Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Alasan Orang Tua Ingin Anaknya Jadi PNS

Mau negara dalam keadaan krisis ekonomi pun, profesi kayak PNS ini dianggap lebih stabil dan aman.

Ahmad Khadafi oleh Ahmad Khadafi
8 November 2021
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Kalau anak muda punya stigma buruk terhadap PNS, orang tua atau calon mertua juga punya stigma negatif terhadap pekerja swasta.

“Gue kok nggak tertarik sama sekali ya jadi PNS, mau tunjangan gede atau gimana tetep nggak ada minat sama sekali buat berkarier di sana. Mau ditawari jadi PNS tanpa tes (andaikata) juga bakal tetep nolak. Misal ada job lain ya mending yang lain. Kalau itu satu-satunya job terakhir mending nggak.”

Kutipan itu merupakan salah satu komentar di media sosial yang mencungul di timeline saya. Pesan idealis ala anak muda yang saya paham betul maksudnya apa—karena saya juga masih muda (insya Allah).

Walaupun jadi PNS dianggap membanggakan bagi orang tua dan calon mertua, pada kenyataannya stigma PNS bagi generasi muda masih seburuk layaknya stigma PNS zaman dulu.

Tiap pagi dikira cuma baca koran dan ngopi, siang main Zuma (atau mungkin sekarang sudah upgrade jadi Mobile Legend?), sore ngopi atau main pingpong, jelang magrib pulang sambil haha-hihi. Gitu aja terus selama lima hari kerja. Akhir bulan terima gaji dan tunjangan.

Meski menjadi profesi yang tidak keren di kalangan anak muda, PNS tidak bisa dipungkiri merupakan kerjaan yang punya tingkat keamanan karier cukup tinggi. Mau negara dalam keadaan krisis ekonomi pun, profesi ini dianggap stabil.

Ambil contoh pada masa pandemi saja, ada banyak rekan-rekan saya sesama pekerja media (yang tentu saja swasta) harus di-PHK. Banyak media kukut atau—minimal—memotong gaji pegawainya pada ambang batas yang rada-rada mengkhawatirkan.

Kabar seperti ini, harus diakui, banyak menimbulkan kekhawatiran bagi banyak orang tua. Bagi mereka, kerjaan di bidang kreatif atau industri swasta merupakan wilayah penuh risiko. Terutama kalau keadaan negara sedang tidak baik-baik saja.

Apalagi pengalaman ini tidak hanya terjadi ketika masa pandemi saja. Pada masa lalu, orang tua kita (saya juga sih) mengalami krisis ekonomi 1990-an akhir. Banyak pengangguran, ekonomi hancur lebur, dan salah satu bidang profesi yang “aman” ya PNS. Di saat banyak pemecatan di mana-mana, mereka yang sudah PNS terkesan aman sentosa.

Pengalaman itu tak bisa dihapuskan begitu saja meski jadi artis TikTok, konten kreator YouTube, sampai jualan di Shopee bisa saja punya peluang pendapatan jauh lebih besar ketimbang jadi PNS.

Dalam kacamata orang tua, pemandangan ini tidak menggiurkan karena satu hal saja: tidak menawarkan stabilitas. Gaji PNS memang tak begitu besar, tapi kan perusahaan yang menggaji (yakni negara) kemungkinan brangkutnya hampir mustahil.

Apalagi, PNS punya SK yang kerap diincar bank untuk “disekolahkan”. Ada tawaran dana besar dalam bentuk pinjaman yang pembayarannya langsung potong gaji secara otomatis. Belum dengan asuransi kesehatan dan kepastian dana pensiun.

Lebih daripada itu, “keamanan” profesi ini juga terkait pada sulitnya seorang PNS bisa dipecat (sesuatu yang tak ada di sektor swasta). Jadi, sekalipun kurang perform dalam kerjaan, PNS baru dipecat kalau melakukan pelanggaran sangat berat; melakukan tindak pidana misalnya.

Orang tua tentu tidak peduli meski pekerjaan yang kelihatan lembur-lembur di sektor swasta begitu dicintai anaknya sendiri.

Iklan

Bagi mereka, ada proyeksi dalam alam pikirannya saat melihat orang lain yang PNS bisa kerja dengan enteng sedangkan anak mereka yang kerja di sektor swasta terkesan berjibaku tiap harinya. Poinnya: mereka tidak mau anaknya menderita dalam bekerja.

Artinya, jika anak muda punya stigma tak terlalu positif terhadap profesi PNS, orang tua pun punya stigma negatif terhadap kerjaan di sektor swasta.

