Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Otomojok

Honda Beat Memang Lambang Kemiskinan dan Saksi Bisu Diputusin Pacar

Dyah Retna Palupi oleh Dyah Retna Palupi
8 Juni 2020
A A
Honda Beat MOJOK.CO

Honda Beat MOJOK.CO

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Teman saya, yang sudah kadung punya Honda Beat, gagal masuk ke lingkaran pertemanan. Sudah gitu, diputusin pacar lagi karena profesinya sebagai ojek pangkalan.

Akhir Mei yang lalu, saya membaca artikel di Terminal Mojok. Judulnya: “Apa iya Orang yang Pakai Kartu 3, Honda Beat, dan HP Xiaomi itu Miskin?”

Untuk bagian “Honda Beat”, saya ingin menegaskan bahwa jawabannya adalah “Iya”. Motor satu itu, sudah kadung dijadikan “lambang orang miskin”. Bahkan kerena Honda Beat juga, ada orang yang sampai diputusin pacar. Adalah Sholeh, teman saya, yang menjadi semacam korban dari “stigma” itu beberapa tahun yang lalu.

Sholeh, bukan nama sebenarnya, adalah teman yang sederhana dan memang agak polos. Sebagai satu-satunya anak laki-laki di keluarganya, dia rajin banget membantu ibunya berjualan makanan di sebuah warung tenda. Mirip kayak angkringan. Uang hasil membantu ibunya ditabung untuk membeli sebuah motor. Dan Honda Beat adalah pilihannya, meski agak terpaksa.

Untuk menambah tabungan, Sholeh “nyambi” menjadi ojek. Bukan ojek online, tapi ojek pangkalan di dekat pasar. Selama ini, dia menyewa motor. Beberapa persen pemasukan disisihkan untuk membayar sewa per hari dan sisanya ditabung. Dia pengin punya motor sendiri biar irit. Selain itu, tujuannya adalah buat nyenengin pacar.

Suatu ketika uangnya sudah cukup untuk membeli motor secara tunai. Hebat, ya. Menabung sampai bisa beli motor secara tunai. Selain itu, Sholeh memang patuh sama ajaran agama. Dia takut riba kalau beli motor secara kredit. Ketika sedang membaca brosur motor, ibunya jatuh cinta ke sebuah motor, yaitu Honda Beat. Sholeh yang agak enggan, akhirnya manut saja karena nggak berani membantah ibunya.

“Kenapa suka Honda Beat, to Bu?”

“Bagasinya besar, Leh. Bisa muat 11 liter. Tuh ditulis di situ. Bisa buat bawa-bawa barang buat warung, to.”

Sholeh cuma diam saja. Saya tahu sebetulnya dia pengin beli motor lakik. Ya semacam Honda Tiger, lah. Seken nggak papa, asal nggak kredit, kata dia suatu ketika. Tapi, yah, mau gimana lagi. Dia lalu sibuk menyimak lagi spesifikasi Honda Beat seri Street eSP PGMF1 itu. Katanya, sih, motor ini irit, jadi Sholeh mau ikut permintaan ibunya.

“Lagian, bagian stang e wis lanang banget, to Mbak,” kata Sholeh kepada saya.

Kata dia, bagian stang Honda Beat seri Street eSP PGMF1 itu udah seperti “motor lakik”. Hmmm…kalau diperhatikan lagi, Beat yang ini memang bentuk stang-nya berbeda kalau dibandingkan bebek metik lainnya. Mirip, sih, kayak motor lakik. Yasudah, saya iya-iya saja.

Singkat kata, beberapa hari kemudian, Sholeh membeli Honda Beat itu. Harganya Rp17 juta kurang dikit. Dapat helm sama jaket Honda. Katanya: “Jaketnya bisa dipakai ngojek, Mbak.” Iya, leh, Iya.

Bahagia, dong, punya motor baru. Iya, buat ibunya. Sholeh? Duh, kasihan juga, sih. Gini ya, kalau saya pribadi, Honda Beat itu keren, kok. Lagian harganya nggak “murah”, lho. Saya pernah mencoba motor Sholeh itu dan nggak ada masalah. Mungkin karena masih baru, sih, waktu itu. Intinya, motornya bukan motor murahan. Sayang, dunia berkata lain.

Saat itu, di desa saya, para pemudanya lagi senang semacam beradu gengsi beli “motor lakik”. Terutama RX King sama Kawasaki Ninja RR terus dimodifikasi. Diwarnai, bannya pakai yang kecil, kenalpotnya dipotong, diceperin, dan lain sebagainya, yang mana kalau buat saya malah agak wagu. Tapi soal selera ya sudah lah ya.

Iklan

Sholeh nggak termasuk dunia kayak gitu, sih. Dia beli motor pun yang enak buat harian. Apalagi katanya yang enak buat kerja ngojek. Apa ya ngojek pakai Ninja RR yang bannya kayak ban sepeda BMX. Kalau bawa penumpang ibu-ibu dari pasar malah repot. Malah ditanya, “Pedal e endi, Mas? Malah kayak sepeda to iki.”

Karena “cuma” pakai Honda Beat, Sholeh dipandang “laki-laki biasa aja”. Nggak bisa masuk sirkel “pemuda kampung keren”, istilahnya. Saya lihat-lihat, di kumpulan pemuda itu ada yang pakai Satria FU. Kalau boleh milih, enak dibonceng Sholeh pakai motornya ketimbang Satria FU. Lha, joknya kecil begitu, rasanya kurang nyaman. Motornya kayak perosotan lagi.

