Setelah satu tahun bekerja di Tuban, seorang perempuan asal Jombang merasa iri dengan kota tetangganya tersebut, bahkan makin betah. Karena meski tetanggaan dan sama-sama plat S, tapi Tuban serasa lebih bisa menjawab kebutuhan anak muda. Lebih kalcer lah.
***
Awal tahun 2025 lalu, Syakiratul (24) diterima kerja sektor swasta di Tuban. Awalnya ia tidak antusias. Sebab, ia berharap betul dari sekian lamaran kerja yang ia kirimkan di surel, semoga yang nyantol di Surabaya atau minimal Mojokerto.
Namun, Syakiratul menyadari, mencari pekerjaan sedang susah-susahnya. Oleh karena itu, ia putuskan untuk berangkat ke Tuban. Toh, pertama, jarak Jombang-Tuban tidak terlalu jauh, Sekitar 1,5-2 jam perjalanan.
Lalu pertimbangan kedua, gaji yang ditawarkan masih masuk bagi Syakiratul. Ia akan menerima gaji Rp2,7 juta perbulan. Di bawah UMK Tuban sedikit yang sudah menyentuh angka Rp3 jutaan.
Minus tidak ada kereta, tersiksa naik bus Bagong apalagi naik motor
Meski dekat, perjalanan Jombang ke Tuban (juga sebaliknya) memang bikin wegah. Hanya ada dua pilihan: kalau tidak naik bus Bagong ya motoran. Tidak ada kereta dengan rute ini.
Jika naik bus Bagong, meski dekat, perjalanan bisa terasa sangat jauh dan lama. Sebab, bus Bagong tipikal bus yang sekali ngetem bakal lama banget.
Selain itu, laju bus ini juga tidak sat-set karena memang rute yang dilalui adalah jalanan sempit, berkelok-kelok, dan tidak rata.
Ditambah lagi cuaca panas Jawa Timur. Membuat kondisi di dalam bus mungil itu selain sumpek, juga pengap bukan main. Kombinasi paripurna untuk membuat perjalanan terasa begitu menyiksa.
“Aku sesekali naik bus Bagong, tapi kadang juga motoran. Kalau motoran ujiannya juga nggak kalah serem sih,” ucap Syakiratul berbagi cerita, Rabu (11/3/2026).
Syakiratul kerja di area kota Tuban. Dalam perjalanan pulang misalnya, dari arah Tuban, ia akan langsung berhadapan dengan kendaraan-kendaraan besar nan ugal-ugalan setelah roda motor memasuki jalan raya Manunggal (kawasan Universitas Ronggolawe (UNIROW)).
Dan itu berlangsung sepanjang jalan Manunggal hingga jembatan Babat Lamongan. Syakiratul juga harus benar-benar waspada karena kondisi jalan raya di sepanjang jalan itu sebagian besar bergelombang. Kalau tidak prigel betul membawa motor, bisa oleng dan mencium aspal.
“Kalau udah masuk jalur Babat-Jombang, lebih ke ujian kesabaran. Karena jalan sempit, berkelok-kelok, nggak rata, terus susah kalau mau nyalip-nyalip. Jadi cuma bisa jalan pelan,” kata Syakiratul.
Awalnya seperti tidak ada yang berbeda
Awalnya seperti tidak ada yang berbeda antara Jombang dengan Tuban. Sama-sama kabupaten kecil di Jawa Timur. Kalau toh ada perbedaan mencolok, lebih ke cara komunikasi antarorang.
“Karena walaupun sesama plat S, menurutku Tuban itu lebih halus dan nadanya rendah. Kalau Jombang itu cenderung blak-blakan dan nada tinggi,” beber Syakiratul.
Selebihnya tidak jauh berbeda. Jelas tidak ada culture shock dengan makanan dan kebiasaan karena memang cenderung sama.
Selain itu, Jombang dan Tuban juga sama-sama sudah dimasuki gerai-gerai modern (baik waralaba makanan maupun brand pakaian). Sekilas, di masa awal Syakiratul ngekos di Tuban, terasanya seperti itu.
Lama-lama orang Jombang iri dengan Tuban karena banyak tempat healing
Setelah beberapa bulan kerja di Bumi Wali, mulai tumbuh benih-benih “rasa iri”. Perbedaan paling mencolok antara dua kota tetangga sesama plat S itu adalah: Tuban punya destinasi wisata alam melimpah, sedangkan Jombang tidak.
“Orang Jombang kalau wisata ke mana sih, harus ke Pacet Mojokerto atau Batu. Misal pengin pantai, ya ke Malang,” ucap Syakiratul.
Sementara di Tuban, tinggal pilih mau ke destinasi wisata alam yang mana. Pantai ada banyak. Ada air terjun hingga wisata alam seperti Merakurak (Ekowisata Silowo).
Itu memang susana daerah yang didambakan oleh Syakiratul. Utamanya mudah mengakses pantai. Karena sejak kecil tidak melihat pantai (di Jombang kan tidak ada pantai), alhasil ketika beranjak dewasa, ia mengasosiasikan pantai sebagai tempat healing terbaik.
“Walaupun pantai di Tuban memang nggak sebagus di Malang ya. Kalau di Tuban kan cenderung keruh. Tapi ada beberapa pantai yang suasananya asri dan teduh. Misalnya Pantai Sowan atau Pantai Kelapa,” kata Syakiratul.
Tak jarang, tiap akhir pekan, jika tidak sedang pulang ke Jombang, ia akan meminta ditemani oleh teman kantornya untuk mengeksplorasi destinasi wisata di Tuban. Kalau pulang ke Jombang, paling-paling healing Syakiratul hanya sebatas makan seblak bareng teman rumah atau makan di gerai-gerai pusat kota.
Gemerlap pusat kota Tuban bikin iri orang Jombang
Dalam pengamatan Syakiratul, gemerlap pusat kota Tuban memang punya vibes berbeda dengan pusat kota Jombang.
Makin ke sini pusat kota Tuban terkesan makin gemerlap. Ada beragam ruang publik yang kalau malam menjadi titik temu orang-orang yang ingin menikmati suasana malam Tuban.
“Misalnya di Taman Kota Tuban yang sekarang tampil dengan wajah baru. Lebih estetik dan kalcer,” ulas Syakiratul. “Jadi tidak melulu alun-alun saja.” Berbeda dengan di Jombang yang relatif hanya punya alun-alun sebagai jujukan untuk menikmati hiruk-pikuk kota.
Belum lagi, paling baru, Tuban punya mall yang sempat viral karena awal bukanya diserbu warga sampai tampak kebak-sesak.
“Tapi kan mending Tuban punya mall. Aku, sebagai anak muda yang butuh juga healing di mall, merasa punya opsi. Sesuatu yang bisa kutemukan di Jombang,” kata Syakiratul.
“Bahkan ya, oke sebagai tetangga sesama plat S, kita sama-sama punya bioskop. Tapi asli, bioskop di Jombang itu mangkrak kan. Sepi. Di Tuban masih menjadi daya tarik. Jadi kalau ada film baru dan mau nonton, nggak ketinggalan lah,” imbuhnya.
Cari kerja lebih gampang di mana?
Lebih dari persoalan di atas, bagi Syakiratul, rasa-rasanya kok Tuban lebih gampang buat mencari kerja. Berbeda dengan di Jombang. Ijazah S1 milik Syakiratul rasa-rasanya tidak laku di tempat asalnya sendiri.
Dan memang begitu yang dialami oleh teman-teman sesama S1 Syakiratul asal Jombang. Pada akhirnya mereka lebih banyak mencari pekerjaan di luar Jombang.
“Paling banyak kan memang sektor informal. Entah jualan apa. Tapi memang persaingannya ya besar, karena orang larinya ke situ semua,” ujar Syakiratul.
“Paling gampang lagi jadi guru. Karena banyak sekolah swasta yang di bawah pesantren kan. Cuma memang, kalau sebatas honorer, ya terima aja kalau gajinya Rp300 ribu perbulan. Jadi mikir, nikah sama orang Tuban aja kali ya hahaha,” tutup Syakiratul berkelakar.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Jombang Kota Serba Nanggung yang Bikin Perantau Bingung: Menggoda karena Tenteram, Tapi Terlalu Seret buat Hidup atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














