Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

Sebagai Warlok Jogja, Saya Tidak Sedih karena Tak Bisa Mudik tapi Jengkel Satu Indonesia Pindah ke Jogja

Shofiatunnisa Azizah oleh Shofiatunnisa Azizah
9 Maret 2026
A A
Jogja macet saat mudik Lebaran

Ilustrasi - Jogja macet saat mudik Lebaran (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Katanya, saat mudik Lebaran, setengah dari penduduk Indonesia akan berpindah ke Jogja. Itulah yang membuat saya (Dhanty) dongkol. Sebagai warga lokal Jogja, kedatangan wisatawan menguntungkan, tapi kalau kebanyakan itu batas keuntungannya tipis dengan kerugian.

8,2 juta orang akan ke Jogja

Survei yang dilakukan Kementerian Perhubungan mengatakan sekitar 8,2 juta orang diprediksi akan melakukan perjalanan di wilayah Jogja selama masa libur Lebaran tahun ini. Hal ini disampaikan langsung oleh Menteri Perhubungan, Dudy Purwagandhi, yang berharap Pemerintah Provinsi Jogja bisa memfasilitasi.

“Kami berharap Pemprov Yogyakarta dapat memberikan dukungan dalam hal menyediakan akses yang mudah bagi para pemudik untuk menuju simpul-simpul transportasi seperti terminal, stasiun, hingga bandara, serta layanan angkutan feeder pada lokasi-lokasi mudik gratis,” kata Dudy dalam siaran resmi, dikutip Senin (9/3/2026).

Namun masalahnya, lebih dari 8 juta orang yang akan mampir ke Jogja itu sendiri sudah dua kali lipat jumlah penduduk Jogja yang totalnya 4.179.333 juta jiwa. 

Di sinilah letak masalahnya, setidaknya bagi warga Jogja yang akan menjadi minoritas. Dikalahkan oleh wisatawan yang berjumlah lebih banyak, memadati setiap titik Jogja.

@halojogjakartaTahun ini, Daerah Istimewa Yogyakarta masuk empat besar destinasi favorit nasional saat Lebaran 2026. Menteri Perhubungan, Dudy Purwagandhi, memprediksi sekitar 8,6 juta orang bakal meramalkan Jogja pas momen libur nanti. Lonjakan penumpang diprediksi paling terasa di Stasiun Tugu Yogyakarta yang bisa tembus 867 ribu orang, disusul Stasiun Lempuyangan dengan 551 ribu penumpang. Sementara itu, Yogyakarta International Airport juga diperkirakan melayani 513 ribu orang selama periode Lebaran. Buat antisipasi ledakan mobilitas ini, Kemenhub sudah menyiapkan 401 bus untuk 15.834 penumpang dan 8 truk untuk mengangkut 240 motor. Kereta api pun menyediakan 28.182 kursi serta kuota 11.900 motor. Arus balik diprediksi ramai di Terminal Giwangan, sementara pengamanan difokuskan di pasar tumpah dan destinasi favorit seperti Malioboro, Kaliurang, Pantai Parangtritis, hingga Pantai Baron. Dari total 46 perlintasan sebidang, delapan titik juga sudah ditambah penjaga untuk mengantisipasi lonjakan kendaraan. Sumber: indozone.id♬ suara asli – 🅼🅸🅽🅰🅽🅶 🆂🆃🅾🆁🆈 🅵🆈🅿

Tidak bisa keluar rumah

Bagi Dhanty (27), momentum ini menyebalkan. Ia ingin mangkir ke kota lain, tetapi tidak bisa mudik seperti kebanyakan orang yang punya kampung halaman berbeda dengan domisilinya.

Namun bukan itu yang membuatnya kesal, justru Dhanty merasa tidak apa-apa soal tak bisa mudik. Terkecuali, tidak bisa pergi ke mana-mana karena jalanan yang padat merayap.

“Jadi lebih malas sih, semua orang mudiknya liburan, dan itu ke Jogja,” katanya kepada Mojok, Senin (9/3/2026).

Satu-satunya waktu Dhanty tidak terlalu terganggu hanyalah saat salat ied. Sebab, ia pergi ke masjid yang tidak berjarak jauh dari rumah. “Kalau pas mau salat sih aman ya aku karena rumahku dekat banget,” katanya.

Selain itu, dirinya memilih untuk tidak keluar saat hari libur besar seperti ini. Khususnya, pada malam hari ketika orang-orang memutuskan untuk berjalan-jalan bersama keluarga. Alasannya, tanpa harus mencari tahu pun, Dhanty bisa tahu kalau area-area populer akan ramai dan diminati.

“Nah, kalau ke luar jalan-jalan gitu pas Lebaran cukup padat di area-area populer,” ujarnya.

Ambil contoh tahun lalu, Museum Benteng Vredeburg Jogja yang menjadi salah satu destinasi favorit selama libur Lebaran berhasil mencapai 21.785 orang selama 2 sampai 7 April 2025.

Pada 4 April 2025, pengunjung bisa mencapai 4.626 orang. Padahal, pengunjung biasanya sebelum Lebaran hanya sebanyak 290 orang. Jadilah kira-kira, 16 kali lipat wisatawan datang ke Jogja dan ikut meramaikan destinasi ini, menyingkirkan orang-orang Jogja yang hanya segelintir saja. 

Iklan

Macetnya Jogja akan lebih parah dari Jakarta

Dengan banyaknya manusia yang memadati Jogja, orang-orang Jogja bukan hanya tersingkirkan dari jalanan utama. Mereka yang posisinya dirugikan, dari lokasi rumah, bisa jadi juga tidak bisa keluar dari rumahnya masing-masing.

