Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sosok

Tukang Pijat Jalanan Jogja Tak Pernah Dapat Pelanggan, Bingung Kasih THR ke Cucu Pakai Apa Sementara buat Hidup Sehari-hari Saja Nggak Ada

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
20 Maret 2024
A A
Tukang Pijat Jalanan Jogja Sepi Pelanggan MOJOK.CO

Ilustrasi - Tukang pijat Jogja yang sepi pelanggan. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Mbah Sunardi (70) tengah duduk melamun sembari menyesap rokok saat saya melintas di jalanan depan Universitas Sanata Dharma (USD), Jogja. Malam itu, Sabtu (16/3/2024) saya sedang dalam perjalanan menuju Masjid Jendral Sudirman.

Saya belum pernah mendengar nama Mbah Sunardi sebelumnya. Saat melintas di depan USD, banner yang terpasang di sepeda tua Mbah Sunardi cukup mencolok, tertulis “Pijat Urut Jalanan” dengan beberapa informasi pelengkap lain. Hal itu membuat saya terpancing untuk mampir.

Karena sedikit terlewat, saya pun memutuskan putar balik untuk menghampiri Mbah Sunardi yang langsung menggelar alas tambahan dengan penuh semangat saat saya parkir motor di dekatnya. Mungkin ada perasaan lega saat melihat saya, karena akhirnya ada pelanggan yang bisa membuatnya tidak pulang dengan tangan hampa.

Tukang pijat Jogja yang seharian tak dapat pelanggan

“Sebenarnya sebentar lagi mau pulang, sudah nggak dapat pelanggan,” tutur Mbah Sunardi.

Mbah Sunardi sendiri mengayuh sepeda tuanya untuk mangkal di depan USD, Jogja sejak setelah buka puasa. Ia berangkat dari kosannya di Klebengan.

Iya, di usia rentanya, Mbah Sunardi mengaku tingal di kos-kosan bersama istrinya. Tak ada rumah milik sendiri. Anak-anak pun tak bisa ditumpangi.

Mbah Sunardi mengaku sudah menjadi tukang pijat sejak 1970-an. Namun masih pijat rumahan. Baru delapan atau sembilan tahun belakangan inilah Mbah Sunardi mencoba peruntungan menjadi tukang pijat jalanan di Jogja.

Tukang Pijat Jalanan Jogja Sepi Pelanggan MOJOK.CO
Mbah Sunardi, tukang pijat jalanan Jogja. (Aly Reza/Mojok.co)

Mbah Sunardi mengaku bisa memijat beragam keluhan, mulai dari keseleo, capek, dan lain-lain. Ilmu pijatnya itu ia warisi dari orang tuanya yang dulu juga berprofesi sebagai tukang pijat di daerah Papringan, Jogja.

“Dulu (awal-awal jadi tukang pijat jalanan Jogja) lumayan, tiga sampai lima orang dapat. Termasuk mahasiswa (USD, Jogja) juga ada,” ungkap Mbah Sunardi.

Saat ini Mbah Sunardi membagi jam kerjanya menjadi dua jam kerja. Pagi sampai sore ia akan buka praktik pijat di kosannya di Klebengan, Jogja. Lalu setelah Magrib sampai malam ia akan menjadi tukang pijat jalanan.

Selain itu, Mbah Sunardi juga menerima pijat panggilan. Ia bisa dipanggil pijat ke rumah pelanggan dengan menghubungi nomor yang tertera di spanduknya. Jika panggilan, maka ada tarif tambahan.

“Kalau motor kan uang bensin. Kalau saya istilahnya uang capek karena ngontel,” tuturnya.

Alasannya membagi jam kerjanya tersebut tidak lain untuk menambal kebutuhan sehari-hari. Kalau hanya salah satu saja tidak cukup, mengingat hasil dari menjadi tukang pijat di Jogja pun tak tentu.

