Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

Mudik ke Desa Naik Motor usai Merantau di Kota: Dicap Gagal, Harga Diri Diinjak-injak karena Tak Sesuai Standar Sukses Warga

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
26 Februari 2026
A A
Mudik ke desa pakai motor setelah bertahun-tahun merantau di kota seperti Jakarta jadi simbol perantau gagal MOJOK.CO

Ilustrasi - Mudik ke desa pakai motor setelah bertahun-tahun merantau di kota seperti Jakarta jadi simbol perantau gagal. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Harga diri diinjak-injak perkara pekerjaan dan standar sukses yang tidak terkejar

Awal merantau ke Jakarta, Sholeh bekerja sebagai pedagang pakaian di Tanah Abang. Karena bisnis tersebut tidak berjalan lancar, akhirnya Sholeh dan istri banting setir jualan makanan. 

Semenjak diluncurkannya ojek online (ojol), Sholeh kemudian bekerja sebagai driver ojol. Pekerjaan yang masih dia jalani sampai sekarang. 

“Seperti yang kamu baca di berita-berita. Mana ada kesejahteraan bagi driver ojol? Nggak ada. Cuma, cari kerja kan susah. Menjadi driver jadi satu-satunya pilihan untuk tetap bisa hidupi keluarga,” ungkap Sholeh. 

Karena gambaran betapa struggle Sholeh dan anak-istrinya di Jakarta, tak pelak jika kemudian keluar kalimat-kalimat tidak menyenangkan dari tetangga di desa, bahkan saudara pun ikut-ikutan, misalnya: 

“Lah iya, bertahun-tahun di Surabaya hasilnya juga gitu-gitu aja. Malah hidup susah, nggak punya rumah (karena ngontrak). Mbok sudah pulang saja tinggal di desa.”

Tak pernah ingin tinggal di desa meski selalu menyempatkan pulang

Sholeh tentu saja tersinggung dengan merasa tersakiti. Apalagi, setiap pulang, keluarganya (Sholeh dan anak-istri) kerap dibanding-bandingkan dengan saudara yang sama-sama merantau tapi jauh lebih sukses: punya mobil dan sudah beli rumah di perantauan. 

Karena itu lah Sholeh tidak punya keinginan sama sekali untuk tinggal di desa. Istrinya pun akan menolak keras jika tiba-tiba Sholeh mengajak mereka pindah ke desa. 

“Kalau istri saya, lebih ke tidak kuat dengan kemungkinan hidup yang saling mencampuri urusan satu sama lain. Urusan kita, tapi orang lain (saudara atau tetangga) ikut campur,” kata Sholeh.

“Istri juga tidak siap dengan model hidup seperti itu: dibanding-bandingkan, diinjak-injak hanya karena tidak bisa memenuhi standar sukses perantau ala desa,” imbuhnya. Masa perkara mudik pakai motor saja bisa ke mana-mana. 

Selain itu, bagi Sholeh pribadi yang lahir dan tumbuh di desa, kehidupan di desa bukannya lebih baik dari kota. Hidup di desa tidak lantas membuat ekonomi Sholeh aman. Pertama, mau kerja apa selain bertani yang hasilnya tidak menentu? Kedua, dalam situasi cari pekerjaan yang tak pasti itu, hidup di desa tetap menuntut biaya operasional besar melalui “pajak sosial” (dalam bentuk acara-acara berkedok tradisi yang dipaksakan). 

“Aku sampai sekarang masih pulang ke kampung halaman karena di desa masih ada bapak, masih hidup. Ya buat ketemu bapak. Beliau juga bisa ketemu cucunya,” ucap Sholeh. 

Mudik naik motor: bakal diwajari, tapi…. (ada tapinya)

Hingga saat ini, saya masih kerap mudik ke desa saya di Rembang menggunakan motor. Apa yang dirasakan Sholeh juga saya rasakan. 

Saya seorang sarjana. Merantau di kota besar seperti Surabaya (sebelum akhirnya ke Jogja). Tapi orang desa nyaris tidak menunjukkan tanda-tanda sukses dari saya. Di mata mereka, saya terlihat menyedihkan karena tidak tampak sebagai orang berduit.

Alih-alih punya rumah sendiri, saya masih tinggal satu atap dengan orang tua. Jangankan mobil, motor saja saya tak pernah tampak bisa membeli yang baru.

