• 170
    Shares

MOJOK.COUnpopular opinion: orang-orang yang pergi ke Suriah itu korban. Kasihan mereka harus menjalani hidup menderita karena teperdaya janji-janji dan rayuan ISIS. Menerima mantan kombatan ISIS kembali akan membantu kita memutus rantai kekerasan terorisme.

Setelah empat tahun berdiri, menguasai berbagai wilayah di Irak dan Suriah, mengontrol lebih dari 12 juta jiwa, dan menyebarkan doktrin dan pengaruhnya ke seluruh  dunia, ISIS akhirnya berhasil diredam. Berkat berbagai upaya peperangan dan operasi militer, Sabtu 23 Maret lalu, daerah terakhir yang dikuasai ISIS secara resmi kembali dikendalikan oleh Pemerintah Suriah.

Meskipun kekuatan ISIS bisa dibilang berhasil diredam, masalah masih belum selesai. Salah satu buntut panjang dari pendudukan ISIS di Suriah ini adalah banyaknya mantan kombatan ISIS dan simpatisan mereka yang harus melarikan diri dan bertahan di kamp-kamp pengungsian.

Seperti yang kita tahu, pengaruh ISIS yang menyebar ke seluruh dunia membuat banyak orang pergi ke Suriah, dan akhirnya terjebak di sana dalam waktu yang cukup lama.

Setelah berjuang susah payah di bawah pendudukan ISIS, satu-satunya hal yang mantan kombatan dan simpatisan itu inginkan tentu saja kembali ke negara asal mereka supaya bisa berkumpul dengan keluarga mereka seperti sediakala.

Hal ini juga dirasakan oleh Mariam, seorang ibu empat anak yang datang ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS ini memohon bantuan untuk bisa dipulangkan ke Indonesia.

Apakah negara akan menerima mereka?

Sejauh ini, otoritas negara masih belum memberikan respons. Tapi, kalau dari apa yang saya (((pantau))) di media sosial, kebanyakan dari kita (hah, kita?) akan menolak ide menerima kepulangan mereka. Alasannya? Ya karena mereka berbahaya lah!!1!

Lagian kan salah mereka sendiri menghianati negara dengan pergi ke Suriah!1! Ngapain mereka balik lagi, gimana kalau mereka punya niat terselubung??? nanti bisa membahayakan keamanan negara!!11!

Kemarin aja simpatisan ISIS aja berani nusuk polisi, apalagi ini udah jadi anggota ISIS!1! Usir! Jauhkan! Kalau perlu tenggelamkan!!1!

Yhaaa penolakan-penolakan ini saya pikir wajar ada di pikiran masyarakat Indonesia mengingat betapa bengisnya orang-orang ISIS dari pemberitaan-pemberitaan di media.

Tapi… saya kok punya pikiran yang berbeda ya. Menurut saya, kita nggak perlu nolak mantan kombatan dan simpatisan ISIS (khususnya istri dan anak-anak mereka) ke Indonesia.

Bukan, ini bukan semata-mata alasan HAM, tapi dengan menerima mereka kembali ke Indonesia, kita malah akan membantu memutuskan rantai kekerasan terorisme di Indonesia.

Iyaaaa, kalian nggak salah bacaaa~ menerima kembali mantan kombatan dan simpatisan ISIS (khususnya istri dan anak-anaknya) akan bikin kita sedikit mengurangi masalah terorisme.

Gini-gini saya jelasin.

Daripada melihat mantan kombatan dan simpatisan ISIS (khususnya istri dan anak-anaknya) sebagai pelaku kejahatan, saya melihat mereka sebagai korban. IYA BETUL ANDA TIDAK SALAH BACA. MEREKA ADALAH KORBAN (di-capslock biar jelas).

Baca juga:  Kenapa Teror di Gereja Surabaya Lebih Kejam dari Pembunuhan Biasa?

Mereka adalah korban dari kegagalan negara (negara emang salah mulu wqwq).

Tahukah kalian apa yang bikin orang tertarik untuk datang ke Suriah dan gabung ke ISIS?

Selain teperdaya dengan janji-janji yang diberikan negara Islam kayak rumah gratis, fasilitas kesehatan gratis, sistem hukum yang adil, lapangan pekerjaan di mana-mana (eh ini kok mirip janjinya para capres), mereka gabung ke ISIS tuh karena mereka frustrasi… Mereka lelah merasakan ketidakadilan, diskriminasi, atau bahkan perlakuan alienasi.

T4p1 t4u 4p4 s4y4 s0al 1515?? (dibaca: tapi tau apa saya soal ISIS)

Ya saya sih nggak pernah ke Suriah, tapi Nurshadrina Khaira Dhania pernah. Nur adalah perempuan 16 tahun yang mengajak keluarganya hijrah ke Suriah.

Ketika ditanyai apa alasannya pergi ke Suriah, jawabannya adalah “Karena mereka menjanjikan akan dijamin semuanya: listrik, air rumah, gratis. Dan (mereka akan) membayar utang-utang. Paman saya waktu itu punya utang dan mereka janji akan menutupi utang itu,” Gitu katanya.

