• 1.3K
    Shares

MOJOK.CO – Para elite pasang muka galak ketika harga BBM naik, tapi tidak ada yang peduli kalau mereka sebenarnya jadi pihak yang diuntungkan. Jadi harap tenang, kalau harga BBM naik mereka malah senang.

Salah satu sifat dari demokrasi liberal adalah memelihara kegaduhan. Banyak omong dan ingar-bingar 24 jam tanpa henti. Kita sudah berada dalam trek yang benar dalam soal demokrasi. Namun, gaduh dan ingar-bingar setiap jenis minyak naik dan subsidi ditiadakan secara konstan, saya kira, kurang tepat dan buang-buang energi.

Kita sudah lelah terus-menerus menyoal harga minyak yang naik. Partai yang berkuasa sekarang, PDI-P, kita tahu, sangat galak dengan soal naik-menaikkan minyak. Tapi, toh, mereka insaf juga, nyatanya menaikkan harga BBM sudah jadi “jalan benar”. Dan, keputusan semacam itu mestilah disikapi sebagaimana setiap siswa hendak ujian: “Harap Tenang”.

Pemandangan kenaikan pertamax pada 1 Juli kemarin itulah secara tepat saya bayangkan mengapa kita tenang-tenang saja saat pengelola negara ini menaikkan harga minyak, apa pun jenisnya. Kini pertamax, besok mungkin keduax, ketigax. Ah, canda garing.

Mengapa mesti tenang? Sebab, justru minyak ini menyatukan elite kita yang di atas yang oleh peneguh teori ketergantungan kelahiran Berlin, Andre Gunder Frank, disebut “lumpenbourgeosie” (borjuasi gombal).

Saya lalu teringat makalah kuliah umum George Junus Aditjondro pada 2006 saat dia diundang oleh Jurusan Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).

Lelaki asal Pekalongan ini membawakan makalah 41 halaman yang menyoroti sejarah perkembangan teori ekonomi-politik (ekopol) di negara-negara Utara dan Selatan. Lebih kurang 25 halaman dari makalah itu George memaparkan perkembangan teori ekopol dari leluhur gerakan kiri sebelum Karl Marx hingga teori ketergantungan Andre Gunder Frank.

Artinya, selama satu jam lebih mahasiswa-mahasiswa yang WAJIB hafal Himne Muhammadiyah itu disodori George hal-ihwal Marxisme dan bagaimana kegunaan teori-teori itu untuk melihat soal Hutan Amazon hingga para komprador domestik yang main minyak di Blok Cepu.

Nah, soal yang terakhir itu, George ringkaskan dalam 9 halaman di makalah kuliah umum itu di Ruang Sidang Lantai V yang namanya diambil langsung dari pendiri Muhammadiyah, K.H. Ahmad Dahlan. Membaca ulang makalah yang usianya sudah 12 tahun itu, George Junus yang wafat 10 Desember 2016 ini seperti menubuatkan, tenang saja dan tak usah sensi, semua pihak toh bermain juga dalam hal BBM ini.

Titik tuju George Aditjondro memang memaparkan data para pemain minyak di Blok Cepu yang menyeret nama para elite politik yang disebutnya; “kelas komprador domestik yang hanya kepanjangan tangan dari penguasa maskapai internasional di bidang per-migas-an”.

Baca juga:  Dialog Dua Aktivis soal Harga BBM

Saat makalah kuliah umum ini disampaikan, sasaran serang George adalah rezim SBY-JK. Tapi ya dasar si George, tudingan itu malah seperti minyak, meluber ke mana-mana, menyasar ke nama-nama.

Coba dibaca dengan takzim kalimat George Junus Aditjondro ini: “Di puncak anak tangga perlu disebutkan nama Wakil Presiden M. Jusuf Kalla. Soalnya, menantunya, Susanto (“Tono”) Suparjo, yang menikah dengan putri tertua Jusuf Kalla, Muchlisa Kalla, melalui perusahaan miliknya, Nuansa Group, menjadi salah satu investor yang tertarik menggarap sumur minyak di Blora, Jawa Tengah. Di luar urusan yang berkaitan dengan Blok Cepu, kelompok Bukaka yang dipimpin Achmad Kalla, adik kandung sang Wakil Presiden, punya hubungan bisnis dengan salah satu raksasa migas dari AS, ConocoPhilips”.

Selanjutnya, secara ringkas George mengindeks nama-nama dengan aksentuasi keterlibatannya dalam bisnis minyak. Ya, ada saudagar kaya-raya Bakrie Bersaudara yang usahanya merentang dari Cirebon sampai Kroasia, Uzbekistan, Yaman, Vietnam, Venezuela, Peru, Argentina, dan Iran.

