Mara (23) merupakan lulusan salah satu PTN di Jogja. Ia bekerja di Jakarta selama lebih dari satu tahun. kemudian memutuskan resign untuk rehat. Namun sayang, ketika ingin kembali, rencananya justru berjalan tidak sesuai dengan ekspektasi.
Padahal, Mara hanya berencana untuk beristirahat setidaknya selama satu sampai dua bulan setelah resign. Akan tetapi, keputusan mengundurkan diri dari pekerjaan keduanya itu, mengakibatkan Mara merasa menyesal karena harus mengubah rencana kariernya.
Nyaman bekerja di Jakarta, tetapi ingin resign demi diri sendiri
Setelah lulus pada Mei 2024, Mara langsung mendapatkan pekerjaan di Jakarta. Ia merantau dari Jogja ke Jakarta tanpa sempat istirahat setelah melakukan mengerahkan usaha demi kelulusan.
Awalnya, Mara bersyukur karena langsung mendapatkan pekerjaan sebagai fresh graduate. Di Jakarta pula, kata dia, besaran gajinya jauh lebih menjanjikan dibandingkan Jogja. Karena itu, perempuan ini dengan senang hati melompat dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain yang menawarkan lebih.
Namun ternyata, antusiasme Mara tidak bertahan lama. Bekerja lebih dari satu tahun, Mara memutuskan untuk resign karena mulai merasa penat bekerja tanpa rehat dari kelulusannya sebagai mahasiswa.
Survei Careernews ECC UGM menunjukkan bahwa sebanyak 61,76 persen responden hanya bertahan selama setahun atau kurang dari itu pada pekerjaan pertama mereka. Hal ini selaras dengan yang dialami Mara, yang memutuskan untuk resign tidak lama setelah satu tahun bekerja.
“Aku pengin istirahat aja dulu sebentar kayaknya,” kata Mara kepada Mojok, Kamis (9/4/2026).
Maka dari itu, Mara memilih resign untuk memberikan dirinya istirahat sejenak dan kembali ke Jogja pada Agustus 2025.
Kembali ke Jogja untuk bekerja
Rencana awalnya, durasi istirahat Mara adalah satu hingga dua bulan. Ia akan mencoba untuk kembali melamar pekerjaan di Jakarta setelah masa istirahatnya selesai. Karena itulah, ia masih meninggalkan barang-barangnya di apartemen alih-alih membawanya pulang ke Jogja.
Namun sayangnya, rencana Mara tidak berjalan mulus.
Ia belum mendapatkan pekerjaan kembali di Jakarta. Malahan, diterima bekerja di salah satu perusahaan di Jogja untuk peran yang berbeda.
Di tengah kondisi ekonomi yang tidak stabil, mau tidak mau, Mara memutuskan untuk mengambil pekerjaan tersebut untuk sementara waktu. Namun, pekerjaan ini jugalah yang membuatnya dapat mengetahui bahwa seburuk apa pun bekerja di Jakarta, kota yang hampir selalu sibuk itu tetap lebih baik untuk berkarier.
“Setelah merasakan keduanya, sebenarnya banyak banget ya kejomplangannya,” kata dia.
“Ini case-nya karena aku juga belok banget dari kreatif ke formal, jadi dari culture perusahaan aja udah pasti beda. Tapi, aku tetap prefer kerja di Jakarta,” tambah dia.
Lebih pilih kerja di Jakarta ketimbang Jogja
Menurut Mara, Jakarta lebih cocok sebagai tempat mengejar karier karena serba cepat. Pace pekerjaan di Jakarta yang cepat atau “sat set” dalam istilah hari ini, kata dia, membuat Mara termotivasi untuk turut berkembang.
Meski mengakui adanya tekanan pekerjaan, Mara secara tidak langsung untuk menghadapi permasalahan tersebut sehingga membentuk mental pekerja tahan banting. Ia menyebut lebih siap menghadapi berbagai situasi tak terduga dalam pekerjaan di Jakarta berkat belajar dari tantangan ini.
“Pace Jakarta lebih cepat jadi bikin aku juga ikutan cepat improve dan selalu ready in any condition,” kata dia.
“Membentuk mental growth, walaupun stresnya ada jua,” kata dia menambahkan.
Dibandingkan dengan bekerja di Jogja, Mara bilang, dirinya lebih santai. Para pekerja Jogja cenderung tidak sat set dan lebih menikmati pekerjaannya dengan mengalir sehingga Mara terbawa arus. Ia mengaku menjadi lebih lamban dalam pace pekerjaan di Jogja, tidak seperti di Jakarta.
Karena terbiasa akan hal itu, Mara harus berusaha lebih keras menyesuaikan. Ia mencoba mencari berbagai kesibukan untuk mengisi waktu luang dan mempercepat ritme kesehariannya. Sebab, dirinya merasa jalan di tempat dengan situasi ini.
“Kalau di Jogja aku jadi ikutan santai. Nggak tahu mungkin karena belum terbiasa, tapi begini keadaannya. Makanya sepertinya aku perlu coba kesibukan atau hal lain supaya nggak jalan di tempat,” terangnya.
Selain itu, urusan mandek dalam pekerjaan, Mara bilang tidak pernah merasa risau akan hal tersebut selama bekerja di Jakarta. Jejaring atau networking di Jakarta yang luas memungkinkan dirinya untuk bertemu, kemudian menjalin relasi, dengan banyak orang yang juga memberikan kesempatan untuk kariernya berkembang.
“Networking [di Jakarta] luas banget, banyak ketemu brand dan agency gede,” kata dia.
Penulis: Shofiatunnisa Azizah
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Sebagai Pekerja Jakarta yang Terbiasa Kerja “Sat Set”, Saya Nggak Nyaman dengan Etos Orang Jogja yang Terlalu Santai dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














