Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

Stasiun Pasar Senen Saksi Perantau Jogja “Ampun-ampun” Dihajar dan Dirampas Jakarta, Tapi Terlalu Cemas Resign buat Balik Jogja

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
15 Maret 2026
A A
Stasiun Pasar Senen Jakarta Pusat merampas senyum perantau asal Jogja MOJOK.CO

Ilustrasi - Stasiun Pasar Senen Jakarta Pusat merampas senyum perantau asal Jogja. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Setiap duduk di kursi tunggu Stasiun Pasar Senen, Jakarta Pusat, senyum di wajah seorang perempuan perantau asal Jogja terus memudar. Kepala penuh kecemasan. Sementara batinnya dihantam kebimbangan dan kesedihan atas hal-hal yang melintas di depan mata. 

Awalnya, menginjakkan kaki di Stasiun Pasar Senen Jakarta Pusat ibarat menapaki nasib baik

Dari waktu ke waktu, Stasiun Pasar Senen tidak lagi sama—bahkan semakin jauh—dari suasana batin Reni (27) saat pertama kali menginjakkan kaki di Jakarta Pusat. 

Iklan

Reni ingat betul, saat pertama kali menginjakkan kaki di stasiun tersebut, ia seperti melihat jalan nasib yang lebih cerah. Gara-gara itu, di kamar rumahnya di Jogja, ia kerap senyum-senyum sendiri. Ada perasaan tidak sabar untuk mengejar hidup yang lebih baik di Ibu Kota. 

Kehidupan Reni sebagai perantau Jogja di Jakarta Pusat sebenarnya dimulai saat ia magang kuliah. Saat itu ia magang di sebuah agensi produksi kreatif. 

Tiga bulan magang, Reni sudah berani menyimpulkan kalau Jakarta sepertinya akan memberi Reni banyak jalan untuk karier mentereng, dengan gaji yang juga sama menterengnya. Kesimpulan yang, bagi Reni sekarang, amat dini sekali. 

“Karena magang kali ya, singkat juga, jadi kesan yang kudapet dari Jakarta ya seru-serunya,” ungkap perantau asal Jogja tersebut saat berbagi cerita melalui Threads, Sabtu (14/3/2026). 

Memang, Reni tidak serta merta merantau ke Jakarta setelah lulus kuliah. Apalagi sempat nabrak pandemi Covid-19 dan melewati masa pemulihan pasca pandemi. 

Reni kembali ke Jakarta pada 2023. Menyusul diterimanya ia untuk bekerja di tempat magangnya dulu. 

“Aku inget, setelah kereta meninggalkan Jogja, di sepanjang jalan, aku sudah bener-bener nggak sabar gitu menjalani daily life di Ibu Kota,” kata Reni. Saat kaki menginjakkan peron Stasiun Pasar Senen, Reni pun langsung melangkah mantap. Kehidupan seru bakal dimulai nih, bisiknya dalam hati. 

Dihajar realita Jakarta sampai “ampun-ampun” 

Setelah hampir empat tahun menjadi perantau di Jakarta Pusat, Reni merasa tubuh dan mentalnya sudah remuk-berantakan dihajar realita. Karena ternyata ia salah menduga. 

Gajinya memang jauh di atas UMK Jogja. Namun, dengan biaya hidup di Ibu Kota, kalau dihitung-hitung, ternyata gaji Rp4,5 juta yang ia terima rasanya tidak gede-gede amat. Yang gede cuma tekanan kerja dan sosialnya. 

“Pas dulu magang aku melihatnya seru, pas kerja in-charge di dalemnya langsung, anjir lah, serem ternyata,” jelas Reni. 

Yang Reni hadapai di tempat kerjanya kira-kira seperti ini: ritme kerja yang benar-benar cepat dan ketat (harus mengerjakan banyak hal, sekalipun di luar job desk utama Reni). Kalau tidak bisa kejar ritem pekerja lain, risiko paling minimal adalah jadi samsak emosi verbal manajer. 

Dengan begitu, Reni juga dituntut harus multitasking. Masalahnya kemudian, ia merasa lingkungan kerjanya tidak begitu suportif. Alih-alih saling membantu, yang ada adalah perlombaan untuk menjadi “si paling”. Si paling multitasking lah, si paling employee lah. 

Iklan

“Kalau ada mised atau salah-salah gitu, seringnya akan langsung nyecer cari siapa yang patut disalahkan. Belum lagi situasi kerjanya lebih sering overwork. Tapi gaji ya segitu-segitu aja,” beber Reni. 

