Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Cerita Peruqyah di Jogja Sembuhkan Orang Katolik Kerasukan Pakai Doa Islam, Terbukti Ampuh tapi Ngeri Hadapi Iblis Terkuat

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
21 Agustus 2024
A A
Pengalaman Peruqyah (Ahli Ruqyah) di Jogja Hadapi Baphomet di Tubuh Orang Katolik yang Kerasukan karena Tak Ada Eksorsis MOJOK.CO

Ilustrasi - Pengalaman peruqyah (ahli ruqyah) di Jogja hadapi orang Katolik yang kerasukan karena tak ada pakar eksorsis. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Seorang peruqyah (ahli ruqyah) di Jogja berbagi cerita tentang pengalamannya meruqyah orang Katolik yang kerasukan karena tidak adanya seorang eksorsis. Pengalaman yang membuatnya sempat “angkat tangan” lantaran berhadapan dengan sosok Baphomet: iblis berkepala kambing yang dipercaya sebagai salah satu iblis terkuat.

***

Iklan

Belakangan saya memang tengah mencoba mencari tahu seorang eksorsis di Jogja. Yakni seorang rohaniawan Katolik yang dipercaya memiliki kekuatan khusus untuk melakukan eksorsisme (pengusiran kuasa gelap alias iblis). Kalau dalam agama yang saya anut (Islam), mirip seperti peran ustaz atau peruqyah lah.

Keinginan untuk mencari tahu tersebut muncul atas dorongan rasa penasaran, bagaimana praktik dan doa-doa yang para eksorsis rapalkan saat mengusir iblis. Pasalnya, selama ini saya hanya bisa melihat praktik eksorsisme melalui film-film Barat.

Itu pun akhirnya menimbulkan pertanyaan baru, kenapa ya dalam film-film tersebut praktik eksorsisme terlihat sangat berat dan sulit. Si eksorsis sampai harus berdarah-darah untuk mengusir setan atau iblis yang merasuki tubuh manusia.

Sangat berbeda ketika saya melihat praktik ruqyah yang dilakukan oleh ustaz peruqyah. Cenderung mudah. Cukup dibacakan ayat-ayat Al-Qur’an dan doa-doa (sesuai ajaran Rasulullah Saw), maka entitas gelap yang merasuki tubuh seseorang akan kesakitan dan memilih keluar.

Apa karena setan atau iblis dalam versi Katolik punya levek kekuatan yang lebih kuat ya ketimbang setan atau iblis yang kerap merasuki orang Islam? Memang pertanyaan bodoh. Tapi saya merasa perlu mencari jawaban.

Sulit menemukan eksorsis di Jogja

Di Jogja, kebetulan saya memilik beberapa teman Katolik. Sayangnya, saat saya tanya perihal eksorsis di Jogja, mereka kompak menjawab “tidak menemukan”.

Misalnya Bowo. Pria menjelang 40-an pekerja media di Jogja itu mengaku ada saudaranya yang pernah kerasukan. Karena tidak ada seorang eksorsis, maka pilihannya bukanlah melakukan eksorsisme, melainkan ruqyah.

“Ya manggil ustaz yang terkenal ahli ruqyah di Jogja lah. Dibaca-bacain doa secara Islam. Setannya nyatanya bisa keluar,” ungkapnya saat kami berbincang pada akhir Juli 2024 lalu.

Bahkan untuk urusan meruwat rumah pun, saudara Bowo mengaku memilih menggunakan jasa peruqyah.

Teman Katolik lain, Prabu (30-an) juga mengungkapkan hal serupa. Sejauh pengetahuan dan pengalamannya, ia belum pernah menemukan eksorsis di Jogja.

“Bapakku ahli klenik, Kejawen. Jadi kalau menangani kasus kerasukan pakai cara Kejawen,” jelasnya saat kami bertemu di sekitar Taman Makam Pahlawan Jogja pada awal Agustus 2024 lalu.

Saya lantas bertanya pada teman Katolik lain, Andono. Pria 40-an tahun itu mengaku tak pernah bersinggungan dengan hal-hal mistis. Hanya saja ia punya beberapa kenalan yang pernah menggunakan jasa eksorsis.

Iklan

“Wah tapi adanya di Solo, di Jogja nggak ada,” kata Andono.

“Punya kontaknya?” tanya saya pada Andono.

“Teman-temanku nggak ada yang punya, mereka cuma tahu lokasi persisnya di mana,” jawabnya.

Saya memang perlu menuju Solo. Tapi yang jelas, sejauh upaya saya menelusuri, ternyata sulit menemukan eksorsis di Jogja. Atau memang jangan-jangan memang tidak ada?

Pertemuan dengan peruqyah orang Katolik di Jogja

Penelusuran perihal eksorsis di Jogja—untuk sementara—saya hentikan. Sampai suatu malam, seorang kawan dari komunitas KBEA mengabari kalau ia baru saja berkenalan dengan peruqyah yang memiliki pengalaman ruqyah orang-orang Katolik.

