Rumah saya punya banyak jendela. Untuk ukurannya yang mungil, bisa dikatakan jendelanya terlalu banyak dan terlalu besar. Itu membuat rumah menjadi terasa luas, meskipun untuk seorang peringkuk dan perebah yang bersemangat seperti saya itu juga terasa mencekik. Maka, meski tak tampak cukup cocok, jangan lagi dikata artistik, kelambu-kelambu alakadar yang dipasang induk semang tetap saya pakai. Pembatas ruangan yang tak terpakai, karena tak ada ruangan yang patut dibatasi, bahkan kemudian saya manfaatkan untuk mem-back-up kelambu-kelambu tersebut. Kecuali cuaca sangat panas, atau saat ada tamu, jendela-jendela itu tak terlalu sering saya buka. Selain dua jendela.

Jendela pertama, mari sebut saja sebagai jendela depan, ada di kamar saya. Besar dan lebar. Berbingkai jadi dua, luas totalnya tak kurang 1,5 x 1,5 meter, menghadap searah dengan muka rumah. Berengsel gantung, tak berdaun jendela, tak juga berteralis; hanya kaca. Bening dan tembus pandang. Kelambu kumal warna terang dan agak transparan memisahkan isi kamar saya dan dunia di luar rumah saya. Tapi, saya hampir selalu membukanya. Lebar-lebar kalau perlu. Bahkan tak jarang lupa menutupnya saat malam, ketika tak sengaja saya jatuh tertidur.

Saya suka menulis di ruangan yang memiliki jendela. Alasan utamanya: agar angin masuk dan tidak pengap. Lagi pula, kebanyakan penulis memang menyukai jendela, bukan? Sesekali saya mau terlihat tak begitu berbeda dengan kebanyakan penulis. Mungkin tak ada gunung hijau dan danau biru di ujung mata memandang, tak juga ada ilham dan momen puitik yang melintas, tapi jendela selalu menyenangkan untuk menjadi tempat melarikan pandang ketika kita sedang sangat muak dengan layar komputer atau saat sebuah paragraf mokong untuk diteruskan. Sekurang-kurangnya, sejak saya pindah ke rumah ini pada akhir tahun lalu, di ambang jendela itulah saya mematung dan menunggu, dan akhirnya mencicil kata demi kata untuk kolom ini.

Boleh jadi, ada sedikit sisi ekshibionis juga pada diri saya. Di kamar yang tak besar itu tak ada apa-apa selain sepotong kasur kempes, meja kerja, dan sedikit buku. Kalau jendela saya buka lebar, orang-orang yang melintas di depan rumah dan sempat melirik tak akan menemukan apa-apa selain buku-buku di rak yang mengisi satu sisi penuh tembok kamar dari lantai sampai langit-langit, dan bagi saya itu memberi sedikit rasa senang yang ganjil. (Ya, itu sedikit norak dan kemahasiswa-mahasiswaan, tapi biar saja, toh saya tak punya banyak sumber kesenangan.) Dan mungkin karena itu, seorang tamu yang sempat tersesat akhirnya menemukan rumah saya setelah warga setempat memberitahunya tentang “rumah percetakan” bercat hijau di sebelah timur kuburan.

Jendela kedua ada di belakang, di ruangan dapur. Oleh karena itu mari sebut saja sebagai jendela belakang. Jendela itu hanya separoh saja besarnya dari jendela depan. Namun, karena ruangan dapurnya kecil, jendela itu juga terasa jadi sangat besar dan dominan. Berbeda dengan semua jendela di seantero rumah, jendela ini tak diberi kelambu oleh pemilik rumah, dan saya memutuskan untuk membiarkannya telanjang begitu. Berhadapan dengan kebun kosong, jendela besar dan polos itu akan membawa kesegaran aroma semak dan terang matahari sepanjang hari di ruangan dapur, sehingga lampu hanya dibutuhkan saat malam hari.

Juga ke kuburan. Kuburan itu tak sampai 30 meter dari rumah saya. Dan dari jendela dapur, dari balik kacanya yang tak berkelambu, dengan bingkainya yang vertikal, jarak itu menjadi terasa dekat. Tidak akan terlihat nisan-nisan makam dari dapur, sebab terhalang beberapa batang rambutan dan tembok kuburan. Tapi, tentu saja, tembok kuburan adalah juga kuburan.

