MOJOK.CO – Siapa yang tidak ketar-ketir ketika rumah sudah dipilih untuk jadi lokasi TPS, tapi muncul kabar heboh akan terjadi bentrok pada saat coblosan?

Setiap kali ada Pemilu, tensi saya pasti naik. Padahal, sehari-hari saya termasuk jenis ampibi. Tekanan darah selalu rendah. Kadang 90/60 atau lebih rendah lagi. Kalau naik ke kisaran 120/70. Dokter bilang itu normal untuk usia kepala enam di ambang tujuh.

Apa karena pilihan? Ah, enggak juga. Bagi saya, yang penting dalam Pemilu adalah menjadi pemilih yang cerdas. Artinya, pilihan sudah jelas. Tak perlu dipikirkan, apalagi tanya  ke “dukun politik”.

Yang membuat tensi suka melonjak adalah karena rumah saya selalu dipilih Pak RT jadi tempat pemungutan suara (TPS). Kebetulan, masih ada halaman yang bisa untuk antrean, car port untuk para petugas TPS, dan garasi disulap menjadi tempat pencoblosan.

Jelang tanggal 17 April lalu, tensi saya, menurut versi posyandu lansia di RT saya, menunjukkan 150/90. Ini tergolong tinggi untuk saya. Ah, nggak usah banyak membahas angka tensi, nanti dilempar masuk rubrik Penjaskes Mojok lagi, hehehe.

Kembali ke TPS. Untuk Pemilu yang lalu, Pak RT lagi-lagi minta rumah saya untuk TPS. Dengan berputar-putar saya bilang apakah tak ada tempat lain. Pak RT bilang ada, di halaman masjid. Daripada mencurigation, maka rumah saya selalu menjadi sasaran.

Saya pun merajuk Pak RT. “Iya, Pak,  tapi keamanan dijamin ya?” kata saya. Pak RT pun menjanjikan; “Seperti sebelum-sebelumnya, ada Polisi dan anggota TNI yang ditugaskan menjaga TPS,” katanya. Selain itu, juga ada keamanan RT yang dijuluki satpam. “Dijamin aman, Pak. Kita akan jaga bersama-sama.”

Yah, saya pesan satu lagi, kalau pasang tenda, jangan lupa mengembalikan genteng yang dilorot untuk memasang tali tenda. Soalnya, pernah tali tenda diikatkan ke kaso di bawah genteng. Selesai hajatan, genteng tak dikembalikan. Akibatnya pas hujan, air menggenang di atas plafon. Untung jatuhnya air ke teras, bukan membanjiri  kamar tidur.

Kembali yang membuat saya waswas adalah keamanan. Apalagi sebelun hari H coblosan, berita keamanan sungguh membuat kebat-kebit. Dalam Pemilu kali ini, menurut saya, paling seru dibandingkan dengan Pemilu atau Pilkada DKI Jakarta sebelumnya yang—juga—digelar di rumah saya.

Siapa yang tidak khawatir dengan keamanan tatkala masing-masing capres bersumbar akan mengerahkan “pasukan” untuk mengawal TPS?

Ada kubu yang memerintahkan emak-emak untuk membuka dapur umum buat mendukung logistik para pengawal. Kubu pesaing juga balik mengeluarkan ancaman,  akan “memutihkan” TPS.

Wah,  wah, kalau sampai dua “pengawal” yang militan itu bertemu, dan terjadi bentrok di rumah saya, apa itu tak membuat jantung dheg.. dheg… plass.. seperti lagunya Koes Plus?

Tambah seru lagi, aparat keamanan baik Polisi ataupun TNI  menyatakan siap mengamankan TPS. Mereka akan bertindak keras terhadap siapa saja yang mengganggu dan mengacau TPS. Berita itu antisipasi aparat keamanan itu membuat saya tambah khawatir akan terjadi sesuatu ti TPS.

Baca juga:  Potensi Jutaan Lapangan Kerja untuk Nyoblos 70 Juta Surat Suara

Masih ada lagi yang membuat hati saya kecut. Lah, kalau ada ketidakpuasan masyarakat yang jagoannya kalah, bagaimana?

Beberapa Pemilu sebelumnya ada berita pendukung ngamuk, mengobrak-abrik, atau membakar TPS. Lah, kalau kejadian dalam coblosan kali ini bagaimana?

Kericuhan begini sering terjadi dalam sejarah TPS di negeri ini. Soalnya ada pemain politik atau pendukung yang tidak siap kalah dalam kontestasi Pemilu.

Menjelang hari coblosan kemarin, Petugas KPPS sibuk menyiapkan tempat. Pasang tenda, membawa meja dan kursi, dan perlengkapan lainnya. Karena sudah menjadi langganan sebagai TPS beberapa kali pemilu dan pilkada sejak 2014, Pak RT sudah hafal menata layout perlengkapan Pemilu.

Makin malam kegiatan tambah sibuk. Pukul 20.00 datang sebuah mobil dikawal dua polisi. Pak Ketua KPPS dan tim datang membawa empat kotak bertuliskan KPU. Katanya, itu surat suara.

Pak polisi mengatakan segera kembali ke markas KPU yang mangkal di dekat kelurahan untuk mengawal lagi kotak pemilu. Saya pun tanya, siapa nanti yang akan tidur di TPS. Saya akan menyiapkan tikar atau matras alas tidur.

