Mengalahkan 5 calon pendaftar PNS
Maulia patut lega saat mengetahui jumlah pesaing di seleksi CPNS keempatnya. Saat itu, kata dia, hanya ada 6 pendaftar termasuk dirinya di formasi PNS yang ia pilih. Karena itu, kepercayaan diri dan motivasinya meningkat.
“Alhamdulillah-nya aku lolos tapi nggak bisa dibilang puas juga. Lebih bersyukur karena jadi bisa dekat dengan orang tua,” kata Maulia.
Meski begitu, Maulia harus siap menghadapi konsekuensi lainnya yakni budaya kerja di pemerintahan dan stigma soal PNS yang menghantui. Pertama, senioritas di instansi pemerintahan itu valid.
“Aku cukup kaget punya rekan kerja dan atasan yang seumuran dengan bapak, ibu, pakde, dan budeku karena di tempat kerja sebelumnya isinya relatif sebaya. Jadi chill banget menghadapi satu lain,” kata Maulia.
“Nah, waktu sudah jadi PNS, aku harus izin terus tiap mau menyampaikan sesuatu. Ya karena senioritasnya tadi,” lanjutnya.
Tekanan kerja yang bikin nggak nyaman
Kedua, birokrasi yang rumit. Sebagai anak baru yang mesti inisiatif untuk memahami pekerjaan di kantor, Maulia mengaku kesulitan karena segalanya harus sesuai dengan Undang-Undang.
“PR banget buat mempelajari seabrek aturan,” keluh Maulia, “apalagi kalau kita orangnya senang bereksplorasi. Kayaknya bakal lebih sulit menyesuaikan diri di sini karena segala hal ada aturannya,” lanjutnya.
Meski dalam hati ingin melakukan inovasi, tetap saja hal itu sulit terealisasi karena aturan yang kaku tadi.
“Birokrasinya ribet, bakal susah kalau kita punya ide-ide kreatif buat diaplikasikan. Apalagi ‘umbi-umbian’ gini juga belum punya ‘suara’ hahaha,” kelakar Maulia.
Ketiga, tak bisa leluasa mengkritisi kebijakan pemerintah. Seperti ketakutannya di awal tadi, Maulia merasa serba salah mau ikut mencaci maki, sementara ia sendiri bekerja sebagai bagian dari birokrasi tersebut.
Ia merasa harus tutup mata, telinga, dan mulut, hingga merasa berdosa karena tak bisa berbuat apa-apa. Sebab, kalau mau ikut-ikutan mengeluh bakal jadi bahaya untuk kariernya ke depan.
“Saat apel dan di banyak forum, kami sering banget diingatkan buat nggak komentar macam-macam di media sosial,” ungkap Maulia.
Oleh karena itu, kalau ditanya, apakah pekerjaan PNS masih worth it baginya? Atau ada perasaan menyesal karena diterima kerja jadi PNS? Maulia bakal bingung menjawabnya. Yang jelas ia meyakini bahwa setiap keputusan pasti memiliki konsekuensi yang harus diterima.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Derita Jadi PNS atau ASN di Desa: Awalnya Bisa Sombong Status Sosial, Tapi Berujung Ribet karena “Diporoti” dan Dikira Bisa Jadi Ordal atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan













