Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

Nekat ke Jakarta Hanya Modal Ambisi sebagai Musisi, Gagal dan Jadi “Gembel” hingga Bohongi Orang Tua di Kampung

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
11 April 2026
A A
Gagal kerja di Jakarta sebagai musisi. MOJOK.CO

ilustrasi - gagal meraih mimpi jadi musisi di Jakarta. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

“Hidup menjadi figuran demi cerita si pemeran utama pun tak masalah. Seperti aku, si manusia paling biasa-biasa saja. Yang ternyata nggak buruk-buruk juga saat memutuskan nekat merantau ke Jakarta,” kata Haikal*, pemuda yang gagal menjadi musisi tapi berhasil menaklukkan Jakarta.

Merantau ke Jakarta hanya dengan “gitar sayur”

Haikal punya mimpi besar mengembangkan karier di dunia musik. Dengan modal gitar akustik murah berkualitas rendah, pergilah dia untuk merantau ke Jakarta tahun 2012 dengan modal ijazah SMA.

“Awalnya aku ingin kuliah setelah berhasil masuk industri musik, tapi kenyataan berkata lain,” kata pemuda asal Kuningan, Jawa Barat itu saat dihubungi Mojok, Jumat (10/4/2026).

Masalahnya, untuk meraih mimpi tersebut, Haikal harus memiliki modal besar sementara ia tak punya uang sama sekali. Bahkan, untuk tempat menginap saja ia harus menumpang di rumah bibinya alih-alih menyewa kos-kosan. 

Bukannya berkarier di bidang musik, Haikal malah luntang-lantung di jalan. Ia mencari pekerjaan apa saja asal bisa makan dan tidur di tempat sendiri tanpa harus menumpang di rumah bibinya.

“Dapatlah aku kerjaan di bidang retail handphone di sebuah mal pinggiran Jakarta,” kata Haikal.

Dari pekerjaan sebagai teknisi di bidang retail handphone tersebut, Haikal mengumpulkan uangnya sedikit demi sedikit. Minimal untuk menyewa kos, makan, transport, dan tujuan utamanya yakni modal sebagai musisi.

“Setelah dapat pekerjaan itu, aku hidup irit dengan naik transportasi umum pulang-pergi. Capek karena macet dan harus transit. Tidur hanya sekitar 3 jam sehari. Tapi hal itu hanya aku jalani sebentar, sekitar hampir 1 bulan,” tutur Haikal yang masih belum melupakan mimpinya sebagai musisi.

Jalan terjal meraih mimpi jadi musisi di Jakarta

Suatu hari, Haikal akhirnya bertemu dengan seorang kenalan yang mengaku sebagai produser musik dangdut di Jakarta. Di sanalah, Haikal dipertemukan dengan salah satu petinggi major label. Haikal bahkan diberi kesempatan untuk menunjukkan bakat musiknya di ibu kota.

“Jadi sebetulnya aku pernah punya teman yang sama-sama ikut audisi Idol, terus dia ngenalin aku ke mereka. Ternyata hasilnya nihil karena ya mungkin lagu buatanku sendiri masih tergolong mentah, perlu revisi berkali-kali sampai bisa masuk dapur rekaman,” tutur Haikal. 

Namun, Haikal tak menyerah. Barangkali, pikir dia, memang begitu lah jalannya dalam meraih mimpi besar. Harus terseok-seok. Oleh karena itu, Haikal mencoba bernegosiasi. Sembari merevisi lagunya, ia menawarkan rekaman lagunya dalam bentuk disc.

Siapa sangka, petinggi major label itu setuju dengan syarat yang diajukan Haikal dan hendak membeli karya lagunya. Syok mendengar kesepakatan tersebut, Haikal kalang kabut. Ia kebingungan meminjam alat untuk memproduksi lagunya sendiri. Ia pun meminjam notebook temannya untuk melakukan proses burning dari rekaman yang ia buat melalui Blackberry, tapi hasilnya gagal.

“Lagu yang aku bikin lebih cocok jadi musik akustik, yang mana suara simbal nggak cocok sama sekali. Begitu juga dengan melodi melengking khas gitar listrik tambah nggak ngena sama sekali,” ujar Haikal.

Titik terendah di Jakarta, tapi berhasil bertahan

Sesekali, Haikal juga nge-jam di lapak teman-temannya atau di sebuah mall untuk mengetes lagu miliknya, tapi tetap tak ada perubahan pada lagunya. Haikal merasa mentok tak dapat ide. Ia pun semakin rendah diri hingga kehilangan minat dalam bermusik. 

Iklan

“Aku jadi sadar, istilah bahwa setiap manusia ada masanya dan setiap masa ada manusianya itu memang benar adanya,” kata Haikal.

Beberapa tahun kemudian, Haikal mencoba menerima ‘kekalahannya’. Ia pun berpisah dengan teman-temannya maupun mimpinya sebagai musisi di Jakarta. Kenyataan hidup membuat dirinya harus banting setir sebab tabungannya makin hari makin menipis. 

“Aku bahkan pernah di posisi bertahan hidup hanya dengan air keran PDAM, makan kentang, kalau ada duit, sesekali aku belikan nasi sama telur. Itu pun makan hanya sekali sehari,” tutur Haikal.