Ternyata pemilu kali tak ada Polisi atau anggota TNI yang stand by menjaga kotak suara dan TPS semalaman. Dua Polisi, katanya, akan berpatroli mengawal 16 TPS di Kelurahan Balekambang, Jakarta Timur.

Saya malam itu tambah waswas kalau ada orang yang main curang membongkar kotak suara dan mencoblos kartu suara seperti diberitakan di media massa dan media sosial.  Saya juga tak membayangkan kalau ada serangan fajar atau salat subuh berjamaah yang katanya dikerahkan segera ke TPS untuk mengantre dan mengawal jalannya TPS.

Beda dengan pemilu atau pilkada yang lalu, sebagai TPS rumah saya dijaga satu anggota TNI, plus beberapa Polisi patroli dari TPS ke TPS. Selain itu ada petugas keamanan RT yang stand by mengawasi keamanan rumah saya.

Sebagai tuan rumah, saya menawari anggota TNI yang bertugas untuk tidur di dalam rumah. Rupanya, sebagai petugas, ia tidak boleh meninggalkan lokasi operasinya. Ia memilih di garasi menjaga kotak suara dan perlengkapan pemilu bersama satpam dan petugas TPS lainnya.

Bersyukur banget ternyata pemilu kali ini tidak seperti yang diperkirakan sebelumnya. Usai salat subuh, tak ada orang yang datang ke rumah saya untuk mengantre. Ketika jarum jam menunjuk angka enam, belum ada calon pemilih yang antre di depan pagar. Bahkan petugas TPS pun belum datang.

Upacara pembukaan, pengambilan sumpah petugas TPS dimulai pukul 7.00. Setelah itu, mereka membuka kotak dan menghitung kartu suara dan mencocokkannya dengan catatan pengantar  di kotak suara. Beberapa orang yang berdiri di belakang saya mulai ngomel setelah antre sampai 8.40. “Sudah setengah jam pendaftaran belum juga dibuka,” katanya.

Baca juga:  Loloskan Eks Koruptor Jadi Caleg, Ada Apa Dengan Bawaslu?

Lalu orang ini meneruskan analisisnya seperti yang tersiar di media sosial, katanya cara itu sengaja dilakukan petugas TPS untuk mengulur waktu sehingga banyak orang tak kebagian waktu untuk mencoblos sampai dengan pukul 13.00. Ujung-ujungnya, banyak warga tidak bisa mencoblos karena waktunya sudah habis.

TPS di rumah saya ini tercatat memiliki 296 daftar pemilih tetap (DPT). Mereka datang mengalir ke TPS. Tak terjadi penumpukan massa saat mendaftar atau mencoblos. Berita gawat di media massa dan media sosial ternyata tidak terlihat di lapangan. Ya syukurlah.

Pasukan pengawal TPS yang dikerahkan oleh kedua kubu capres, ternyata tak tampak batang hidungnya. Bahkan, saksi dari kedua capres pun tidak ada. Hanya empat orang yang duduk di meja saksi.

Mereka dari PDIP, PAN, PKS, dan Gerindra. Partai-partai lain juga tidak mengirim saksi. Dapur umum yang dibuat emak-emak? Kayaknya tak ada kabarnya. Lha para saksi pada pergi ke warung untuk beli makan.

Waktu enam jam yang dialokasikan untuk 296 DPT terasa pas-pas saja. Tak ada pemilih yang tercecer atau tidak kehabisan waktu mencoblos. Semua  pemilih yang mendaftar dengan lancar kebagian waktu untuk mencoblos.

Bahkan beberapa warga yang tidak tercantum di DPT, bisa mendaftar dengan eKTP untuk mencoblos. Untung ada Pak RT sebagai petugas TPS. Semua pendaftar dengan e-KTP dikenali sebagai warga RT.

Penonton semakin banyak ketika petugas TPS melakukan penghitungan suara capres-cawapres. Mereka sekadar menonton dan kemudian memotret plano perolehan suara. Pendukung capres yang unggul di TPS rumah saya pasti pulang dengan senang. Yang kalah ya pulang juga.

Bahwa di rumah yang menang menurut versi hitung cepat berbeda, ya silahkan protes aja sama pesawat televisinya. Yang penting, kalau toh ada yang kesal karena kalah atau bersorak gembira menggebrak-gebrak meja sudah bukan di rumah saya.

Segala ketegangan mulai mengendor setelah penghitungan suara anggota DPR, DPRD dan DPD. Proses penghitungan yang melelahkan itu nyaris tanpa menonton. Petugas TPS  bekerja keras menghitung hasil suara dari pemilih.

Rumitnya caleg dan partai membuat proses penghitungan bertele-tele. Nama partai, nama caleg, nomor urut caleg, kartu tidak sah, dan lain-lain. Setelah itu mereka masih harus mencocokkan lagi hasil suara di plano dan jumlah kartu yang tercoblos. Akhirnya, mereka bekerja semalaman menemani saya tidur nyenyak semalaman. TPS baru ditutup pukul 4.00 tanpa ribut-tibut.

Pagi-pagi saya kebagian sampah di halaman. Puntung rokok dan gelas minum berceceran di segala penjuru halaman. Itu sih nggak apa-apa. Saya dan semua orang di negeri ini layak melakukan sujud syukur karena Pemilu yang dikhawatirkan heboh itu ternyata berlangsung aman dan nyaman.

Setidaknya yang di rumah saya.



Loading...



No more articles