Pukul 07.15 pagi, Ragil (33) baru saja bangun. Ia meregangkan badan, menyeduh kopi, dan menikmati pemandangan kota dari jendela unit apartemennya di kawasan Sudirman, Jakarta Pusat.
Tidak ada kepanikan. Ia tak perlu buru-buru ngantor. Setelah setengah jam siap-siap, pukul 07.45 ia cukup memesan ojek daring atau bahkan berjalan kaki santai. Sepuluh menit kemudian, ia sudah duduk manis di meja kerjanya, tepat pukul 08.00.
“Terkadang kalau masuk kantornya lebih siang, bisa jauh lebih santai,” ujar lelaki yang bekerja di kawasan Sudirman Central Business District (SCBD), Minggu (8/2/2026).
Bandingkan dengan nasib rekan kerjanya, yang mengambil unit Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) di pinggiran Jakarta–entah itu Bekasi, Tangerang, atau Depok. Di jam yang sama saat Ragil baru membuka mata, mereka mungkin sudah stres setengah mati di gerbang tol atau berdesak-desakan di gerbong KRL demi mengejar presensi kantor jam 08.00.
Dalam narasi orang lama, orang-orang yang mengambil KPR di pinggiran Jakarta mungkin adalah “pahlawan”. Ia dianggap sosok yang “bertanggung jawab” karena sedang bersusah payah mencicil aset berupa rumah tapak. Sebaliknya, Ragil kerap dicap sebagai anak muda konsumtif yang membuang uang untuk membayar sewa kepada pemilik apartemen.
Namun, Ragil punya hitungan sendiri. Bagi pekerja dengan gaji dua digit “tanggung” seperti dirinya, itung-itungannya malah menunjukkan hal sebaliknya: menyewa unit apartemen di tengah kota bukan pemborosan, melainkan strategi bertahan hidup. Pilihan yang lebih baik ketimbang beli rumah KPR di pinggiran.
Bunga KPR sangat besar, bahkan bisa buat menebus satu rumah baru
Keputusan Ragil tentu bukan tanpa alasan. Ia telah banyak berkonsultasi dengan banyak orang, terutama rekan-rekannya yang mengambil keputusan serupa.
Ia juga pernah melakukan survei. Dengan gajinya yang Rp12 juta per bulan, memaksakan diri membeli rumah rumah di pinggiran Jakarta seharga Rp700 juta, misalnya, adalah sebuah pertaruhan besar. Jika ia mengambil KPR dengan bunga 8 persen selama 20 tahun, ada fakta yang sering tak diduga orang.
Pokok pinjaman mungkin “hanya” Rp630 juta setelah uang muka. Namun, total bunga yang harus dibayarkan Ragil kepada bank selama 20 tahun mencapai angka fantastis: Rp634,8 juta. Artinya, selama 20 tahun, total uang yang disetorkan ke bank mencapai Rp1,26 miliar.
Padahal, hitungan di atas masih skenario “terbaik”, dengan asumsi bunga menetap (fixed) 8 persen. Realitas di lapangan seringkali lebih kejam. Umumnya, bank hanya memberikan bunga fixed promo selama 1-3 tahun pertama. Memasuki tahun ke-4, berlaku suku bunga mengambang (floating rate) mengikuti pasar yang saat ini rata-rata bertengger di angka 11 hingga 13 persen.
Jika skenario ini berjalan, total setoran Ragil ke bank bisa membengkak jauh di atas Rp1,26 miliar—sebuah angka yang mencekik bagi gaji dua digit “nanggung”.
“Orang bilang sewa apartemen itu membuang uang. Padahal, saat mencicil KPR, kita juga sedang ‘membuang uang’ untuk membayar bunga bank,” pikir Ragil. “Nilai bunga itu setara dengan membeli satu unit rumah lagi.”
Alasan sewa apartemen di tengah kota: tak mau waktu habis di jalan
Alasan kedua Ragil enggan minggir ke pinggiran kota adalah sesuatu yang tidak tercatat dalam struk gaji, tapi sangat terasa di badan: waktu yang habis.
Teman-temannya di pinggiran rata-rata menghabiskan waktu 3 jam per hari untuk pulang-pergi. Jika dikalikan 20 hari kerja sebulan, itu berarti 60 jam terbuang di jalan. Dalam setahun? Secara matematis ada 720 jam yang hilang ditelan macet.
Ragil mencoba mengonversi waktu itu menjadi uang. Jika gajinya diasumsikan memiliki nilai per jam (sekitar Rp75.000/jam berdasarkan standar gaji Rp12 juta), maka waktu 720 jam yang hilang itu bernilai sekitar Rp54 juta per tahun,.
“Uang (Rp54 juta) ini memang tidak hilang dari rekening bank secara langsung. Tapi, nominal itu lenyap dalam bentuk tubuh saya yang kelelahan, stres, hingga hilangnya kesempatan buat belajar skill baru,” kata dia.
Bagi Ragil, waktu adalah aset yang lebih mahal daripada sertifikat tanah di daerah yang butuh dua jam perjalanan untuk dicapai.
Baca halaman selanjutnya…
Nekat ambil KPR bisa habis Rp12 juta lebih per bulan, malah boncos














