Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

Tren Kalcer dan Monopoli Olahraga bikin Gowes Jadi Terlalu Ambisius, Mau Sekadar Bersepeda tapi Malu Dicap Cupu

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
3 Juni 2026
A A
Tren kalcer dan monopoli olahraga bikin gowes (bersepeda) jadi terlalu ambisius MOJOK.CO

Ilustrasi - Tren kalcer dan monopoli olahraga bikin gowes (bersepeda) jadi terlalu ambisius. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Sebelum tren olahraga kalcer menjangkiti masyarakat, aktivitas olahraga rasa-rasanya sangat inklusif: bisa dilakukan siapa saja. Namun, kini, untuk sekadar olahraga saja rasanya malu. Olahraga—seperti gowes (bersepeda)—tidak lagi sebatas mencari keringat, tapi seolah menjadi ruang penghakiman yang bikin ciut mental orang. 

***

Tinggal di sebuah kampung di Kaliurang, Sleman, belakangan ini Drajat (24) punya hasrat untuk membeli sepeda. Ia membayangkan, setiap pagi sebelum berangkat kerja atau tiap akhir pekan, ia bisa mengayuh sepedanya di jalanan kampung berhawa sejuk dengan hamparan persawahan dan sesekali berlatar belakang Gunung Merapi. 

Tujuannya sesederhana itu: hanya untuk mencari keringat di pagi hari, hanya untuk keliling jalanan kampung. Maka, ia pun mencoba mencari-cari sepeda dengan harga murah. Tidak peduli mereknya apa, pokoknya asal murah dan bisa dikayuh. 

Namun, tren olahraga kalcer—yang salah satunya menyasar sektor bersepeda—membuat dirinya urung membeli.

Tren olahraga kalcer bikin gowes (bersepeda) jadi terlalu ambisius 

Suatu kali di kantor, Drajat nimbrung obrolan rekan-rekan kerja yang baru/hendak membeli sepeda. Di dalam sirkel tersebut memang ada satu-dua orang yang sudah lebih lama menggeluti olahraga sepeda. 

Rekomendasi merek, spesifikasi, dan harga sepeda pun bermunculan. Rata-rata berada di angka Rp3 jutaan ke atas. 

Di tengah-tengah obrolan tersebut, Drajat dengan “tanpa dosa” nyeplos kalau ia baru saja akan membeli sepeda di harga Rp1 jutaan. Syukur kalau dapat di bawahnya dari jual-beli sepeda bekas di Facebook. 

“Sepeda apa, Ndes, segitu itu, mana bisa buat gowes,” sambar salah seorang rekan kerja. Beberapa yang lain langsung tertawa. Drajat pun bingung. 

Baru ia sadar kemudian, tren olahraga kalcer yang membuat banyak orang FOMO ternyata menciptakan standard baru dunia olahraga. Bersepeda bukan lagi soal mencari keringat, tapi ada ambisi tertentu yang harus dipenuhi.

“Urusannya adalah, seberapa mahal sepeda yang bisa dibeli. Walaupun aku tahu maksudnya adalah: semakin mahal, maka semakin bagus pula kualitasnya,” ungkap Drajat belakangan ini. 

Bagi Drajat, pertimbangan tersebut sepenuhnya benar. Akan tetapi, menjadi agak mengganggu ketika akhirnya orang-orang seperti Drajat justru dikerdilkan hanya karena sekadarnya. Ya karena hanya segitu yang ia mampu. 

Jauh-jauhan jadi standard yang disamaratakan

Belum lagi soal outfit dan segala instrumen yang harus melekat pada tubuh pesepeda. Harus benar-benar pakai standard outfit khusus bersepeda, sepatu khusus, kacamata berharga agak mahal, dan macam-macam. 

Kebutuhannya tidak hanya perkara safety. Tapi juga bagaimana agar nantinya konten-able: kalau direkam, diedit, lalu diunggah di media sosial bisa terlihat “kalcer”. 

Iklan

Di lingkung rekan-rekan kerja Drajat, menurutnya, bahkan terjadi monopoli olahraga. “Mereka mengartikan, namanya gowes itu ya harus bisa mengayuh dengan rute-rute jauh. Gowes, pit-pitan, malah jadi disamaratakan artinya: kayak event sepeda jarak jauh resmi atau kelompok profesional. Jadi kalau ada ajakan gowes atau pit-pitan, maka harus benar-benar sanggup mengayuh rute-rute jauh,” beber Drajat. 

Ini misalnya dialami oleh salah seorang teman kuliah Drajat yang berbeda kantor dengannya. Di kantor teman Drajat pun sama halanya: sedang marak tren olahraga kalcer, khususnya lari dan bersepeda. 

Pernah suatu kali, dengan sepeda agak mahal yang dipunya, teman Drajat ikut gowes. Teman Drajat kira, situasinya adalah mengayuh sembari menikmati pemandangan sekitar, tapi ternyata tidak sesederhana itu. 

“Benar-benar berlomba-lomba buat kuat-kuatan mengayuh. Banter-banteran. Temanku kan kewalahan mengikuti, karena lebih terbiasa gowes santai. Karena dia ngos-ngosan, dibilang cupu dan nggak cocok buat olahraga sepeda. Katanya, mending jalan kaki aja sambil ditertawakan,” ucap Drajat menceritakan ulang keluhan sang teman. 

Gowes (bersepeda): rekreasi jadi kompetisi

Kenapa ambisi jauh-jauhan tersebut penting? Karena semakin jauh, maka semakin diakui. 

Sebab, gowes harus dilengkapi aplikasi pelacak jarak seperti Strava. Di kalangan pesepeda kalcer di lingkungan Drajat, jarak menjadi krusial karena nantinya akan diunggah di media sosial. 

