itu sendiri.

Lalu apa yang selanjutnya perlu kamu lakukan buat terhindar dari jerat semu gaya hidup influencer? Ya berhenti mengonsumsi informasi soal mereka. Mulai dari unfollow, nggak ngikutin drama teman-temannya, dan sadar betul bahwa hidup ini tak semudah Instastory Rachel Vennya.

BACA JUGA Ternyata Alasan Rachel Vennya Lepas Hijab Bisa Saya Pahami karena Saya Juga Alami Hal yang Sama atau artikel AJENG RIZKA lainnya. 

Terakhir diperbarui pada 29 Agustus 2021 oleh

Tags: gaya hidupinfluencerinfluencer indonesiamedina zeinrachel vennyaselebgramtas mewah
Ajeng Rizka

Ajeng Rizka

Penulis, penonton, dan buruh media.

Artikel Terkait

Ruang Publik dan Hak untuk Tidak Dijadikan Konten Influencer MOJOK.CO

Ruang Publik dan Hak untuk Tidak Dijadikan Konten Influencer

3 Agustus 2026
Beli Saham karena Finfluencer, Rugi Ditanggung Sendiri? MOJOK.CO

Beli Saham karena Finfluencer, Rugi Ditanggung Sendiri?

20 Juli 2026
Stigma yang Membuat Saya Menderita: Menikah dengan Bule adalah Jalur Cepat Jadi Seleb Medsos MOJOK.CO

Stigma yang Membuat Saya Menderita: Menikah dengan Bule adalah Jalur Cepat Jadi Seleb Medsos

24 April 2026
Kelas menengah ke bawah harus mawas diri Kalau pemasukan pas-pasan jangan maksa gaya hidup dalam standar dan tren media sosial MOJOK.CO

Kelas Menengah ke Bawah Harus Mawas Diri, Pemasukan Pas-pasan Gaya Hidup Jangan Pakai Standar dan Tren Media Sosial

6 April 2026
Gaya hidup pemuda desa bikin tak habis pikir perantau yang merantau di kota. Gaji kecil dihabiskan buat ikuti tren orang kaya. MOJOK.CO

Gaya Hidup Pemuda di Desa bikin Kaget Perantau Kota: Kerja demi Beli iPhone Lalu Resign, Habiskan Uang buat Maksa Sok Kaya

6 April 2026
Cara Gen Z memulihkan hati dengan lari dan menanam bibit pohon lewat program OAOT. MOJOK.CO

Obati Patah Hati dengan Lari 176 km: Cara Gen Z Menebus Dosa Lingkungan Sambil Jadi Pelari Kalcer

14 Februari 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

ilustrasi - pekerja (Ega Fansuri/Mojok.co)

Pelarian Laki-laki Burnout usai Dihantam Pekerjaan tapi Dipaksa Kuat karena Tuntutan Kepala Keluarga Ideal

20 Agustus 2026
Grup WhatsApp keluarga, tempat menghakimi hidup orang lain (Unsplash)

Grup WhatsApp keluarga bukan tempat silaturahmi, tapi sumber stres baru ketika berubah menjadi ruang sidang untuk menghakimi hidup orang lain

18 Agustus 2026
Melalui hidangan Buntil Salmon, Sasanti Restaurant menghadirkan telisik gastronomi dan permakultur yang memberi pengalaman mengesankan dalam mengeksplorasi kekayaan kuliner Nusantara. (Nusaplant)

Melalui Buntil Salmon, Sasanti Restaurant Tak Hanya Bicara Rasa tapi Pertemuan Kekayaan Pangan dan Flora Nusantara

21 Agustus 2026
Sisi lain blusukan kampung di Surabaya Pusat. MOJOK.CO

Sisi Lain Tren Blusukan Kampung: Nggak Seru seperti di Medsos, Malah Dicurigai Pencuri dan Dianggap Tak Tau Adab

20 Agustus 2026
Warga Yogyakarta Bisa Perbarui Desil yang Tak Sesuai Data secara Mandiri Lewat Aplikasi. MOJOK.CO

Warga Yogyakarta Bisa Perbarui Desil yang Tak Sesuai Data secara Mandiri Lewat Aplikasi

21 Agustus 2026
Penyesalan mahasiswa kiri dan naif: tolak kerja (jadi budak) korporat karena melanggengkan kapitalisme, tapi sadar orang tua belum bahagia MOJOK.CO

Sesal Mahasiswa Sok Kiri Anti Kapitalisme dan Naif: Tolak Kerja Korporat, Tapi Sadar Belum Bantu Ekonomi Orang Tua

21 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026
Bukan Sekadar Beternak Karang Taruna Bono dan Upaya Menghidupkan Ekonomi Warga

Dari Ternak untuk Desa: Geliat Karang Taruna Bono Menghidupkan Ekonomi Warga

31 Juli 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.