Setiap duduk di kursi tunggu Stasiun Pasar Senen, Jakarta Pusat, senyum di wajah seorang perempuan perantau asal Jogja terus memudar. Kepala penuh kecemasan. Sementara batinnya dihantam kebimbangan dan kesedihan atas hal-hal yang melintas di depan mata.
Awalnya, menginjakkan kaki di Stasiun Pasar Senen Jakarta Pusat ibarat menapaki nasib baik
Dari waktu ke waktu, Stasiun Pasar Senen tidak lagi sama—bahkan semakin jauh—dari suasana batin Reni (27) saat pertama kali menginjakkan kaki di Jakarta Pusat.
Reni ingat betul, saat pertama kali menginjakkan kaki di stasiun tersebut, ia seperti melihat jalan nasib yang lebih cerah. Gara-gara itu, di kamar rumahnya di Jogja, ia kerap senyum-senyum sendiri. Ada perasaan tidak sabar untuk mengejar hidup yang lebih baik di Ibu Kota.
Kehidupan Reni sebagai perantau Jogja di Jakarta Pusat sebenarnya dimulai saat ia magang kuliah. Saat itu ia magang di sebuah agensi produksi kreatif.
Tiga bulan magang, Reni sudah berani menyimpulkan kalau Jakarta sepertinya akan memberi Reni banyak jalan untuk karier mentereng, dengan gaji yang juga sama menterengnya. Kesimpulan yang, bagi Reni sekarang, amat dini sekali.
“Karena magang kali ya, singkat juga, jadi kesan yang kudapet dari Jakarta ya seru-serunya,” ungkap perantau asal Jogja tersebut saat berbagi cerita melalui Threads, Sabtu (14/3/2026).
Memang, Reni tidak serta merta merantau ke Jakarta setelah lulus kuliah. Apalagi sempat nabrak pandemi Covid-19 dan melewati masa pemulihan pasca pandemi.
Reni kembali ke Jakarta pada 2023. Menyusul diterimanya ia untuk bekerja di tempat magangnya dulu.
“Aku inget, setelah kereta meninggalkan Jogja, di sepanjang jalan, aku sudah bener-bener nggak sabar gitu menjalani daily life di Ibu Kota,” kata Reni. Saat kaki menginjakkan peron Stasiun Pasar Senen, Reni pun langsung melangkah mantap. Kehidupan seru bakal dimulai nih, bisiknya dalam hati.
Dihajar realita Jakarta sampai “ampun-ampun”
Setelah hampir empat tahun menjadi perantau di Jakarta Pusat, Reni merasa tubuh dan mentalnya sudah remuk-berantakan dihajar realita. Karena ternyata ia salah menduga.
Gajinya memang jauh di atas UMK Jogja. Namun, dengan biaya hidup di Ibu Kota, kalau dihitung-hitung, ternyata gaji Rp4,5 juta yang ia terima rasanya tidak gede-gede amat. Yang gede cuma tekanan kerja dan sosialnya.
“Pas dulu magang aku melihatnya seru, pas kerja in-charge di dalemnya langsung, anjir lah, serem ternyata,” jelas Reni.
Yang Reni hadapai di tempat kerjanya kira-kira seperti ini: ritme kerja yang benar-benar cepat dan ketat (harus mengerjakan banyak hal, sekalipun di luar job desk utama Reni). Kalau tidak bisa kejar ritem pekerja lain, risiko paling minimal adalah jadi samsak emosi verbal manajer.
Dengan begitu, Reni juga dituntut harus multitasking. Masalahnya kemudian, ia merasa lingkungan kerjanya tidak begitu suportif. Alih-alih saling membantu, yang ada adalah perlombaan untuk menjadi “si paling”. Si paling multitasking lah, si paling employee lah.
“Kalau ada mised atau salah-salah gitu, seringnya akan langsung nyecer cari siapa yang patut disalahkan. Belum lagi situasi kerjanya lebih sering overwork. Tapi gaji ya segitu-segitu aja,” beber Reni.
Tak pelak jika di banyak momen, Reni merasa amat burnout. Bagi Reni, lelah fisik bisa diatasi dengan tidur. Namun, jika lelah mental dan pikiran, rasanya jauh menyiksa dan sulit diredam.
Sialnya, Reni mengaku sulit menemukan teman dekat di kantornya untuk sekadar berbagi keluh kesah. Barangkali ada teman yang benar-benar baik dan tulus. Namun, berkaca dari situasi upaya untuk menjadi “si paling” di tengah pekerja, Reni memilih membatasi diri karena takut salah berteman. “Walaupun akhirnya itu membuatkua merasa kesepian di Jakarta,” ujar perantau asal Jogja tersebut.
Tidak jarang, ketika tengah dalam perjalanan ke kosan (entah naik ojek online, layanan transportasi umum, jalan kaki di trotoar) atau makan sendirian, ia bisa menangis dalam sunyi. Air matanya mengucur deras, tapi isaknya tertahan. Bunyi paling nyaring yang bisa ia lepaskan adalah jeritan di sudut terdalam hatinya: “Ampun Jakarta, ampun… Ampun nasib, ampun…”
Baca ke halaman selanjutnya…
Terlalu cemas buat resign untuk kembali ke Jogja














