Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Podium

Memahami Pola Kampanye Digital Para Politisi di Tahun Politik

Penggunaan media sosial telah mengubah pola marketing dan kampanye politik di Indonesia.

Arga Imawan oleh Arga Imawan
26 Januari 2023
A A
kampanye digital mojok.co

Ilustrasi media sosial (Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Tahun politik sudah dimulai. Media sosial akan dipenuhi wajah para politisi dengan kata-kata yang manis. Melihat kasus Trump di AS, penting untuk kita ketahui pola kampanye digital para kandidat yang bertarung di Pemilu 2024.

Gong pergantian tahun telah berdentang. Kembang api ramai menghiasi langit Indonesia. Seluruh warga bergemuruh menyambut tahun yang baru. Pada saat yang sama, pesta demokrasi dimulai. Waktunya partai politik dan politisi bernegosiasi satu sama lain karena tahapan pemilu sudah berjalan.

Selanjutnya, tentu saja sorotan publik akan tertuju pada strategi dan langkah pencalonan presiden dan wakil presiden, anggota legislatif, dan kegiatan masa kampanye. Beberapa ahli telah memperlihatkan kekhawatiran dengan dimulainya tahun politik ini, seperti semakin pendeknya masa kampanye, pola kandidasi partai politik, dan politik uang.

Namun, tulisan ini tak akan mengulas kekhawatiran tersebut. Fokusnya tentang strategi kampanye digital yang akan banyak digunakan oleh partai politik dan politisi pada Pemilu 2024.

Kampanye digital

Kampanye politik dengan pemanfaatan media sosial bukanlah sesuatu yang baru. Studi dari Ardha (2014) misalnya, menunjukkan tentang kampanye politik dengan media sosial seperti Facebook, Twitter, dan YouTube telah menjadi kebiasaan baru. Ahmad & Popa (2014) turut memberikan pendapat bahwa penggunaan media sosial telah mengubah pola marketing dan kampanye politik di Indonesia.

Dalam bentuk penekanan yang berbeda, Lim (2017) mengungkapkan bahwa media sosial telah shaping (membentuk) satu dengan yang lain antara pengguna dan algoritma sehingga muncullah “algorithmic enclaves”. Dampak atas hal ini adalah menumbuhkan berbagai bentuk identitas nasionalisme kesukuan. Semua ragam fenomena di atas menunjukkan tren tentang bagaimana media sosial telah “membentuk” realitas kehidupan politik.

Pada skala yang berbeda, dampak dari media sosial juga turut membentuk perilaku para politisi. Wood, et.al (2016) telah membaca fenomena perilaku politisi dengan membagi kepada dua spektrum yaitu superstar celebrity politicians dan everyday celebrity politicians. Lebih jauh, ia memberikan tiga indikator yaitu jenis media, teknik marketing, dan peran yang dimainkan.

Dua jenis politisi di ranah digital

Pada kategori superstar celebrity politicians, jenis media yang dipergunakan adalah siaran televisi, seperti talkshow, debat publik dan lain sebagainya. Dalam kategori ini, sifat teknik marketing politiknya akan terstruktur. Artinya, terdapat koridor-koridor penjelasan yang telah dipersiapkan sebelumnya. Peran atau citra yang akan dimainkan politisi pada kategori ini adalah pemimpin yang kuat dan dalam taraf tertentu berjarak dengan warga negara.

Lain halnya dengan kategori everyday celebrity politicians. Pada kategori ini, penggunaan jenis media bukanlah yang sifatnya satu arah melainkan jenis media-media interaktif seperti Twitter, Facebook dan YouTube. Strategi marketing politiknya pun berbeda di mana pada kategori ini, tidak memiliki struktur baku dalam penjelasannya. Politisi dapat menyampaikan pendapat atau bercerita dengan bebas selama berada dalam sekat kenaikan elektabilitas diri. Pembentukan peran atau citra yang ditunjukkan juga berbeda. Politisi akan menunjukkan potret pribadi yang “memanusiakan” dan dekat dengan warga negara.

Elaborasi dari Wood, et.al (2016) telah menjadi bagian kerangka analisis yang penting dalam melihat perilaku politisi. Premis utama dari studi ini bahwa kecenderungan politisi untuk membentuk citra sebagaimana layaknya individu sama dengan warga negara dengan tujuan peningkatan popularitas diri. Dirinya pun mengungkapkan frasa ‘Just Like Us’ sebagai cerminan atas hal itu.

Kasus Trump

Secara empirik, kita dapat melihat bagaimana branding politik sebagai selebritas dari politisi di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir semakin liar bertebaran di jagad dunia maya. Politisi pun memperlihatkan citranya sebagai sosok individu yang tidak berjarak dengan rakyat pada akun sosial medianya. Maklum, bahwa kultur pemanfaatan media sosial tengah menjamur saat ini dan perilaku di atas bukanlah sesuatu yang aneh. Lantas, mengapa menjadi penting bagi warga negara untuk memotret dan memahami pola branding dan kampanye digital politisi selebritas di dunia digital?

Fenomena ini menggejala tidak hanya di lingkup Indonesia. Pada skala global, pembangunan citra “selebritas” telah dilakukan oleh banyak politisi, salah satunya Donald Trump. Trump tidak hanya dianggap sebagai politisi, namun juga sebagai selebritas. Schneiker (2020) berargumentasi bahwa marketing politik yang dibangun Trump di platform Twitter menekankan sosoknya sebagai pebisnis dan entertrainer.

