Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai Khotbah

Idul Fitri Menjadi Momen Kesedihan yang Menggembirakan

Mbah Nyutz oleh Mbah Nyutz
23 Juni 2017
A A
KHOTBAH IDUL Fitri Mojok

KHOTBAH IDUL Fitri Mojok

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Betapa pun semarak dan menyenangkan hidup kita di luar sana, pada suatu waktu, terutama kala terbit perasaan lelah, sunyi, dan nglangut karena sadar bahwa semua akan berakhir saat napas terakhir usai. Tiba-tiba muncul rasa rindu pada “rumah”, tempat kita mengistirahatkan diri dari pergulatan kita di tengah pasang surut kehidupan. Lalu mungkin kita bertanya-tanya: walau orang punya keluarga dan rumah sendiri, tetapi mengapa banyak orang merasa kurang jika belum mudik ke rumah di kampung halaman pada hari raya Idul Fitri?

Setiap kali mendengar kata rumah, barangkali akan terbayang pada suasana yang dekat, nyaman. Setiap orang bisa pergi ke mana saja ia suka jika mampu, tapi bila ditanya “Di mana rumahmu?” maka yang terbayang pertama kali biasanya bukan bangunan, melainkan suasana yang mana kita merasa tenang seperti kala berada dalam dekapan kasih sayang hangat orang tua. Pada momen itulah sesungguhnya manusia sedang diingatkan bahwa sejauh-jauhnya kita pergi, suatu waktu harus pulang juga ke tempat kita seharusnya pulang—tempat seseorang berasal: kampung halaman.

Memanfaatkan Hari Idul Fitri

Dan karena kesibukan, kebanyakan kita memanfaatkan momen Idul Fitri untuk mudik, menjumpai kembali asal kita beserta seluruh kenangannya.

Kata ‘id itu berasal dari akar kata yang sama dengan ‘awdah atau ‘aadah yang bermakna ‘kembali’ atau ‘terulang kembali’. Fitri, yang sering dimaknai kembali ke asal-diri yang bersih, fithrah, sesungguhnya juga berarti ‘berbuka puasa’ yang berakar dari kata ifthar.

Idul Fitri adalah perayaan (festival) manakala umat Islam merayakan “hari kemenangan” sehingga Kanjeng Nabi menyarankan agar kita berhias sewajarnya dan mengenakan pakaian yang bagus—yang diterjemahkan oleh orang sekarang sebagai baju baru. Tetapi, orang yang dekat dengan Tuhan juga memandangnya sebagai hari kesedihan. Sebab, Kanjeng Nabi mengatakan bahwa barang siapa yang mengetahui keutamaan bulan Ramadan niscaya akan sedih ketika ditinggalkan olehnya.

Lalu kalau kita bersedih, bagaimana kita merayakan kemenangan yang menggembirakan ini?

Masa lalu selalu punya elemen nostalgia. Kenangan keakraban masa silam, masa-masa ketika diri belum begitu banyak dijejali kepentingan nafsu dan keinginan; dan diam-diam kita ingin mengulanginya. Mudik dalam pengertian sesungguhnya seperti menziarahi kembali masa lalu yang masih murni, masa-masa ketika beban hidup begitu ringan dan penuh kegembiraan.

Kenangan yang Mengingatkan

Barangkali melalui kenangan ini Tuhan mengingatkan kita pada hal-hal yang lebih mendalam ketimbang sekadar pulang ke kampung halaman. Yakni bahwa pada suatu saat kita mesti pulang ke kampung halaman abadi, tempat dulu kita pernah bergembira karena bercakap-cakap akrab dengan Tuhan, bersaksi dan mengakui diri sebagai hamba yang tiada arti dalam naungan kebesaran-Nya.

Karena itu, di setiap Idul Fitri kita dianjurkan ziarah kubur untuk mengingat kematian yang merupakan pintu untuk pulang ke kampung halaman abadi, sekaligus dianjurkan bertakbir dan memuji-Nya sepanjang malam hingga pagi menjelang salat Id.

Takbir bukan untuk menyatakan bahwa Allah lebih besar daripada sesuatu, sebab kebesaran-Nya tak dapat dibandingkan. Kalimah Allahuakbar adalah pintu kesadaran yang membawa kita ke dalam naungan kebesaran Tuhan. Setiap kita mengucap Allahuakbar, sesungguhnya kita harus menghilangkan setiap waham kebesaran diri; dan jika kebesaran dan keagungan-Nya mengejawantah, semua fana dan akan musnah dalam lautan kemahabesaran-Nya.

Pengulangan takbir adalah dalam rangka mendidik kita untuk menyadari hal ini. Dan setelah itu kita salat untuk menjumpai-Nya. Sebab, melalui salatlah kita mikraj, melakukan perjalanan naik untuk bercakap-cakap dengan Tuhan.

Mengulang-ulang untuk Mengenal Arah Pulang

Kita mengulang-ulang puasa dan Idul Fitri setiap tahun, mengulang-ulang salat setiap hari, dengan harapan kita semakin mengenal arah kita pulang; mudik ke hakikat diri kita yang pada zaman azali pernah diajak berbicang dengan Tuhan dan kemudian ditanya: “Alastu bi rabbikum?” (Bukankah Aku Tuhan kalian?)