Juga Dian Yulia Novi. Dia nggak pernah ke Suriah sih, tapi dia pernah jadi simpatisan ISIS yang nyaris jadi pelaku bom bunuh diri pertama di Indonesia Desember 2016 lalu. Alasan Novi bergabung dengan ISIS adalah karena dia lebih merasa dihargai sebagai perempuan. Lebih punya peran, dan lebih merasa menjadi bagian dari suatu kelompok ketika sebelumnya dia selalu merasa dialienasi.

Kenapa rasa frustrasi mereka jadi salah negara? Ya karena negara nggak bisa menjamin hal vital itu makanya mereka frustrasi.

Negara juga sebelumnya nggak punya agenda anti-radikalisasi, membiarkan ulama-ulama dan situs radikal terus beroperasi, jadinya mereka bisa terpapar ideologi radikal. Hayolohhh.

Dan kalau kita menolak mereka kembali ke Indonesia, ini akan semakin membuktikan bahwa negara itu memang abai.

Padahal, coba kamu bayangkan (tapi amit-amit sih) setelah jadi kombatan dan simpatisan ISIS, susah payah bertahan hidup, mereka bakal ada di posisi yang sangat rentan. Selain kehilangan hak ekonomi, mereka juga bisa jadi korban konfrontasi, dan sasaran kekerasan. Eh pas mau pulang malah ditolak. Ya jelas bakal bikin mereka makin sakit hati dan makin kerasan di kelompok kekerasan lah.

Sebaliknya, kalau menerima mereka, kita secara tidak langsung mematahkan kecurigaan kelompok radikal seperti mereka kepada negara. Dengan melihat penerimaan negara, mereka malah bisa jadi menjauh dari kelompok radikal itu.

Penerimaan dan memberikan mantan kombatan kesempatan kedua terbukti berhasil di kasus Ali Fauzi, lho.

Kamu tau nggak Ali Fauzi?

Ali Fauzi itu mantan bomber bom bali. Dia veteran perang yang pernah berlatih di Afghanistan, orang penting di organisasi Jamaah Islamiyah, bahkan punya peran penting di jaringan teroris asia tenggara.

Baca juga:  Jika Pelaku Bom Surabaya Beragama Islam, Ya Kita Harus Mengakuinya

Ketika dia tertangkap di Filipina dan dipindah ke penjara Indonesia, dia sangat-sangat-sangat membenci aparat negara karena doktrin yang selama ini dia pahami bahwa aparat negara itu thogut, setan, dan musuh tuhan. Aparat itu pokoknya bengis dan dia memilih mati dibandingkan dengan patuh terhadap mereka.

Tapi ternyata, aparat kita tidak memperlakukannya dengan jahat….

Ketika datang dalam keadaan sakit, Ali Fauzi dirawat, dan diperlakukan dengan baik dan seperti manusia–hal yang tidak pernah dia sangka sebelumnya. Perlakuan aparat inilah yang bikin dia berubah.

Emang sih kita nggak bisa menutup mata kalau banyak juga teroris yang nggak berubah kaya dia. Amrozi (kakaknya) akhirnya memilih dihukum mati.

Tapi poinnya adalah, dengan menawarkan kesempatan kedua kepada kombatan, ada potensi orang berubah seperti yang terjadi pada Ali Fauzi.

Dan yang lebih penting, dengan bekerja sama dengan kombatan seperti Ali Fauzi, kita bakal dapat banyak keuntungan seperti mengetahui orang-orang penting dalam gerakan JI dan AQ di Indonesia dan Asia Tenggara. Ali Fauzi bahkan mau membantu pemerintah dan tim kepolisian untuk menjadi analis bom dan senjata yang digunakan oleh para teroris.

Artinya, dengan menerima kombatan ISIS kembali, kita juga berpotensi mendapatkan pemahanan penting mengenai apa sih yang bikin mereka tergerak menjadi kombatan atau simpatisan ISIS–dengan pengetahuan itu, negara bisa bikin strategi supaya hal itu bisa dicegah atau ditanggulangi bisa terjadi lagi.

Pengalaman kombatan ISIS yang kembali ke Indonesia juga bisa jadi pelajaran untuk membuktikan bahwa janji-janji kelompok ekstremis yang digunakan untuk doktrinasi itu sebenarnya fana.

Apalagi jika yang bercerita adalah mantan kombatan ISIS yang perempuan dan anak-anak. Narasi yang mereka bawa akan lebih kuat karena cerita perempuan akan lebih menyentuh dan berdampak pada perempuan lainnya.

Jadi kesimpulannya?

Perasaan takut untuk menerima mereka memang hal yang wajar. Tapi bukan berarti kita harus menolak para kombatan dan simpatisan. Percayakan semuanya pada negara. Kalau nggak terlalu percaya sama negara dan takut mereka akan masih radikal, tenanggg~ Pemerintah nggak sendirian. Banyak juga organisasi masyarakat sipil yang peduli dan ngasih asistensi supaya mantan kombatan dan simpatisan ISIS ini bisa menjalani program reintegrasi ke dalam masyarakat, dan bisa menjalani hidup normal yang jauh dari kekerasan.

Terakhir, kalau kamu masih saja khawatir mantan kombatan atau simpatisan ISIS yang balik ke Indonesia ini akan bertindak brutal, ingatlah kalau mereka sudah pernah merasakah betapa sulitnya hidup di Suriah, mereka kapok-pok-pok-pok makanya pengin pulang ke Indonesia.