Pastor Berjubah Putih Melawan Kiriman Santet dengan Media Tokek di Labuan Bajo MOJOK.CO
Pastor Berjubah Putih Melawan Kiriman Santet dengan Media Tokek di Labuan Bajo MOJOK.CO

Pastor Berjubah Putih Melawan Kiriman Santet dengan Media Tokek di Labuan Bajo

MOJOK.COPastor itu memang berhasil mengusir santet roh jahat yang mengganggu tante teman saya. Namun, gangguan itu hanya hidangan pembuka saja.

Istilah eksorsisme saya kira sudah nggak asing. Tidak jarang, kata eksorsime ini lebih dekat dengan agama Katolik. Secara lebih umum, kita mengenalnya sebagai santet. Biasanya, seorang pastor, digambarkan dengan pakaian misa lengkap, menenteng kitab suci, dan salib di tangan. Mereka membacakan beberapa ayat kitab suci dan menanyakan nama dari roh jahat yang memasuki seseorang. Pastor bisa membuat roh jahat ketakutan dan akhirnya diusir.

Sebagai seseorang yang pernah dididik di lembaga calon pastor, saya sering membayangkan adegan di atas. Saya akrab dengan berbagai macam pakaian yang dikenakan pastor dan juga beberapa doa yang diucapkan. Namun, bagaimana persisnya eksorsisme tidak pernah saya lihat secara langsung.

Oleh sebab itu, bayangan saya tentang eksorsisme umumnya mirip dengan apa yang ditampilkan di film. Dan akhirnya, pandangan ini berubah ketika saya menyaksikannya secara langsung. Teror santet Ini terjadi empat tahun yang lalu….

Awal teror santet dan pukulan keras di jendela

Awal 2017, saya berlibur bersama teman seminaris ke Labuan Bajo. Saya menginap di rumahnya untuk beberapa lama. Semuanya berjalan seperti hari-hari libur sekolah pada umumnya. Waktu itu, kami juga mempersiapkan diri untuk pernikahan kakak pertama teman saya.

Suatu hari, banyak keluarga teman saya berkumpul untuk rapat persiapan pernihakan. Seperti biasa, saya dan teman saya menghabiskan waktu di kamar untuk main game.

Ketika asyik main game, hal aneh terjadi. Jendela kaca di kamar seperti dipukul dengan keras. Saya dan teman saya secara reflek meloncat lalu keluar kamar. Beberapa detik berselang, dari kamar sebelah terdengar teriakan:

“Dalam darah Yesus! Aku memerintahkanmu keluar sekarang juga!” Seketika itu juga, suasana rumah berubah. Suasana tiba-tiba hening setelah teriakan itu.

Semua orang mengarahkan pandangan ke pintu kamar yang masih tertutup itu. Beberapa anggota keluarga berlari menuju pintu dan membukanya. Sebuah pemandangan aneh tersaji:

Tante teman saya sedang terbaring menelungkup seperti katak dan merintih kesakitan. Sementara itu, oma teman saya sedang memijit-mijit pinggang tante. Oma sedang berusaha mengusir “sesuatu” dari tubuh tante.

Teriakan “Dalam nama Yesus” dan “darah Yesus” silih berganti terdengar. Itu diiringi rintihan kesakitan tante. Satu pemandangan yang paling aneh adalah tante teman saya justru meringis, seperti tersenyum, ketika merintih kesakitan.

Ini pengalaman pertama saya melihat orang kena santet. Saya terjebak dalam kebingungan, antara mau ikut berdoa atau bertindak sesuatu. Saya hanya mematung sementara anggota keluarga lain kerepotan memegangi badan tante teman saya.

Oma teman saya bilang kalau tante kena jampi-jampi. Ada roh jahat kiriman yang memasuki tubuhnya. Saya sebenarnya tidak ingin terlalu percaya. Namun, ekspresi di luar nalar yang ditunjukkan tante membuat iman saya goyah juga.

Sembari menunggu pastor yang dipanggil untuk mengusir roh jahat itu, kami berdoa. Bapa Kami, Salam Maria, dan potongan ayat suci kami daraskan. Anehnya, roh jahat itu menertawakan doa-doa kami. Dia, meminjam bibir tante teman saya, berbicara dalam bahasa yang tidak kami pahami. Nada bicaranya seperti mengejek sambil marah besar.

