Awal bulan memang dinanti banyak orang karena di tanggal-tanggal itu lah akan muncul notifikasi gajian. Akan tetapi, kelegaan dari gajian hanya berlangsung sesaat. Sebab, tidak lama setelahnya, yang harus dihadapi oleh kelas menengah—apalagi kelas menengah ke bawah—adalah situasi horor kehidupan dewasa.
***
Berbincang dengan Firza (27) dan Putro (39), seiring perasaan gagal sebagai anak dan suami seperti dalam tulisan, “In This Economy: Momen Para Laki-laki Merasa Gagal sebagai Anak dan Suami, Gaji Numpang Lewat tapi Bingung Mau Kerja Model Gimana Lagi“, mereka mengaku awal bulan selalu memberi situasi horor.
Kehidupan dewasa in this economy membuat gajian yang jatuh di awal bulan menjadi bias: sepatutnya dirayakan atau justru sebaliknya, karena situasinya—setidaknya yang keduanya hadapi—kurang lebih seperti ini:
Situasi horor awal bulan: membuka kalkulator hp
Bangun tidur di awal bulan, hal pertama yang Firza dan Putro lakukan adalah mengecek notifikasi di hp. Mereka lalu mengembuskan napas lega karena gajian sudah masuk.
Sepintas, di kepala mereka terlintas hal-hal yang ingin mereka lakukan untuk diri sendiri. Misalnya, makan di warung enak berharga agak mahal atau membeli barang yang sudah lama diinginkan.
Akan tetapi, tidak berselang lama, bayangan itu lenyap disisihkan oleh realitas yang harus mereka hadapi. Firza bergaji pas-pasan yang untuk kebutuhan diri sendiri saja masih terasa kurang. Sementara Putro harus memikirkan istri dan dua anak sebagai prioritas utama.
Satu hal yang kemudian mereka lakukan dan itu terasa horor sekali: membuka kalkulator di hp masing-masing. Keduanya kemudian harus mulai berhitung, membagi-bagi gaji utuh ke dalam beberapa plot kebutuhan.
“Aku harus membagi, sekolah anak sekian, jajan anak sekian, buat belanja istri berapa, buat istri pribadi berapa. Karena kalau aku kan istri kukasih jatah sendiri buat dia sendiri. Entah buat beli baju atau lain-lain,” ujar Putro.
“Terus menyisihkan simpanan, jatah ongkos pulang. Tahu-tahu ternyata sudah habis. Yang buatku sendiri tinggal sisa-sisa saja buat makan dan beli rokok lah,” sambung pekerja di Jakarta tersebut.
Sementara Firza kerap menemui jalan buntu di kalkulator. Sebab, lebih sering gaji Firza habis untuk dirinya sendiri bertahan di perantauan (Surabaya), jika ia membagi gaji untuk mengirim ke orang tua. Sering kali ia harus mengotak-atik: mana yang harus dikurangi, kiriman buat orang tua atau tabungannya?
Cicilan: hantu menyeramkan di kehidupan dewasa
Salah satu poin yang masuk dalam kalkulator Putro di awal bulan setelah gajian adalah cicilan. Dalam kelakarnya, Putro menyebut lebih menyeramkan cicilan ketimbang teror pocong keliling belakangan ini.
Saat ini, cicilan Putro hanya berupa kendaraan (motor baru untuk sang istri). Selain itu juga membayar utang-utang kecil ke sejawat. Itu saja sudah terasa menghantui karena pada akhirnya mengganggu keuangannya setiap bulan.
“Kalau di lingkaran teman sejawat, cicilannya malah lebih ngeri-ngeri,” kata Putro. Misalnya, cicilan rumah, cicilan utang bank untuk kebutuhan non-produktif dengan angka besar, cicilan motor hingga mobil, cicilan KUR, cicilan utang ke saudara dalam jumlah besar, dan sejenisnya.
Semenyeramkan itu kehidupan dewasa. Awal bulan kerap kali jadi momen adu nasib antara Putro dan sejawatnya: banyak-banyakan cicilan sembari berkelakar.
“Teman-teman bercerita dengan tertawa, tapi tawanya mengerikan karena menyimpan kegetiran dan nyaris keputusasaan,” ucap Putro.
Horor telepon dari rumah di awal bulan
Hitungan dalam kalkulator masih belum seberapa horor di awal bulan. Yang lebih horor adalah jika mendapat telepon dari rumah dan mengetahui fakta bahwa hitungan dalam kalkulator tersebut tidak presisi—meleset.
Putro kerap sudah sangat cermat menghitung pembagian alokasi dana dari gajian. Akan tetapi, sering kali melalui telepon, ada kebutuhan-kebutuhan tidak terduga.
“Tiba-tiba anak sakit. Tiba-tiba anak harus bayar apa di sekolah yang nggak masuk perhitungan. Tiba-tiba istri harus nyumbang hajatan. Tiba-tiba harus memperbaiki atau membeli perlengkapan baru untuk rumah,” beber Putro.
Sebagai suami, tentu Putro akan meloloskan uang di luar perhitungan awalnya untuk hal-hal tidak terduga tersebut. Bahkan kadang-kadang juga terpaksa utang dari sejawat dengan tetap berpura-pura pada istri.
“Pas bilang ‘Nanti kutransfer’ ke istri, setelahnya langsung mikir keras, cari duit ke mana lagi? Pinjam ke siapa ini ya? Begitu lah horor di kehidupan dewasa” tutur Putro.
Sementara bagi Firza, telepon dari rumah terasa sangat horor karena kesadaran bahwa ia tidak berdaya. “Orang tua nggak minta, cuma cerita kalau di rumah sedang ada kebutuhan ini, kebutuhan itu. Tapi aku cuma bisa diam, nggak bisa dengan gagah bilang, ‘Nanti aku yang urus’ karena nggak ada uang lebih.”
Kebutuhan makin mahal, gajian masih lama
Gajian di awal bulan pada akhirnya pun hanya merupakan kelegaan sesaat sekaligus hanya numpang lewat. Selain hal-hal di atas, orang-orang seperti Firza dan Putro harus menghadapi situasi horor yang diperparah dengan harga-harga yang semakin mahal.
Sial! Sudah diatur sedemikian rupa pengeluarannya, eh harus terbentur dengan hal-hal tidak terduga. Kerap dikejutkan dengan kenaikan harga-harga kebutuhan yang terbilang signifikan pula.
Sementara gajian lagi masih lama. Gaji ludes di awal bulan, sebulan penuh rasanya sama saja: seperti tanggal tua. Kerja keras seperti tidak ada hasilnya. Kehidupan dewasa yang horor sekali bagi Firza dan Putro.
“Sudah horor seperti itu, kalau baca berita atau lihat medsos masih harus lihat adegan horor lagi: pidato atau kebijakan absurd pemerintah,” pungkas Firza.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Agung Purwandono
BACA JUGA: Pemuda Desa 19 Tahun Nekat Kerja di Hotel Dubai: Jaminan Gaji 2 Digit usai Nyerah dengan Rupiah dan 19 Juta Lapangan Kerja atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