Seperti Dhanty yang kediamannya berada tidak jauh dari destinasi wisata. Jadilah, dirinya tidak bisa menghindar dari kemacetan Jogja ini.

“Kalau kudu lewat Jalan Mataram yang arah Kotabaru itu biasanya macet,” katanya

“Nah iya, [rumahku] lumayan dekat. Jalan ke arah Kraton itu agak kecil-kecil, jadi ya macet ke arah Kraton dan Alkid (Alun-alun Kidul),” tambah dia.

Akibatnya, Dhanty tidak akan bisa keluar rumah seperti biasanya. Arus jalanan sudah pasti macet, orang-orang memenuhi area sekitar rumahnya, kendaraan tidak bisa bergerak dengan kecepatan normal, dan keluar rumah hanya akan menjadi sebuah kesalahan.

“Aku sudah jarang keluar kalau lagi liburan gede gitu, tapi ya macetnya tuh lama. Bukan kayak macet orang pulang atau berangkat kerja,” katanya.

Dibandingkan dengan arus lalu lintas biasanya, jelas jadinya Jogja akan mengadopsi jalanan Jakarta saat hari libur besar, seperti Lebaran. Memilih untuk melipir ke area yang tidak berada di perkotaan pun tidak menjadi jalan keluar, menuju ke sana Dhanty masih harus bertarung di jalanan.

“Biasanya tuh plesir ya sama keluarga biar nggak macet, malah keluar kota sekalian. Tapi kadang ya, semuanya macet, bingung,” akunya sebal.

Maka dari itu, Dhanty menjadi serbasalah. Ia ingin keluar rumah ke perkotaan, tetapi tidak bisa. Mencoba untuk keluar kota, tetap harus melewati jalanan yang dipenuhi wisatawan. Jadilah, sebagai orang Jogja, Dhanty hanya bisa merutuki nasibnya.

“Ah, Jogja ki kecil. Nyebai og [Jogja ini kecil, nyebelin],” pungkasnya,

Penulis: Shofiatunnisa Azizah

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Nongkrong di Coffe Shop Jogja Malam Hari, Rela Pulang Pagi demi Hindari Tukang Parkir atau artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan  

Terakhir diperbarui pada 9 Maret 2026 oleh

Tags: Arus Mudikdestinasi wisata jogjaJogjaLebaranmudik Jogjamudik ke jogjarekomendasi wisata jogjawarga jogjawisata jogja
Shofiatunnisa Azizah

Shofiatunnisa Azizah

Artikel Terkait

Membenci tradisi tukar uang alias penukaran uang baru menjelang lebaran untuk bagi-bagi THR MOJOK.CO
Sehari-hari

Tak Ikut Tukar Uang Baru buat THR ke Saudara karena Tradisi Toxic: Pilih Jadi Pelit, Dibacotin tapi Bahagia karena Aman Finansial

9 Maret 2026
Ogah mudik apalagi kumpul keluarga saat Lebaran. MOJOK.CO
Sehari-hari

Kumpul Keluarga Jadi Ajang Menambah “Dosa”: Dengar Saudara Flexing hingga Pura-pura Sukses agar Tidak Dihina Tetangga di Desa

9 Maret 2026
Karjimut di Jogja yang merantau pilih tidak mudik Lebaran. MOJOK.CO
Urban

“Bohong” ke Keluarga Saat Mudik Lebaran: Rela Habiskan Uang Berjuta-juta agar Dicap Sukses padahal Cuma Karjimut di Jogja

9 Maret 2026
Nelangsa pemuda desa saat teman sepantaran yang kerja di perantauan mudik ke desa (pulang kampung): tertekan dan tersisihkan MOJOK.CO
Urban

Nelangsa Pemuda Desa saat Teman Pulang dari Perantauan, Tertekan dan Tersisihkan karena Kesan Tertinggal tapi Tak Punya Banyak Pilihan

9 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Perang Iran Israel Bikin Nggak Waras, Masih Hidup Aja Syukur MOJOK.CO

Perang Iran Israel Berpotensi Jadi Krisis Global, Kelas Menengah Ikutin Cara Ini Biar Tetap Waras Selama Bertahan Hidup

5 Maret 2026
Ibuku Demensia dan Aku Seorang Sandwich Generation yang Kecewa Absennya Negara Bagi Kami para Caregiver MOJOK.CO

Ibuku Demensia dan Aku Seorang Sandwich Generation yang Kecewa Absennya Negara Bagi Kami Para Caregiver

4 Maret 2026
Zen RS: Tan Malaka Tokoh Pemikir Bebas dan Pejuang yang Tidak Terikat Struktur Politik

Zen RS: Tan Malaka Tokoh Pemikir Bebas dan Pejuang yang Tidak Terikat Struktur Politik

3 Maret 2026
Hilangnya kumpul keluarga saat Lebaran setelah nenek tiada

Lebaran Jadi Momen Menyedihkan usai Nenek Tiada, Keluarga Sudah Nggak Mau Kumpul apalagi “Sungkeman”

5 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Motivation letter untuk beasiswa erasmus di Portugal. MOJOK.CO

Kisah Pemuda Asal Tulungagung Kuliah di Portugal: Lolos Beasiswa Erasmus karena “Motivation Letter” yang Menggugah

3 Maret 2026

Video Terbaru

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026
Zen RS: Tan Malaka Tokoh Pemikir Bebas dan Pejuang yang Tidak Terikat Struktur Politik

Zen RS: Tan Malaka Tokoh Pemikir Bebas dan Pejuang yang Tidak Terikat Struktur Politik

3 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.