Menikah seharusnya menjadi momen yang membahagiakan. Namun, hal itu sering kali berubah ketika persiapannya mulai direcoki oleh keluarga besar di desa. Bahkan, untuk memilih undangan cetak pernikahan versus digital saja mesti berdebat. Alih-alih memilih salah satunya, sebagian mempelai tak jarang “terpaksa” menggunakan keduanya meski harus pusing memikirkan bujet.
Masalah sepele yang tak perlu dibesar-besarkan
Channia (26) tak ingin menghabiskan waktunya lebih lama hanya untuk berdiskusi perkara undangan pernikahan versi cetak maupun digital bersama keluarga besarnya. Perempuan asal Pati, Jawa Tengah ini mengaku sebetulnya lebih suka memakai undangan digital, tapi ia tak bisa sekonyong-konyong menolak tradisi di desanya.
“Di tempatku, sebelum hari H pernikahan pasti ada yang namanya ‘hantaran’. Jadi kami mengirim undangan cetak pernikahan sekaligus nasi sama jajanan untuk dibagikan ke tetangga dan saudara dekat,” kata Channia saat dihubungi Mojok, Kamis (30/4/2026).
Channia sendiri sebetulnya risih, karena selain ribet, akan banyak barang yang menumpuk di rumahnya sebelum hari H. Pada akhirnya, barang-barang itu hanya menjadi tumpukan sampah. Padahal, kata Channia, akan lebih bijak jika ia menggunakan undangan digital di era sekarang.
“Akhirnya aku pasrah. Di awal aku sudah bilang ke keluarga kalau bujetku hanya segini doang, semisal mau undangan cetak ya silahkan pakai modal sendiri,” kelakarnya.
Namun, Channia pun memahami kalau tak semua orang yang ia undang melek teknologi. Mungkin, untuk teman-teman sebayanya, undangan pernikahan digital tak jadi soal tapi lain hal untuk teman-teman orang tuanya, mertua, dan tetangga di desanya. Apalagi, Channia sudah kalah suara untuk mengadakan pernikahan di Kantor Urusan Agama (KUA) saja.
Boncos 2 kali lipat karena undangan pernikahan
Pada akhirnya, dalam tradisi hantaran tersebut, Channia juga perlu membayar orang lain untuk mengirimkan undangan pernikahan versi cetaknya. Salah satu orang yang punya pengalaman mengurusi hal tersebut ialah Ahmad (28).
Sebagai warga Wonogiri, Jawa Tengah, Ahmad pernah membantu mengirim undangan pernikahan cetak, sekaligus mengurus segala hal soal undangan, termasuk memberikan modal untuk adiknya. Siapa sangka, satu cetak undangan harganya berkisar dari Rp1.000–Rp2.000.
“Anggaplah aku ngirim seribu undangan ke 20 desa terdekat, belum lagi aku harus bayar jasa sebanyak 35 orang untuk membantuku,” kata Ahmad.
“Alhasil, bujet untuk undangan pernikahan cetak itu tak sesuai dengan rencana awal, aku habis 2 kali lipatnya. Dan itu menguras seluruh tabungan yang ku kumpulkan selama bertahun-tahun,” sesal Ahmad.
Sementara, Channia berujar hanya mengeluarkan uang Rp99 ribu untuk undangan pernikahan digital yang bisa diakses satu tahun dan bisa dibagikan ke semua orang tanpa batas. Selain itu, undangan digital juga lebih ringkas. Channia tinggal membagikan link ke teman-temannya yang jarak rumahnya jauh dari tempat pernikahannya.
Undangan pernikahan digital, kata Channia, juga minim sampah dan barang. Paket yang diberikan juga simpel, tinggal memilih template yang disediakan, kirim informasi tanggal, lokasi serta rekening calon pengantin jika diperlukan, hingga mencantumkan foto prewedding sebagai opsi.
“Tapi ya itu tadi, aku tetap perlu pakai undangan cetak untuk beberapa tetangga yang memang tidak memiliki smartphone canggih,” jelas Channia.
Undangan pernikahan ternyata bukan perkara sepele
Pada akhirnya, baik Channia maupun Ahmad tak bisa mengelak. Secara umum, undangan berfungsi untuk menyampaikan informasi ke publik. Namun, dalam budaya masyarakat tertentu, seperti yang ada di desa mereka, undangan cetak pernikahan tak hanya dipandang sebagai alat menyampaikan informasi melainkan simbol dan tradisi.
Melansir dari jurnal berjudul “Analisis Penggunaan Undangan Digital Dibandingkan dengan Undangan kertas pada Acara Pernikahan Modern”, undangan cetak pernikahan dianggap sebagai bentuk penghormatan kepada tamu yang lebih senior, seperti orang tua atau tokoh adat apalagi untuk mereka yang kurang familiar dengan teknologi digital.
Bentuk undangan secara fisik juga dianggap lebih personal dan formal karena dapat diserahkan secara langsung, baik melalui kunjungan maupun perantara keluarga. Dengan begitu, interaksi antar keluarga jauh lebih hangat sekaligus dianggap lebih terhormat.
“Dalam konteks budaya tertentu, undangan kertas masih dipandang sebagai simbol kesungguhan dan etika dalam mengundang, terutama kepada tokoh masyarakat, kerabat dekat, atau tamu yang lebih senior,” dikutip dari Journal of Innovative and Creativity.
Alasan itu pula yang mengharuskan Channia maupun Ahmad untuk memesan undangan pernikahan versi cetak, walaupun dari segi harga dan kepraktisan sebetulnya mereka lebih memilih undangan pernikahan digital.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Achmad Effendi
BACA JUGA: Hajatan Itu Nggak Penting: Tabungan 50 Juta Melayang Cuma Buat Ngasih Makan Ego Keluarga, Setelah Nikah Hidup Makin Susah dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan











