Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Jalanan Surabaya Penuh Orang-Orang Serakah, Tak Ada Kata Ngalah untuk Orang-Orang Miskin dan Lemah

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
20 Maret 2024
A A
Bagi Takjil di Surabaya Ajang Unjuk Keserakahan MOJOK.CO

Ilustrasi bagi takjil di Surabaya. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Belakangan ini di media sosial muncul tren “rebutan takjil” antara saudara-saudara non-Islam vs teman-teman muslim. Namun, konteks tren tersebut tentu saja hanya sekadat candaan dan untuk seru-seruan di bulan Ramadan.

Beda dengan apa yang terjadi dalam setiap momen bagi takjil di Surabaya, di mana jatah orang-orang kelas bawah justru direbut oleh orang-orang bermobil yang serakah.

Iklan

***

Saya meminta seorang teman driver ojek online (ojol) di Surabaya, Dodik (25) untuk melintas di Jl. Ahmad Yani, tepatnya di sekitar Universitas Bhayangkara (UBARA) Surabaya di jam lima sore.

Ia pun menyanggupi. Sebab, sebagai driver ojol, sudah menjadi kebiasannya setiap sore selama Ramadan menyisir titik-titik tertentu di Surabaya untuk berburu takjil.

“Kalau bukber tetap ke masjid Jemursari belakang yang dekat Raja Angkringan,” ucap Dodik.

Masjid itu memang jadi jujukan mahasiswa UINSA, UNUSA, dan para driver ojol Surabaya setiap bulan Ramadan. Saya pun termasuk yang istikamah ke masjid tersebut setiap bulan Ramadan.

Pertama, menu takjil dan buka bersama di masjid tersebut lebih mewah ketimbang masjid-masjid sekitar. Kedua, menu bukber yang berupa nasi kotak pasti akan ada lebihnya. Sehingga lumayan lah buat dibawa ke kos, bisa buat makan malam atau sahur sekalian.

Sebab, masjid tersebut berada di tengah perumahan yang agak elite untuk ukuran Jemursari. Jadi, para jemaah yang merupakan warga perumahan memang tak akan ikut mengambil jatah nasi kota tersebut. Dengan kata lain, nasi kotak itu memang khusus untuk kaum-kaum seperti mahasiswa UINSA, UNUSA, dan para driver ojol.

Orang bermobil di Surabaya ikut rebutan takjil

“Waktu takjil dibagikan, pemotor-pemotor langsung merapat. Tapi ada juga sih orang bermobil yang ikutu nyahut, tapi satu dua aja. Nggak tahu driver (taksi online) juga atau nggak,” terang Dodik setelah sengaja berburu takjil di sekitaran Jl. Ahmad Yani, Surabaya, Senin (18/3/2024).

Sayangnya saya lupa berpesan agar Dodik mengabadikan momen rebutan takjil tersebut. Tapi, kata Dodik, kalau toh saya memintanya mengambil foto, ia pun pastinya tak akan sempat.

“Kamu sudah pengalaman, berburu takjil, bukber, atau nasi kotak Jumatan di Surabaya itu pasti berlangsung brutal,” kata Dodik saat kami berkirim pesan. “Mana sempat foto-foto. Malah nggak kebagian”.

Sebelum ke sekiataran Jl. Ahmad Yani, Surabaya, Dodik mengaku sempat muter ke beberapa titik yang biasanya jadi tempat bagi-bagi takjil. Kata Dodik, bagi-bagi takjil di titik lain itu pun juga tak kalah brutal di kalangan pengendara motor. Sementara untuk pengendara mobil memang tak terlalu.

“Tapi memang kadang ada orang bermobil yang ikut nyikat (takjil),” imbuhnya.

Iklan

Saya coba bandingkan dengan pengalaman saya sendiri selama kuliah di Surabaya sejak 2017. Sebagai mahasiswa dengan uang saku pas-pasan, jelas saja saya tak akan pernah absen untuk berburu takjil dan bukber gratis di masjid-masjid.

Dulu, dari jembatan penyeberangan UINSA, saya dan beberapa teman akan menyisir Jl. Ahmad Yani di sekitar UBARA. Dulu, dalam satu sore, bisa ada dua hingga tiga kelompok yang bagi-bagi takjil secara bergantian. Karena kebetulan daerah tersebut bisa dibilang merupakan kawasan perkantoran.

Setelah itu, barulah kami akan melipir ke sebuah masjid dekat situ (saya tak pernah tahu namanya sampai sekarang) untuk berburu bukber gratis. Mengingat, menu masjid tersebut masih lebih mewah lah ketimbang masjid-masjid di sekitar kos saya di Wonocolo, Surabaya.

Nah, dalam beberapa kali momen berburu takjil di Jl. Ahmad Yani itu, saya kerap kali mendapati dua sampai tiga mobil yang ikut berebut. Tak hanya satu orang, tapi kadang rombongan keluarga dalam mobil itu ikut turun untuk berebut takjil yang tengah dibagikan.

Apakah mereka benar-benar orang kaya? Saya tidak bisa memastikan. Tapi waktu itu, saya sempat mendengar seorang driver ojol mengeluh, “Wong tumpakane mobil kok melu rebutan takjil (Orang kendaraannya mobil kok ikut rebutan takjil)”.

Soal gratisan tak ada kata ngalah

Karena pengalaman berhadapan dengan brutalnya pekerja-pekerja di Surabaya setiap momen bagi-bagi takjil, saya dan teman-teman komunitas di Surabaya sempat membuat sasaran untuk bagi-bagi buka puasa secara spesifik.

Kami tak melapak di satu lokasi, tapi motoran menyisir sudut-sudut pinggiran Surabaya dengan banner kecil yang jelas-jelas bertuliskan “Khusus Tukang Becak dan Tukang Sampah”. Sebab, ketimbang ojol, secara penghasilan mereka tentu jauh lebih tidak pasti, dan mungkin menjadi orang yang paling sering berpuasa; jarang makan, sehari-hari bergelut dengan rasa lapar.

Setiap kali menemukan tukang becak atau pemulung, kami akan turun, lalu satu di antara kami akan membentangkan banner tersebut dengan harapan agar selain yang kami maksud dalam banner tersebut tidak mendekat.

Bagi Takjil di Surabaya Ajang Unjuk Keserakahan MOJOK.CO
Dokumentasi bagi takjil ke tukang becak pada Ramadan 2019. (Aly Reza/Mojok.co)

Tapi dalam praktiknya, sejak di jalanan, sudah ada beberapa orang—baik ojol maupun pengendara motor lain—melirik. Bahkan ada yang sengaja putar balik untuk membuntuti.

Lalu, belum juga kami menyerahkan nasi kotak pada tukang becak atau pemulung, para pengendara motor itu sudah langsung kalap menyerbu. Bentangan banner bertuliskan “Khusus Tukang Becak dan Tukang Sampah” pun terabaikan begitu saja.

Bagi takjil di Surabaya tak pernah kondusif

Cara bagi-bagi takjil seperti yang komunitas kami lakukan sepertinya tak terlalu banyak dipakai oleh mahasiswa-mahasiswa Surabaya. Oleh karena itu, saya mencoba mengulik cerita adik tingkat di sebuah UKM di kampus.

Sebenarnya UKM-nya sendiri masih belum melakukan kegiatan bagi-bagi takjil, alias masih dalam tahap perencanaan. Tapi, Usam (23), bukan nama sebenarnya, mencoba bercerita dari pengalaman Ramadan-Ramadan sebelumnya.

“Tapi kayaknya bahasa yang bagus bukan brutal, deh, tapi lebih ke antusias,” ujar Usam menjabarkan kondisi saat UKM-nya bagi-bagi takjil di Ramadan-Ramadan yang lalu.

“Ya karena antusiasmenya besar, jadinya saling berebutan satu sama lain,” sambungnya.

Bagi Takjil di Surabaya Ajang Unjuk Keserakahan MOJOK.CO
Dokumentasi bagi takjil di Surabaya pada Ramadan 2019. (Aly Reza/Mojok.co)

Usam mengaku mafhum jika memang kondisi bagi-bagi takjil di Surabaya sering kali tak berjalan kondusif. Sebab, rata-rata orang yang melintas adalah perantau dan kelas pekerja, yang bisa jadi uangnya pas-pasan. Sehingga, mereka tak mau ketinggalan tiap ada gratisan.

