Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

Menemukan Seporsi Kemenangan yang Layak Dirayakan usai Berporsi Kekalahan dari Kehidupan Dewasa yang Bikin Setengah Gila

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
7 Juli 2026
A A
Seporsi kemenangan kecil yang bisa dirayakan di kehidupan dewasa usai berporsi-porsi kekalahan MOJOK.CO

Ilustrasi - Seporsi kemenangan kecil yang bisa dirayakan di kehidupan dewasa usai berporsi-porsi kekalahan. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Tidak hanya seporsi kekalahan. Kehidupan dewasa sebenarnya seringkali memberikan berpiring-piring yang membuat setengah gila. Namun, di sela kekalahan bertubi-tubi tersebut, bagi beberapa orang yang kerja di Jakarta ini, paling tidak masih ada seporsi kemenangan yang bisa dirayakan. Meski hanya kemenangan-kemenangan kecil belaka. 

***

Iklan

Suatu pagi belum lama ini, seorang teman Wirawan (27) di sebuah kantor pemasaran di Jakarta Pusat untuk pertama kalinya tampak berangkat ngantor dengan penuh semangat. Sejak Subuh si teman telah mengirim pesan-pesan jahil ke Wairawan. 

Hari itu adalah hari terakhir si teman Wirawan bekerja setelah sebelumnya permohonan resign-nya diterima. 

“Kenapa dia semangat resign? Baginya itu seporsi kemenangan setelah berulang kali menghadapi kekalahan di kantor: kalah sama deadline, sama bos tantrum, dan rekan toksik. Ia merasa menang karena bisa nggak tergantung di kantor itu, memutuskan resign, meski isunya cari kerja lagi susah,” ujar Wirawan bercerita, Minggu (5/7/2026). 

Berbeda dengan si teman, Wirawan belum punya keberanian untuk resign. Namun, resign bukan satu-satunya kemenangan yang bisa dikejar. Sebab, baginya, ada seporsi-seporsi kemenangan lain yang, memang kecil, tapi sudah cukup untuk merasa menang dari kerasnya kehidupan dewasa—di Jakarta pula. 

Mie ayam: seporsi kecil kemenangan yang bikin hidup tak bisa disia-siakan usai berporsi kekalahan

Wirawan hanya butuh mie ayam untuk melewati banyak “peperangan” di kehidupan dewasa.

Pagi sebelum berangkat kantor, ia bisa mampir dulu di sebuah warung mie ayam langganan di Jakarta Pusat. Sekadar untuk mengisi energi sebelum memulai rutinitas panjang dan padat di kantornya. 

Di sore atau malam hari, ketika pikirannya penuh oleh pekerjaan atau stres karena tekanan mental, aroma mie ayam seketika membuatnya rileks. Aromanya mengaburkan sejenak segala silang-sengkarut di kepalanya. 

“Aku itu bukannya nggak pengin resign. Terutama karena ngadepin teman toksis di kantor, yang seolah memang sengaja bikin karyawan lain nggak betah biar pada resign. Kalau aku resign, berarti aku kalah dong. Aku harus membuktikan kalau kinerjaku patut diperhitungkan bos. Aku udah merasa menang di situ, menang karena aku nggak nyerah buat resign,” beber Wirawan. Orang boleh beda pendapat soal ini, tapi itu seporsi kemenangan versi Wirawan. 

Godaan untuk mengakhiri hidup bukannya tidak timbul-tenggelam. Apalagi di kehidupan dewasa ini ia harus menjalani semrawutnya hidup yang diperparah dengan sistem negara yang kian bobrok dan mencekik. 

Tapi nyatanya Wirawan masih bisa bertahan hingga sekarang. Ia hanya butuh satu alasan: mie ayam masih enak, seperti dalam novel laris Brian Khrisna Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati. 

Tidak tergiur pinjol di tengah situasi ekonomi seperti saat ini,pencapaian yang layak disyukuri 

Tidak seperti kebanyakan pekerja di Jakarta yang kerja dobel-dobel (side jobs), Wirawan sejauh ini memang hanya mengandalkan gaji tunggal dari kantornya. Ya meski belakangan ia mulai mempertimbangkan untuk mencari ceruk pemasukan lain. 

Situasi ekonomi saat ini—saat harga-harga makin mahal—Wirawan mulai kerasa kalau keuangannya terlalu pas-pasan. Untuk kebutuhan pokok dirinya sendiri saja (seperti sewa kos, makan harian, bensin, dan sejenisnya) saja pas-pasan, apalagi untuk kebutuhan lain yang bersifat sekunder atau tersier. Ia saja sudah mulai membatasi nongkrong-nongkrong di coffee shop dan mengurangi budget rokoknya. 