“Karena pernah berada di posisi itu makanya aku sepakat dengan orang-orang yang bilang kalau Jakarta itu keras, bukan untuk orang yang bermental lemah. Bahkan sesama karyawan pun bisa saling menjatuhkan, kalau kita nggak punya skill apapun, kemungkinan besar hanya akan dilahap oleh sesama,” lanjutnya. 

Bohong ke orang tua sampai benar-benar sukses

Meski dalam kondisi yang sudah parah di Jakarta, Haikal mengaku tak bisa balik ke kampung halamannya. Bahkan, saat sudah tidak punya uang sepeser pun, Haikal tak berani bercerita ke orang tuanya. Saat mereka bertanya tentang kondisi Haikal, ia malah berbohong.

“Aku selalu cerita ke Bapak dan Ibu kalau kondisiku baik-baik saja di Jakarta. Bahkan saudara dekat kami pun tidak pernah tau keadaanku yang sebenarnya,” kata Haikal.

Bagaimanapun sulitnya, kata Haikal, entah kenapa ia masih ingin tinggal di Jakarta. Bukan untuk menjadi kaya, seperti standar sukses orang-orang, tapi menjadi orang biasa yang bermental kuat. 

“Sempat terpikirkan untuk jadi pengamen saja, tapi aku urungkan karena aku merasa masih punya kebanggaan sebagai seorang muslim. Tak mau minta-minta, padahal fisikku masih mampu,” kata Haikal.

Pada akhirnya, setelah 14 tahun berlalu, Haikal berhasil menaklukkan Jakarta walaupun bukan sebagai musisi seperti yang diharapkan. Paling tidak, Haikal tetap berjuang melalui pekerjaannya di bidang retail handphone. 

“Bisa jadi ini cara Allah melindungiku dari sesuatu yang menurutku keren, tapi nyatanya nggak. Dan nggak semua orang harus jadi pemeran utama, nggak harus jadi pahlawan, nggak harus terlahir sebagai raja,” kata Haikal.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Resign Kerja di Jakarta untuk Rehat di Jogja, Menyesal karena Hidup Tak Sesuai Ekspektasi dan Malah Kena Mental atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 11 April 2026 oleh

Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Sigura-gura, Malang, slow living.MOJOK.CO
Urban

Omong Kosong Slow Living di Malang: Pindah Kerja Berniat Cari Ketenangan Malah Dibikin Stres, Nggak Ada Bedanya dengan Jakarta

11 April 2026
Vera Nur Fadiya, kuliah di jurusan sepi peminat (Matematika) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, jadi jalan wakili mimpi orang tua MOJOK.CO
Edumojok

Kuliah Jurusan Sepi Peminat Unsoed Purwokerto, Jadi Jalan Wujudkan Mimpi Ortu karena Tak Sekadar Kuliah

11 April 2026
Bangun rumah bertingkat 2 di desa pelosok Grobogan gara-gara sinetron MOJOK.CO
Sehari-hari

Bangun Rumah Tingkat 2 di Desa demi Tiru Sinetron, Berujung Menyesal karena Ternyata Merepotkan

10 April 2026
Bekerja di Jakarta vs Jogja
Urban

Resign Kerja di Jakarta untuk Rehat di Jogja, Menyesal karena Hidup Tak Sesuai Ekspektasi dan Malah Kena Mental

10 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Warung nasi padang jual rendang khas Minang di Jogja

Nasi Padang Rp13 Ribu di Jogja Lebih Nikmat dan Otentik daripada Yang Menang Mahal, tapi Rasanya Manis

10 April 2026
Horor, Evolusi Kelelawar Malam di Album "Kesurupan”: Menertawakan Hantu, Melawan Dunia Nyata.MOJOK.CO

Evolusi Kelelawar Malam di Album “Kesurupan”: Menertawakan Hantu, Melawan Dunia Nyata

9 April 2026
Derita Pedagang Es Teh Jumbo: Miskin, Disiksa Israel dan Amerika MOJOK.CO

Semakin Berat Perjuangan Pedagang Es Teh Jumbo: Sudah Margin Keuntungan Sangat Tipis Sekarang Terancam Makin Merana karena Kenaikan Harga

9 April 2026
Geger Sepehi 1812: Bukti Keteguhan Sri Sultan Hamengkubuwono II Menolak Tunduk pada Penjajah.MOJOK.CO

Geger Sepehi 1812: Bukti Keteguhan Sri Sultan Hamengkubuwono II Menolak Tunduk pada Penjajah

5 April 2026
Hasutan dan jebakan orang minta donasi di Stasiun Tugu Jogja, ternyata berkedok penipuan MOJOK.CO

Turun Stasiun Tugu Jogja Muak sama Orang Minta Donasi: Tidak Jujur Sejak Awal, Jual Kesedihan Endingnya Jebakan

5 April 2026
Jurusan Antropologi Unair selamatkan saya usai ditolak UGM. MOJOK.CO

Ditolak UGM Jalur Undangan, Antropologi Unair Selamatkan Saya untuk Tetap Kuliah di Kampus Bergengsi dan Kerja di Bali

6 April 2026

Video Terbaru

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.