Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Cerbung Berbalas Fiksi

Pedagang Mindring yang Dikejar Utang Diam-Diam

Nia Perdhani oleh Nia Perdhani
1 Juli 2019
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Baca cerita sebelumnya di sini.

Pertengahan Juni tahun ini tak seperti yang lalu-lalu. Sudah berminggu-minggu hujan tak turun. Jangankan hujan, mendung pun nyaris tak pernah terlihat walau sebentar, membuat kota yang terletak di pesisir utara Pantai Jawa itu menjadi sangat kering.

Jika berada di jalanannya pada siang hari terik, kaki tak ubahnya seperti pisang yang disangrai di atas wajan. Tinggal bubuhkan susu coklat dan serutan keju, jadilah Banana Chocolate Cheese. Atau, apakah bayangan aroma jempol kaki yang diserang jamur kutu air langsung jadi pengganggu imajinasimu?

Di atas jalanan itu, dari kejauhan, tampak seorang perempuan paruh baya berjalan cepat sambil menjinjing tas kresek yang terlihat agak berat. Wanita itu membelokkan langkah ke sebuah rumah bagus berhalaman semen luas. Pagar tembok tinggi mengelilingi halamannya. Sebuah Nissan Livina terparkir gagah menutupi sepertiga halaman semen. Gerbang pagarnya memang sudah terbuka sehingga wanita itu bisa langsung melangkahkan kaki ke dalam.

“Permisi… Bu RT…” Ia menguluk salam memanggil tuan rumah.

“Bu Tri, ya?” sayup-sayup terdengar balasan dari dalam.

“Iya, Bu.”

“Masuk, Bu. Duduk dulu. Tunggu sebentar.”

Perempuan yang dipanggil Tri itu mengayunkan langkahnya memasuki ruang tamu dan duduk di kursi sofa. Menunggu, sesuai perintah suara dari dalam rumah yang didengarnya tadi.

***

Sementara itu, di warung kopi di kota sebelah…

Meskipun tersembunyi di lorong-lorong jalan sempit di luar pagar batas kawasan industri, warung itu tenar betul. Jam beroperasinya 24 jam karena si pemilik juga tinggal di dalamnya. Tadinya, warung itu adalah rumah belaka. Seorang janda perantau dari daerah menyewa rumah berdinding kayu itu untuk ditinggalinya.

Mak Srunti, demikian perempuan itu biasa dipanggil. Untuk menopang hidupnya, teras rumah ia atur sedemikian rupa sehingga berubah bentuk menjadi kedai kecil. Di dalamnya terdapat satu meja panjang tempat ia menaruh berbagai macam cemilan dan minuman ringan. Kursi-kursi bambu ia pasang untuk melengkapinya.

Kebanyakan pengunjungnya adalah kalangan pekerja bangunan, mandor proyek, mandor pabrik, atau sales-sales yang menepi sekadar melepas haus dan penat.

Iklan

Mak Srunti punya dua orang asisten yang baru didatangkannya dari desa setahun terakhir ini: dua orang gadis ranum. Gadis-gadis Mak Srunti ini langsung menjadi magnet pengunjung sejak kedatangan mereka kali pertama. Pembawaan mereka yang lugu namun kenes, serta keluwesan mereka melayani, membuat para pelanggan suka hati menghabiskan waktu berlama-lama di warung Mak Srunti dan membuat warung ini semakin terkenal.

Seorang lelaki turun dari motor bututnya kemudian masuk ke warung Mak Srunti. Ia menjatuhkan pantatnya di salah satu bangku panjang, kemudian meminta minuman kesukaannya: kopi pahit. Wati yang melayaninya.

“Wat, pijet dong,” katanya mengajukan permintaan layanan ekstra pada Wati.

“Iiih, lagi rame gini. Nanti kalau Ninuk sudah pulang dari pasar, biar aku ada yang gantiin.” Perempuan yang dimaksudnya itu menjawab manja.

“Aaah, nanti lama. Sudah kaku semua ototku,” rajuknya.

Di sela percakapan, terdengar suara langkah kaki yang diiringi gemerincing gelang emas keluar dari dalam rumah menuju warung. Wajah Mak Srunti menyembul dari balik gorden pintu yang menghubungkan warung dengan rumah.

“Sudah, kamu pijitin Darman dulu sana. Biar aku yang bikin kopi di sini,” perintahnya pada Wati sambil tersenyum manis.

“Eh, Man…,” panggil Mak Srunti menoleh pada laki-laki yang dipanggil Darman itu.