Iklan

“Kalau ke orang tua, ya sesekali lah (ngasih),” kata Wirawan. 

“Tapi gini, belakangan kan ada data pengguna PayLater melonjak. Banyak orang, terutama kalangan anak muda, terjebak pada ‘ilusi beli dulu bayar nanti’. Tapi ujung-ujungnya gagal bayar (galbay),” imbuhnya. 

Apa yang Wirawan katakan terkonfirmasi dalam data terbaru dari Pefindo Biro Kredit (IdScore): per Februari 2026 menunjukkan outstanding PayLater atau total utang yang masih menggantung mencapai Rp56,3 triliun. Tumbuh hampir 87 persen dalam setahun. 

Data juga menunjukkan: masyarakat yang paling banyak menggunakan PayLater adalah orang-orang dengan usia produktif. Hampir 44 persen pengguna PayLater adalah mereka yang berusia 26-35 tahun (Milenial), disusul oleh Gen Z usia 18-25 tahun yang menyumbang sekitar 26,5 persen.

Sementara Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, ada banyak anak muda yang rela utang lewat pinjol dan PayLater demi beli tiket konser atau jenis hp keperluan terbaru. 

“Kalau toh aku masih belum bisa konsisten menabung, tapi nggak tergoda pinjol atau utang pakai PayLater aja, itu kemenangan yang harus kusyukuri. Kalau bisa konsisten nabung lagi, menang mutlak,” ujarnya. 

Ada sisa uang untuk beli keinginan, momen langka yang membahagiakan

Bergeser ke Jakarta Selatan, Nilam (29), perempuan asal Bekasi yang bekerja di sebuah Event Organizer di Jaksel, sebenarnya punya kebiasaan yang sama dengan Wirawan: mengambil jeda dan meleram kesumpekan di meja warung mie ayam. 

Namun, jika ditanya: Seporsi kemenangan apa yang bisa Nilam rayakan usai berporsi-porsi kekalahan?, jawabannya membuatnya selalu meneteskan air mata tiap mengingatnya. 

“Gini, kan aku pernah cerita (dalam tulisan “Mie Ayam di Jakarta, Saksi Pekerja Berusaha Waras setelah Berkali-kali Nyaris Gila karena Kerja dan Beban dari Orang Tua“), kalau aku ini sandwich. Aku nanggung kebutuhan rumah. Adik tengahku nggak bisa diandalkan. Sementara adik bungsuku masih kuliah. Jadi aku kan hampir nggak pernah mikirin diriku sendiri,” beber Nilam dengan suara bergetar. 

Uang hasil kerja keras menguras jiwa-raga di Jakarta Selatan selalu ia prioritaskan untuk keluarga. Toh setiap kali ibunya menelepon, transferan lah yang selalu ditanyakan. Itulah kenapa Nilam lebih memilih ngekos di Jaksel saja ketimbang pulang ke rumahnya di Bekasi. Ia takut makin gila kalau tinggal serumah. 

“Setiap ada keinginan, pasti nahan-nahan. Jadi, ketika ada sisa uang lebih yang aku dapet dari side jobs atau bonus kantor, aku langsung nangis. Karena akhirnya aku punya uang lebih buat beli sesuatu yang aku pengin,” kata Nilam.

Itulah seporsi kemenangan kecil versi Nilam. Uang lebih itu entah untuk buat beli outfit baru, sepatu baru, parfum, atau skincare yang setidaknya tidak semurahan yang selama ini dipakai dengan alasan penghematan. 

Bisa tidur awal tanpa beban pikiran, seporsi kemenangan yang melegakan dari berporsi kekalahan

Ada kalanya Nilam memang harus tidur larut malam karena urusan pekerjaan. Terutama jika ada event dan ketika ia ambil side jobs cukup padat. Tapi tidak jarang pula, ia tidak bisa lekas tidur hingga lewat tengah malam karena pikirannya begitu berisik (overthinking). 

“Macem-macem lah yang dipikir. Kayak, ini mau sampai kapan sih hidup kayak gini. Ini kenapa sih aku harus hidup di tengah keluarga kayak gini. Kapan aku bisa kaya ya. Macem-macem dan ngelantur lah pokoknya,” tutur Nilam. 

Tentu, intensitas insomnia karena overthinking tersebut membuat tubuhnya kadang merasa sakit semua. Agak mengganggu juga karena ia harus berangkat kerja dalam kondisi masih terkantuk-kantuk. 