Baca juga:  Kolom: Festival

Jika jendela kamar tak memberi pemandangan yang menarik dan mengilhami, jendela dapur sering kali merangsang imajinasi. Tak selalu menarik dan indah tentu saja, tergantung apa yang sedang saya pikirkan. Ketika terbangun tengah malam karena haus atau lapar dan meski ke dapur untuk menyalakan kompor atau membuka kulkas, saya kadang memikirkan akan melihat sebuah muka rata dan pucat dan cakar-cakar kurus panjang hitam menempel di sisi luar kaca; atau kelebatan bayangan tak meyakinkan tapi cukup nyata, entah sebuah tangan dengan senjata mengacung atau ekor sebuah makhluk melata raksasa. Namun, meskipun bukan orang yang tak punya takut, saya juga tak terlalu kecut dengan bayangan-bayangan macam itu. (Lagi pula, tentu saja gambaran-gambaran macam itu saya comot begitu saja dari klise-klise film horor yang bahkan bukan kesukaan saya.) Imajinasi itu belum pernah menjadi visi, tak juga meliar ke mana-mana. Dan sejauh ini tidak ada dan tak terjadi apa-apa.

Selama berbulan-bulan, dua jendela itu adalah dua dunia yang tak berhubungan. Keduanya berdekatan, hanya terhalang kamar mandi, kurang dari sepuluh langkah, tapi terasa sama sekali terpisah. Satu-satunya hal yang sesekali menghubungkannya cuma sekumpulan ayam.

(Ya, ayam-ayam yang akan berkerumun di bawah jendela kamar saya saat hari hujan adalah ayam yang sama yang berebutan makanan di bawah jendela dapur setiap saya melempar nasi kering atau sisa makanan. Mereka banyak dan ribut: di depan, mereka mengesalkan dan bau saat mencangkung berderet-deret menunggu hujan reda sambil buang tahi; di depan, mereka menyenangkan dan seru saat menyambut dan berebut setiap butir nasi dan kepala ikan yang saya lempar.)

Lalu, tiba-tiba ayam-ayam itu berkurang secara drastis. Beberapa hari setelah Hari Raya, pemilik rumah menjual sebagian besar ayam-ayamnya. Tinggal dua-tiga ekor yang malang dan kesepian, meski yang lebih malang lagi mungkin berakhir di sebuah gerobak bakmi. Dan, tanpa kehadiran sebagian besar ayam-ayam itu, tiba-tiba saya merasa betapa dua jendela itu erat keterkaitannya. Bahkan, tiba-tiba, secara alegoris, mungkin juga ironis, keduanya dengan agak brutal menggambarkan hidup yang tengah saya jalani sekarang.

***

Sedikit rasa bersalah adalah hal pertama yang saya rasakan ketika melihat ayam-ayam itu dinaikkan ke jok belakang motor, dirangket jadi satu, dengan kaki di udara dan kepala menggantung di bawah. Mereka berkaok-kaok riuh dan kalut. Apalagi setelah saya mendapat penjelasan dari yang punya kenapa ayam-ayam itu dijual. “Daripada bikin kotor, Mas,” begitu katanya kepada saya. Tak bisa tidak, saya merasa ambil bagian dalam mengantar ayam-ayam itu menuju penjagalan. Pemilik ayam tentu tak akan membaca kolom saya tentang ayam-ayam di beranda, tapi ia pasti tahu bahwa saya dibikin repot dengan tahi ayamnya, dan itu membuatnya merasa tak enak.

Tentu saja alasan ekonomi juga bermain. Dan ini sedikit menenangkan saya. Saya tak tahu berapa harga ayam kampung per kilonya. Tapi jika di masa begini, ketika pesanan patung taman menjadi lebih sepi, seperti yang pernah diceritakan kepada saya, menjual puluhan ekor ayam sepertinya akan lumayan.

Saya hampir memikirkan—dan menulis—tentang betapa efektifnya ekonomi subsisten ala pekarangan, dan betapa relevannya hal itu untuk masa wabah seperti sekarang ini. Bacaan-bacaan lama tentang desa dan ekonomi desa melambai-lambai di kepala, dan romantisasi atasnya begitu menggoda. Sampai kemudian saya merasa disadarkan tentang relasi dua jendela itu.

Dari mana saya akan memulainya? Sepertinya kita perlu kembali ke jendela depan.