Selain itu, terselip juga nama-nama kelas pengasong. Ada ayahanda Bu Fahira, yakni Fahmi Idris, yang menjadi anggota dari Grup Kodel yang berkongsi dengan perusahaan migas AS, Golden Spike Energy. Kodel ini berhasrat buka banyak pom bensin seperti yang dilakukan Shell dan Petronas. Ada pula nama Sugiharto, pembantu Pak SBY di bidang BUMN. Dia Direktur Keuangan PT Medco Energi International Tbk kepunyaan Arifin Panigoro yang notabene Ketua DPP dan Ketua Fraksi PDIP pada tahun 2002-2003 saat Bu Megawati masih jadi presiden.

Eh, ada juga nama Hatta Radjasa yang bikin perusahaan konsultan manajemen, PT Intermatrix Bina Indonesia, yang bekerja sama dengan Pertamina dan perusahaan-perusahaan perminyakan asing. Nama Surya Paloh yang sekarang politisi moncer dan pendiri Partai Nasdem disebut juga sebagai penggarap di Blok Cepu dengan bendera PT Surya Energi Raya.

Selain nama Hartati Murdaya, makalah kuliah umum untuk mahasiswa Muhammadiyah itu menyebut, astaga, Pak “Bin” Hendropriyono. Pak Hen yang namanya melejit pada 1989 di gelanggang berdarah Talangsari, Lampung, itu menjadi trisum bersama Hartati Murdaya dan Tomy Winata dari Artha Graha. Mereka disebut ikut mandi minyak pula di Blok Cepu.

Tak berhenti di situ saja. PT Lippo yang didirikan James T. Riyadi disebut-sebut sebagai pelobi masuknya Shell ke pemasaran BBM. Tahu sendiri, pom bensin pertama Shell ada di Lippo Karawaci, Tangerang.

Baca juga:  Jahatkah Kaum Berjenggot, Bercelana Cingkrang, dan Berjidat Hitam?

Nah, George langsung menunjuk di halaman 31: Lippo ini yang jadi donatur bagi PDI-P. Dari paragraf ini, George mengutip majalah ekonomi Swasembada yang saya kutipkan ulang:

“Dengan memiliki 13 SPBU (di DKI), keluarga Mega-Taufik sangat berhasil di bidang pemasaran BBM, dan masih terus berniat membuka pompa bensin baru, dengan merek Pertamina maupun yang lain. Akhir tahun lalu, semua SPBU milik keluarga Mega-Taufik sudah berhasil menjual lebih dari 15 ribu liter gabungan premium, pertamax, dan solar. Bahkan salah satu di antaranya, yaitu yang berlokasi di kawasan Pluit, Jakarta Barat, mampu menjual 90 ribu liter sehari. Makanya, mereka sangat diuntungkan dengan keputusan pemerintah menaikkan harga BBM tahun lalu. Padahal, keluarga Taufik Kiemas bukan satu-satunya anggota parlemen yang berjualan minyak. Lalu, untuk apa mereka mau menentang masuknya maskapai migas asing, mulai dari hulu sampai ke hilir?”

Sayang sekali, George Junus Aditjondro yang lama menjadi jurnalis Tempo ini, tak menyebut nama Pak Luhut yang pekan ini baku (adu) mulut dengan Sarumpaet di tenda orang susah di Toba sana. Padahal Pak Luhut adalah menteri segala-galanya di kabinet yang dikelola Pak Jokowi. Tapi, dengan meniru secara verbal gaya George, Anda cukup mengetik kata kunci “Pak Luhut Bisnis Minyak” di bilah pencarian Google, tautan Bisnis.com hadir memberi tahu ihwal salah satu anak perusahaannya, yakni PT Energi Mineral Langgeng, menguasai blok di Madura Tenggara dengan luas 4.567 km2 dengan miliaran barel minyak yang dieksplorasi.

Pada akhirnya, semua mandi minyak. Kalau minyak naik, toh, semua sama senang, semua sama-sama untung. Terutama sekali yang punya titik pom bensin yang banyak. Apalagi, jika perusahaannya lebih banyak main di dolar, makin lemah rupiah, makin menggelembung logistik untuk kepentingan apa pun demi “RAKYAT”.

Akhirul kalam, kira-kira, menurut kamu, berfaedah enggak sih menyimpan makalah-makalah doktor lulusan Cornell University macam Goerge Junus Aditjondro ini; makalah berjenis “BABIkin nae darah” (pakai logat orang Sulawesi)? Dan, apa masih relevan dibaca secara seksama oleh pemuda-pemuda liat di jalanan pemegang mikrofon bertenaga banyak dan bermuka minyak?

Duh, George. Tenang di alam sana. Insya Allah, di sini juga (elitenya) bisa tenang kalau sudah soal minyak.

  • 1.3K
    Shares


Loading...



No more articles