Selama ini Blok M dan Jakarta Selatan (Jaksel) dicitrakan sebagai kiblat orang keren. Padahal aslinya tidak jauh berbeda dengan apa yang kerap orang di Ibu Kota (orang kota) narasikan tentang orang-orang kabupaten di Jawa: banyak jamet.
***
Ada masanya ketika Patra (26) merasa malu dengan identitasnya sebagai orang kabupaten dari Jawa. Sebab, karena berita-berita “aneh” soal Jawa memang kerap menjadi olok-olok bagi orang-orang di Ibu Kota.
Komentar-komentar di media sosial seolah menempatkan orang-orang kabupaten dalam posisi terbelakang dan tidak punya akal sehat.
Namun, belakangan, ia justru cenderung merasa muak dengan cara pandang tersebut. Sebab, setelah memerhatikan dengan seksama, ia mengaku ternyata gejala “kejametan” juga dekat dengan orang-orang di Ibu Kota. Terutama di Blok M dan Jakarta Selatan yang disebut-sebut sebagai kiblat kalcer/keren-kerenan.
“Bukan bermaksud apa-apa. Tapi fakta ini perlu dilihat biar kita ini nggak saling menjelekkan sesama sipil hahaha. Wong kita ini juga sama-sama korban dari busuknya pemerintah kok,” ujar pemuda asal Jawa Timur yang bekerja di Jakarta sejak 2023 lalu, Jumat (13/3/2026).
Jamet dan gangguan penyakit Jawa: narasi memuakkan tentang orang kabupaten
Identitas sebagai orang Jawa Timur membuat Patra kerap merasa menjadi objek penghinaan. Walaupun konteksnya mungkin bercanda.
Di media sosial, sejauh yang Patra temukan, banyak orang (terutama yang mengaku berasal dari Jakarta) yang menyebut Jawa Timur sebagai pusat jamet.
Apalagi, dalam tiga tahun terakhir, citra Jawa Timur benar-benar hancur-hancuran di mata orang kota. Gara-gara ulah oknum kelompok pencak silat, kemunculan sound horeg, fenomena “gus-gusan”, hingga narasi kritis pada praktik implementasi adab di pesantren yang sering dianggap feodalisme di balik jubah keagamaan.
“Aku nemu komentar yang miris dan muak aja bacanya. Ada yang tanya, ini gejala apa ya? Terus dijawab, gejala ODGJ (orang dalam gangguan Jawa),” tutur Patra.
“Belum lagi Madura. Stereotip jamet malah melekat kental karena joget-joget di atas galon dengan rambut jabrik, kegemaran memodifikasi motor, sampai perkara gaya potong rambut mullet pun jadi indikasi jamet,” sambungnya setengah kesal.
Jawa Timur ternyata tidak satu-satunya. Orang-orang kabupaten di Jawa Barat pun tidak luput dari sasaran hinaan “ODGJ”. Seiring dengan maraknya acara kesurupan massal (kalau di Jawa Timur disebut jathilan).
Blok M dan Jakarta Selatan (Jaksel) dilebih-lebihkan, aslinya juga pusat jamet
Sebenarnya bukan sekali-dua kali Patra main di Blok M atau titik-titik keramaian lain di Jakarta Selatan. Ia awalnya biasa saja.
Namun, gara-gara kemuakan atas narasi jamet dan ODGJ, belakangan setiap ia berada di Blok M atau titik kumpul “anak Jaksel” lain, ia menyimpulkan: ternyata kiblat gaya hidup kalcer itu hanya dilebih-lebihkan.
“Sekarang begini, tolok ukur jamet itu apa? Konsesus umum yang terlanjur diamni kan dari style yang dianggap norak. Loh, di Blok M dan titik lain Jaksel itu juga gampang benget nemu orang jamet,” ucap Patra blak-blakan.
Misalnya, kumpulan anak muda dengan outfit hitam, outfit “skena” tapi terlalu norak (karena nggak semua orang cocok bergaya ala Hindia, rambut cat warna-warni, hingga cewek-cewek yang berdandan menor.
“Coba datang juga ke Taman Literasi Blok M. Di bagian atas, yang gelap-gelap itu, itu banyak juga anak-anak muda dengan gaya fashionable, terutama cowok-cewek (pacaran). Anjir lah, pacaran di tempat seperti itu, kalau itu orang kabupaten, pasti dibilang jamet juga,” gerutu Patra.
Begi Patra, di mata orang kabupaten sepertinya: gaya semacam itu juga layak disebut jamet. Artinya, lanjut Patra, hal-hal semacam itu sebenarnya gejala sosial biasa. Tidak seharusnya jadi alasan untuk menghina. Apalagi secara terang menghina Jawa.
“Apalagi, pas aku mengungkapkan ini ke seorang teman kerja yang asli Jakarta, dia jawabnya gini: bilang kalau misalnya itu kusebut jamet, ya paling kebanyakan yang main di situ orang kabupaten dan orang Jawa juga. Lah,” kata Patra.
Skena perbotian di Blok M yang meresahkan
Sound horeg dan kelompok pencak silat, di titik tertentu, jelas meresahkan. Tapi Blok M dan Jakarta Selatan pun, di mata Patra, juga punya kelompok meresahkan: skena perbotian yang kerap nongkrong di Blok M dan ruang-ruang lain Jaksel.
Faktanya di banyak daerah—sepanjang yang Patra lihat di media sosial—banyak orang yang meresahkan keberadaan skena perbotian ini.
Sebab, rata-rata sependapat bahwa perilaku kelompok tersebut merupakan bentuk penyimpangan agama (utamanya Islam), norma sosial, dan seksual (melenceng dari kodrat).
“Tapi di Blok M, mereka bisa percaya diri nunjukin identitas mereka. Lebih ngeri ketimbang jadi jamet,” kata Patra.
Jakarta Selatan (Jaksel) punya jamet Aerox, apa bedanya dengan di kabupaten?
Menjelang tengah malam, suasana di sejumlah titik di Jakarta Selatan memang tetap bergeliat. Starling-starling mangkal untuk menjajakan kopi bagi mereka yang ingin kopi murah (tanpa harus ke coffee shop mahal).
Dalam beberapa malam di bulan Januari 2026, saat menginap di sebuah hotel di Jakarta Selatan, saya mendapati pemandangan: anak-anak muda kebut-kebutan dengan motor Aerox.
Kalau toh tidak kebut-kebutan, saya melihat motor Aerox (baik yang masih ori maupun hasil modifikasi) berjejer rapi di warung-warung sate taichan.
“Kalau di Jawa Timur, di Madura, orang pakai Aerox modif dan kenceng-kencengan knalpot brong dianggap jamet, kan sama aja dengan di sini, Mas,” ujar seorang penjaja starling saat saya pancing dengan obrolan: “Lah, di Jaksel ternyata ada juga skena Aerox.”
“Terutama kalau malam Minggu, Mas. Wah yang kopdar di kawasan sini banyak,” sambung penjaja starling tersebut.
Sama seperti Patra, penjaja starling asal Madura itu mengaku kerap tidak nyaman dengan sematan “jamet”. Hanya karena gaya rambut dan modifikasi motor. Baginya, itu adalah ekspresi dan sah-sah saja. Sama sahnya dengan anak-anak muda di Jakarta Selatan yang tengah malam brong-brongan dengan motor Aerox.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Standar Keren Kabupaten: Pakai Motor BeAT Dihina dan Dijauhi Circle Aerox, NMax, dan Vario karena Tak Masuk Konsep Sinematik atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














