“Hidup menjadi figuran demi cerita si pemeran utama pun tak masalah. Seperti aku, si manusia paling biasa-biasa saja. Yang ternyata nggak buruk-buruk juga saat memutuskan nekat merantau ke Jakarta,” kata Haikal*, pemuda yang gagal menjadi musisi tapi berhasil menaklukkan Jakarta.
Merantau ke Jakarta hanya dengan “gitar sayur”
Haikal punya mimpi besar mengembangkan karier di dunia musik. Dengan modal gitar akustik murah berkualitas rendah, pergilah dia untuk merantau ke Jakarta tahun 2012 dengan modal ijazah SMA.
“Awalnya aku ingin kuliah setelah berhasil masuk industri musik, tapi kenyataan berkata lain,” kata pemuda asal Kuningan, Jawa Barat itu saat dihubungi Mojok, Jumat (10/4/2026).
Masalahnya, untuk meraih mimpi tersebut, Haikal harus memiliki modal besar sementara ia tak punya uang sama sekali. Bahkan, untuk tempat menginap saja ia harus menumpang di rumah bibinya alih-alih menyewa kos-kosan.
Bukannya berkarier di bidang musik, Haikal malah luntang-lantung di jalan. Ia mencari pekerjaan apa saja asal bisa makan dan tidur di tempat sendiri tanpa harus menumpang di rumah bibinya.
“Dapatlah aku kerjaan di bidang retail handphone di sebuah mal pinggiran Jakarta,” kata Haikal.
Dari pekerjaan sebagai teknisi di bidang retail handphone tersebut, Haikal mengumpulkan uangnya sedikit demi sedikit. Minimal untuk menyewa kos, makan, transport, dan tujuan utamanya yakni modal sebagai musisi.
“Setelah dapat pekerjaan itu, aku hidup irit dengan naik transportasi umum pulang-pergi. Capek karena macet dan harus transit. Tidur hanya sekitar 3 jam sehari. Tapi hal itu hanya aku jalani sebentar, sekitar hampir 1 bulan,” tutur Haikal yang masih belum melupakan mimpinya sebagai musisi.
Jalan terjal meraih mimpi jadi musisi di Jakarta
Suatu hari, Haikal akhirnya bertemu dengan seorang kenalan yang mengaku sebagai produser musik dangdut di Jakarta. Di sanalah, Haikal dipertemukan dengan salah satu petinggi major label. Haikal bahkan diberi kesempatan untuk menunjukkan bakat musiknya di ibu kota.
“Jadi sebetulnya aku pernah punya teman yang sama-sama ikut audisi Idol, terus dia ngenalin aku ke mereka. Ternyata hasilnya nihil karena ya mungkin lagu buatanku sendiri masih tergolong mentah, perlu revisi berkali-kali sampai bisa masuk dapur rekaman,” tutur Haikal.
Namun, Haikal tak menyerah. Barangkali, pikir dia, memang begitu lah jalannya dalam meraih mimpi besar. Harus terseok-seok. Oleh karena itu, Haikal mencoba bernegosiasi. Sembari merevisi lagunya, ia menawarkan rekaman lagunya dalam bentuk disc.
Siapa sangka, petinggi major label itu setuju dengan syarat yang diajukan Haikal dan hendak membeli karya lagunya. Syok mendengar kesepakatan tersebut, Haikal kalang kabut. Ia kebingungan meminjam alat untuk memproduksi lagunya sendiri. Ia pun meminjam notebook temannya untuk melakukan proses burning dari rekaman yang ia buat melalui Blackberry, tapi hasilnya gagal.
“Lagu yang aku bikin lebih cocok jadi musik akustik, yang mana suara simbal nggak cocok sama sekali. Begitu juga dengan melodi melengking khas gitar listrik tambah nggak ngena sama sekali,” ujar Haikal.
Titik terendah di Jakarta, tapi berhasil bertahan
Sesekali, Haikal juga nge-jam di lapak teman-temannya atau di sebuah mall untuk mengetes lagu miliknya, tapi tetap tak ada perubahan pada lagunya. Haikal merasa mentok tak dapat ide. Ia pun semakin rendah diri hingga kehilangan minat dalam bermusik.
“Aku jadi sadar, istilah bahwa setiap manusia ada masanya dan setiap masa ada manusianya itu memang benar adanya,” kata Haikal.
Beberapa tahun kemudian, Haikal mencoba menerima ‘kekalahannya’. Ia pun berpisah dengan teman-temannya maupun mimpinya sebagai musisi di Jakarta. Kenyataan hidup membuat dirinya harus banting setir sebab tabungannya makin hari makin menipis.
“Aku bahkan pernah di posisi bertahan hidup hanya dengan air keran PDAM, makan kentang, kalau ada duit, sesekali aku belikan nasi sama telur. Itu pun makan hanya sekali sehari,” tutur Haikal.
“Karena pernah berada di posisi itu makanya aku sepakat dengan orang-orang yang bilang kalau Jakarta itu keras, bukan untuk orang yang bermental lemah. Bahkan sesama karyawan pun bisa saling menjatuhkan, kalau kita nggak punya skill apapun, kemungkinan besar hanya akan dilahap oleh sesama,” lanjutnya.
Bohong ke orang tua sampai benar-benar sukses
Meski dalam kondisi yang sudah parah di Jakarta, Haikal mengaku tak bisa balik ke kampung halamannya. Bahkan, saat sudah tidak punya uang sepeser pun, Haikal tak berani bercerita ke orang tuanya. Saat mereka bertanya tentang kondisi Haikal, ia malah berbohong.
“Aku selalu cerita ke Bapak dan Ibu kalau kondisiku baik-baik saja di Jakarta. Bahkan saudara dekat kami pun tidak pernah tau keadaanku yang sebenarnya,” kata Haikal.
Bagaimanapun sulitnya, kata Haikal, entah kenapa ia masih ingin tinggal di Jakarta. Bukan untuk menjadi kaya, seperti standar sukses orang-orang, tapi menjadi orang biasa yang bermental kuat.
“Sempat terpikirkan untuk jadi pengamen saja, tapi aku urungkan karena aku merasa masih punya kebanggaan sebagai seorang muslim. Tak mau minta-minta, padahal fisikku masih mampu,” kata Haikal.
Pada akhirnya, setelah 14 tahun berlalu, Haikal berhasil menaklukkan Jakarta walaupun bukan sebagai musisi seperti yang diharapkan. Paling tidak, Haikal tetap berjuang melalui pekerjaannya di bidang retail handphone.
“Bisa jadi ini cara Allah melindungiku dari sesuatu yang menurutku keren, tapi nyatanya nggak. Dan nggak semua orang harus jadi pemeran utama, nggak harus jadi pahlawan, nggak harus terlahir sebagai raja,” kata Haikal.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Resign Kerja di Jakarta untuk Rehat di Jogja, Menyesal karena Hidup Tak Sesuai Ekspektasi dan Malah Kena Mental atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