“Apa, Mak?”

“Pijet ora utang, lho, yooo!!”

“Beres! Aku baru terima gaji dari bos, Mak. Yang penting layanannya joss. Ya, kan, Wat?” Genit ia melirik Wati.

Keduanya pun berlalu dari hadapan Mak Srunti, lalu masuk ke salah satu bilik di dalam rumah.

Pijat, katanya.

***

“Bu Tri, gimana jualannya?” tanya Bu RT pada tamunya.

“Iya, Bu, ini mau setor hasil kemarin. Gamisnya laku lima. Kerudungnya yang besar laku empat. Lalu sempaknya lumayan, Bu, laku sepuluh! Tumben panas-panas begini sempak laris. Biasanya larisnya kalau musim hujan karena jemuran ndak kering. Sepertinya bapak-bapak banyak yang menyukai merek itu,” jawab Sang Tamu.

“Lho, memang. Suami saya saja suka sekali sempak merek itu. Katanya adem dan empuk dipakainya. Kalau musim panas gini kan yang dicari memang yang adem-adem to, Bu. Lha nanti, kalo musim hujan, dingin, baru yang dicari yang anget-anget.” Bu Erte terkikik dengan ekspresi gemas sendiri.

“Hi hi iya, ya, Bu.” Bu Tri menjawab sambil nyengir saja.

“Oke, terus uangnya gimana, Bu? Beres kan?”

“Oh, iya… Ng… Anu, saya sekalian mau bilang. Itu uangnya kurang tiga ratus ribu karena saya pakai dulu, Bu RT. Mohon maaf, ya, soalnya ada keluarga yang punya hajat. Saya ndak enak kalau ndak ikut menyumbang, Bu…”

Hening. Bu RT diam beberapa waktu, sebelum akhirnya menarik napas penuh tekanan. Air mukanya berubah. Keramahan dan candaan yang tadi sempat menghiasi wajahnya mendadak sirna. Bibirnya tertarik memendek. Otot-otot wajahnya menegang. Begitulah. Uang memang seringnya berhasil mengubah manusia.

“Ya ini. Ini yang membuat Bu Tri itu ndak dipercaya oleh masyarakat. Lha wong kekurangan setoran Bu Tri yang kemarin-kemarin saja belum dicicil, kok, malah sudah ditambah lagi. Kekurangan yang kemarin itu satu juta lima puluh ribu lho, Bu. Banyak itu. Kalau dipake beli cabe, bisa buat nyambelin mulutnya orang sekampung. Saya ini, kan, butuh modal buat kulakan lagi, Bu Tri.” Bu RT mulai mengomel panjang lebar.

Baru dua bulan ia ikut menjualkan barang-barang dagangan Bu RT. Berjualan keliling dengan sepeda bututnya kepada tetangga dekat rumah hingga ke kecamatan sebelah. Gayatri telah jadi pedagang mindring puluhan tahun.

Kalau ada yang membuatnya bangkrut, biasanya bukan karena dikemplang pelanggannya karena dia pandai betul mengenali mana orang yang suka ngemplang seperti dirinya dan mana yang tidak. Hal yang menjadikannya gulung tikar adalah karena utangnya pada para supplier atau induk semang yang makin lama makin banyak hingga mereka muak dan memutuskan hubungan dengan Gayatri. Yang terjadi kemudian, ia akan mencari induk semang lain lagi. Begitu selalu.

Hari-hari ini Gayatri sedang gundah. Utangnya pada supplier lamanya cukup besar. Ia mulai ditagih-tagih lagi setelah sekian lama supplier itu tak muncul di hadapannya lantaran bosan menagih tanpa hasil.

Tapi kali ini, tampaknya supplier-nya tidak main-main. Ia selalu ditemani seorang laki-laki yang tinggi besar bertampang preman setiap kali menagih. Bagaimanapun juga, ia khawatir kalau-kalau orang suruhan itu akhirnya melakukan cara-cara paksaan dan kekerasan untuk menagih uangnya.

Ia sudah berusaha meminta uang pada suaminya tanpa memberitahu perihal utangnya, khawatir jika sampai suaminya dilibatkan dalam masalah utang yang nilainya cukup besar bagi mereka, kerepotannya jelas akan menjadi berlipat-lipat. Sudah tak diberi uang, dia masih tetap harus menghadapi mantan supplier-nya itu dengan anak buahnya, akan pula menghadapi caci maki suaminya sendiri.

“Saya janji bulan depan saya cicil, Bu RT. Nanti tanggal satu, pas anak saya gajian, saya akan minta uang untuk mencicil utang saya. Tolong jangan blokir saya dulu, Bu. Kalau tidak ada barang dagangan yang saya jual, nanti saya semakin kesulitan mencicil utang saya pada Bu RT. Tolong ya, Bu…” pinta Gayatri.

Bu RT diam saja. Sebagai pedagang yang terbiasa kerja sama dengan bakul-bakul mindring sebenarnya ia sudah tidak kaget melihat fenomena seperti ini. Baginya, Gayatri adalah partner yang andal dalam penjualan.

Tetapi, kebiasaan ngemplang uang itu benar-benar membuatnya kesulitan memaksimalkan potensi Gayatri. Mengampuni atau mendepak Gayatri, sekarang ia hanya sedang berhitung untung ruginya.

Baca cerita berikutnya di sini.

Terakhir diperbarui pada 8 Juli 2019 oleh

Tags: berbalas fiksigayatrimindringnia perdhanisupplierutang
Nia Perdhani

Nia Perdhani

Owner Sambel Botol Rumahan "HoT" yang hobi curhat dan sambat di sosmed.

Artikel Terkait

Tips hadapi teman toxic dalam pertemanan: tidak akrab tapi selalu datang kalau ada butuhnya MOJOK.CO
Catatan

Lepas dari Teman Tak Akrab yang Selalu Merepotkan pas Ada Butuhnya, Dibenci tapi Perasaan Tidak Enakan Lebih bikin Rugi!

13 Mei 2026
Jebakan Ilusi PayLater: Anak Muda Pilih Bayar Gengsi dengan Pendapatan yang Belum Ada MOJOK.CO
Tajuk

Jebakan Ilusi PayLater: Anak Muda Pilih Bayar Gengsi dengan Pendapatan yang Belum Ada

11 Mei 2026
Tidak memberi utang saat teman pinjam uang selalu dicap jahat dan dijauhi dari pertemanan MOJOK.CO
Sehari-hari

Pertemanan Memuakkan: Tak Beri Utang Teman Dijauhi dan Dicap Jahat, Berteman Cuma Diperalat Jadi Dana Darurat

8 Mei 2026
menikah dengan keluarga pasangan yang terlilit utang.MOJOK.CO
Sehari-hari

Menikah dengan Pasangan yang Keluarganya Terlilit Utang Bikin Serba Salah: Terlalu Cinta untuk Ditinggal, tapi Bikin Menderita Kalau Bertahan

8 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

omong kosong srawung di desa.MOJOK.CO

Omong Kosong Slogan “Srawung” di Desa: Cuma Jahat ke Warga Miskin, Kalau Kamu Tajir Tak Perlu Membaur buat Dihormati

18 Mei 2026
Kicau Mania Rp2 Triliun: Bukti “Ora Gantang Ora Mangan” Bukan Hobi Iseng MOJOK.CO

Kicau Mania Rp2 Triliun: Bukti “Ora Gantang Ora Mangan” Bukan Hobi Iseng

15 Mei 2026
Saat ini kita sangat butuh sentuhan rasa manusia dalam komunikasi digital sehari-hari MOJOK.CO

Komunikasi Digital Sangat Butuh “Sentuhan Rasa Manusia”: Agar Tak Cuma Perbincangan Datar tapi Juga Merasa Didengar, Dihargai dan Dipahami

19 Mei 2026
Kopi starling dan kopi keliling: cuma Rp5 ribu tapi beri suntikan kekuatan pekerja kantoran di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan (Jaksel) untuk survive kerja tanpa Work Life Balance MOJOK.CO

Kopi Starling Cuma 5 Ribu tapi Beri Kekuatan Pekerja Jaksel Survive Tanpa Work Life Balance, Ketimbang 50 Ribu di Coffee Shop Elite

14 Mei 2026
mahasiswa autis Fakultas Peternakan UGM. MOJOK.CO

Mahasiswa Autis UGM Sulit Berinteraksi Sosial, tapi Buktikan Bisa Lulus usai 6 Tahun Lebih dan Buka Usaha Ternak Kambing di Kampung Halaman

20 Mei 2026
Sulap lahan kosong jadi kebun kosong untuk ketahanan pangan mandiri. MOJOK.CO

Ironi Lihat Balita Gizi Buruk di Bogor hingga Oknum Nakes yang Promosikan Sufor, Alumnus UNJ Ini Buka Kebun Sayur di Lahan Mangkrak 

16 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.