Datangnya seorang pastor

Tak lama berselang, pastor sudah datang. Segala adegan film dengan tema eksorsisme melintas di benak saya. Apakah pastor itu akan datang dengan perlengkapan misa lengkap? Apakah pastor itu akan mendudukkan tante dan membacakan segala macam ayat kitab suci dan meminta nama orang yang mengirimi santet itu?

Imajinasi saya koyak oleh suara tokek. Suaranya sangat lantang. Tiga kali saya mendengar suara itu. Terasa sangat dekat, kadang jauh. Anehnya, hanya saya yang mendengar suara lantang dari tokek itu. Seisi rumah tak ada yang mendengarnya.

Pastor yang baru datang itu langsung menegur kami. Dia meminta kami untuk tidak berhenti berdoa meski ditertawakan roh jahat itu. Pastor itu masuk ke kamar setelah mengambil napas panjang. Saya perhatikan, bibirnya terus bergerak. Nampaknya dia masuk kamar sambil mendaraskan suatu doa.

Terbukti, begitu sang pastor masuk kamar, tante teman saya meraung. “Sialan! Jangan masuk! Jangan usir saya!”

Saya yang kaget dengan kerasnya raungan itu sontak menghentikan doa Salam Maria. Sang pastor menoleh ke arah saya. Pandangan matanya seakan meminta saya untuk tidak berhenti berdoa. Saya, yang imannya agak goyah dan sedikit takut, melanjutkan doa Salam Maria dengan terbata-bata.

Sang pastor itu datang dengan pakaian serba putih dan mengenakan stola (perlengkapan misa). Setelah saya menyelesaikan satu kali doa Salam Maria, entah bagaimana, baju sang pastor menjadi terlihat lebih cerah. Seakan-akan warna putihnya bercahaya. Seperti ada baju zirah yang melingkupinya.

Selesai menggumamkan doa, sang pastor mendekati tante teman saya. Raungan tante semakin keras. Sang pastor meminta kami untuk memegangi kaki dan tangan tante kuat-kuat. Sang pastor, tak menggubris perlawanan tante, menggosokkan air suci ke telapak tangan, telapak kaki, leher, telinga, dan pusar tante teman saya.

Roh jahat di dalam tubuh tante nampaknya semakin tak nyaman. Raungan dalam bahasa yang sangat asing kembali terdengar. Sang pastor diam beberapa saat. Dia mengamati gelagat roh jahat itu.

“Saya sudah menutup semua jalan keluar. Saya tahu kamu kesakitan. Kalau kamu mau bilang jujur, saya akan kasih kamu keluar. Sekarang jawab saya. Siapa yang mengirim kamu?” Pastor itu memulai adegan tanya jawab dengan si roh jahat.

Bukannya menjawab, roh jahat itu justru tersenyum menghina lalu tertawa. Setelah itu disusul rintihan, yang menunjukkan kalau roh jahat itu sebetulnya kesakitan.

“Saya bisa saja membuat dirimu tidak ada saat ini juga. Tapi saya ingin damai. Kita mesti saling mengasihi. Saya kasihi kamu, kamu kasihi orang yang kamu masuki ini. Jawab saya.” Sang pastor itu menurunkan nada bicaranya.

Lagi-lagi tidak ada jawaban….

Sedetik kemudian si tante mulai memberontak. Tiba-tiba, tente teman saya menoleh ke arah saya lalu membentak, “Jangan diam! Ayo, terus berdoa!” Kalimat itu ditutup dengan suara tawa yang mengerikan. Roh jahat itu menertawakan doa-doa yang kami daraskan. Doa manusia dengan iman yang tengah goyah memang tak bertenaga.

Saya terperanjat, lalu terdiam….

Sang pastor langsung bertindak. Dia tekan ibu jari kaki tante teman saya. Suara tawa yang mengerikan berubah menjadi raungan. “Jangan kamu cobai kami. Kami tidak takut sama kamu. Kami ingin kamu jujur sebelum kamu saya usir keluar!”

Nampaknya pastor itu curiga akan sesuatu. Menurut penuturannya, roh jahat itu masih sombong karena punya satu “media” tempatnya bisa masuk rumah. Sehingga dia tidak takut jika hendak diusir karena bisa kembali lagi dengan mudah.

