Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

Bagi Pekerja Bergaji Dua Digit “Nanggung” di Jakarta, Menyewa Apartemen di Tengah Kota Lebih Baik Ketimbang Ambil KPR di Pinggiran

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
9 Februari 2026
A A
merantau, karet tengsin, jakarta. apartemen, kpr MOJOK.CO

ilustrasi - tinggal di Jakarta (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Pukul 07.15 pagi, Ragil (33) baru saja bangun. Ia meregangkan badan, menyeduh kopi, dan menikmati pemandangan kota dari jendela unit apartemennya di kawasan Sudirman, Jakarta Pusat. 

Tidak ada kepanikan. Ia tak perlu buru-buru ngantor. Setelah setengah jam siap-siap, pukul 07.45 ia cukup memesan ojek daring atau bahkan berjalan kaki santai. Sepuluh menit kemudian, ia sudah duduk manis di meja kerjanya, tepat pukul 08.00.

“Terkadang kalau masuk kantornya lebih siang, bisa jauh lebih santai,” ujar lelaki yang bekerja di kawasan Sudirman Central Business District (SCBD), Minggu (8/2/2026).

Bandingkan dengan nasib rekan kerjanya, yang mengambil unit Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) di pinggiran Jakarta–entah itu Bekasi, Tangerang, atau Depok. Di jam yang sama saat Ragil baru membuka mata, mereka mungkin sudah stres setengah mati di gerbang tol atau berdesak-desakan di gerbong KRL demi mengejar presensi kantor jam 08.00.

Dalam narasi orang lama, orang-orang yang mengambil KPR di pinggiran Jakarta mungkin adalah “pahlawan”. Ia dianggap sosok yang “bertanggung jawab” karena sedang bersusah payah mencicil aset berupa rumah tapak. Sebaliknya, Ragil kerap dicap sebagai anak muda konsumtif yang membuang uang untuk membayar sewa kepada pemilik apartemen. 

Namun, Ragil punya hitungan sendiri. Bagi pekerja dengan gaji dua digit “tanggung” seperti dirinya, itung-itungannya malah menunjukkan hal sebaliknya: menyewa unit apartemen di tengah kota bukan pemborosan, melainkan strategi bertahan hidup. Pilihan yang lebih baik ketimbang beli rumah KPR di pinggiran.

Bunga KPR sangat besar, bahkan bisa buat menebus satu rumah baru

Keputusan Ragil tentu bukan tanpa alasan. Ia telah banyak berkonsultasi dengan banyak orang, terutama rekan-rekannya yang mengambil keputusan serupa.

Ia juga pernah melakukan survei. Dengan gajinya yang Rp12 juta per bulan, memaksakan diri membeli rumah rumah di pinggiran Jakarta seharga Rp700 juta, misalnya, adalah sebuah pertaruhan besar. Jika ia mengambil KPR dengan bunga 8 persen selama 20 tahun, ada fakta yang sering tak diduga orang.

Pokok pinjaman mungkin “hanya” Rp630 juta setelah uang muka. Namun, total bunga yang harus dibayarkan Ragil kepada bank selama 20 tahun mencapai angka fantastis: Rp634,8 juta. Artinya, selama 20 tahun, total uang yang disetorkan ke bank mencapai Rp1,26 miliar.

Padahal, hitungan di atas masih skenario “terbaik”, dengan asumsi bunga menetap (fixed) 8 persen. Realitas di lapangan seringkali lebih kejam. Umumnya, bank hanya memberikan bunga fixed promo selama 1-3 tahun pertama. Memasuki tahun ke-4, berlaku suku bunga mengambang (floating rate) mengikuti pasar yang saat ini rata-rata bertengger di angka 11 hingga 13 persen. 

Jika skenario ini berjalan, total setoran Ragil ke bank bisa membengkak jauh di atas Rp1,26 miliar—sebuah angka yang mencekik bagi gaji dua digit “nanggung”.

“Orang bilang sewa apartemen itu membuang uang. Padahal, saat mencicil KPR, kita juga sedang ‘membuang uang’ untuk membayar bunga bank,” pikir Ragil. “Nilai bunga itu setara dengan membeli satu unit rumah lagi.”

Alasan sewa apartemen di tengah kota: tak mau waktu habis di jalan

Alasan kedua Ragil enggan minggir ke pinggiran kota adalah sesuatu yang tidak tercatat dalam struk gaji, tapi sangat terasa di badan: waktu yang habis.