Tak pelak jika di banyak momen, Reni merasa amat burnout. Bagi Reni, lelah fisik bisa diatasi dengan tidur. Namun, jika lelah mental dan pikiran, rasanya jauh menyiksa dan sulit diredam. 

Sialnya, Reni mengaku sulit menemukan teman dekat di kantornya untuk sekadar berbagi keluh kesah. Barangkali ada teman yang benar-benar baik dan tulus. Namun, berkaca dari situasi upaya untuk menjadi “si paling” di tengah pekerja, Reni memilih membatasi diri karena takut salah berteman. “Walaupun akhirnya itu membuatkua merasa kesepian di Jakarta,” ujar perantau asal Jogja tersebut. 

Tidak jarang, ketika tengah dalam perjalanan ke kosan (entah naik ojek online, layanan transportasi umum, jalan kaki di trotoar) atau makan sendirian, ia bisa menangis dalam sunyi. Air matanya mengucur deras, tapi isaknya tertahan. Bunyi paling nyaring yang bisa ia lepaskan adalah jeritan di sudut terdalam hatinya: “Ampun Jakarta, ampun… Ampun nasib, ampun…”

Baca ke halaman selanjutnya…

Terlalu cemas buat resign untuk kembali ke Jogja

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 15 Maret 2026 oleh

Tags: biaya hidup jakartajakartajakarta pusatJogjakereta jakarta jogjakereta jogja jakartakerja di jakartapasar senenperantau di jakartaperantau jogjaStasiun Pasar Senentekanan kerja jakarta
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Milenial di Job Fair Yogyakarta 2026 cari peluang kerja di luar negeri. MOJOK.CO
Sehari-hari

Muak dengan Syarat Kerja di Indonesia: Gaji Numpang Lewat hingga Terbatas Usia, Milenial Pilih Cari Kerja ke Luar Negeri

16 Juli 2026
Menertawakan Polemik Sosial, Arie Kriting Siap Bawa "Mungkin Ada Benarnya" ke Jogja.mojok.co
Hiburan

Menertawakan Polemik Sosial, Arie Kriting Siap Bawa “Mungkin Ada Benarnya” ke Jogja

16 Juli 2026
Kerajinan lokal Yogyakarta di INACRAFT. MOJOK.CO
Kabar

INACRAFT Jogja: Jembatan bagi Perajin Lokal Menembus Pasar Global Lewat Karya yang Tak Biasa

15 Juli 2026
Senjakala Lapangan Sepak Bola di Jogja yang Makin Berjarak dengan Warganya.MOJOK.CO
Suara Bawah Tanah

Senjakala Lapangan Bola di Kota Jogja yang Makin Berjarak dengan Warganya

9 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pertama kali beli mesin cuci di rumah desa, kena julid tetangga MOJOK.CO

Pertama Kali Beli Mesin Cuci di Rumah Desa: Terharu Ringankan Beban Ibu hingga Dianggap Buang Duit oleh Tetangga Julid

10 Juli 2026
Kisah sebuah desa di Kebumen, Jawa Tengah, yang bangkit dari kemiskinan MOJOK.CO

Cerita Desa di Kebumen Bangkit dari Kemiskinan: Punya Rumah Layak Huni, Modal Usaha, hingga Pengembangan Peternakan

14 Juli 2026
Bupati Sleman, Harda Kiswaya, menyerahkan hibah daerah ke ormas, tempat ibadah, dan para seniman MOJOK.CO

Hibah Pemkab Sleman untuk Ormas, Tempat Ibadah, dan Seniman: Serahkan Ratusan-Miliaran Juta untuk Dioptimalkan

10 Juli 2026
Derita Orang Rembang, Makan Mie Gacoan Harus ke Tuban MOJOK.CO

Makan Mie Gacoan adalah Kemewahan bagi Anak Muda Desa, Rela Motoran 2 Jam Demi Makanan yang “Menyiksa” Mulut Mereka

14 Juli 2026
Menertawakan Polemik Sosial, Arie Kriting Siap Bawa "Mungkin Ada Benarnya" ke Jogja.mojok.co

Menertawakan Polemik Sosial, Arie Kriting Siap Bawa “Mungkin Ada Benarnya” ke Jogja

16 Juli 2026
Koperasi Kelurahan di Banjarsari, Surakarta, bukukan omzet ratusan juta MOJOK.CO

Cerita Koperasi di Banjarsari Surakarta: Berawal dari Garasi, Bukukan Omzet Ratusan Juta?

12 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.