Iklan

Sejak 2016 saya bertahan dengan satu motor (Honda Vario 150) yang kini sudah tampak compang-camping. Wajar saja jika orang desa menganggap saya sebagai salah satu kategori perantau gagal: merantau ke kota bertahun-tahun, tapi tidak ada wujud barang berharga yang bisa ditunjukkan.

Beda soal kalau: oke, mudik ke desa memang pakai motor, tapi karuan motor keluaran terbaru yang harganya mahal. Kalau begitu, masih bakal dimasukkan dalam kategori perantau sukses lah. 

Kalau saya sih tak begitu peduli. Karena sejak nyantri saya dilatih tidak terikat materi. Kalau memiliki materi harus berdasarkan pada fungsi dan kebutuhan. Kalau kebutuhan mobilitas saya sudah cukup dengan fungsi Honda Vario 150 rompal saya, ya untuk apa terpancing untuk membeli baru demi dianggap sukses?

Berikutnya: oke, mudik ke desa pakai motor butut. Tak masalah. Masih akan dianggap sukses jika tampak “berduit”. Artinya, loyal dan lhas lhos saat bagi-bagi THR ke saudara. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Omong Kosong Menua Tenang di Desa: Menjadi Ortu di Desa Tak Cuma Dituntut Warisan, Harus Pikul Beban Berlipat dan Bertubi-tubi Tanpa Henti atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 27 Februari 2026 oleh

Tags: Desajakartamerantaumerantau ke jakartamerantau ke kotaMudikmudik ke desamudik pakai motorperantaustandar suksesstandar sukses desa
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Tahlilan di desa. MOJOK.CO
Catatan

Gen Z di Desa Ogah-ogahan Ikut Tahlilan Bikin Cemas Para Tetua: Bisa Hilang Budaya Srawung dan Peduli Tetangga

8 Juli 2026
kebayoran baru, jakarta selatan, jakarta.MOJOK.CO
Urban

Punya Kos Murah di Kebayoran Baru adalah Kemewahan, Biar Berisik tapi Setidaknya Menyelesaikan 3 Masalah Besar Perantau di Jakarta

3 Juli 2026
Naik BYD Menyusuri Jalanan Jakarta Bikin Saya Jadi Kampungan MOJOK.CO
Otomojok

Pengalaman Menahan Rasa Penasaran di Dalam Kabin Mewah BYD demi Tidak Terlihat Kampungan ketika Menyusuri Jalanan Jakarta

30 Juni 2026
Pasang WiFi di rumah desa. Niat untuk kenyamanan dan efisiensi pengeluaran keluarga malah dipalak tetangga MOJOK.CO
Catatan

Punya WiFi di Rumah Desa Bikin Bocil Tetangga Jadi Kurang Ajar dan Hilang Adab, Saya yang Bayar Tagihan Cuma Dapat Emosinya

25 Juni 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kita Membeli Sabun karena Wanginya, Bukan karena Tahu Kandungannya MOJOK.CO

Kita Membeli Sabun karena Wanginya, Bukan karena Tahu Kandungannya

18 Juli 2026
Derita Orang Rembang, Makan Mie Gacoan Harus ke Tuban MOJOK.CO

Makan Mie Gacoan adalah Kemewahan bagi Anak Muda Desa, Rela Motoran 2 Jam Demi Makanan yang “Menyiksa” Mulut Mereka

14 Juli 2026
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kerja sama dengan Australia. MOJOK.CO

Satu Dekade Jogja dengan Melbourne Symphony Orchestra: Bukti Orkestra Nggak Melulu Kaku bahkan Bisa Dinikmati Sambil Lesehan

15 Juli 2026
SSB MAS merawat bibit-bibit muda sepak bola Kota Jogja meski dari Lapangan Minggiran yang tidak rata MOJOK.CO

SSB Tertua di Kota Jogja Merawat Bibit-bibit Muda Meski dari Lapangan Bola Tidak Rata

11 Juli 2026
Jumirah dan suami merupakan pemulung di TPA Troketon, Klaten. MOJOK.CO

“Nrimo ing Pandum” ala Ibu Jumirah: Berteman dengan Belatung dan Diabetes di Tengah 150 Ton Sampah Residu Warga Klaten

12 Juli 2026
Ketika Syarat "Sehat Jasmani dan Rohani Menjadi Tembok Diskriminasi yang Menjegal Difabel di Bursa Kerja.MOJOK.CO

Ketika Syarat “Sehat Jasmani dan Rohani” Menjadi Tembok Diskriminasi yang Menjegal Difabel di Bursa Kerja

17 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.