Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

Pekerja Jogja Pindah Kerja ke Purwokerto Nyari Slow Living, Tapi Dibuat Kaget sama Karakter Orang Banyumas karena di Luar Ekspektasi

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
6 April 2026
A A
Pekerja Jogja kaget pindah kerja di Purwokerto demi alasan slow living. Tapi kaget dengan karakter orang Banyumas MOJOK.CO

Ilustrasi - Pekerja Jogja kaget pindah kerja di Purwokerto demi alasan slow living. Tapi kaget dengan karakter orang Banyumas. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Gara-gara ucapan Pandji Pragiwaksono, Purwokerto—sebuah kecamatan di Banyumas—memang menjadi daya tarik tersendiri dengan bayangan slow living. Tidak terkecuali bagi pekerja Jogja. Tapi ada kekagetan saat pekerja Jogja mencoba pindah kerja di daerah tersebut. 

***

Ketika nama Purwokerto mulai kerap disandingkan dengan narasi slow living, Echa (26) yang sebelumnya menjadi pekerja di Jogja, pun ikut terpancing. 

Maka, pada 2024, setelah bekerja di Jogja sejak 2022, ia kemudian memutuskan resign dan pindah kerja ke Purwokerto. 

Secara gaji, ia sebenarnya sudah menghitung kalau Purwokerto menawarkan gaji yang lebih rendah dari Jogja. Walaupun di tempatnya bekerja berada di atas UMK Banyumas sedikit. 

Tapi saat itu Echa memang tidak sedang mencari gaji besar. Toh hasil kerjanya memang untuk diri sendiri alias tidak ada tanggungan. Motivasinya ke Purwokerto, ia ingin mencari ketenangan baru setelah merasa semakin ke sini Jogja semakin sumpek. 

Tapi Echa menggarisbawahi, apa yang ia paparkan tentang karakter orang Purwokerto ini berbasis subjektivitasnya selama 1,5 tahun berada di sana: 

Tidak harus menjadi orang lain sebagaimana saat kerja di Jogja

Kekagetan Echa dimulai dari betapa mudahnya Echa masuk dalam pergaulan teman-teman kerjanya yang mayoritas asli Purwokerto. 

Saat itu, Echa hanya memperkenalkan diri secara normatif. Namun, respons yang ia terima justru sambutan seolah-olah sudah saling kenal sejak lama. Teman-temannya yang berlogat ngapak langsung melempar candaan-candaan yang pada akhirnya cepat akrab. 

“Masuk ke sebuah circle ternyata bisa semudah itu. Beda ketika pertama kali aku kerja di Jogja, karena ada lapis-lapis hal yang harus kutembus. Setidaknya di circle tempatku kerja,” ujar Echa, Minggu (5/4/2026). 

Ketika pertama kali masuk kerja di Jogja, Echa mengaku harus bekerja keras menyesuaikan diri dengan kultur setiap orang. Dari gaya berpakaian, budaya tongkrongan di coffee shop, hingga upaya menjadi relevan lain. 

“Misalnya, aku harus menyamakan selera genre film atau musikku biar nyambung. Aku nggak bisa leluasa menikmati jadi diri sendiri karena takut nggak relevan,” ungkapnya. 

Sementara di Purwokerto ia tidak harus susah payah melakukan itu. Pertemanan terjalin sebagaimana apa adanya. 

Orang Purwokerto blak-blakan tapi tulus

Hal itu memang selaras dengan ciri khas orang Purwokerto yang cenderung blak-blakan—yang sering disalahpahami orang lain sebagai ungkapan kasar. Karena memang, sepengalaman Echa, orang Purwokerto itu kalau ngomong seperti tanpa filter. 

Iklan

Itu membuat Echa sempat kaget. Sebab, ia takut, kalau-kalau omongan yang tanpa filter itu bisa menyakiti orang lain. Pada kenyataannya, gaya bicara tanpa filter itu justru merekatkan satu sama lain. 

“Memang blak-blakan, tapi dasarnya orang-orangnya tulus kalau berteman. Waktu masih kerja di Jogja, aku ngerasainnya kan memang halus. Tapi ada modelan halus di depan, tapi kalau udah di belakang, keluar aslinya. Muka dua lah,” kata Echa. 