Tidak pelak jika orang seperti teman Drajat merasa teralienasi. Karena ia hanya ingin bersepeda untuk rekreasi, bukan untuk kompetisi kejar-kejaran validasi. 

“Kalau di teman kantorku, ada ambisi misalnya sehari di hari Minggu harus berapa kilometer. Bukan semata target sehat dan berkeringat ya, tapi target gengsi,” beber Drajat.

“Pit-pitan” jadi tidak menyenangkan gara-gara tren dan standard olahraga kalcer

Pada akhirnya teman Drajat enggan bersepeda bersama lagi. Ia memilih bersepeda sendiri di sekitar kos dengan jarak pendek-pendek dan jalan santai. 

Di titik ini, Drajat merasa kangen dengan masa kanak-kanak dulu. Semasa kanak-kanak, jika ada ajakan “pit-pitan” dari sejawat artinya bersepeda riang gembira. Tidak ada adu jauh, adu merek, atau adu outfit. Pokoknya bersepeda saja. Sesederhana itu, tanpa penghakiman. 

Kini, ketika dewasa dan berhadapan dengan tren olahraga kalcer haus validasi, ajakan “pit-pitan” bisa berarti berbeda sama sekali dengan bayangan masa kanak-kanak tersebut. 

“Maksudku begini, kalau memang mau yang gowes jauh-jauhan, nggak apa-apa juga. Tapi dengan memberi label cupu pada orang yang cuma pengin pit-pitan biasa, apalagi menyebutnya nggak cocok berolahraga sepeda, nggak fair aja menurutku,” ujar Drajat. Karena esensi olahraga kan tidak sebatas mahal-mahalan atau jauh-jauhan. 

“Kalau mau jauh-jauhan, ikut kompetisi atau event resmi. Dan tolok-ukur dalam level tersebut nggak bisa dipakai ke semua orang, karena ada orang sepertiku dan temanku, gowes untuk cari keringat sambil senang-senang, tanpa khawatir kena mental,” pungkasnya. 

Di situlah masalahnya bagi Drajat. Setelah tren olahraga kalcer merebak, ada standard yang perlahan-lahan dipaksakan. Olahraga terasa dimonopoli kelompok tertentu saja. Tidak inklusif lagi. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Bagi Pelari Kalcer, Kesehatan Tak Penting: Gengsi dan Diterima Sirkel Elite Jadi Prioritas Mereka atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan 

 

Terakhir diperbarui pada 3 Juni 2026 oleh

Tags: adu outfit olahragabersepedagowesolahragaolahraga kalcerpit-pitansepeda kalcertren olahraga
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

tren olahraga kalcer.MOJOK.CO
Urban

Tren dan FOMO Olahraga “Kalcer” yang Mahal Lahir karena Minimnya Fasilitas Publik di Perkotaan

29 Mei 2026
Pelari kalcer, fenomena olahraga lari
Urban

Bagi Pelari Kalcer, Kesehatan Tak Penting: Gengsi dan Diterima Sirkel Elite Jadi Prioritas Mereka

27 April 2026
Meminta Dosen-Mahasiswa Jalan Kaki ke Kampus ala Eropa: Antara Visi Elit dan Realitas yang Sulit MOJOK.CO
Esai

Meminta Dosen-Mahasiswa Jalan Kaki ke Kampus ala Eropa: Antara Visi Elite dan Realitas yang Sulit

10 April 2026
Mohammad Turi, doktor termuda Unesa. MOJOK.CO
Kampus

Olahraga Jadi Alasan Hidup Pemuda Asal Madura Ini usai Ayah dan Ibu Tiada, hingga Raih Gelar Doktor Termuda di Unesa dengan IPK Sempurna

20 November 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Peserta nyentrik gowes ke Klaten untuk ikut KLIC Fest 2026. MOJOK.CO

“Onthelis” dari Nusantara Rela Gowes Berhari-hari dengan Sepeda Tua Guna Misi Kebudayaan yang Memukau Para Bule

3 Juni 2026
Tempat kerja, Standard Good Looking dan Berpenampilan Menarik yang Diskriminatif dan Merugikan Pekerja Perempuan

Standard Good Looking dan Berpenampilan Menarik yang Diskriminatif dan Merugikan Pekerja Perempuan

3 Juni 2026
Skandal Kopenhagen dan Travel Grant: Mengapa Sistem Akademik Indonesia Justru Melahirkan Conference Hunter Palsu? MOJOK.CO

Skandal Kopenhagen dan Travel Grant: Mengapa Sistem Akademik Indonesia Justru Melahirkan Conference Hunter Palsu?

29 Mei 2026
Rooftop kos kerap jadi tempat blangkrah, tapi jadi ruang healing terbaik bagi anak kos overthinking MOJOK.CO

Tinggal di Kos dengan Rooftop, Meski Kemproh tapi Jadi Tempat Healing Terbaik dari Tekanan Hidup yang Bisa bikin Gila

3 Juni 2026
Adegan horor tiap awal bulan di kehidupan dewasa. Gajian ludes seketika karena kebutuhan MOJOK.CO

Awal Bulan di Kehidupan Dewasa Itu Horor: Setelah Gajian Gaji Langsung Ludes di Kalkulator

2 Juni 2026
Campus League Basketball 2026 Regional Jakarta Season 1 tidak hanya jadi panggung prestasi basket, tapi juga warna baru solusi mobilitas masa depan anak muda dengan motor listrik Polytron MOJOK.CO

Puncak Campus League Basketball 2026 Jakarta S1: Tak Hanya Jadi Panggung Basket tapi Juga Hadirkan Solusi Mobilitas Masa Depan Anak Muda

2 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.