Jogja terkenal dengan budaya menikmati hidupnya. Dalam istilah lain, budaya hidup ini dikenal sebagai slow living. Namun, bagi pekerja Jakarta yang terbiasa sat set, kebiasaan ini justru menguras mental dan emosi.
***
Zanur (25) adalah pekerja asal Jakarta yang sudah berkecimpung di industri kreatif selama empat tahun, sebelum dirinya memutuskan pindah ke Jogja.
Dalam bayangan perempuan yang namanya disamarkan demi alasan profesional ini, bekerja di dua tempat ini tidak akan terlalu berbeda. Bayangan yang hanya menjadi bayangan ketika Zanur dihantam realitas, bahwa bekerja di Jakarta dan Jogja jauh berbeda.
Pekerja Jakarta terkenal “sat set”
Sebagai kota metropolitan, Jakarta disebut hampir tidak pernah tidur. Mirip-mirip dengan pekerjanya yang tersedia hampir 24/7.
Mereka selalu sedia dan siaga dalam menghadapi pekerjaan, serta siap melakukan apa pun untuk kebutuhan kerjanya. Jam kerja formal yang terbatas pada pukul 09.00 sampai 17.00 WIB pun hanya menjadi ketentuan tertulis.
Setidaknya itulah gambaran ideal yang tidak ideal yang ditangkap Zanur dan pekerja Jakarta umumnya. Ia menilai, ini sesuai dengan kebutuhan kecepatan dan ketangkasan sebagai pekerja di Jakarta.
Terkhusus, industri kreatif. Zanur bilang, kedua hal ini menjadi kunci. Pekerja harus sat set untuk menghindari risiko tersandung masalah kalau-kalau lamban.
Menurut Zanur, hal ini juga berhubungan dengan industri kerjanya dari industri kreatif. Sebab berbagai bidang yang saling bersinggungan, ada banyak ketidakpastian yang harus dipastikan dengan bersikap cepat.
“Jadi, memang banyak sekali yang berkaitan dalam industri kreatif ini. Yang kita butuhin dalam industri kreatif ini itu fast response, karena kan banyak ketidakpastian,” katanya, Minggu (1/3/2025).
Kapasitas itu, Sanur menilainya sebagai sesuatu yang ideal. Sebab, kerja dapat dilakukan secara profesional penuh tanpa keterikatan personal, seperti karakteristik seseorang, misal, menyukai penundaan.
“Aku akui, Jakarta itu ideal sekali memang dalam budaya kerjanya. Karena apa? Mereka memang bekerja secara profesional itu, dalam artian mereka tidak memandang konteks personal,” jelasnya.
Dalam hal ini, Zanur melihat para pekerja Jakarta yang tahan banting. Mereka seakan-akan siap bertempur di bawah tekanan saat bekerja. Akan tetapi, keunggulan ini juga dipahami sebagai pandangan pekerja Jakarta yang satu visi, yaitu untuk menyukseskan acara.
“Mereka sadar kalau berada di bawah tekanan, dan fokus sama tujuan menyukseskan acara,” simpulnya.
Lain di Jakarta, lain di Jogja yang cenderung “lelet”
Sayangnya, konsep ideal yang Zanur pahami harus runtuh begitu harus bekerja di Jogja mulai tahun lalu.
Perempuan yang kini kerja di Jogja itu mengaku tidak terbiasa dengan budaya kerja Jogja yang mengarah kepada slow living, tidak serbacepat seperti yang biasa dilakukannya.
Bagi Zanur, hal ini terasa cukup mengganggu mengingat skema kerjanya yang fleksibel. Artinya, mereka tidak harus bertemu, bahkan cenderung tidak bisa, karena banyaknya pekerjaan yang harus dilakukan. Ini juga menjadi masalah pertama dalam pekerjaannya.
“Yang paling mengganggu yang pertama, karena tadi ya kita kan kerja-kerja kreatif. Jadi tadi kita gak bisa benar-benar kayak tiap hari ketemu,” katanya.
Belum lagi, Zanur bilang, mereka harus meluangkan waktu untuk setumpuk pekerjaan lainnya. Mulai dari rapat koordinasi sampai mengurusi perintilan menarik perhatian yang tidak boleh dilewatkan.
Di saat seperti itu, komunikasi menjadi satu-satunya solusi yang bisa menengahi situasi kerja yang tidak saling bertemu.
“Jadi yang menjadi hambatan pertama adalah perihal komunikasi, dan alhamdulillah kita di era hari ini udah dimudahkan dengan adanya handphone,” katanya.
Sayangnya, beda di Jakarta beda di Jogja. Jakarta yang memprioritaskan kerja tidak sama dengan Jogja yang menurut , tidak menempatkan kerja sebagai nomor satu. Oleh karena itu, dia mengaku mengalami kendala tambahan dari komunikasi ini, yaitu arus informasi yang tidak lancar.
Salah satu sebabnya, pekerja yang terlalu santai. Alias, slow living…
Baca halaman selanjutnya…
Orang Jogja yang terlalu santai, hampir mendekati malas, bikin pekerja Jakarta gemas