“Pernah juga nemu orang bermobil ikut rebutan. Sebenarnya nggak apa-apa. Cuma, apa ya mentolo (tega), sudahlah nggak kepanasan karena naik mobil, tapi ikut rebutan takjil sama ojol-ojol yang seharian kepanasan,” ujar Usam. Karena memang panasnya Surabaya di setiap Ramadan seolah bertambah berkali-kali lipat. Bener-bener menyengat.

Reporter: Muchamad Aly Reza
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA: Suasana Stasiun Wonokromo Surabaya Bikin Risih, Kursi Tunggu Penumpang Jadi Tempat Muda-mudi Bermesraan Tak Tahu Malu

Ikuti artikel dan berita Mojok lainnya di Google News.

Terakhir diperbarui pada 20 Maret 2024 oleh

Tags: bagi takjilbukberJawa TimurJl. Ahmad Yani Surabayamasjid di surabayapilihan redaksiSurabaya
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Curhat kasir Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih di jalanan desa sepi. Sepi pembeli, sekali ada pembeli bukan karena butuh tapi iseng dan bikin kesel MOJOK.CO
Sehari-hari

Derita Kasir Kopdes di Desa Pelosok: Hari-hari Sepi, Pembeli Datang Bukan karena Kebutuhan tapi Sengaja Bikin Kesal

21 Juli 2026
Cari kerja, lamaran kerja, Mahasiswa gap year kuliah di Unila. MOJOK.CO
Sehari-hari

Kesalahan Bikin CV dan Hal-Hal Sepele Lain yang Justru Bikin Jobseeker Ditolak Saat Melamar Kerja

16 Juli 2026
cari kerja, UGM.MOJOK.CO
Sehari-hari

300 Lamaran Kerja Ditolak, Lulusan UGM Pilih “Turunkan Standard”: Sadar Bursa Kerja Sedang Tak Baik-Baik Saja

15 Juli 2026
Derita Orang Rembang, Makan Mie Gacoan Harus ke Tuban MOJOK.CO
Catatan

Makan Mie Gacoan adalah Kemewahan bagi Anak Muda Desa, Rela Motoran 2 Jam Demi Makanan yang “Menyiksa” Mulut Mereka

14 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pemuda lulusan SMK tidak menyerah mencari kerja dengan modal ijazah SMK demi orang tua MOJOK.CO

Modal Ijazah SMK dan Pengalaman Tak Nyerah Cari Kerja demi Orang Tua, Meski Sering Terima “Penolakan” karena Fisik

21 Juli 2026
Kita Membeli Sabun karena Wanginya, Bukan karena Tahu Kandungannya MOJOK.CO

Kita Membeli Sabun karena Wanginya, Bukan karena Tahu Kandungannya

18 Juli 2026
cari kerja, UGM.MOJOK.CO

300 Lamaran Kerja Ditolak, Lulusan UGM Pilih “Turunkan Standard”: Sadar Bursa Kerja Sedang Tak Baik-Baik Saja

15 Juli 2026
Milenial di Job Fair Yogyakarta 2026 cari peluang kerja di luar negeri. MOJOK.CO

Muak dengan Syarat Kerja di Indonesia: Gaji Numpang Lewat hingga Terbatas Usia, Milenial Pilih Cari Kerja ke Luar Negeri

16 Juli 2026
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi tuan rumah “1st Asian Gym for Life Challenge 2026” 1. MOJOK.CO

Jogja Jadi Tuan Rumah Lomba Gym se-Asia usai Thailand Mundur, Semua Kalangan Bebas Ikut Tanpa Beban Menang-Kalah

20 Juli 2026
Kerajinan lokal Yogyakarta di INACRAFT. MOJOK.CO

INACRAFT Jogja: Jembatan bagi Perajin Lokal Menembus Pasar Global Lewat Karya yang Tak Biasa

15 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.