Tanpa pikir panjang, janji bertemu langsung dibuat. Kami lalu bertemu pada Rabu (14/8/2024) pukul 21.00 WIB di sebuah kafe di Ngaglik, Sleman.

Namanya Rifki. Awalnya saya mengira ia pria 40-50 tahunan. Ternyata ia masih muda, umur 30-an. Gayanya pun khas anak muda. Label “ahli ruqyah” tak serta merta membuatnya berpakaian ala ustaz atau yang nyentrik-nyentrik.

Rifki datang dengan setelan jaket dan celana pendek. Tak lama setelah basa-basi singkat, pemuda alumni Pondok Pesantren Modern Gontor Ponorogo itu langsung banyak bercerita. Sosok yang sangat ramah.

“Kalau kemampuan ruqyah turun dari keluarga. Sejak 2010 (saat masuk Gontor) sebenarnya sudah tahu dan sudah mulai memperdalam. Terus sekarang jadi jalan dakwah dan bantu orang,” ungkap Rifki.

Kemampuan ruqyah yang Rifki miliki memang ia gunakan sebagai medium dakwah. Sebab, saat menyembuhkan orang, ia selalu menekankan aspek tauhid. Mengajak pasiennya agar punya kesadaran untuk kembali taat pada Allah Swt.

Hal itu pun tercermin dari cara bicara Rifki. Sepanjang obrolan—hingga tengah malam—berulang kali ia memulai dan mengakhiri ucapannya dengan ucapan “Qadarullah (atas kehendak Allah)”. Setiap jawaban yang ia berikan atas pertanyaan saya, pasti selalu mengarah pada pengingat agar manusia selalu memasukkan unsur “Allah” dalam laku hidupnya sehari-hari.

Sembuhkan orang Katolik yang kerasukan dengan doa Islam

Sejak dikenal sebagai peruqyah di Jogja, pasien Rifki mayoritas tentu dari kalangan umat Islam. Namun, lambat laun, beberapa orang Katolik juga minta penyembuhan pada Rifki.

Sudah beberapa kasus orang Katolik kerasukan pernah ia tangani. Ya mungkin karena itu faktor yang sudah saya singgung sebelumnya, mau melakukan eksorsisme tapi kesulitan menemukan eksorsis di Jogja.

“Saya minta saja temen-temen (Katolik) itu baca doa-doa versi Katolik. Saya bantu doa dengan cara Islam,” ucap Rifki membeberkan metodenya.

Ada juga kasus di mana hanya Rifki yang membacakan doa-doa dalam versi agama Islam. Hasilnya, jin atau setan atau iblis yang merasuki seorang Katolik tersebut ternyata bisa keluar. Penjelasannya agak sufistik.

“Jadi kalau jin atau iblis itu kan tahu kalau di atas mereka ada kuasa yang lebih kuat, yaitu Tuhan. Kalau di Islam Allah, kalau di Katolik Yesus. Hanya beda penyebutan, tapi hakikatnya kan merujuk pada Tuhan yang Tunggal,” papar Rifki.

Konsep yang Rifki sampaikan kalau dalam Tasawuf-nya Mansur al-Hallaj dikenal dengan konsep “Wahdatu al-adyan”: kebersatuan agama-agama. Yakni keyakinan bahwa meski punya cara ibadah dan istilah yang berbeda, tapi muara agama-agama di dunia sejatinya sama: hakikat Tuhan yang Esa.

“Nah, mau nyebut Allah, mau nyebut Yesus, energi asma-nya kan sama. Energi itulah yang mengusir si setan atau iblis yang merasuki tubuh manusia,” jelas Rifki antusias.

Peruqyah di Jogja “angkat tangan” hadapi Baphomet

Ada satu pengalaman yang sangat membekas bagi Rifki saat menangani kasus kerasukan orang Katolik. Yakni ketika ia harus berhadapan dengan Baphomet.

Suatu kali ia didatangi oleh seorang Katolik berjuluk “Mata Merah”. Julukan itu bukan tanpa alasan. Sebab, dalam momen tertentu, mata si pasien Rifki tersebut bisa berubah menjadi merah menyala.

“Usut punya usut, ternyata pasienku ini sudah bersekutu dengan Baphomet. Kalau matanya berubah merah, itu sudah bukan dirinya lagi, itu sudah Baphomet yang ambil alih,” ungkap Rifki.

“Itu bener-bener terlihat, Mas. (Setidaknya dalam penglihatan Rifki selaku ahli ruqyah di Jogja). Jadi kepala kambing menyeramkan di balik wajah pasienku,” sambung Rifki menggambarkan sosok yang ia lihat waktu itu.

Rifki memilih “angkat tangan”. Saat itu ia merasa ilmunya masih kurang. Sehingga kalau harus beradu dengan Baphomet—sebagai salah satu iblis terkuat—besar kemungkinan ia kalah.

Pertukaran jiawa lebih ekstrem ketimbang kerasukan

Saat itu ia hanya bisa melakukan upaya sesuai batas kemampuannya. Ia meminta si pasien membaca doa-doa versi Katolik. Sementara Rifki mengupayakan sesuai syariat Islam. Hasilnya, si pasien sampai muntah darah hebat.

