Jogja sarangnya perantau. Terlepas dari upah minimum yang rendah dan narasi orang Jogja merantau ke kota yang lebih besar, daerah tetap jadi primadona bagi beberapa orang. Terlebih bagi mereka yang ingin mendapat pendidikan yang lebih baik. Kota ini dijuluki sebagai Kota Pelajar bukan tanpa alasan.
Mungkin itu mengapa saya bisa menjumpai berbagai macam orang di Jogja. Beberapa waktu lalu saya pernah cerita tentang betapa banyaknya orang Wonosobo di Jogja. Kali ini saya menemukan fakta menarik, tidak sedikit pula orang Pati yang merantau ke Jogja, bahkan menetap di sini. Dan, kawan saya adalah salah satunya,
Teman saya ini merantau sejak kuliah di Jogja pada 2017. Sempat beberapa kali kerja di daerah lain hingga akhirnya menetap di kota ini lagi sampai sekarang. Bahkan, dia sudah memegang KTP Yogyakarta.
Kini mungkin sudah tidak banyak culture shock dia rasakan. Namun, ketika pertama kali merantau, kekagetan itu benar-benar terasa. Walau jarak Pati dan Jogja tidak begitu jauh ada banyak hal yang ternyata lumrah di Pati, tapi nggak wajar di Jawa.
#1 Orang Pati terbiasa menyalip dari kiri
Perbedaan cara berkendara jadi satu hal yang paling dia rasakan. Dia baru menyadari kalau orang-orang Jogja lebih sering menyalip dari sisi kanan. Sementara di Pati, pengendara lebih sering menyalip dari sisi kiri. Perbedaan cara berkendara ini membuatnya sempat menerima umpatan dari pengendara lain.
Selain menyalip, sebenarnya cara berkendara orang Pati dan Jogja pada umumnya sudah berbeda. Pati terasa lebih ugal-ugalan dan sering klakson. Sementar di Jogja lebih kalem dan tenang. Betapa kaget teman saya ketika mendapat tatapan tajam dari banyak orang ketika membunyikan klakson di perempatan.
#2 Seserahan pernikahan yang fantastis
Mungkin tidak semua daerah dan orang Pati merasakan ini. Namun, teman saya cerita, budaya pernikahan yang jor-joran jadi sesuatu yang biasa di Pati. Lebih spesifiknya lagi, jor-joran dalam hal seserahan.
Saat pernikahan, pengantin laki-laki biasanya akan memberi seserahan berupa barang-barang dan dipajang didekat tempat akad atau resepsi pernikahan. Barang yang jadi seserahan nggak main-main, mulai dari sepatu, pakaian, makeup, hingga barang mewah seperti mobil dan lemari jati.
Salah satu tulisan di Terminal Mojok pernah membahasnya dalam judul Pemuda Pati Takut Menikah karena Standar Mahar Nggak Masuk Akal seperti Duit Ratusan Juta, Motor, bahkan Mobil.
Sementara di Jogja, budaya pernikahannya tidak seperti itu. Mungkin ada juga yang jor-joran, tapi tidak dalam bentuk barang yang dipamerkan.
Baca juga Nggak Enaknya Jadi Orang Pati Itu Ketika Ditanya Asal Daerah.
#3 Perlu meluangkan waktu dan energi untuk mencari hiburan
Bagi orang Pati, mencari hiburan berarti harus meluangkan waktu dan energi ekstra. Apalagi kalau mencari hiburan kekinian seperti ngemal, mencicipi makanan atau minuman franchise terkenal, hingga nonton bioskop dengan banyak pilihan film. Mereka harus pergi ke kota besar terdekat seperti Kudus atau Semarang untuk mendapat pengalaman itu.
Di Jogja tidak demikian, mencari hiburan semacam itu tinggal pergi menuju mal atau pusat perbelanjaan terdekat. Soal hiburan ini terdengar sepele memang, tapi sungguh bikin kaget orang-orang Pati yang baru pertama kali merantau ke Jogja.
#4 Pati panas ora umum
Cuaca panas di Jogja tidak ada apa-apanya dibanding Pati. Apabila orang Jogja mengeluhkan hari yang panas, bagi orang Pati itu masih biasa saja. Sebab, panasnya Pati benar-benar berada di level lain.
Teriknya matahari Pati mungkin sama saja dengan Jogja ya. Bedanya, angin yang berhembus di Pati itu panas, sementara Jogja tidak. Angin yang berhembus nggak bikin adem, malah bikin semakin gerah.
#5 Suaranya keras
Bagi kuping orang Jogja, suara orang Pati itu kencang. Itu mengapa, ketika pertama kali merantau ke Jogja, teman saya sempat beberapa kali diingatkan untuk mengecilkan suara ketika ngobrol. Padahal volume suara seperti itulah yang sehari-hari digunakan di kampung halamannya.
Volume suaranya mungkin sudah lebih kalem sekarang seperti banyak orang Jogja lain. Tapi, dia mengaku secara otomatis akan menggunakan volume yang kencang ketika balik ke kampung halaman dan ngobrol dengan keluarga atau teman-teman. Diakui teman saya, suara yang keras ini memang jadi salah satu ciri khas orang Pati dan orang-orang daerah pesisir.
Itulah hal-hal yang dianggap wajar di Pati, tapi kurang lumrah di Jogja. Tulisan ini nggak bermaksud menyudutkan daerah mana pun. Teman saya berbagi pengalaman agar bisa jadi pelajaran bagi mereka yang pengin merantau di Jogja. Terlebih bagi mereka yang berasal dari Pati.
Penulis: Kenia Intan
Editor: Yamadipati Seno
BACA JUGA 4 Hal yang Wajar di Tegal, tapi Nggak Lazim dan Bikin Bingung Pendatang dan catatan menarik lainnya di rubrik POJOKAN.