Media tokek

Di tengah kebingungan, suara tokek kembali terdengar. Sangat nyaring, kadang terdengar dekat, kadang jauh. Kali ini tidak hanya saya yang mendengar suara itu. Sang pastor juga mendengarnya. Seketika, kami berdua tahu bahwa media yang dimaksud adalah hewan bernama tokek itu.

“Oh, jadi kamu masuk lewat tokek ya.”

Seketika itu juga, senyum penuh kesombongan hilang dari raut tante teman saya. Wajahnya memerah, seperti marah besar. Dia tahu kalau jampi-jampi yang dikirim tidak akan berhasil ketika tokek yang menjadi media dimusnahkan.

Suara nyaring tokek itu kembali terdengar. Kali ini seperti berasal dari ruangan yang sama dengan kami. Namun, ketika kami melihat sekeliling dinding, tokek itu tidak ada di sana.

Setelah meminta anggota keluarga memegangi tante teman saya, pastor itu menggandeng saya keluar kamar.

“Hanya saya dan kamu yang dengar suara itu. Cari sampai dapat.”

Pastor bergerak ke luar, ke sekeliling rumah. Saya dan teman saya mencari di dalam rumah. Teman saya yang tidak mendengar suara tokek itu cuma bisa mengikuti gerak-gerik saya sambil keheranan.

Ruangan pertama yang langsung saya tuju adalah kamar teman saya. Kamar di mana sebelumnya terdengar suara pukulan keras di jendela kaca. Saya mencari di dalam kamar mandi. Tidak ada. Di bawah ranjang. Tidak ada. Ketika hendak keluar ruangan, suara tokek itu kembali terdengar. Lebih nyaring dari biasanya.

Saya yang terperanjat, langsung menoleh ke lemari besar di sudut kamar. Ada jarak kecil antara lemari dan dinding dan tokek jadi-jadian itu ada di sana. Besar sekali. Mungkin sekitar 50 sentimeter. Berwarna putih pucat dengan totol-totol berwarna merah tua.

Keringat dingin langsung mengucur. Bulu kuduk saya meremang. Bagaimana bisa tokek itu ada di kamar teman saya? Apakah suara pukulan keras tadi menjadi tanda masuknya tokek jadi-jadian itu?

Saya langsung mencari pastor dan bilang padanya bahwa tokek itu ada di kamar teman saya, persis di balik lemari. Pastor itu berjalan dengan cepat tanpa rasa takut. Dia membawa sapu lidi. Saya dan teman saya mengikutinya dari belakang.

Setibanya di kamar, dengan mudah pastor menggeser lemari besar yang pastinya berat itu. Sebuah jarak cukup lebar antara lemari dan dinding terbuka. Saya tidak tahu sifat tokek. Mungkin, jika dia binatang betulan, pasti sudah lari. Namun, tokek itu diam saja, menempel di dinding.

Setelah mendaraskan suatu doa, pastor itu memukulnya. Seketika itu juga, tokek jatuh ke lantai. Pastor itu memungut tokek itu dan mencekik lehernya. Mulut tokek itu lantas menganga karena dicekik cukup kuat. Sesudah itu, pastor kembali ke kamar tante sambil membawa tokek itu. Roh jahat di dalam tubuh tante meraung. Marah besar.

“Saya sudah dapat dari mana kamu masuk!”

Mulut tokek itu terbuka dan anehnya mulut tante ikut terbuka. Persis seperti tokek tersebut. Sejurus kemudian, roh jahat itu mulai tertawa mencemooh. Semua itu ia lakukan dengan mulut terbuka. Saya sama sekali tidak melihat raut jengkel di wajah Pastor yang saya temani. Dia malah mengatakan bahwa dia bisa menghilangkannya saat ini juga. Tapi sekali lagi dia ingin jalan damai dan menanyakan maksud sesungguhnya dari pengirim roh ini.

“Kamu calon pastor, kan?” tanya pastor tersebut ke saya.

“Iya pastor,” jawab saya sedikit ragu.

“Pegang tokek ini. Saya ingin membuat roh ini jera.”

