MOJOK.CO – Membeli Innova Zenix adalah wujud kesesatan dan kebodohan finansial. Mending beli Innova Reborn yang sudah jelas menang aura.
Pagi ini, cipratan minyak panas dari wajan yang sedang saya pakai untuk menggoreng ikan bawal nyaris mendarat mendarat mulus di pelipis kanan. Di tengah kepanikan membalik ikan sambil meneriaki dua anak laki-laki saya yang sedang asyik gulat ala Smack Down di atas karpet ruang tengah, layar smartphone di sebelah ulekan sambal mendadak menyala.
Ada notifikasi dari grup WhatsApp dasa Wisma RT. Usut punya usut, salah satu mama muda di ujung gang baru saja mengunggah foto selfie di depan garasi rumahnya. Sekarang, ada Toyota Innova Zenix Hybrid tipe tertinggi nangkring di sana.
Grup langsung meledak oleh rentetan emoticon love, kalimat masyaallah, dan doa-doa agar para tetangga segera ketularan rezeki bisa beli mobil mewah. Membaca puja-puji banal terhadap seonggok crossover bongsor yang dipaksakan jadi MPV tersebut, asam lambung saya mendadak bergejolak.
Memuja mobil setengah miliar lebih ini adalah sebuah mudharat yang sungguh mengancam kewarasan sosial. Khususnya bagi emak-emak kelas pekerja yang saban hari harus berdebat batin memilih antara beli daging sapi atau ayam potong di Pasar Kepanjen, Malang.
Innova Zenix mencoba merebut takhta Innova Reborn
Sebagai perempuan berusia 37 tahun yang ijazah Sastra Arab-nya kini lebih sering dipakai untuk melafalkan istighfar saat melihat tagihan LKS anak, saya merasa fardu ain untuk membedah sosiologi Innova Zenix. Selama bertahun-tahun, Innova Reborn diesel masih memegang takhta penguasa jalanan kasta menengah.
Persona penunggang Innova Reborn itu sangat jelas. Mereka adalah bapak-bapak kontraktor, pejabat daerah level menengah, atau pengusaha supplier bahan bangunan yang gayanya arogan, badannya tegak, dan hobi menyemburkan asap hitam pekat dari knalpot cumi daratnya. Innova Reborn adalah simbol maskulinitas jalanan yang dihormati (sekaligus dibenci).
Lalu, Toyota merilis Innova Zenix dan mengubah total ekosistem ini. Siapa yang naik Innova Zenix? Penunggangnya rata-rata adalah Orang Kaya Baru (OKB) atau bapak-bapak metroseksual yang sedang mengalami krisis identitas.
Mereka ingin terlihat seperti CEO perusahaan startup yang peduli pada isu green energy dan jejak karbon. Makanya, mereka beli yang ada embel-embel “Hybrid”. Padahal, kita semua tahu, mereka beli Hybrid itu murni karena diam-diam panik dan asam lambungnya kumat kalau harus mengisi Pertamax tiap minggu sampai penuh!
Di sinilah letak perselingkuhan paling fatal antara fungsionalitas dan gengsi otomotif. Innova Reborn itu, seburuk apapun arogansinya, fungsionalitasnya sebagai badak pelibas jalanan rusak sangatlah teruji berkat sasis ladder frame dan penggerak roda belakang (RWD).
Kamu mau menyiksa Reborn di tanjakan makadam Malang Selatan pun tetap nurut. Nah, Innova Zenix? Mobil ini sudah berubah jadi penggerak roda depan (FWD) dengan sasis monocoque.
Demi apa? Demi kenyamanan kabin dan gengsi panoramic roof! Toyota seakan menyembelih fungsi ketangguhannya demi gaya. Buat apa punya atap kaca tembus pandang di Malang yang panasnya sekarang bikin ubun-ubun mendidih?
Ujung-ujungnya yang punya Zenix menutup sunshade karena takut make-up istri luntur. Beli mobil setengah miliar lebih tapi fungsi utamanya cuma buat pamer lampu ambient di dalam kabin saat antre drive-thru kopi kekinian, adalah kebodohan struktural yang sangat hakiki.
Baca halaman selanjutnya: Zenix, kebijakan finansial yang sesat.













