MOJOK.COBom bunuh diri di Minggu Palma jelang Paskah. Enak banget jadi pemeluk Katolik, ya. Makasih para teroris.

Katanya bom bunuh diri baru saja meledak di depan Gereja Katedral Makassar di Minggu Palma ini. Media massa berlomba-lomba menulis berita terkini. Media sosial mulai memanas. Perdebatan soal siapa pelaku dan latar belakang mulai muncul. Seru sekali, ya. Tapi, udah nggak bikin kaget, sih.

Saya, sebagai pemeluk Katolik, malah merasa aneh kalau nggak ada geger gedhen menjelang hari besar. Iya, akhir minggu nanti, kan, sudah Paskah. Sekarang, Minggu (28/3) adalah peringatan Minggu Palma. Sebuah hari pembuka dari rangkaian tri hari suci umat Katolik. Sebagai kafir yang konon darahnya halal, setiap hari besar, udah jadwalnya jadi incaran oknum. Bekal masuk surga, kan? Iya, saya paham, kok.

Banyak umat Katolik di sekitar saya yang mengaku prihatin. Grup keluarga di WhatsApp sudah mulai ramai. Tautan dan kutipan sudah dibagikan. Grup yang biasanya cuma ramai kalau mau arisan, jadi lebih hidup berkat bom bunuh diri di depan Gereja Katedral Makassar. Jadi, pada titik tertentu, saya kudu berterima kasih kepada teroris, nih.

Lho, iya, dong. Umat Katolik kudu berterima kasih. Sini, saya ceritain kisah bukan nabi-nabi….

Pertama, terima kasih bom bunuh diri. Berkat kalian, pembahasan di grup WhatsApp keluarga Katolik jadi agak beragam. Selain arisan, biasanya grup cuma penuh sama tautan misa atau ibadah online. Lama-lama bosen juga, dong. Nanya: “Share link, gan,” eh dikasihnya link ibadah online, kan maunya link yang ena-ena hehehe….

Kedua, bom bunuh diri para teroris ini “pengertian banget”. Kok, ya, pas banget njebluk di Minggu Palma. Tahukah kamu, dear terrorist, Minggu Palma adalah pembuka rangkaian Paskah. Minggu Palma menjadi pengingat akan penderitaan Yesus Kristus untuk menebus dosa SEMUA manusia, termasuk bapak dan ibu teroris. Cieee, dosanya ditebus sama Tuhan-nya kafir.

Masalahnya, sudah banyak orang Katolik yang kayaknya lupa sama teladan penderitaan Yesus. Apalagi udah satu tahun lebih nggak ke gereja. Lha wong nggak ada pandemi ke gerejanya pakai tema “Napas”, apalagi pas pandemi. Tema Napas itu maksudnya ke gereja cuma pas Natal dan Paskah.

Nah, berkat bom bunuh diri ini, umat Katolik jadi semacam “kaget” gitu. Kaget, ternyata ini udah Minggu Palma. Udah mau Paskah. Saya yakin, banyak yang lupa kalau sekarang ini Minggu Palma, kan. Ayo, sana, cium tangan sama bapak atau ibu teroris.

Tahukah kamu, daun palma yang diberkati di Minggu Palma akan dibakar? Abu dari pembakaran itu akan digunakan di perayaan Rabu Abu, salah satu rangkaian perayaan Paskah. Abu pembakaran daun palma yang digoreskan membentuk tanda salib ketika Rabu Abu melambangkan pertobatan.

Mengutip dari situs resmi Komisi Kateketik Konferensi Waligereja Indonesia (Komkat KWI), abu menjadi tanda kerapuhan manusia yang mudah jatuh dalam kelemahan dosa.

Jadi, bom bunuh diri di depan Gereja Katedral itu kalau dilihat dari sisi iman, rasanya pas banget. Bagi umat Katolik, yang namanya “memikul salib” mengikut Tuhan itu beratnya minta ampun. Salah satunya ya jadi incaran “darah halal” itu tadi.

Namun, ketika iman tetap kuat dan rasa saling mengasihi siapa saja tetap lestari, berkah dari Tuhan sudah tersedia. Makanya, saya malah berterima kasih kepada bapak dan ibu teroris yang mencobai iman kami terus-menerus. Berkah kami makin besar. Jadi, pekerjaan kalian tidak sia-sia. Terima kasih.

Oya, satu hal lagi, abu dari pembakaran daun palma itu juga melambangkan bahwa manusia itu berasal dari abu. Kelak, akan menjadi abu pula. Ironis bukan, para teroris yang jadi “korban” bom bunuh diri malah menjadi abu. Mereka malah mengimani Rabu Abu secara sangat nyata. Hebat.

Jadi, gimana, kamu masih percaya ada yang namanya kristenisasi atau katolikisasi? Mau jadi sasaran masuk surga setiap hari besar? Saya, kok, ragu ada yang mau. Memikul salib itu berat, lho. Sudah, kamu nggak bakal kuat. Biar kami para kafir saja.

Saya ingin menutup tulisan sangat singkat ini dengan sebuah pengingat. Katolik itu bermakna “sesuatu yang universal”. Katolik bukan hanya soal bangunan dan bentuk fisik. Katolik adalah milik semua manusia yang berjalan di muka bumi ini.

Jadi, pelaku bom bunuh diri di depan Gereja Katedral Makassar juga orang Katolik. Mereka melukai diri sendiri yang Katolik. Melukai rasa kemanusiaan yang dihadiahkan Tuhan ketika mereka lahir.

Untuk para korban, beristirahatlah dalam damai. Untuk para teroris, ini hari Minggu, ha mbok libur. Malah kerjo. Jancok!

BACA JUGA Refleksi Sebulan Bom Surabaya: Ke Gereja Sekarang Berasa ke Barak Tentara dan tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.

Baca juga:  Salah Kaprah Citra Liqo atau Pembinaan Agama ala PKS