Saya membeku. Takut. Tapi, Pastor itu yakin sekali. Saya tidak menjawab. Saya berpikir keras bagaimana seharusnya saya memegang tokek yang menjasi media santet ini. Setelah memberanikan diri, akhirnya saya bisa memegangnya. Sedikit gemetaran, tapi akhirnya saya bisa mengatur napas dan mencekik leher tokek ini.

“Saya sudah pegang kamu punya wujud kiriman ini. Saya mau tanya-tanya kamu sebentar, sebelum kamu pergi baik-baik nanti. Siapa yang kirim kamu? Kenapa kamu kasih begini perempuan ini? Dia salah apa sama kamu?”

Pastor itu masih bertanya dengan nada lembut. Pertanyaan itu diulang terus. Saya mulai tidak memahami percakapan mereka karena mereka berdua mulai bercakap-cakap dalam bahasa Manggarai.

Proses tanya-jawab itu berlangsung agak lama. Roh jahat itu akhirnya mau menjelaskan siapa yang mengirim santet beserta tujuannya. Dia tidak punya pilihan lain ketimbang dimusnahkan.

Jadi, yang mengirim santet ini adalah teman kantor ayah teman saya. Entah kenapa jampi-jampi itu bisa berbelok kena tante teman saya.

“Frater (sebutan untuk calon pastor), kau pergi bakar sudah tokek itu,” kata pastor tersebut ke saya, “roh kiriman ini masih ingin jahat. Bakar saja biar dia jera.”

Saya kaget tentu saja. Permintaan pastor ini sering mengagetkan. Tapi, sekali lagi, wajahnya tidak menginginkan penolakan. Mau tidak mau, saya harus melakukannya. Saya dan teman saya pergi ke belakang rumah. Kami ditemani dua keponakan teman saya. Setelah api menyala, mereka memegangi tokek itu sementara saya menusukkan kayu ke mulut binatang jadi-jadian itu.

Dari dalam rumah kami mendengar tante teman saya meraung sangat keras. Dia terdengar kesakitan. Beberapa menit kemudian, raungan itu reda dan suasana menjadi begitu hening. Roh jahat itu sudah pergi dari tubuh tante teman saya.

Teror santet itu belum usai

Ketika tokek itu mulai gosong, seekor kucing hitam mendekat. Saya meminta salah keponakan teman saya melempar batu ke kucing itu. Tapi kucing itu tidak bergeming. Dia mendekat lalu berdiri di sebelah tokok yang terbakar. Dia duduk dan menhamati. Seram betul.

Kami mulai takut dan masuk ke rumah. Di dalam, raut wajah pastor menyiratkan semuanya belum baik-baik saja.

Dia memutuskan berkeliling rumah untuk menabur garam. Setelah itu, dia menyiramkan air suci ke beberapa sudut rumah. Sementara itu, tokek yang terbakar di belakang rumah sudah hilang. Kucing hitam menyeramkan juga lenyap. Yang tersisa hanya kayu gosong yang tadi saya gunakan untuk menusuk mulut tokek itu. Aneh sekali.

Ketika kembali ke dalam rumah, saya melihat pastor kelelahan. Sementara itu, tante teman saya kini demam tinggi. Tubuhnya panas sekali.

Setelah minum air putih dan beristirahat, pastor itu mengingatkan kami untuk tidak putus berdoa rosario sampai pagi menjelang. Entah kenapa dia masih masih curiga jampi-jampi belum sepenuhnya hilang.

Hawa dingin masih terasa dan suasana masih mencekam. Seluruh anggota keluarga duduk meriung membuat lingkaran dan berdoa rosario dipimpin sang pastor.

Saya, yang berusaha berkonsentrasi kepada doa, malah merasa tidak nyaman. Tiba-tiba, dari atas plafon, terdengar suara dentuman. Keras sekali. Doa rosario itu terputus. Sedetik kemudian, suara tokek terdengar lagi. Nyaring dan kini bersahut-sahutan.

Tidak hanya satu, ada banyak tokek tiba-tiba muncul di plafon rumah. Malam semakin kelam, semakin panjang….

BACA JUGA Doa Bapa Kami, Doa Malam Keluarga Jin: Ketika Tembok Belakang Rumah Memotong Makam Menjadi 2 dan kisah menyeramkan lainnya di rubrik MALAM JUMAT.