Sejak lulus kuliah tahun 2018, Desi* sudah mencoba daftar CPNS atas saran dari orang tuanya. Di desanya yang memiliki sedikit lapangan kerja, orang tua Desi menyarankan dia untuk menjadi PNS atau ASN karena tampak menjanjikan.
Di tengah situasi ekonomi saat ini, PNS atau ASN masih dianggap sebagai pekerjaan stabil dengan jaminan pensiun, gaji tetap, dan tunjangan yang memadai. Setidaknya, begitulah harapan Desi pada mulanya, sampai dia mengalami sendiri susahnya melewati tahap seleksi CPNS.
Agar lolos seleksi dan kerja di kampung halamannya, Desi harus melewati jatuh-bangun dengan mengikuti 4 kali seleksi di gelombang yang berbeda. Namun, bukannya senang karena lolos, ada salah satu keputusan yang membuatnya menyesal: salah pilih formasi CPNS.
“Buang-buang waktu” usai kuliah dan gagal
Perjalanan Desi daftar seleksi CPNS dimulai sejak ia lulus sarjana di salah satu kampus Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Pada percobaan pertama, Desi mengaku kurang persiapan sehingga gugur di Seleksi Kompetensi Dasar (SKD).
Namun, ia tak berhenti mencoba walaupun gagal seleksi CPNS untuk yang kedua kalinya. Menurut analisisnya, kegagalan itu terjadi karena instansi yang dia pilih cukup populer sehingga saingannya cukup banyak.
“Nah, di percobaan ketiga aku sudah lolos administrasi tapi malah nggak berangkat tes SKD,” kata Desi dihubungi Mojok, Senin (6/4/2026).
Karena berbulan-bulan menganggur dan hanya fokus ke seleksi CPNS, Desi akhirnya menunda keinginannya tersebut dan mulai mendaftar pekerjaan lain. Beberapa bulan kemudian, ia akhirnya mendapat pekerjaan di salah satu perusahaan industri kreatif.
Hari-harinya pun disibukkan dengan tugas-tugas kantoran. Meski begitu, keinginannya sebagai PNS atau ASN tidak berubah. Saat mencari-cari informasi soal seleksi CPNS 2025, Desi merasa ada peluang untuk mendaftar tahun itu.
“Waktu aku lihat formasi CPNS yang kupilih, saingannya cuma 5. Karena itu, muncullah rasa optimis,” ucapnya.
Sebagai informasi, formasi CPNS merupakan jumlah dan jenis jabatan yang ditetapkan pemerintah untuk menempati posisi kosong di instansi pusat maupun daerah. Pemilihan ini sangat krusial guna meningkatkan peluang kelulusan.
Andalkan ChatGPT untuk persiapan belajar seleksi CPNS
Masalahnya, ambisi Desi untuk ikut seleksi CPNS 2025 tidak berbanding lurus dengan intensitasnya belajar seperti saat mempersiapkan tes di tahun-tahun sebelumnya, mengingat kesibukan Desi saat itu.
Walaupun tak serajin dulu, Desi tetap menyempatkan waktunya untuk melihat video-video di TikTok soal tips mengerjakan SKD guna me-recall memorinya. Sesekali, ia juga mencoba mengerjakan beberapa latihan soal.
“Dan alhamdulillah, skor SKD-ku menempati urutan 1 dari 5 pesaingku tadi,” ucap Desi puas.
Tak berhenti sampai di situ, Desi harus melalui Seleksi Kompetensi Bidang (SKB), yaitu tes untuk menilai kesesuaian pengetahuan dan perilaku peserta dengan kebutuhan jabatan. Awalnya, Desi merasa ragu untuk melanjutkan tes karena pekerjaannya yang lama menuntut Desi untuk lembur, apalagi saat itu sudah akhir tahun. Makin susah lah dia membagi waktu antara kerja dan belajar.
Baca Halaman Selanjutnya
Daftar formasi baru yang belum banyak informasinya