Harga sudah murah tapi sering ditawar

“Tarif untuk pijat seluruh badan kan Rp70 ribu. Kalau bagian-bagian tertentu saja, ya bisa kurang. Bisa Rp30 ribu sampai Rp50 ribu” terang Mbah Sunardi.

Iklan

Akan tetapi, kata Mbah Sunardi, tak jarang ada orang yang minta pijat seluruh badan, tapi  masih menawar agar harganya tak sampai Rp70 ribu. Kata orang itu kemahalan.

Mbah Sunardi tak punya pilihan lain selain mengiayakan: menurunkan harga sesuai yang si pelanggan mau. Pikirnya, daripada pulang dengan tangan hampa lagi, sedikit-sedikit paling tidak ada rupiah yang bisa masuk kantong celananya.

Kalau perbandingannya dengan tukang-tukang pijat di Surabaya—yang pernah saya temui—harga yang Mbah Sunardi patok sebenarnya sudah cukup murah. Sebab, di Surabaya, pijat seluruh badan bisa di harga Rp100 ribu atau lebih sedikit.

Tak bisa bergantung pada anak

Dengan pendapatan sebagai tukang pijat jalanan Jogja yang tak tentu itu, kehidupan Mbah Sunardi tentu penuh dengan ketidakcukupan. Sehari-hari, mau tak mau Mbah Sunardi dan istri harus pintar-pintar membagi uang: mana buat makan, mana buat bayar kosan.

“Jadi makan ya semakan-makannya,” kata Mbah Sunardi.

Mbah Sunardi mengaku sebenarnya memiliki enam anak yang masing-masing sudah berkeluarga dan terpencar. Dari enam anaknya itu pula Mbah Sunardi sudah memiliki beberapa cucu.

Namun, Mbah Sunardi mengaku tak bisa jika bergantung uluran tangan atau bahkan numpang ke satu di antara enam anaknya tersebut. Meskipun usia dan fisik Mbah Sunardi beserta istri kian renta.

“Mereka hidupnya juga nggak lebih. Jadi kasian kalau saya bebani, kalau saya bergantung ke mereka,” tutur Mbah Sunardi. Oleh karena itu, selama masih kuat memijat dan mengayuh sepeda, Mbah Sunardi akan tetap bekerja sebagai tukang pijat di Jogja.

Tukang pijat Jogja yang bingung ngasih THR cucu

Selama Ramadan ini, Mbah Sunardi memang bertekad untuk terus mangkal mencari pelanggan. Pasalnya, ada pundi-pundi yang harus ia persiapkan untuk THR ke para cucu di momen lebaran nanti.

Meski sudah terpencar-pencar, kata Mbah Sunardi, anak-anaknya pasti akan berkumpul setiap momen lebaran. Di momen itupun Mbah Sunardi dan istri akan ikut kumpul.

Naluri seorang simbah setiap bertemu dengan cucu-cucunya, sekalipun sudah bukan anak-anak lagi, pasti selalu ingin memberi uang jajan. Dalam konteks lebaran ya sebut saja THR.

“Ya tapi ini setiap hari sepi, nggak ada yang pijat. Nggak tahu nanti bagaimana kalau mau kasih uang jajan ke cucu,” keluh Mbah Sunardi.

Saya sebenarnya masih ingin berbincang sedikit lebih lama dengan Mbah Sunardi. Sayangnya, tiba-tiba gerimis mengguyur Jogja malam itu. Mbah Sunardi pun bergegas meringkasi barang-barangnya untuk mencari tempat berteduh.

Tukang Pijat Jalanan Jogja Sepi Pelanggan MOJOK.CO
Mbah Sunardi, tukang pijat jalanan di Jogja. (Aly Reza/Mojok.co)

“Ujiannya kalau jadi tukang pijat jalanan ya hujan. Kalau sudah hujan, tinggal pulang walaupun nggak dapat uang” kata Mbah Sunardi.

Sesaat sebelum Mbah Sunardi mengayuh sepedanya, tiba-tiba ada sebuah mobil yang memepetnya. Mbah Sunardi tampak datar saja. Lalu, dari kaca jendela mobil itu, tampak seseorang mengulurkan lipatan uang yang sontak membuat raut wajah Mbah Sunadri berbincar bercampur kebingungan. Sesaat setelahnya, gerimis mulai merata di Jogja.

Reporter: Muchamad Aly Reza
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA: Terhina Saat Masuk Tunjungan Plaza Surabaya, Pegang Barang Mahal Langsung Disindir SPG Nggak Bakal Mampu Beli Gara-gara Tampang Ndeso

Ikuti artikel dan berita Mojok lainnya di Google News.

Terakhir diperbarui pada 20 Maret 2024 oleh

Tags: Jogjapilihan redaksitukang pijattukang pijat di jogjatukang pijat jalanan di jogja
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Mengajar di Wamena: Dari Perang Suku hingga Jalan Kaki 7 Hari demi Menjadi Sarjana
Esai

Mengajar di Wamena: Dari Perang Suku hingga Jalan Kaki 7 Hari demi Menjadi Sarjana

10 Juni 2026
Sanksi untuk Jagal Anjing di Daerah Istimewa Yogyakarta yang Tertunda Realisasinya. MOJOK.CO
Suara Bawah Tanah

Jalan Terjal Menghentikan Operasi Jagal Anjing karena Dianggap Kurang Penting

9 Juni 2026
Para Jagal Anjing di Jogja dan Mitos yang Terus Dipelihara.MOJOK.CO
Suara Bawah Tanah

Para Jagal Anjing di Jogja dan Mitos yang Terus Dipelihara

8 Juni 2026
Sisi Gelap Orang Tua Hebat: Hasilkan Generasi Rapuh yang Lembek Hadapi Kerasnya Dunia MOJOK.CO
Esai

Sisi Gelap Orang Tua Hebat: Hasilkan Generasi Rapuh yang Lembek Hadapi Kerasnya Dunia

8 Juni 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Rooftop kos kerap jadi tempat blangkrah, tapi jadi ruang healing terbaik bagi anak kos overthinking MOJOK.CO

Tinggal di Kos dengan Rooftop, Meski Kemproh tapi Jadi Tempat Healing Terbaik dari Tekanan Hidup yang Bisa bikin Gila

3 Juni 2026
Pesona Gerabah Lukis Khas Klaten di Festival Sepeda Internasional, Sukseskan Misi Kebudayaan yang Memukau Bule.MOJOK.CO

Pesona Gerabah Lukis Khas Klaten di Festival Sepeda Internasional, Sukseskan Misi Kebudayaan yang Memukau Bule

4 Juni 2026
pabrik semen, pracimantoro, wonogiri.MOJOK.CO

Babak Baru Perlawanan Warga Wonogiri Tolak Pabrik Semen di Pracimantoro, Bawa Ancaman Karst Gunungsewu ke Markas UNESCO

9 Juni 2026
Proyek pengelolaan sampah menjadi listrik (PSEL) Semarang Raya dilirik dunia MOJOK.CO

Proyek Sampah Jadi Listrik (PSEL) Semarang Raya Dilirik Dunia, Jadi Solusi Masa Depan Kota

5 Juni 2026
Sanksi untuk Jagal Anjing di Daerah Istimewa Yogyakarta yang Tertunda Realisasinya. MOJOK.CO

Jalan Terjal Menghentikan Operasi Jagal Anjing karena Dianggap Kurang Penting

9 Juni 2026
Salah paham terhadap paket intimate wedding di wedding organizer (WO) MOJOK.CO

Salah Paham pada Paket Intimate Wedding di WO: Dikira Tekan Biaya padahal Bisa Tetap Mahal, Karena Intimate dan Biaya Itu Dua Hal Berbeda

4 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.