“Kasusnya sudah pertukaran jiwa atau persekutuan. Jadi bukan kerasukan. Kalau begitu akan lebih sulit karena memang sudah terikat janji antara pasien dan iblis. Keduanya sudah terikat pula secara jasad maupun jiwa. Mangkanya sering si Baphomet muncul menguasai diri si pasienku itu,” ungkap ahli ruqyah muda di Jogja tersebut.

Kerasukan lebih mudah karena biasanya entitas gelap “iseng” memasuki tubuh manusia. Kasus seperti ini masih sangat bisa diusir. Sementara persekutuan lebih sulit karena sudah terjadi kesepakatan antara manusia dengan iblis yang akan menguasai dirinya.

Sudah lama Rifki tak mendengar kabar pasien Katolik-nya tersebut. Namun, ia berharap agar si pasien itu benar-benar bisa membebaskan jiwanya dari penguasaan Baphomet.

Makin larut malam, cerita dari Rifki makin menarik dan seru. Berbatang-batang rokok ludes. Segelas minuman dan sebotol air mineral di atas meja juga tandas menemani obrolan hingga larut malam itu. Tapi banyak dari cerita tersebut yang tidak bisa ikut saya tulis di sini. Ada batasan yang harus saya patuhi.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Hammam Izzuddin

BACA JUGA: Bertahun-tahun Tinggal di Desa Sarang Tuyul, Cuma Bisa Waswas Uang Hilang Setiap Saat karena Tak Punya Banyak Pilihan

Cek berita dan artikel Mojok lainnya di Google News

 

Terakhir diperbarui pada 21 Agustus 2024 oleh

Tags: ahli ruqyahcara sembuhkan orang kerasukandoa orang kerasukaneksorsiseksorsismeJogjakerasukanperuqyahperuqyah di jogjaruqyah
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Jupiter Z1 Adalah Motor Yamaha Terbaik Idola Orang Jambi MOJOK.CO
Otomojok

Setelah Melakukan Pengamatan, Saya Menemukan Fakta Bahwa Jupiter Z1 Adalah Motor Yamaha yang Menemukan Habitat Alaminya di Jambi

25 Juni 2026
Untuk Jogja Menjadi Kota Wisata Rendah Emisi Karbon.MOJOK.CO
Eksplor

Untuk Jogja Menjadi Kota Wisata Rendah Emisi Karbon

15 Juni 2026
Gaji 2 juta hasil kerja di Jogja habis buat ngasih makan naga (judi slot) karena ilusi jackpot MOJOK.CO
Urban

Gaji 2 Juta Jogja Selalu Lenyap buat Ngasih Makan Naga: Rela Kelaparan dan Susahkan Ortu-Teman demi Jackpot, Tapi Tak Mau Sadar

14 Juni 2026
Evakuasi anjing terbuang dari tangan para jagal di Jogja MOJOK.CO
Suara Bawah Tanah

Evakuasi Anjing Terbuang dari Operasi Senyap Para Jagal di Jogja, Kebal Intimidasi dan Caci Maki

10 Juni 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Bisa kuliah di ITB berkat beasiswa ojol. MOJOK.CO

Menangis di Hadapan Bapak yang Sehari-hari Ngojol agar Diizinkan Kuliah di ITB, Gadis Malah Dapat Beasiswa dari Pekerjaan Sang Ayah

24 Juni 2026
Umbul Wadon Plunyon, Kalikuning. MOJOK.CO

Umbul Wadon: Jantung Air Kota Jogja di Balik Panorama Indah Plunyon Kalikuning yang Terkesan Seram

26 Juni 2026
Wisata air Rawa Pening, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah akan dikembangkan. Ada investasi dari Cilacap hingga Jepang MOJOK.CO

Rawa Pening Kabupaten Semarang bakal Jadi Wisata Unggulan Jateng, Tawarkan Rumah Makan Apung-Keramba

25 Juni 2026
Dikira Komunis tapi Fasih Baca Al-Qur’an: Dilema Anak Masyumi Baca Karl Marx di Filsafat UGM MOJOK.CO

Dikira Komunis tapi Fasih Baca Al-Qur’an: Dilema Anak Masyumi Baca Karl Marx di Filsafat UGM

29 Juni 2026
Menurut Pakar UGM, Pelatihan Dasar Militer (Latsarmil) calon manajer Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes Merah putih/KDMP) harus dievaluasi MOJOK.CO

Pelatihan Militer ke Manajer Kopdes Merah Putih Perlu Didesain Ulang, Harus Lebih Relevan dengan Tata Kelola Koperasi agar Tak Ada Korban Lagi

29 Juni 2026
Refleksi untuk orang tua di Jawa Tengah (Jateng): punya peran penting awasi anak agar tidak sibuk main gadget MOJOK.CO

Refleksi untuk Orang Tua di Jateng agar Gadget Tak Kuasai Rumah hingga Anak Lebih Sibuk Tenggelam dalam Layar

29 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.