Namrata (28) selalu menyukai seni. Akan tetapi, setelah lulus dari kuliah, ia tidak dapat menekuni pekerjaan di bidang kreatif. Ia justru bekerja di luar negeri sebagai konsultan di sebuah perusahaan bergengsi di Singapura, berujung merasa tidak puas dan memilih resign untuk menulis puisi di kampung halaman.
Kerja kreatif tidak didukung keluarga, dianggap tidak bisa biayai hidup
Namrata mengakui dirinya selalu mempunyai ketertarikan untuk menulis dan melakoni pekerjaan kreatif. Namun sebagaimana sebagian orang tua menganggap pekerjaan yang berkaitan dengan seni tidak menguntungkan, begitulah yang dialami Namrata.
Perempuan ini tidak bisa mewujudkan keinginannya untuk menggantungkan hidup melalui tulisan. Menurut kedua orang tuanya, keputusan itu tidak logis untuk kondisi ekonomi saat ini.
“Aku selalu suka menulis dan berkreasi. Namun bagi orang tuaku, gagasan aku menekuni dunia kepenulisan adalah hal yang nggak masuk akal,” kata dia, seperti dikutip dari Business Insider, Kamis (2/4/2026).
Bagi kedua orang tua Namrata yang berasal dari pedesaan, keputusan bekerja kreatif terdengar tidak dapat memenuhi kebutuhan hidup. Berkaca dari mereka yang rela pindah dari desa ke kota agar dapat memberikan kehidupan yang lebih nyaman untuk Namrata dan saudara-saudaranya, bekerja di bidang seni dianggap “nol” dalam menghasilkan.
Karena itu, pekerjaan yang tidak menguntungkan akan ditolak mati-matian.
Bukan hanya orang tua Namrata yang menolak, mengambil contoh dari orang tua di Afrika, seorang make-up artist juga mengaku tidak didukung dalam berkarier di bidang kreatif oleh kedua orang tuanya.
Penolakan tersebut membuat Namrata memilih untuk berkuliah di bidang hukum. Ia melakukan pekerjaan “serius” yang dinilai lebih menguntungkan melalui penelitian dan kerja konsultan selama 10 tahun.
Namun pada akhirnya, Namrata tak tahan dengan pekerjaan yang tidak sesuai dengan passion-nya dan memutuskan untuk resign dari perusahaan multinasional tempatnya bekerja, KPMG. Dirinya memutuskan pulang dari luar negeri dan kembali menjadi penulis di kota asalnya.
Beberapa kali berganti karier selama kerja di luar negeri
Sebelum mencapai keputusan resign, Namrata pernah mencoba melakukan perubahan dalam pekerjaannya. Setelah lulus dari kuliah hukum di India, ia banting setir dengan melanjutkan kuliah di luar negeri, tepatnya Program Studi Magister Hubungan Internasional di National University of Singapore pada tahun 2019 hingga 2021.
Ia kemudian menjadi analis riset di universitas tempatnya berkuliah selama enam bulan.
Keputusan tersebut menuntun Namrata pada keinginan mencoba bekerja di perusahaan besar. Jadilah, ia berpindah kerja ke perusahaan konsultan, tepatnya KPMG yang disebutkan sebagai big 4—salah satu dari empat kantor akuntan terbesar dan bergengsi di dunia.
“Aku belum pernah kerja di perusahaan sebelumnya, jadi aku pindah ke KPMG pada tahun 2022 dan mencoba peran konsultan dan bekerja di perusahaan besar,” kata Namrata.
Perempuan ini mengakui, tidak ada yang salah dengan pekerjaannya. Budaya kerja di KPMG cukup baik, serta gaji yang didapatkannya pun terbilang besar sekitar 57.000 dolar Singapura atau setara Rp753 juta.
Saking stabilnya penghasilan Namrata, dirinya mengaku tidak pernah merasa kekurangan uang selama hidup di luar negeri. Ia menghabiskan 3.200 dolar Singapura per bulan (sekitar Rp42 juta), tetapi selalu bisa menyisakan dan menabung lebih banyak.
“Singapura kota yang mahal, aku menghabiskan hingga 3.200 dolar Singapura per bulan untuk pengeluaran, termasuk sewa, tetapi nggak pernah merasa kurang,” akunya.
Namun perlahan, Namrata menyadari bahwa dirinya merasa tidak nyaman dengan pekerjaannya. Ia merasa lebih dominan menggunakan otak kanan, sedang pekerjaannya menuntut otak kiri. Perempuan ini merasa dirinya tidak bekerja sesuai dengan passion yang dirinya inginkan, yakni pekerjaan kreatif.
“Tapi, aku segera sadar kalau aku terlalu dominan otak kanan untuk pekerjaan ini, dan kehidupan korporat nggak terasa sesuai buatku,” kata dia.
Selain itu, ada jam kerja panjang yang membuat Namrata kelelahan. Ia harus bekerja selama 40 jam seminggu. Akibatnya, tidak mempunyai waktu luan selain akhir pekan, yang berujung juga digunakan untuk beristirahat.
“Jam kerjanya panjang dan menuntut. Aku nggak ingin weekend jadi pelarian dari 40 jam kerja seminggu,” tambahnya.
Akhirnya memilih resign dari big 4 demi menjadi penulis
Buntut panjang dari ketidaksanggupannya bekerja, Namrata mengaku mulai tidak bisa menulis, padahal menulis sangatlah penting baginya.
“Selama bekerja di KPMG, aku merasa tidak dapat meluangkan cukup waktu untuk menulis,” kata dia.
Sebelumnya, untuk menjaga kewarasan selama berada di negara lain yang asing, dia bilang, mulai tekun menulis.dalam bahasa asalnya. Ia menulis tentang hubungan, keluarga, persahabatan, cinta, dan hal sehari-hari yang membuatnya merasa lebih nyaman saat kerja di luar negeri.
Namun, karena tidak lagi bisa melakukan hal itu, dirinya berpikir serius untuk resign dari pekerjaan di luar negeri. Ia lebih memilih untuk melakukan hal yang benar-benar disukainya.
“Ketidakpuasan aku kerja di KPMG membuatku berpikir tentang apa yang benar-benar aku suka,” kata dia.
Pada Desember 2024, Namrata bilang, dirinya terpilih untuk membacakan puisi di sebuah festival sastra di India. Festival tersebut membuatnya makin menyadari bahwa ia ingin seperti orang-orang yang ditemui dan disaksikannya di festival sastra itu.
“Jadi ketika aku kembali ke Singapura, aku memutuskan untuk menyelesaikan urusan dan pindah kembali ke India,” tandasnya.
Penulis: Shofiatunnisa Azizah
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: “Side Hustle” Bisa Hasilkan hingga Rp500 Juta per Bulan Melebihi Gaji Kerja Kantoran, tapi Bikin Tersiksa karena Tidak Pernah Berhenti Bekerja dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan













