Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Nggak Enaknya Jadi Orang Pati Itu Ketika Ditanya Asal Daerah

Restu AK oleh Restu AK
28 Agustus 2020
A A
Nggak Enaknya Jadi Orang Pati itu Ketika Ditanya Asal Daerah mojok.co

Nggak Enaknya Jadi Orang Pati itu Ketika Ditanya Asal Daerah mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Setelah beberapa hari lalu membaca tulisan di Teminal Mojok tentang pengenalan Kota Pati melalui julukannya, sebagai sesama pemuda kebanggan Pati, cielah, saya berterima kasih kepada Mas Yuarandhi sudah memperkenalkan Pati kepada khalayak umum. Namun alih-alih bangga, saya malah ingat pengalaman tidak mengenakkan, menjengkelkan, sekaligus memalukan ketika mengaku sebagai orang Pati ketika ditanya asal daerah.

Pengalaman menjengkelkan itu bukan satu dua kali saya terima. Dulu banget pertama kali pergi bertamasya ke Yogyakarta bertemu dengan orang di angkringan. Dengan tampilan pakaian yang tentu terlihat bukan orang Yogyakarta jelas ditanya berasal dari mana, saya jawab “Pati”. Orang yang bertanya itu lalu menjawab

“Oh, Pati! Jawa Timur ya, Mas?”

Rasanya ingin napuk cangkeme orang itu. Tapi saya urungkan dengan menjawab “Mboten, Pak, Jawa Tengah, cakete Kudus, Jepara.”

“Owalah, pantura kae to”.

Pengalaman itu bukan hanya terjadi ketika saya di Yogyakarta. Ketika ke Malang tahun lalu juga mengalami hal serupa. Waktu itu saya sedang potong rambut, seperti biasa tukang cukurnya basa basi. Ya apalagi kalau bukan tanya asal daerah. Saya jawab seperti biasa “Pati, Mas.”

Tapi dengan cepat saya tambahi “Jawa Tengah, dekat Kudus, Jepara, Rembang”, lalu kulihat tukang cukur itu manggut-manggut dan menjawab “Owalah…” Saya yakin pada waktu itu masnya baru pertaman dengar daerah bernama Pati. Kalaupun sudah pernah dengar, pasti baru tahu letak geografisnya. Sebagai orang Pati saya paham betul akan hal ini.

Itu masih mending semua. Ketika saya pergi ke Dieng tahun 2017 silam untuk menonton Dieng Culture Festival lebih menjengkelkan lagi. Saya yang waktu itu sedang duduk menunggu teman saya di toilet tiba-tiba dihampiri orang. Dengan basa-basi klise tentu pertanyaan pertama yang dilontarkan orang tersebut perihal asal daerah.

Baca Juga:

Sebagai Warga Pati, Saya Tidak Kaget Bupati Pati Sudewo Kena OTT KPK, karena Selama 24 Tahun Dipimpin 3 Bupati yang Terjerat Skandal

Bandeng Presto Makanan Khas Milik Pati, Bukan Semarang

Seperti biasa saya jawab dengan template “Pati, Pak.” dengan meyakinkan orang tersebut mengangguk sembari menjawab “Oh, Pati! Jauh ya.” Lalu dengan tangkas saya jawab “He he he, iya Pak.”

Saya pikir lega rasanya akhirnya ada orang yang tahu keberadaan Pati di mana, karena jarak Pati ke Dieng memang jauh untuk ukuran Pulau Jawa. Saya merasa aman. Eh ternyata dia menimpali jawaban saya lagi.

“Sulawesi kan ya?”

Jiancukkkk! Saya cuma senyam-senyum mengiyakan saja karena terlampau malas mengklarifikasi.

Basa basi orang yang saling bertanya daerah asal pasti akan melebar ke topik ciri khas daerah tersebut. Misalkan saja kulinernya, penghasil komoditas apa, atau budayanya. Pati bukan hanya tidak terkenal secara letak geografis, tapi juga soal kekhasan kota. Orang Pati ketika ditanya Pati ciri khasnya apa, paling banter jawab kacang. Karena di sana ada dua pabrik besar yang memproduksi olahan kacang. Atau kalau tidak pasti dijawab klise: nasi gandul.

Justru kalau ada yang tahu keberadaan Pati biasanya akan lebih tahu kecamatan di Pati yang terkenal sebagai penghasil bandeng dan mangut kepala manyungnya itu, yaitu kecamatan Juwana. Persis dan senasib dengan kabupaten tetangganya, Grobogan, yang lebih dikenal dengan Purwodadi. Ha ha ha.

Karena saya sering jengkel dengan peristiwa pertanyaan asal daerah itu, saya sering tidak mengaku sebagai orang Pati. Saat tinggal di Yogyakarta saya lebih sering menjawab dari Condongcatur ketimbang dari Pati. Ketika tinggal di Malang saya lebih suka menjawab dari Lowokwaru atau Dinoyo untuk memudahkan komunikasi selanjutnya. Tujuannya tentu untuk menenteramkan jiwa saya agar tidak emosi. Sampai teman saya ada yang menjuluki saya anak yang durhaka kepada Pati, karena jarang mengaku orang Pati kalau ditanya berasal dari mana.