Tracking yang dilakukan oleh Schneiker (2020) menemukan mayoritas tweet yang disampaikan pada tahun 2016 tidak memiliki unsur politis. Justru sebaliknya, pembangunan citra politisi selebritas justru dilakukan Trump dengan diksi yang “dekat” dengan warga negara. Hasilnya, pupuk branding politisi selebritas berhasil dengan terpilihnya Trump pada Pemilu Amerika Serikat tahun 2017.

Penting dipahami

Narasi penjelasan ini yang minim diperhatikan oleh publik bahwa hasil pemupukan politisi selebritas ini menjadi faktor–bisa dibilang terpenting–dalam terpilihnya Trump yang dianggap sebagai underdog pada pemilu AS di tahun 2017. Tanpa sadar, langkah Trump telah mengubah perilaku pemilih di AS.

Iklan

Potret pengalaman Trump menjadi sesuatu yang penting karena pola branding politisi selebritas di ruang media sosial berimplikasi besar terhadap perilaku pemilih. Di Indonesia, para politisi tentunya akan berbondong-bondong menunjukkan citranya sebagai individu yang dekat dengan warga selama periode 2023. Citra tersebut akan dibangun melalui medium teknologi, yaitu media sosial. Sebagai netizen, sensitivitas atas ungkapan tokoh pada dunia maya patut diasah dan dielaborasi lebih jauh tentang makna di balik ungkapannya.

Layaknya pesta kembang api dalam malam bergantian tahun, kita diharapkan tak hanya menjadi penggembira di tahun politik. lebih dari itu, turut berkontribusi aktif dalam hiruk pikuk Pemilu 2024 dengan menjadi warga negara yang cerdas digital.

Penulis: Arga Pribadi Imawan
Editor: Purnawan Setyo Adi

BACA JUGA Sosok Negarawan Kelas Calon Presiden

Terakhir diperbarui pada 29 Maret 2023 oleh

Tags: kampanye digitalkampanye politikPemilu 2024politikus
Arga Imawan

Arga Imawan

Dosen Departemen Politik dan Pemerintahan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Artikel Terkait

Rasanya Satu Kelompok KKN dengan Anak Caleg, KKN Undip.MOJOK.CO
Kampus

Rasanya Satu Kelompok KKN dengan Anak Caleg, Semua Urusan Jadi Mudah Meski Suasana Bikin Tak Betah

14 Juli 2024
Komeng: Olok-Olok Rakyat Biasa untuk Menertawakan Politik MOJOK.CO
Esai

Komeng Adalah Bentuk Olok-Olok Paling Menohok yang Mewakili Lapisan Masyarakat Biasa untuk Menertawakan Politik

19 Februari 2024
bayi prabowo gibran di sumatera selatan.MOJOK.CO
Ragam

Kisah Bidan yang Membantu Persalinan Bayi Bernama Prabowo Gibran di Sumatera Selatan

16 Februari 2024
Menyaksikan Coblosan di Wotawati, Kampung Warisan Majapahit yang Mataharinya Tenggelam Pukul 15.00 MOJOK.CO
Kabar

Menyaksikan Coblosan di Wotawati, Kampung Warisan Majapahit yang Mataharinya Tenggelam Pukul Tiga Sore

14 Februari 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

pekerja kantoran.MOJOK.CO

Akal-akalan “Kantor adalah Keluarga”, Menguras Mental dan Menggerogoti Karier

4 Juni 2026
Event lari Merbabu Skyrace makin diminati banyak orang lintas negara, jadi potensi sport tourisme di Jawa Tengah dengan daya tarik lari lintas alam di Gunung Merbabu MOJOK.CO

Merbabu Skyrace: Event Lari Melintasi Keindahan Gunung Merbabu, Sport Tourism yang Bikin Sebuah Dusun Mendunia

6 Juni 2026
Rasyiid, mahasiswa penerima Beasiswa KIP Kuliah UMSURA yang sisihkan uang untuk modal usaha MOJOK.CO

Sisihkan Uang Beasiswa KIP Kuliah buat Modal Usaha, Kuliah Sambil Topang Ekonomi Keluarga hingga bikin Ibu Bangga

2 Juni 2026
Dhia Hana Putri Saraswati mahasiswa Umsura dan Unair. MOJOK.CO

Kena Mental Kuliah di Umsura dan Unair Sekaligus, Puluhan Kali Ingin Menyerah tapi Kuat karena Ajaran Muhammadiyah

5 Juni 2026
ilustrasi sepeda klaten.MOJOK.CO

Belajar Makna “Paseduluran” dari Penjual Onthel Lawas yang Sudah Tiga Dekade Hidup dari Pit Kebo

2 Juni 2026
Campus League Basketball 2026 Regional Jakarta Season 1 tidak hanya jadi panggung prestasi basket, tapi juga warna baru solusi mobilitas masa depan anak muda dengan motor listrik Polytron MOJOK.CO

Puncak Campus League Basketball 2026 Jakarta S1: Tak Hanya Jadi Panggung Basket tapi Juga Hadirkan Solusi Mobilitas Masa Depan Anak Muda

2 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.