Jendela itu berhadap-hadapan dengan “tempat parkir” saya yang kosong. Dan karena saya tak menaruh apa-apa di situ, kecuali tali jemuran dan sebagian kursi bambu (untuk memecah konsentrasi ayam-ayam itu), sementara pekarangan rumah saya yang sempit juga kosong belaka, dari tempat saya duduk dan menulis, saya bisa langsung melihat rumah-rumah tetangga terdekat, orang-orang lewat, mobil dan motor yang melintas, tamu yang datang, kiriman pos atau paket yang tiba. Dengan kata lain, dari balik jendela kamar, saya bisa saksikan dunia masa kini yang bergerak. Dan dengan cara itulah sebenarnya jendela itu berguna bagi kepenulisan saya.

Baca juga:  Kolom: Tiga Jumat

Lucunya, dan seingat saya, saya jarang menulis tentang masa kini. Saya adalah pemuja masa lalu. Saya selalu melihat ke belakang untuk bisa meyakini apa yang benar-benar terjadi dengan kita saat ini. Saya menggemari sejarah agar mengerti kenapa kita berada di sini, begini, dan seperti ini. Seperti gundu yang meluncur, saya meyakini arah dunia sekarang ditentukan oleh benturan dan lompatan dan belokan yang pernah dilakukan dan dilalui sebelumnya, dan saya senang untuk tahu kapan, bagaimana, di mana, kenapa, oleh apa dan siapa, gundu itu membentur atau melompat atau membelok.

Saya menulis novel berlatar masa lalu. Selalu. Tahun ’80-an di novel pertama, ‘60-’70-an di novel kedua, dan novel ketiga dan keempat meliputi keseluruhan masa-masa itu, sementara untuk karya-karya yang akan datang saya sedang memikirkan cerita-cerita lain yang lebih ke belakang lagi latar waktunya. Tulisan-tulisan jenis lain kurang lebih sama nuansanya.

Demikian juga tulisan-tulisan di kolom ini. Saya membentur-benturkan apa yang tengah terjadi dengan apa yang pernah terjadi. Saya mengomentari kejadian-kejadian masa kini dalam cara pandang dan rujukan kejadian-kejadian di masa lalu. Saya juga mengumpulkan remah-remah ingatan saya untuk mencoba menyusun apa dan siapa diri saya sekarang. Dan itu saya lakukan dari kursi menulis saya, dengan sesekali melihat ke luar jendela depan.

Meski sering menolak menyebut kegiatan menulis saya sebagai pekerjaan, pada dasarnya memang itulah pekerjaan saya. “Menjalankan darma”, “membeli buku”, “bersenang-senang”, “melakukan apa yang bisa saya lakukan”, atau frasa-frasa lain yang kadang terlalu agung dan selalu sulit diverifikasi, sering saya ajukan sebagai penjelasan kenapa saya menulis, tapi senyatanya menulis adalah satu-satunya jalan yang saya lakukan untuk bertahan. Dari menulis saya mengisi kulkas, menyetok mi instan dan beras, membeli gas, memesan air galon, membeli gula dan teh dan kopi, dst. Gampangnya, semulia apa pun pekerjaanmu, pada akhirnya larinya ke dapur juga.

Dan pagi tadi, setelah salat Subuh yang kesiangan, menyalakan kompor untuk membuat kopi agar bisa memulai menulis kolom ini, membuang sisa makanan ke bawah jendela dan kecewa karena tak ada lagi ayam-ayam yang berdesak-desakan berkerumun, tak sengaja saya melayangkan pandang ke arah kejauhan. Ke arah barat searah kiblat salat, saya melihat ke arah kuburan. Dan tiba-tiba saya bisa melihat masa depan.

Di dapur. Dari jendela belakang.

***

Begitulah. Dari jendela depan saya menengok ke belakang dan menuliskannya. Sementara dari jendela belakang, saya justru melihat masa depan. Dan menulis untuk makan hanya sebuah langkah pendek di antara keduanya.

Apakah parafrasa ini terdengar alegoris atau ironis, yang jelas itu bahkan sedikit terlalu suram untuk ukuran saya. Mungkin karena itu, saya sempat memikirkan ulang untuk menyelesaikan tulisan ini, dan untuk sesaat menulis dan meromantisir desa dan ekonomi subsistennya menjadi lebih menggoda lagi bagi saya. Tapi, saya kira, biarlah seperti ini; inilah yang hari ini saya dapat dari dua jendela itu.

Saya mungkin hanya sedikit merindukan ayam-ayam itu.

BACA JUGA Buku-buku Ganeca dan Saya dan esai Mahfud Ikhwan lainnya di kolom REBAHAN.