Walhasil, ketika ada momen ia bisa tidur lebih awal tanpa banyak pikiran—yang entah bagaimana datangnya—itu menjadi seporsi kemenangan yang sangat ia rayakan. 

“Aku bisa bangun pagi dengan napas lega. Kayak, akhirnya bisa tidur normal. Akhirnya bisa bangun dalam kondisi bugar. Walaupun bakal kerja keras lagi, tapi seenggaknya bisa bangun bugar gitu loh,” pungkasnya. 

Kata Nilam, memang hanya seporsi kemenangan saja. Hanya kecil belaka. Tapi, selayaknya setiap kemenangan, tetap selalu memberi kelegaan. 

Kalau kamu, apa seporsi kemenangan kecil yang masih bisa kamu rayakan di tengah gempuran berporsi-porsi kekalahan di hidup ini? Kalau belum merasakannya, pesan Nilam, temukanlah, agar hidup kita punya sedikit makna. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Ujian Keuangan di Kota Perantauan: Bikin Mumet dan Gagal Nambah Tabungan Gara-gara Masalah yang Datang Keroyokan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

Terakhir diperbarui pada 7 Juli 2026 oleh

Tags: beban kerja di jakartajakarta selatanJakselkerja di jakartamanfaat mie ayammie ayammie ayam jakartapilihan redaksiresignseporsi kekalahanseporsi kemenangantekanan kerja di jakartatips resignyang harus disiapkan sebelum resign
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Lapangan Bola di Kauman, Jogja. MOJOK.CO
Suara Bawah Tanah

Lapangan Paving: Kemewahan yang Tersisa bagi Anak-anak Kota Jogja untuk Bermain Bola

7 Juli 2026
Setiabudi Jakarta Selatan, Work Life Balance.MOJOK.CO
Urban

Kawasan Setiabudi Strategis buat Ngekos, tapi Menyimpan Masalah yang Menyiksa Perantau Gen Z Jakarta

7 Juli 2026
Petugas Sensus Ekonomi ditolak masyarakat karena sudah sulit percaya dengan pemerintah MOJOK.CO
Kabar

Yang Harus Dibenahi dari Sensus Ekonomi usai Petugas Ditolak di Mana-mana, Karena Masyarakat Makin Sulit Percaya sebab Sering Dibuat Kecewa

6 Juli 2026
Essay Contes Beswan Djarum: menulis esai memberi soft skills yang menunjang karier profesional MOJOK.CO
Eksplor

Menulis Esai Jadi Bekal Karier Anak Muda, Beri Ragam Soft Skills Vital yang Dicari Dunia Kerja Profesional

3 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Seporsi kemenangan kecil yang bisa dirayakan di kehidupan dewasa usai berporsi-porsi kekalahan MOJOK.CO

Menemukan Seporsi Kemenangan yang Layak Dirayakan usai Berporsi Kekalahan dari Kehidupan Dewasa yang Bikin Setengah Gila

7 Juli 2026
Latihan ala penjaga warung madura dalam mengoperasikan toko kelontong 24 jam non-stop. Lebih teruji dari Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) MOJOK.CO

Latihan Ala Penjaga Warung Madura Operasikan Toko 24 Jam: Memang Tak Seperti Latsarmil Koperasi Desa tapi Teruji

3 Juli 2026
Kesejahteraan Dosen dan Rasa Aman yang Masih Jadi Angan-angan MOJOK.CO

Kesejahteraan Dosen dan Rasa Aman yang Masih Jadi Angan-angan

6 Juli 2026
Tips Meningkatkan Kenikmatan Ayam Goreng Olive Chicken Jogja (Mojok/Agung)

Tips Meningkatkan Kenikmatan Rasa Ayam Goreng Olive Chicken Jogja yang Sudah Menjadi Legenda Kuliner Itu

3 Juli 2026
Biar Nggak Mogok atau Korsleting, Ini 4 Hal yang Haram Dilakukan Saat Modif Motor.MOJOK.CO

Biar Nggak Mogok atau Korsleting, Ini 4 Hal yang Haram Dilakukan Saat Modif Motor

3 Juli 2026
FGD “Di Balik Ruang Redaksi: Medianomics, Kuasa Kepemilikan, dan Masa Depan Jurnalisme” inisiasi Telkom University Purwokerto. Membincangkan masa depan industri media jurnalisme di era AI dan kuasa kepemilikan MOJOK.CO

Diskusi Soal Industri Media dan Masa Depan Jurnalisme: Beranjak dari Keresahan Lama ke Menjawab Tantangan Baru

1 Juli 2026

Video Terbaru

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.