Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan

Bahayanya Mikroplastik yang “Menari-nari” di Atas Langit Jakarta, Alarm bagi Warga untuk Mengubah Habit Buruknya

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
27 Oktober 2025
A A
BRIN: Hujan di Jakarta mengandung mikroplastik beracun. MOJOK.CO

Ilustrasi - Bahayanya Mikroplastik yang “Menari-nari” di Atas Langit Jakarta, Alarm bagi Warga untuk Mengubah Habit Buruknya (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Mikroplastik bukanlah virus tapi partikel plastik berukuran kurang dari 5 milimeter. Ia mengandung bahan aditif yang berbahaya jika masuk ke dalam tubuh manusia, terlebih saat mikroplastik tersebut menyerap polutan lain. Sialnya, partikel beracun ini dapat dijumpai di mana saja dan kapan pun, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta, baik saat hujan maupun tidak.

Bahayanya mikroplastik saat masuk ke tubuh

Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Muhammad Reza Cordova menyebut mikroplastik mengandung bahan aditif beracun seperti ftalat, bisfenol A (BPA), dan logam berat yang berbahaya jika masuk ke tubuh manusia. 

Melansir dari berbagai sumber, ftalat merupakan bahan kimia sintetis yang umumnya dapat ditemukan dalam kosmetik maupun produk perawatan. Misalnya parfum, sampo, cat kuku, sabun, deterjen, atau sesuatu yang berbau harum. Bahan ini dapat mengganggu sistem hormon hingga meningkatkan risiko kanker.

Sementara bisfenol A (BPA) dapat dijumpai dalam berbagai produk sehari-hari seperti botol minum, wadah makanan, dan peralatan rumah tangga. Tubuh yang terpapar BPA dapat mengalami gangguan reproduksi, gangguan sistem kekebalan tubuh, hingga meningkatkan risiko kanker.

Sedangkan logam berat dapat memicu penyakit kronis seperti kanker, jantung, dan gangguan pernapasan. Ia juga mampu merusak jaringan tubuh dan mengganggu fungsi organ seperti ginjal, hati, maupun otak. 

Bayangkan, jika bahan-bahan aditif di atas dikonsumsi manusia terus-menerus. Kesehatan masyarakat pun bisa terancam, meski kita tidak pernah tahu kapan kita akan meregang nyawa. 

Polusi plastik kini tak hanya mencemari tanah dan laut, tapi atmosfer

Tanpa kita sadari, mikroplastik mengintai siapa saja, terutama mereka yang tinggal di kehidupan urban seperti Jakarta. Saking kecilnya mikroplastik, kata Reza, ia bahkan bisa lebih halus dari debu biasa sehingga tak kasatmata.

“Plastik yang kita buang sembarangan, asap yang kita biarkan mengepul, sampah yang kita bakar karena malas memilah, semuanya kembali pada kita dalam bentuk yang lebih halus, lebih senyap, tapi jauh lebih berbahaya,” ujar Reza dikutip dari laman resmi BRIN, Senin (27/10/2025).

Oleh karena itu, ia dapat terhirup oleh manusia dengan mudahnya bahkan masuk ke tubuh melalui air dan makanan. Lebih bahaya lagi jika mikroplastik tersebut sudah mengikat polutan lain, seperti hidrokarbon aromatik dari asap kendaraan.

Reza menjelaskan mikroplastik yang tadinya menempel di baju berbahan poliester atau yang sebelumnya ada di serat ban mobil, bisa menempel di jalan atau bertebaran di udara saat hujan. Kemudian, tanpa sengaja terhirup oleh manusia akibat aktivitasnya sendiri. 

“Mikroplastik ini berasal dari serat sintetis pakaian, debu kendaraan dan ban, sisa pembakaran sampah plastik, serta degradasi plastik di ruang terbuka,” jelas Reza.

Dalam temuan terbarunya, Reza mengungkap air hujan di Jakarta berpotensi mengandung mikroplastik. Temuan ini menjadi peringatan bahwa polusi plastik kini tidak hanya mencemari tanah dan laut, tapi juga atmosfer.

“Langit Jakarta sebenarnya sedang memantulkan perilaku manusia di bawahnya,” ujar Reza.

Setidaknya, peneliti telah menemukan sekitar 15 mikroplastik per meter persegi per hari pada sampel hujan di kawasan pesisir Jakarta. Ketika ia sudah menjangkau atmoster, mikroplastik bisa terangkat ke udara lewat debu jalanan, asap pembakaran, aktivitas industri. Kemudian, berkeliling bersama angin dan turun kembali ke bumi lewat hujan.

Iklan

Ubah kebiasaan buruk warga Jakarta

Kondisi itulah yang mengancam warga Jakarta akhir-akhir ini. Namun, sejujurnya peneliti tak terlalu kaget dengan temuan itu mengingat gaya hidup urban modern di Jakarta. Dengan populasi lebih dari 10 juta jiwa serta 20 juta unit kendaraan, peningkatan mikroplastik di atmosfer jadi tak terhindarkan.

“Sampah plastik sekali pakai masih banyak, dan pengelolaannya belum ideal. Sebagian dibakar terbuka atau terbawa air hujan ke sungai,” ujar Reza.

Oleh karena itu, solusi paling efektif untuk menekan sumber mikroplastik sebenarnya tidak hanya lewat teknologi pengolahan, melainkan mengubah kebiasaan masyarakat di Jakarta sejak dari rumah.

Mulai dari memilah dan mengurangi penggunaan sampah plastik sekali pakai, memanfaatkan kembali plastik yang telah digunakan, mendaur ulangnya, dan tidak membakar limbah sembarangan. Bahkan kalau bisa, kita dapat mengganti barang yang menggunakan bahan plastik jadi bahan ramah lingkungan.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sendiri sudah memperluas jangkauan wilayah untuk program Satu RW Satu Bank Sampah. Lewat program tersebut, warga dapat menabung sampah plastik maupun kertas. Sedangkan sampah organik bisa diolah menjadi kompos atau pakan maggot.

Selain mengubah habit warga, pemahaman soal bahayanya mikroplastik juga harus dipahami oleh industri. Salah satunya dengan cara menerapkan sistem filtrasi pada mesin cuci guna menahan pelepasan serat sintetis.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Industri dan Pemerintah Harus Bertanggung Jawab Atas Hujan Mikroplastik di Jakarta atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 28 Oktober 2025 oleh

Tags: bayaha mikroplastikdampak mikroplastikgaya hidup urbanhujan di Jakartajakartamikroplastik adalah
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Derita orang Jember kerja di Jakarta: teralienasi karena dianggap tertinggal MOJOK.CO
Urban

Orang Jember Kerja di Jakarta: Mencoba Berbaur tapi “Tersisihkan”, Dianggap Tertinggal dan Tak Tersentuh Pendidikan

16 April 2026
Orang Jogja Syok Merantau ke Jakarta karena Nggak Bisa Sarapan Soto Bening yang Enak Mojok.co
Pojokan

Orang Jogja Syok Nggak Bisa Sarapan Soto Bening yang Enak di Jakarta

16 April 2026
Gaji Jakarta 12 Juta Bikin Gila, 3 Juta di Magelang Hidup Waras MOJOK.CO
Cuan

Daripada Menyiksa Diri Hidup di Jakarta dengan Gaji 12 Juta Sampai Setengah Gila, Pindah ke Magelang dan Hidup Waras Cukup dengan Gaji 3 Juta

16 April 2026
Gagal kerja di Jakarta sebagai musisi. MOJOK.CO
Urban

Nekat ke Jakarta Hanya Modal Ambisi sebagai Musisi, Gagal dan Jadi “Gembel” hingga Bohongi Orang Tua di Kampung

11 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Orang Jogja Syok Merantau ke Jakarta karena Nggak Bisa Sarapan Soto Bening yang Enak Mojok.co

Orang Jogja Syok Nggak Bisa Sarapan Soto Bening yang Enak di Jakarta

16 April 2026
kos eksklusif, jakarta, desa, kos.MOJOK.CO

Kabur dari Desa dan Memilih Tinggal di Kos Eksklusif Jakarta demi Ketenangan Batin, Malah Makin Kena Mental karena “Bahagia” di Kota Cuma Ilusi

15 April 2026
iPhone 6 dan 7 lebih diminati gen Z

iPhone Jadul Bangkit Kembali Berkat Gen Z, Kualitas Foto “Tak Sempurna” Malah Dianggap Unggul daripada Keluaran Terbaru

20 April 2026
Tapak Suci Unair. MOJOK.CO

Saat Pencak Silat Dianggap Biang Kerok, Saya Bersyukur Jadi Bagian Tapak Suci Unair yang Anti Tawuran

21 April 2026
Mahasiswa S2 PAUD UNJ, WNA Malaysia

WNA Malaysia Pilih Lanjut S2 di UNJ, Penasaran Ingin Kuliah di PTN karena Dosen Indonesia yang “Unik”

21 April 2026
Cuci baju di laundry konvensional bikin kapok MOJOK.CO

Cuci Baju di Laundry Konvensional Lama-lama bikin Kapok, Bikin “Boncos” karena Baju Rusak dan Hilang Satu Persatu

15 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.