Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

3 Hal Menyebalkan di Perlintasan Kereta Api Bawah Flyover Lempuyangan Jogja, Mesti Ekstra Kesabaran

Kenia Intan oleh Kenia Intan
2 November 2025
A A
3 Hal Menyebalkan di Perlintasan Kereta Api Bawah Flyover Lempuyangan Jogja, Mesti Ekstra Kesabaran Mojok.co

3 Hal Menyebalkan di Perlintasan Kereta Api Bawah Flyover Lempuyangan Jogja, Mesti Ekstra Kesabaran (unsplash.com)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Jalanan Jogja yang kian padat membuat saya menghindari titik-titik tertentu. Salah satu titik yang paling “red flag” adalah perlintasan kereta api Lempuyangan Jogja yang berada di bawah flyover. Apabila tidak benar-benar terpaksa, sebisa mungkin saya jauh-jauh dari kawasan itu. Terutama saat jam-jam berangkat/pulang kantor, akhir pekan, dan libur panjang. 

Ada beberapa alasan yang membuat saya menghindari titik tersebut. Tentu saja, salah satunya adalah kemacetan yang bisa mengular dan pengendara yang nggak sabaran. Namun, ada kalanya saya cuma bisa bersabar melintasi titik itu karena beberapa tempat favorit saja ada di sekitar sana.  

#1 Jalanan yang padat

Mereka yang tinggal di Jogja pasti tidak asing dengan perlintasan kereta api Lempuyangan Jogja. Perlintasan kereta api yang berada di bawah flyover itu menjadi batas antara Jalan Dr. Wahidin Sudirohusodo di sisi utara dan Jalan Doktor Sutomo di sisi selatan yang cukup padat. Dua jalan itu jadi akses ke Jalan Argolubang atau kawasan Baciro, Stasiun Lempuyangan Jogja, dan tidak jauh dari beberapa sekolah dan universitas. 

Bayangkan betapa padatnya jalan ini sehari-hari. Itu belum ditambah dengan keruwetan di sisi utara flyover yang kadang membuat jalanan semakin menyebalkan. Saya beri sedikit gambaran, ujung utara flyover yang berada di Jalan Dr. Wahidin Sudirohusodo bertemu dengan 2 pertigaan dan satu perempatan yang terpaut jarak tidak begitu jauh. Simpul-simpul jalan ini kadang jadi kemacetan yang sulit terurai ketika jalan sedang padat-padatnya. 

Itu mengapa, menurut saya, perlintasan kereta api Lempuyangan di bawah flyover jauh lebih menyebalkan dibanding perlintasan kereta api di sisi barat Stasiun Lempuyangan atau Jalur Perlintasan Langsung (JPL) 52 Tukangan. JPL 52 memang menjengkelkan, persis seperti yang pernah dibahas salah satu tulisan Terminal Mojok. Namun, tingkat menyebalkannya masih kalah dibanding perlintasan kereta api Lempuyangan di bawah flyover.

#2 Banyak orang nonton kereta di perlintasan kereta api Lempuyangan Jogja

Di tengah jalanan yang padat itu, perlintasan kereta api Lempuyangan masih harus dihiasi dengan keramaian di sekitar palang kereta api. Bagi yang belum tahu, di sekitar palang itu banyak orang melihat kereta api lewat. Mereka yang datang biasanya orang tua dan anak. Selain berbahaya, keberadaan mereka bikin tambah macet karena parkirnya sembarangan dan jadi banyak penjual jajanan kaki lima. Perlintasan kereta api Lempuyangan tambah semakin ruwet.  

Saya tidak bisa sepenuhnya menyalahkan mereka yang berwisata di pintu kereta api. Kemunculannya hanyalah puncak gunung es dari persoalan yang lebih besar: ketiadaan ruang publik yang memadai. Akhirnya, ruang-ruang yang mudah dan murah diakses seperti jembatan hingga palang kereta api jadi pilihan. Namun, sulit juga dimungkiri, perlintasan kereta api yang menjadi objek hiburan seperti ini tetap saja mengganggu jalan yang sudah padat. 

#3 Berupaya menghindari jalan tersebut, tapi tempat-tempat penting ada di sekitar sana

Sebagai orang Jogja yang cukup hafal jalan pintas, sebisa mungkin saya menghindari perlintasan kereta api Lempuyangan. Apalagi ketika akhir pekan atau musim liburan. Duh, mending memilih jalan memutar. Sebab kemacetannya tidak hanya di sekitar perlintasan kereta api, tapi merambah ke jalan lain. 

