Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

Pekerja Jakarta, Rumah di Bekasi: Dituntut Kerja dan Pulang ke Rumah sampai Nyaris “Mati” karena Tumbang Mental dan Fisik

Shofiatunnisa Azizah oleh Shofiatunnisa Azizah
19 Maret 2026
A A
Hidup mati pekerja Jakarta harus tetap masuk, menerjang arus dari Bekasi

Ilustrasi - Bekerja di Jakarta (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Bekerja di Jakarta tidak pernah seindah yang dikatakan orang-orang, bahkan bagi mereka yang memang berasal dari Jabodetabek, seperti Bekasi. Pengalaman kerja di Jakarta sering masih mengejutkan sampai berujung kena mental dan fisik, alhasil tumbang dalam kondisi tidak baik.

***

Raya (24) adalah salah satu pekerja Jakarta yang lahir dan tumbuh besar di Bekasi. Meski terbilang bagian dari Jabodetabek, Raya tidak pernah mengira pengalaman kerjanya akan tetap membuatnya kewalahan. 

Ia sudah tahu, orang-orang di Jakarta hidup dalam pola cepat (fast-paced). Begitu juga dengan cara kerja mereka, tapi Raya tidak pernah mengira dirinya akan kesulitan dalam mengikuti ritme tersebut.

“Di Jakarta itu, benar-benar semua orang fast-paced,” kata dia kepada Mojok, Senin (16/3/2026).

Raya bilang, saking cepatnya ritme itu, jarak tempuh yang jauh seakan-akan bukan persoalan bagi pekerja Jakarta dengan rumah di luar Jakarta, seperti Bekasi. Sebagian dari mereka sanggup menghabiskan berjam-jam untuk pulang pergi dari rumah ke tempat kerja, juga sebaliknya, sehingga terlihat sebagai sesuatu yang biasa.

“Sebenarnya jarak tempuh itu struggle, tapi kayaknya 50 persen orang Jabodetabek tuh PP (pulang pergi) KRL. Jadi, bukan sesuatu yang wow,” katanya.

Namun sekalipun dianggap biasa, bukan berarti Raya akan menghadapinya dengan biasa. Khususnya, ketika tubuhnya telah memberikan sinyal tidak biasa-biasa saja.

Jarak tempuh Jakarta-Bekasi adalah pintu masuk masalah

Jarak rumah Raya dan tempat kerjanya sekitar 45 kilometer. Untuk dapat mencapai kantor tempatnya bekerja, Raya harus menggunakan transportasi umum selama hampir 2 jam. 

Ia harus turun dan berganti setidaknya 3 kali transportasi sebelum sampai di tujuan.

Bagi pekerja Jakarta yang tahan banting, ini terlihat wajar. Namun selang beberapa waktu dijalani, Raya mulai merasakan tanda-tanda tak nyaman. Ia harus berangkat kerja di pagi buta sebelum matahari terbit dan berebut kursi dengan sesama pekerja, lalu pulang  ke rumah begitu matahari terbenam.

Sesampainya di rumah, Raya sudah berada dalam kondisi lelah fisik dan mental karena menghabiskan 5 jam perjalanan pulang pergi.  Padahal, kepulangannya tidak terlalu penting, tetapi menjadi kewajiban dari orang tua yang menginginkannya untuk tetap pulang ke rumah.

Ibaratnya, ada keinginan orang tua untuk tetap melihatnya hadir sebagai anak, meski tidak berperan signifikan.

“Harus PP sekitar 5 jam per hari, tubuhnya kaget kali ya,” kata Raya.

Iklan

“Jadi, efeknya lemas yang benar-benar lemas dan menstruasi tuh jadi nggak teratur banget,” ujar dia menambahkan.

Bagaimanapun, berbagai hal yang bertubi-tubi menghantam dalam satu hari membuat Raya merasa kewalahan. Ia harus berangkat kerja, bekerja, pulang, dan menjadi anak. Ada beban finansial dan emosional sekaligus di dalam dirinya sehingga tubuhnya memberi tanda peringatan.

Pekerja Jakarta tetap dibebankan keharusan pulang sebagai anak

Ketika Raya mencoba mensortir satu per satu penyebabnya, ia belum bisa menemukan solusi pada ranah pekerjaan. Ia masih butuh pekerjaan. Ia memiliki kebutuhan sehari-hari yang tidak bisa dipenuhi hanya dengan leyeh-leyeh.

Karena itu, ia mencoba bernegosiasi untuk tidak harus pulang ke Bekasi. 