Mukhamad Hamid Samiaji (Pegiat Literasi di Lembaga Kajian Nusantara Raya UIN Prof. KH. Saifuddin Zuhri Purwokerto) dalam Wong Banyumasan dan Identitas Ceblaka, menjelaskan kalau karakter orang Purwokerto itu memang cablaka. Yakni karakter yang dicetuskan secara spontan terhadap fenomena yang tampak di depan mata, tanpa ditutup-tutupi. 

Cablaka sering dimaknai sebagai karakter yang mengedepankan keterusterangan. Karena masyarakat Banyumas lebih senang berbicara apa adanya dan tidak menyembunyikan sesuatu. 

Meski begitu, lanjut Samiaji, orang Purwokerto menjunjung tinggi nilai gemblung-gemblung ari rubung (biar gila asal berkumpul), dengan maksud untuk menjalin keakraban dan kebersamaan dengan jujur dan apa adanya, tanpa penghalang. 

Kaget, tapi Echa mengaku terkesan. Karena ia merasakan sebuah hubungan yang solid dan jujur. 

Etos kerja orang Purwokerto bikin pekerja Jogja kaget: tidak ada santai-santainya

Pindah kerja di Purwokerto dengan bayang-bayang slow living membuat Echa kaget dengan etos kerja teman-temannya. Pekerja Jogja itu bahkan mengaku sempat agak kepontal-pontal mengikuti etos kerja mereka. 

“Kelihatannya mereka ini santai, guyon-guyon. Tapi kalau soal kerja memang sungguh-sungguh. Gaji kecil itu urusan lain, tapi kerja tetap harus disiplin dan kerja sungguh-sungguh,” beber Echa. 

Itu berbeda dengan apa yang Echa pernah alami di Jogja. Sebab, ada saja temannya di tempat kerja lama yang kalau kelihatan santai, ya santai saja. Kerja sekadarnya karena mengukur gaji yang terima. Sederhananya: kalau gaji kecil, ngapain kerja sungguh-sungguh. 

Tapi di lingkungan pertemanannya di Purwokerto: teman-teman Echa percaya kalau disiplin dan etos kerja yang baik suatu saat akan mengantarkan pada jalan rezeki yang lebih baik. Sekarang gaji boleh kecil, tapi dengan sungguh-sungguh bekerja, siapa tahu ada skema—walaupun agak aneh—si bos bakal menaikkan gaji. 

“Tapi itu skema jeleknya. Skema bagusnya, modal etos kerja semacam itu bisa bikin dia punya catatan bagus. Sehingga kalau suatu saat pindah kerja di tempat yang lebih bagus, orang nggak akan ragu merekrut dia,” papar Echa. 

Dalam jurnal Beberapa Karakter Orang Banyumas, Sugeng Priyadi menyebut, orang Banyumas punya ungkapan: ibarat endhas enggo sikil, sikil enggo endhas (ibarat kepala jadi kaki, kaki jadi kepala). Ungkapan itu adalah gambaran betapa dalam bekerja orang Banyumas—termasuk Purwokerto—siap jungkir balik. 

Tidak menye-menye: gaji kecil buat bercanda, mengurangi potensi makan hati

Dan, kata Echa, berbeda dari pekerja Jogja yang kerap mengeluh dengan UMR kecil, orang Purwokerto menolak untuk itu. 

Mengeluhkan gaji kecil sebenarnya sah. Tidak ada yang salah. Hanya saja, ketika kerja di Purwokerto, Echa memiliki cara baru dalam menghadapi gaji kecil atau nasib tidak menyenangkan lain: jadi candaan. 

“Ya memang bosnya kere, jadi bisanya ngasih gaji seupil. Misalnya jadi guyonan kayak gitu di teman-temanku,” kata Echa. “Kalau mau gaji besar, ya jangan ke Purwokerto buat slow living-slow living itu.” 

Contoh lain, misalnya seorang karyawan habis ditegur atau bahkan dimarah-marahi bos, tidak lantas menye-menye dan kena mental. Tapi malah jadi candaan di tongkrongan. 

Bukannya tidak sakit hati. Tapi, kata Echa, lebih baik jadi candaan daripada makan hati terus-menerus. Malah bikin sumpek. 

Memahami cara pandang lain soal slow living 

Pada akhirnya, Echa mendapat pemahaman lain soal narasi slow living di Purwokerto. 

Bagi Echa, sebenarnya Purwokerto tidak istimewa-istimewa amat. Kecuali kamu adalah seorang pensiunan yang jaminan hari tua aman. Tapi bagi pekerja biasa seperti Echa dan teman-temannya, hidup lama-lama di Purwokerto tanpa beban finansial sama sekali agaknya mustahil. Sebab, gaji kecil di sana benar-benar terasa tidak ada nilainya di tengah kondisi ekonomi yang terus memburuk. 

“Slow living mereka lebih ke keberanian menghadapi kenyataan. Survive dan berani menekan banyak hal untuk mencukup-cukupkan gaji. Tapi kalau kamu berharap lepas beban, nggak serta merta begitu,” kata Echa. 

Karena narasi biaya hidup murah di salah satu kecamatan di Banyumas itu tidak sepenuhnya besar. Bahkan cenderung beda tipis dengan Jogja yang sudah masuk kategori tinggi.

Oleh karena itulah, karena ujung-ujungnya Echa harus tunduk pada kebutuhan finansial dan tuntutan gaya hidup, setelah 1,5 kerja di Purwokerto ia pun memutuskan pindah lagi ke Jogja. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Orang Jakarta Tak Akan Sanggup Slow Living di Salatiga Selama Masih Anti-Srawung, Modal Financial Freedom pun Tak Cukup atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 6 April 2026 oleh

Tags: banyumasgaji purwokertoJogjakarakter orang banyumaskarakter orang purwokertokerja di jogjakerja di purwokertopekerja jogjapilihan redaksiPurwokertoslow livingslow living di banyumasslow living di purwokertoumk purwokerto
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Kelas menengah ke bawah harus mawas diri Kalau pemasukan pas-pasan jangan maksa gaya hidup dalam standar dan tren media sosial MOJOK.CO
Tajuk

Kelas Menengah ke Bawah Harus Mawas Diri, Pemasukan Pas-pasan Gaya Hidup Jangan Pakai Standar dan Tren Media Sosial

6 April 2026
Slow living di desa, jakarta.MOJOK.CO
Urban

Orang Jakarta Tak Akan Sanggup Slow Living di Salatiga Selama Masih Anti-Srawung, Modal Financial Freedom pun Tak Cukup

6 April 2026
Salah jurusan, kuliah PTN.MOJOK.CO
Edumojok

Putus Kuliah dari PTS Elite demi Masuk “Jurusan Buangan” di PTN: Menang di Gengsi, tapi Lulus Jadi “Gelandangan” Dunia Kerja

5 April 2026
kuliah s2.MOJOK.CO
Edumojok

Penyesalan Lanjut S2 Cuma karena Pelarian dan FOMO: Nganggur dan Dicap Overqualified, Sudah Kerja pun Gaji Setara Lulusan SMA

5 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Naik pesawat Super Air Jet untuk mudik Lebaran ke Jogja

Terpaksa Naik Super Air Jet karena Tiket Murah, tapi Malah Dibikin “Plonga-plongo” karena Kelakuan Sok Asik Awak Kabin

1 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026
Geger Sepehi 1812: Bukti Keteguhan Sri Sultan Hamengkubuwono II Menolak Tunduk pada Penjajah.MOJOK.CO

Geger Sepehi 1812: Bukti Keteguhan Sri Sultan Hamengkubuwono II Menolak Tunduk pada Penjajah

5 April 2026
Kerja Susah di Jogja, Diledek Orang Surabaya Gak Bakal Sukses. MOJOK.CO

Nekat Tinggalkan Surabaya untuk Meniti Karier di Jogja, Menyesal Tak Dengarkan Nasihat Orang Tua yang Terlanjur Kecewa

31 Maret 2026
Ribetnya lolos seleksi CPNS dan jadi PNS/ASN di desa: dibayangi standar hidup sukses yang merepotkan MOJOK.CO

Derita Jadi PNS atau ASN di Desa: Awalnya Bisa Sombong Status Sosial, Tapi Berujung Ribet karena “Diporoti” dan Dikira Bisa Jadi Ordal

1 April 2026
Kereta eksekutif murah selamatkan saya dari neraka kereta ekonomi. MOJOK.CO

Penyesalan Kaum Mendang-mending yang Dilema Pakai Kereta Eksekutif hingga Memutuskan Tobat dari Kondisi “Neraka” Kereta Ekonomi

1 April 2026

Video Terbaru

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026
Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

2 April 2026
Di Tengah Ribuan Kedai Kopi, Personal Branding dan Konsistensi Lebih Penting daripada Terlihat Keren

Di Tengah Ribuan Kedai Kopi, Personal Branding dan Konsistensi Lebih Penting daripada Terlihat Keren

31 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.