Hanya saja, ada saatnya mau tidak mau saya lewat sana. Misal, saat pulang dari Stasiun Lempuyangan Jogja, jalan depan stasiun yang satu arah mau tidak mau membuat saya berakhir di Jalan Doktor Sutomo. Lainnya, saat saya mau kulineran di sekitar sana. 

Asal tahu saja, di sekitar perlintasan kereta api ada banyak kuliner menggoda. Tepatnya di sepanjang Jalan Argolubang. Di sana ada bakso dan soto favorit saya, bakso iso dan soto Pak Bendol. Ada juga rumah makan padang Duta Andalas. Dan, baru-baru ini saya mencatat ada satu tempat yang mesti dikunjungi warung lotek dan gado-gado Teteg yang sudah ada sejak 60-an. Kadang saya kesal kenapa tempat-tempat enak itu harus berada di kawasan yang paling saya hindari. Kan jadi tidak bisa sering-sering ke sana.

Penulis: Kenia Intan
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Toko Kaset Popeye hingga Djendelo Koffie, 5 Tempat di Jogja yang Saya Harap Buka Kembali.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 2 November 2025 oleh

Tags: JogjaLempuyanganLempuyangan Jogjaperlintasan kereta apiPerlintasan Kereta Api JogjaPerlintasan Kereta Api Kempuyangan
Kenia Intan

Kenia Intan

Content Writer Mojok.co

Artikel Terkait

Makanan Khas Jawa Timur Obat Rindu Kala Mudik ke Surabaya (Aly Reza/Mojok.co)
Pojokan

Makanan Khas Jawa Timur yang Paling Tidak Bisa Dihindari, Jadi Pelepas Rindu ketika Mudik Setelah “Disiksa” Makanan Jogja

14 Maret 2026
Bus ekonomi jalur Jogja Jambi menyiksa pemudik. MOJOK.CO
Sehari-hari

Ujian Terberat Laki-laki yang Lebih Kejam dari Menahan Rindu: Dihajar Rute Bus Ekonomi Jogja Jambi hingga Terserang “Man Flu”

13 Maret 2026
Naik Travel dari Jogja ke Surabaya Penuh Derita, Nyawa Terancam (Unsplash)
Pojokan

Naik Travel dari Jogja ke Surabaya, Niatnya Ingin Tenang Berakhir Penuh Derita dan Nyawa Terancam

13 Maret 2026
gojek instant.MOJOK.CO
Transportasi

Gojek Buka Titik Jemput Instan di Terminal Giwangan, Mudahkan Para Penumpang Bus yang Bingung Mencari Transportasi Lanjutan

12 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Rela Melepas Upah 75 Juta di Prancis demi Pulang ke Tanah Air, Kini Menikamti Hidup Sebagai Pengajar Bergaji Pas-pasan.MOJOK.CO

Rela Melepas Upah 75 Juta di Prancis demi Pulang ke Tanah Air, Kini Menikamti Hidup Sebagai Pengajar Bergaji Pas-pasan

10 Maret 2026
Lepas status WNI dan paspor Indonesia, hidup lebih mudah usai pindah kerja di Jerman MOJOK.CO

Lepas WNI karena Hidup Serba Susah dan Nelangsa di Indonesia, Hidup Jadi Lebih Mudah usai Pindah ke Jerman

10 Maret 2026
SPBU Diserbu Jadi Bukti Buruknya Komunikasi Pemerintah MOJOK.CO

SPBU Diserbu: Isu Stok BBM 20 Hari Bikin Panik Menjadi Wujud Buruknya Komunikasi Pemerintah dan Publik Sulit untuk Percaya

9 Maret 2026
Brio, Mobil Honda Paling Menderita Sepanjang Sejarah MOJOK.CO

Brio Adalah Mobil Honda Paling Menderita: Sering Dihina Murahan, tapi Sebetulnya Paling Ideal Menjadi Mobil Pertama Bagi Anak Muda yang Tidak Takut Cicilan

12 Maret 2026
Nasib ratusan juta WNI 10 tahun nanti: terancam tidak punya jaminan sekaligus tabungan di masa pensiun MOJOK.CO

Nasib WNI 10 Tahun Lagi: Terancam Tua Miskin karena Tak Punya Jaminan untuk Tabungan Pensiun dari Negara

11 Maret 2026
Kerja di Jakarta, Purwokerto, KRL.MOJOK.CO

Kerja Mentereng di SCBD Jakarta tapi Tiap Hari Menangis di KRL, Kini Temukan Kedamaian Usai Resign dan Kerja Remote di Purwokerto

13 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.