Sebab, Raya merasa emosinya tertahan ketika harus pulang ke rumah. Ia tidak bisa melampiaskan emosi saat merasa lelah, atau sekadar keinginan untuk menangis, karena akan membuat orang tua yang tinggal satu atap dengannya merasa khawatir.

“Di rumah aku kan berperan sebagai anak. Jadi, nggak bisa melampiaskan emosi, misal lagi capek atau mau nangis karena pasti bakal bikin orang tua overthinking,” katanya.

Namun, sekuat-kuatnya Raya menahan diri, ia kelepasan pada suatu ketika. Perempuan ini mengeluarkan emosinya di rumah, berujung menerima respons yang “mengkerdilkan” perjuangannya dalam bekerja.

Kerja keras Raya dinilai bukan apa-apa jika dibandingkan dengan orang tuanya.

“Pernah sekali kelepasan, tapi orang tua ngerespons ya semua orang juga begini. Orang tua juga lebih parah perjuangannya,” akunya.

Baca halaman selanjutnya…

Akhirnya putuskan kos dekat kantor, tapi malah berujung resign

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 19 Maret 2026 oleh

Tags: bekerja di jakartaburuh jakartagaji pekerja jakartainfo loker jakartakerja di jakartalowongan kerja di jakartaorang bekasi kerja di jakartapekerja jakartapekerja jakarta rumah bekasitekanan kerja jakarta
Shofiatunnisa Azizah

Shofiatunnisa Azizah

Artikel Terkait

Slow living di desa, jakarta.MOJOK.CO
Urban

Orang Jakarta Tak Akan Sanggup Slow Living di Salatiga Selama Masih Anti-Srawung, Modal Financial Freedom pun Tak Cukup

6 April 2026
Pekerja Jakarta resign setelah terima THR dan libur Lebaran
Urban

Pekerja Jakarta Resign Pasca-THR Bukan karena Gaji, tapi Muak dan Mati Rasa akibat Karier Mandek dan Rekan Kerja “Toxic”

30 Maret 2026
Diledek ibu karena merantau dari Jakarta ke Jogja. MOJOK.CO
Urban

Pekerja Jogja Pulang ke Jakarta setelah Sekian Lama, malah Diledek Ibu Saat Kumpul Keluarga karena Tak Bisa Sukses seperti Saudara Lainnya

29 Maret 2026
Pekerja Jakarta WFH demi hemat BBM
Urban

Wacana WFH 1 Hari: Kesempatan Pekerja Kantoran Jakarta “Multitasking” dan Kabur WFC, padahal Tak Boleh Keluar Rumah

25 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ikuti paksaan orang tua kuliah jurusan paling dicari (Teknik Sipil) di sebuah PTN Semarang biar jadi PNS. Lulus malah jadi sopir hingga bikin ibu kecewa MOJOK.CO

Dipaksa Kuliah Jurusan Paling Dicari di PTN karena Ambisi PNS, Setelah Lulus Malah bikin Ortu Kecewa karena “Kerjaan Remeh”

7 April 2026
Kelas menengah ke bawah harus mawas diri Kalau pemasukan pas-pasan jangan maksa gaya hidup dalam standar dan tren media sosial MOJOK.CO

Kelas Menengah ke Bawah Harus Mawas Diri, Pemasukan Pas-pasan Gaya Hidup Jangan Pakai Standar dan Tren Media Sosial

6 April 2026
Slow living di desa, jakarta.MOJOK.CO

Orang Jakarta Tak Akan Sanggup Slow Living di Salatiga Selama Masih Anti-Srawung, Modal Financial Freedom pun Tak Cukup

6 April 2026
kuliah di jurusan sepi peminat.mojok.co

Nekat Kuliah di Jurusan Sepi Peminat PTN Top: Menyesal karena Meski Lulus Cumlaude, Ijazah Dianggap “Sampah” di Dunia Kerja

2 April 2026
Anak PNS kuliah di PTN top seperti UGM masih menderita karena UKT nggak masuk akal

Derita Jadi Anak PNS: Baru Bahagia Diterima PTN Top, Malah “Disiksa” Beban UKT Tertinggi Selama Kuliah padahal Total Penghasilan Orang Tua Tak Seberapa

4 April 2026
Pilih resign dan kerja jadi penulis di desa ketimbang kerja di luar negeri di Singapura

Resign dari Perusahaan Bergaji 3 Digit di Luar Negeri karena Tak Merasa Puas, Kini Memilih Kerja “Sesuai Passion” di Kampung Halaman

2 April 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026
Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

2 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.