Setelah hampir selesai menulis ini, ternyata saya ingat pada tulisan lama di Mojok tentang orang Batang yang suka terpaksa mengaku orang Pekalongan. Itu benar-benar pernah terjadi pada teman saya sendiri yang asli Batang namun sering mengaku orang Pekalongan. Lha ternyata saya sebagai orang Pati juga sering mencatut Kudus, Jepara bahkan Rembang agar orang-orang paham di mana letak geografis Kabupaten Pati. Namun dengan berbagai kekurangannya itu, saya tetap mencintai kampung halaman saya, Pati. Sebab tiada berguna hidup sejahtera kalau tak ingat asalnya. Kalau kata pepatah “ojo dadi kacang lali karo kulite”.

Namun semakin lama dan sering pergi dari kampung halaman, rasa-rasanya saya selalu punya “dosa pulang”. Yaitu perasaan bersalah kenapa tidak bisa pulang ke kampung halaman dan membangun desa seperti kalimat-kalimat heroik yang sering saya dengar. Tapi ya sudah lah, yang penting minimal setahun sekali pulang. Walau tidak bisa pulang untuk membangun desa seperti kata puisi Umbu Landu Paranggi bertajuk “Apa ada Angin di Jakarta”.

Pulanglah ke desa

Membangun esok hari

Kembali ke huma berhati

I love you, Pati Bumi Mina Tani, semangat mewujudkan Kridhaning Panembah Gebyaring Bumi.

Sumber foto : Wikimedia Commons.

BACA JUGA Mengenal Kota Pati Melalui 6 Julukannya: Dari Kota Kacang sampai Kota Seribu Karaoke dan tulisan Terminal Mojok lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 27 Agustus 2020 oleh

Tags: kabupaten patikhas daerah
Restu AK

Restu AK

Seorang bapak dari dua mesin tua, yang mengisi waktu dengan bersepeda dan memutar kaset pita. Menjalani hidup semenjana sambil belajar menikmati ritme yang tidak tergesa.

ArtikelTerkait

Bandeng Presto Makanan Khas Milik Pati, Bukan Semarang

Bandeng Presto Makanan Khas Milik Pati, Bukan Semarang

18 Oktober 2025
wedang jowo

Wedang Jowo dan Segala Filosofinya

22 Juni 2019
Nasi Gandul, Kuliner Khas Pati yang Kerap Dimaknai secara Keliru

Nasi Gandul, Kuliner Khas Pati yang Kerap Dimaknai secara Keliru

11 Agustus 2024
Perkenalkan Grobogan, Daerah Pinggir Pantura yang Orangnya Nyah-nyoh Pol terminal mojok.co

Perkenalkan Grobogan, Daerah Pinggir Pantura yang Orangnya Nyah-nyoh Pol

31 Agustus 2020
Pati Bukan Sarang Penjahat dan Plat K Bukan Berarti Kriminal, Ada Sisi Baik yang Bisa Diapresiasi di Sini

Pati Bukan Sarang Penjahat dan Plat K Bukan Berarti Kriminal, Ada Hal Baik yang Bisa Diapresiasi di Sini

31 Agustus 2024
Kabupaten Pati dan “3 Dosa” yang Membuat Saya Malas Pulang (Unsplash)

Rindu Pulang ke Kabupaten Pati, tapi Jalan Rusak, Banjir Rob, dan Pengendara Ugal-ugalan Bikin Malas Mudik

16 September 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Stasiun Delanggu Klaten, Stasiun Mungil Andalan Warlok Pelaju Solo-Jogja Mojok.co

Stasiun Delanggu Klaten, Stasiun Kecil yang Besar Jasanya bagi Warlok Pelaju Solo-Jogja

13 Juni 2026
All New Honda Vario 125 eSP 2018: Motor Matik Kencang, Nyaman, dan Paling Enak Dipakai Harian motor honda blade 110 honda vario 160 supra x 125 vario street suzuki burgman

Vario Street Harus Diakui Lebih Jelek ketimbang Suzuki Burgman, Jika Bisa Beli Salah Satunya, Mending Beli Suzuki Burgman Saja  

14 Juni 2026
3 Hal yang Jarang Orang Katakan Soal Berkendara di Semarang, Tantangannya Tak Hanya Banjir Rob dan Banjir Dadakan Mojok

3 Hal yang Jarang Orang Katakan Soal Berkendara di Semarang, Tantangannya Tak Hanya Banjir Rob dan Banjir Dadakan

18 Juni 2026
6 Alasan Saya Nggak Puas Kuliah di Fakultas Ekonomi UIN Saizu Purwokerto yang Dijuluki Fakultas Mahal Mojok.co

6 Alasan Saya Nggak Puas Kuliah di Fakultas Ekonomi UIN Saizu Purwokerto yang Dijuluki Fakultas Mahal

18 Juni 2026
Soal Budaya Makan, Jawa Miskin Mengenaskan di Depan Sumatra (Unsplash)

Sebagai Orang Jawa, Saya Merasa Miskin saat Tahu Orang Sumatra Tak Bisa Makan tanpa Lauk Ikan

13 Juni 2026
13 Tabiat Mahasiswa KKN yang Dibenci Warga Desa, Jangan Dilakukan atau Kalian Jadi Musuh Bersama Mojok.co

Sebelum KKN, Pahami bahwa Hal-Hal Menyebalkan dalam KKN yang Kebanyakan Datang dari Teman Satu Posko

14 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.