Stigma semacam ini bisa muncul karena pandangan mereka mengenai perusahaan swasta selalu berputar pada logika kapital, di mana keuntungan selalu dikhususkan untuk bos-bos besarnya dulu ketimbang pegawai-pegawainya (padahal mah negara sebenarnya juga nggak jauh-jauh amat sama model begituan).

Dengan begitu, kalau perusahaan sampai bangkrut, korban pertama adalah pegawai-pegawai di posisi bawah-bawah. Posisi yang di pikiran banyak orang tua adalah posisi anak-anak mereka.

Ketakutan inilah yang kemudian jadi suatu kepercayaan yang tak terelakkan dalam alur berpikir banyak orang tua di Indonesia. Alur berpikir yang bahkan masih dipakai ketika menghadapi calon menantu.

“Sebentar, kerjanya kamu apa? PNS bukan?”

BACA JUGA DPR Minta Seleksi CPNS 2021 Diulang karena Ada Kecurangan dan ESAI lainnya.

Terakhir diperbarui pada 8 November 2021 oleh

Tags: asuransi kesehatanCpnsgajiMediaPNSpotong gajiSK PNSswasta
Ahmad Khadafi

Ahmad Khadafi

Redaktur Mojok. Santri. Penulis buku "Dari Bilik Pesantren" dan "Islam Kita Nggak ke Mana-mana kok Disuruh Kembali".

Artikel Terkait

PNS tetap WFO saat WFH
Sehari-hari

PNS Lebih Pilih Tetap Pergi ke Kantor saat WFH, Takut Tergiur “Godaan” Kelayapan Malah Berujung Gagal Hemat BBM

8 April 2026
Ribetnya lolos seleksi CPNS dan jadi PNS/ASN di desa: dibayangi standar hidup sukses yang merepotkan MOJOK.CO
Urban

Ikut Seleksi CPNS di Formasi Sepi Peminat sampai 4 Kali, setelah Diterima Malah Menyesal karena Nggak Sesuai Ekspektasi

8 April 2026
Ikuti paksaan orang tua kuliah jurusan paling dicari (Teknik Sipil) di sebuah PTN Semarang biar jadi PNS. Lulus malah jadi sopir hingga bikin ibu kecewa MOJOK.CO
Edumojok

Kuliah di Jurusan Paling Dicari di PTN, Setelah Lulus bikin Ortu Kecewa karena Kerja Tak Sesuai Harapan

7 April 2026
Warga Desa Sebenarnya Muak dengan Orang Kota yang Datang Buat Sok Slow Living: Arogan, Tak Membaur, Anggap Warga Asli Cuma “Figuran” MOJOK.CO
Urban

Tiga Kali Gagal Seleksi CPNS, Pas Sudah Diterima Jadi ASN Malah Tersiksa karena Makan “Gaji Buta”

7 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Slow living di desa, jakarta.MOJOK.CO

Orang Jakarta Tak Akan Sanggup Slow Living di Salatiga Selama Masih Anti-Srawung, Modal Financial Freedom pun Tak Cukup

6 April 2026
Siswa terpintar 2 kali gagal UTBK SNBT ke Universitas Brawijaya (UB). Terdampar kuliah di UIN malah jadi mahasiswa goblok dan nyaris DO MOJOK.CO

Gelar Siswa Terpintar Tak Berarti buat Kuliah UB, Terdampar di UIN Malah Jadi Mahasiswa Goblok, Nyaris DO dan Lulus Tak Laku Kerja

3 April 2026
Saya Setuju Orang Jakarta Tajir Tak Betah Slow Living di Desa (Unsplash)

Orang Tajir Jakarta Tak Akan Sanggup Slow Living di Desa karena Menolak Srawung Itu Omong Kosong Kebanyakan Gagal Betah karena Ulahnya Sendiri

7 April 2026
Tinggalkan Jakarta demi punya rumah desa untuk slow living, berujung kena mental karena ulah tetangga MOJOK.CO

Orang Jakarta Nyoba Punya Rumah di Desa, Niat Cari Ketenangan Berujung Frustrasi karena Ulah Tetangga

7 April 2026
kuliah di jurusan sepi peminat.mojok.co

Nekat Kuliah di Jurusan Sepi Peminat PTN Top: Menyesal karena Meski Lulus Cumlaude, Ijazah Dianggap “Sampah” di Dunia Kerja

2 April 2026
Pilih resign dan kerja jadi penulis di desa ketimbang kerja di luar negeri di Singapura

Resign dari Perusahaan Bergaji 3 Digit di Luar Negeri karena Tak Merasa Puas, Kini Memilih Kerja “Sesuai Passion” di Kampung Halaman

2 April 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026
Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

2 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.