Teman-temannya di pinggiran rata-rata menghabiskan waktu 3 jam per hari untuk pulang-pergi. Jika dikalikan 20 hari kerja sebulan, itu berarti 60 jam terbuang di jalan. Dalam setahun? Secara matematis ada 720 jam yang hilang ditelan macet.

Iklan

Ragil mencoba mengonversi waktu itu menjadi uang. Jika gajinya diasumsikan memiliki nilai per jam (sekitar Rp75.000/jam berdasarkan standar gaji Rp12 juta), maka waktu 720 jam yang hilang itu bernilai sekitar Rp54 juta per tahun,.

“Uang (Rp54 juta) ini memang tidak hilang dari rekening bank secara langsung. Tapi, nominal itu lenyap dalam bentuk tubuh saya yang kelelahan, stres, hingga hilangnya kesempatan buat belajar skill baru,” kata dia. 

Bagi Ragil, waktu adalah aset yang lebih mahal daripada sertifikat tanah di daerah yang butuh dua jam perjalanan untuk dicapai.

Baca halaman selanjutnya…

Nekat ambil KPR bisa habis Rp12 juta lebih per bulan, malah boncos

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 10 Februari 2026 oleh

Tags: apartemenapartemen di jakartajakartakprkredit rumahpilihan redaksiSCBDsewa apartemen di jakarta
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Parijoto, pecel pakis, hingga lalapan kelor. Khazanah kuliner di Desa Colo yang erat dengan dakwah Sunan Muria MOJOK.CO
Lipsus

Rasa Sanga (2): Sajian Parijoto, Pecel Pakis, dan Lalapan Kelor di Desa Colo yang Erat dengan “Syiar Alam” Sunan Muria

27 Februari 2026
Gen Z photobox di Tugu Jogja
Urban

Gen Z Jogja Rela Antre buat “Ibadah” Photobox di Tugu, Pilih Tahan Kantuk setelah Sahur karena FOMO

27 Februari 2026
KIP Kuliah di Jogja.MOJOK.CO
Edumojok

Ironi Penerima KIP Kuliah di Jogja: Uang Beasiswa Habis Buat Bayar Utang Keluarga, Rela Makan Rp20 Ribu per Hari Demi Tak Putus Kuliah

27 Februari 2026
Mudik ke desa pakai motor setelah bertahun-tahun merantau di kota seperti Jakarta jadi simbol perantau gagal MOJOK.CO
Urban

Mudik ke Desa Naik Motor usai Merantau di Kota: Dicap Gagal, Harga Diri Diinjak-injak karena Tak Sesuai Standar Sukses Warga

26 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

produk indomaret, private label.MOJOK.CO

Private Label Indomaret Penyelamat Hidup Saat Tanggal Tua Bulan Ramadan, Murah tapi Tak Murahan

24 Februari 2026
Perbandingan pengguna iPhone vs Android (Infinix dan Samsung)

8 Tahun Pakai iPhone, Ternyata Saya Dibutakan Gengsi padahal Android Lebih Praktis dan Nyaman

25 Februari 2026
Curhat Jadi Ketua RT: Pekerjaan Kuli yang Dibalut Keikhlasan MOJOK.CO

Anak Muda Jadi Ketua RT: Antara Kerja Kuli, Keikhlasan, dan Dewasa Sebelum Waktunya

27 Februari 2026
Pertama kali merantau ke Jogja: kerja palugada di coffee shop dengan gaji Rp10 ribu MOJOK.CO

Pertama Kali Merantau ke Jogja: Kerja di Coffee Shop 12 Jam Gaji Rp10 Ribu Perhari, Capek tapi Tolak Pulang karena Gengsi

24 Februari 2026
Pemuda Jakarta kerja di Jepang untuk bayar utang keluarga. MOJOK.CO

Gila-gilaan Kerja di Jepang tapi Tak Bisa Menikmati Upah Besar, sebab Saya Generasi Sandwich yang Harus Tebus Utang Keluarga

26 Februari 2026
Makan bersama sia-sia: niat kumpul keluarga, tapi bikin ortu kesepian karena anak-anak sibuk main hp sampai tak nyahut saat diajak bicara MOJOK.CO

Kumpul Keluarga Justru bikin Ortu Makin Kesepian dan Terabaikan, Anak Sibuk sama HP dan Tak Saling Bicara

25 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.