Perasaan aneh di atas jok Yamaha Jupiter Z
Tahun-tahun berikutnya berjalan seperti biasa. Saya lulus sekolah, merantau ke Jogja dari Gunungkidul, lalu beberapa tahun kemudian pindah ke Jakarta. Hidup saya mulai punya cerita sendiri. Saya juga punya motor sendiri, pakai, rusak, servis, ya seperti kebanyakan orang.
Sementara itu, Yamaha Jupiter Z warna oranye itu tetap di rumah. Dan anehnya, tetap sama. Masih bersih. Masih terawat. Masih seperti tidak tersentuh waktu.
Sampai akhirnya, sekali waktu di 2021, ada satu momen yang menurut saya sederhana, tapi ternyata cukup berarti. Waktu itu saya pulang ke rumah dan ada keperluan ke Wonosari. Motor saya ada di Jakarta, jadi satu-satunya pilihan ya motor di rumah.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidup saya, saya memberanikan diri meminjam Yamaha Jupiter Z milik kakak saya. Rasanya agak canggung, aneh, jujur saja. Bukan karena tidak bisa naik motor, tapi karena… ya itu tadi. Motor ini dari dulu bukan “punya saya”.
Tapi akhirnya saya bawa juga. Dan di situlah saya kaget. Motor itu masih enak banget. Tarikannya halus, mesinnya masih responsif, remnya pakem, dan secara keseluruhan… terasa seperti motor yang umurnya jauh lebih muda. Padahal kalau saya hitung, saat itu usianya sudah lebih dari 15 tahun.
Memang, soal bensin sedikit lebih boros kalau membandingkannya dengan motor Honda yang pernah saya pakai. Tapi selain itu, jujur saja, saya tidak menemukan alasan untuk mengeluh.
Cinta yang merawat
Di jalan, saya sempat kepikiran satu hal yang sederhana. Yamaha Jupiter Z tetap seperti ini bukan karena kebetulan. Ada konsistensi di baliknya. Ada cara memperlakukan yang mungkin dari dulu tidak pernah berubah.
Dan di situ, tanpa saya sadari, ingatan saya balik lagi ke masa-masa dulu. Ke momen dipelototin cuma karena mendekat. Ke rasa heran kenapa motor harus dijaga segitunya. Dan ke percakapan singkat dengan ibu saya tentang bagaimana motor itu bisa ada. Motor hasil perjuangan.
Semua itu tiba-tiba terasa nyambung. Yang dulu saya anggap berlebihan, ternyata punya alasan yang cukup kuat. Dulu saya anggap cuma “motor kesayangan”, ternyata Yamaha Jupiter Z adalah satu bentuk pencapaian.
Tanpa sadar, itu juga jadi satu-satunya bukti nyata dari fase hidup kakak saya yang tidak pernah saya lihat langsung.
Saya jadi paham satu hal yang cukup sederhana. Kadang, kita melihat sesuatu dari luar dan merasa itu tidak masuk akal. Terlalu berlebihan, terlalu dijaga, atau bahkan terasa aneh. Padahal, kita cuma tidak tahu ceritanya.
Yamaha Jupiter Z oranye itu buat saya sekarang bukan lagi sekadar motor lama yang masih terawat. Ia adalah pengingat. Bahwa ada hal-hal yang terlihat biasa saja di mata kita, tapi ternyata menyimpan cerita yang tidak sederhana.
Dan kadang, kita baru benar-benar mengerti… setelah cukup lama melihatnya dari jauh.
Penulis: Andry Setyawan
Editor: Yamadipati Seno
BACA JUGA Menyesal Ganti Jupiter Z ke Honda BeAT: Menang “Rupa” tapi Payah, Malah Tak Bisa Dipakai Ngebut dan Terasa Boros dan kisah menarik lainnya di rubrik OTOMOJOK.