Pada awalnya Sholeh nggak terlalu ambil pusing. Lagian dia menikmati pakai Honda Beat yang memang irit, sih. Namun, pada akhirnya dia “down” juga ketika diputusin sama pacar. Iya, pacar yang awalnya mau “disenengin” Sholeh pakai motor barunya.

Pacar, yang kini jadi mantan itu, sudah lama pengin putus. Pertama, karena profesi Sholeh sebagai tukang ojek pangkalan. Sista satu ini mungkin malu punya pacar “cuma ‘kang ojek”. Kedua, karena Honda Beat, Sholeh tidak bisa masuk ke sirkel teman-teman si sista itu. siapa teman-teman sista satu itu? Ya para pemuda desa yang pakai Satria “motor perosotan” FU itu.

Jadi, dianggap miskin karena cuma pakai Honda Beat itu memang terjadi, sista dan bro. huh, sayang sekali sista mantan Sholeh itu. Dia nggak tahu saja, ibunya Sholeh sudah mau buka cabang warung makan. Siapa tahu, ketika cabang warung makan ibunya Sholeh makin banyak, nggak cuma Honda Beat yang dibeli, tapi sekalian sama showroom-nya.

BACA JUGA Menggugat Anggapan Sesat Honda Beat sebagai Motor Sobat Missqueen atau ulasan kenangan lainnya di rubrik OTOMOJOK.

Terakhir diperbarui pada 8 Juni 2020 oleh

Tags: hondaHonda Beathonda beat miskinhonda tigermotor matikrx kingsatria fu
Dyah Retna Palupi

Dyah Retna Palupi

Lahir di Wonosobo 2 Oktober 1993, Dyah Retna Palupi sudah mulai menulis sejak SMP. Lulusan Fakultas Bahasa dan Seni UNY, kini berprofesi sebagai pengajar dan penulis lepas.

Artikel Terkait

Mio M3: Motor Yamaha Paling Menderita dan Dianggap Murahan MOJOK.CO
Otomojok

10 Tahun yang Indah Bersama Mio M3: Motor Yamaha yang Dianggap Murahan, Diremehkan Orang, dan Katanya Bikin Orang Menyesal

7 April 2026
Vario 160 Motor Buruk Rupa yang Menyalahi Kodrat Honda MOJOK.CO
Pojokan

Vario 160 Adalah Motor Buruk Rupa yang Menyalahi Kodrat Motor Honda, tapi Sejauh Ini Menjadi Matik Terbaik yang Tahan Siksaan

3 April 2026
Dihina dan dijauhi tongkrongan hanya karena naik motor Honda BeAT. Tidak memenuhi standar sinematik ala Yamaha Aerox, NMax, dan Vario MOJOK.CO
Sehari-hari

Standar Keren Kabupaten: Pakai Motor BeAT Dihina dan Dijauhi Circle Aerox, NMax, dan Vario karena Tak Masuk Konsep Sinematik

12 Maret 2026
Brio, Mobil Honda Paling Menderita Sepanjang Sejarah MOJOK.CO
Otomojok

Brio Adalah Mobil Honda Paling Menderita: Sering Dihina Murahan, tapi Sebetulnya Paling Ideal Menjadi Mobil Pertama Bagi Anak Muda yang Tidak Takut Cicilan

12 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Tinggalkan Jakarta demi punya rumah desa untuk slow living, berujung kena mental karena ulah tetangga MOJOK.CO

Orang Jakarta Nyoba Punya Rumah di Desa, Niat Cari Ketenangan Berujung Frustrasi karena Ulah Tetangga

7 April 2026
Di umur 30 cuma punya motor Honda Supra X 125 kepala geter. Dihina tapi jadi motor tangguh yang bisa bahagiakan orang tua MOJOK.CO

Kerja Tahunan Cuma Bisa Beli Honda Supra X 125 Kepala Geter di Umur 30, Dihina Anak Gagal tapi Jadi Motor Tangguh Simbol Keluarga Bahagia

8 April 2026
Lulusan farmasi PTS Jogja foto keluarga

Lulusan Farmasi PTS Jogja Bayar Mahal untuk Wisuda, tapi Gagal Foto Keluarga karena Ayah Harus Dirawat di Rumah Sakit Jiwa

7 April 2026
Pembangunan Masif Rusak Hutan Papua, Belasan Spesies Satwa Terancam Punah.MOJOK.CO

Pembangunan Masif Rusak Hutan Papua, Belasan Spesies Satwa Terancam Punah

3 April 2026
Kuliah soshum di PTN merasa gagal karena tak jadi wong untuk orang tua

Lulusan Soshum Merasa Gagal Jadi “Orang”, Kuliah di PTN Terbaik tapi Belum Bisa Penuhi Ekspektasi Orang Tua

6 April 2026
slow living, jawa tengah, perumahan, desa.MOJOK.CO

Slow Living di Perumahan Jauh Lebih Nyaman Ketimbang Desa yang Malah Bikin Stres, tapi Harus Rela Dicap Sombong dan Sok Eksklusif

9 April 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026
Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

2 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.