Maka, idealnya, semakin kita sering mengingat Tuhan dan kebesaran-Nya, kita akan semakin rindu untuk pulang; semakin senja usia, kerinduan untuk pulang semakin pekat. Sebab, kita semakin sadar akan segera meninggalkan dunia, dipanggil untuk menghadap-Nya.

Walhasil, Idul Fitri adalah momen kesedihan yang menggembirakan. Dengan disuruh berbuka, makan dan minum kembali, kita diingatkan lagi pada amanah kita sebagai manusia. Kita mensyukuri hidup karena membawa amanah dari Tuhan, bersyukur karena kita diajak ingat lagi kepada-Nya melalui “takbiran”. Namun juga sedih karena kita masih berjarak dengan-Nya lantaran kita sering gagal mengemban amanah sebagaimana mestinya; sekaligus sedih karena kerinduan untuk pulang ke hakikat diri kita, pulang menghadap Tuhan kita untuk berbincang dengannya. Karena kesedihan yang kedua ini, kita juga rindu untuk taubat, yang artinya juga “kembali”.

Iklan

Hakikatnya, kembalinya (taubat) seorang hamba pada jalan Tuhan adalah perwujudan dari kerinduan Tuhan kepada hamba-Nya. Kanjeng Nabi pernah mengatakan yang kira-kira maknanya begini: bayangkan perasaan seorang ibu yang telah lama ditinggal anaknya yang disayangi, lalu anaknya pulang dan sungkem kepadanya. “Kebahagiaan” Tuhan atas kembalinya hamba melebihi kebahagiaan ibu itu.

Minimal setahun sekali secara kolektif kita seakan ditanya oleh Tuhan yang ingin kita kembali kepada-Nya: “Siapakah yang tak rindu untuk mendengar kembali suara-Ku?”

Allahu akbar, walillahil hamd.

Terakhir diperbarui pada 12 Februari 2026 oleh

Tags: Allahu akbarIdul Fitrikampung halamanMudikrumahTaubat
Mbah Nyutz

Mbah Nyutz

Artikel Terkait

Cara Beli Rumah di Desa Tanpa Dihantui KPR Puluhan Tahun MOJOK.CO
Cuan

Cara Generasi Sandwich Beli Rumah di Desa Tanpa Dihantui KPR Puluhan Tahun

26 Mei 2026
Ilustrasi punya rumah megah di desa.MOJOK.CO
Catatan

Membangun Rumah Megah demi Penuhi Standard Kesuksesan di Desa Malah Bikin Ibu Tersiksa: Terasa Sepi, Cuma “Memuaskan” Mata Tetangga

21 April 2026
Sesal pernah kasar ke bapak karena miskin. Kini sadar setelah ditampar perantauan karena ternyata cari duit sendiri tidak gampang MOJOK.CO
Sehari-hari

Sesal Dulu Kasar dan Hina Bapak karena Miskin, Kini Sadar Cari Duit Sendiri dan Berkorban untuk Keluarga Ternyata Tak Gampang!

21 April 2026
Kursi kereta eksekutif dibandingkan kereta ekonomi premium lebih nyaman untuk mudik Lebaran
Catatan

Saya Kapok Naik Kereta Ekonomi Premium, Ditipu Embel-embel Mirip Eksekutif padahal Hampir “Mati” Duduk di Kursi Tegak

1 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Dompet digital selamatkan pedagang UMKM. MOJOK.CO

4 Kiat Pedagang Es Campur dan Roti Kukus yang Tetap Laris di Tengah Situasi Pelik

3 Juni 2026
Derita Bisnis Laundry: Cuan 15 Juta Hilang karena Kebodohan MOJOK.CO

Pengalaman Bisnis Laundry yang Cukup Menyedihkan, Berharap Cuan Besar 15 Juta per Bulan tapi Cuma Dapat 3 Juta: Boncos karena Kebocoran-Kebocoran Sepele

4 Juni 2026
Hasil riset FEB UGM: workaholic alias kera berlebihan tidak selalu merusak kebahagiaan MOJOK.CO

Riset: Kerja Berlebihan (Workaholic) Tidak Selalu Merusak Kebahagiaan, Asalkan Dapat 2 Situasi Ini di Lingkungan Kerja

6 Juni 2026
Fun Football, Cara Pria Dewasa untuk Tetap Waras dan Punya Alasan untuk Hidup Lebih Lama

Fun Football, Cara Pria Dewasa untuk Tetap Waras dan Punya Alasan untuk Hidup Lebih Lama

2 Juni 2026
Pengalaman Kuliah di Polandia, Eropa Sambil Jadi Tour Guide. MOJOK.CO

Pengalaman Kuliah di Eropa Sambil Jadi Tour Guide bikin Enggan Kembali ke Tanah Air, tapi Tak Ada Jalan Lain Selain Pulang

4 Juni 2026
Sisi Gelap Orang Tua Hebat: Hasilkan Generasi Rapuh yang Lembek Hadapi Kerasnya Dunia MOJOK.CO

Sisi Gelap Orang Tua Hebat: Hasilkan Generasi Rapuh yang Lembek Hadapi Kerasnya Dunia

8 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.