Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sosok

Profesi Relawan Menyadarkan Saya Pentingnya Kata Selamat Tinggal dan Terima Kasih di Kehidupan yang “Chaos”

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
18 Juli 2025
A A
Alumnus Jurusan Keperawatan kerja menjadi relawan PMI Kota Surabaya. MOJOK.CO

Hari-hari menjadi relawan PMI. (Sumber: Dok. Pribadi)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Di tengah terpaan isu minimnya lapangan kerja, Putra (24) bersyukur bisa menjadi relawan di Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Surabaya. Padahal, sebelumnya ia sempat terpuruk karena gagal menjadi dokter dan masuk Jurusan Keperawatan.

Gagal masuk kedokteran

Tak pernah terbayang dalam pikiran Putra (24) untuk kuliah di Jurusan Keperawatan. Lebih-lebih, karena stigma terhadap laki-laki yang menjadi seorang perawat. Sebagian masyarakat menganggap jurusan ini hanya cocok untuk perempuan karena tugas-tugasnya bersifat keibuan. 

Sementara itu, Putra sebetulnya ingin masuk Jurusan Kedokteran, tapi bisa dibilang ia sudah salah jurusan sejak masuk SMA. Alih-alih masuk kelas golongan IPA, ia malah memilih jurusan IPS. Waktu itu, ia masih tidak tahu bahwa keputusannya itu akan memengaruhi jalan kariernya.

Seiring berjalannya waktu, ternyata keinginannya menjadi dokter terus tumbuh. Namun, karena terhalang jurusan ia pun banting setir ke perawat. 

“Salah satu pilihan agar saya bisa mengabdikan diri di dunia kesehatan yang memegang pasien secara langsung yakni dengan menjadi perawat,” ujar Putra saat dihubungi Mojok, Rabu (16/7/2025).

Putra. MOJOK.CO
Putra (24) menjadi relawan di PMI Kota Surabaya. (Sumber: Dok. Pribadi)

Oleh karena itu, setelah lulus SMA Putra memilih beralih dan memantapkan hati dengan kuliah di Jurusan Keperawatan. Selanjutnya, Putra aktif menjadi relawan di bidang kemanusiaan usai lulus dari program profesi. 

Aktif menjadi relawan PMI Kota Surabaya

Selama menjalani kegiatan sebagai relawan di PMI Kota Surabaya sejak tahun 2019, Putra banyak mengalami kejadian yang mengharukan. Ia pernah menjadi crew ambulance, koordinator forum relawan, dan komandan markas. 

Tapi, salah satu tugas yang bikin Putra nagih adalah saat bekerja sebagai crew ambulance. Di mana ia harus memberikan layanan akibat kecelakaan lalu lintas, kebakaran, darurat medis, dan evakuasi jenazah.

PMI sendiri sudah tergabung dengan Command Center 112 Pemerintah Kota Surabaya. Jasa layanan itu pernah meraih penghargaan sebagai kabupaten/kota dengan layanan call center 112 terbaik di tahun 2023.

Sedangkan, sebagian orang menganggap kegiatan relawan bukan termasuk pekerjaan. Padahal, kata Putra, relawan tetaplah pekerjaan bahkan masih sama mulianya dengan profesi dokter.

“Kegiatan seorang relawan ini sudah seperti pekerjaan ahli, tapi bedanya tidak ada jaminan untuk mendapat upah,” ujar Putra.

Ditolak kerja di banyak instansi

Hanya saja, Putra tetaplah orang yang realistis. Siapa di dunia ini yang tidak butuh uang? Maka dari itu, dengan banyaknya pengalaman sebagai relawan di PMI, Putra mulai melamar pekerjaan resmi. 

Setidaknya, pekerjaan yang masih liner dengan bidangnya di Jurusan Keperawatan yakni menjadi ners. Tentu saja jalannya tak mudah. Putra mengaku banyak tantangan yang harus ia hadapi saat proses melamar kerja.

Sama seperti para pecari kerja pada umumnya, Putra harus menyebar jala ke banyak rumah sakit maupun instansi kesehatan seperti Jasamarga. Meski mendapat banyak penolakan, Putra tak ingin menyerah dengan mencari kerja sesuai bidangnya di Jurusan Keperawatan.

Iklan
Kerja menjadi relawan. MOJOK.CO
Relawan PMI kerja tak kenal waktu. (Sumber: Dok.Pribadi)

“Dari sekian banyak lamaran yang aku kirim, salah satu rumah sakit swasta di Surabaya memanggilku untuk proses walk in interview. Dan alhamdulillah aku keterima kerja di bagian kamar operasi,” kata Putra.

Bagai kacang tak lupa kulitnya, walaupun ia sudah diterima kerja, Putra tetap menyempatkan waktunya agar aktif di PMI Kota Surabaya sebagai relawan. 

Beratnya menjadi relawan PMI

Putra tak mengelak jika hari-harinya bekerja sekaligus menjadi relawan terasa berat. Ia harus mengesampingkan lelahnya secara fisik maupun mental, menahan terik panas matahari Surabaya yang bikin kepala pusing, hingga kesulitan melakukan mediasi saat terjadi masalah.

Namun, masalah-masalah di atas tak jauh lebih berat ketimbangkan Salah satu masalah terberat yang harus ia hadapi sehari-hari adalah menyampaikan kabar duka kepada keluarga, kala pasien yang ia tangani tak bisa terselamatkan. 

“Bukan mengucapkan katanya yang berat, tapi ketika melihat respon keluarga pasien secara langsung. Rasanya pilu,” kata alumnus Jurusan Keperawatan itu. 

Meski begitu, masih ada hari-hari di mana ia menjumpai banyak kasus-kasus lucu. Tak sedikit pula cerita haru yang membuatnya terenyuh.

“Di balik banyaknya suka duka yang saya alami, mungkin hal paling berkesan adalah saat orang yang kami tolong mengucapkan ‘terima kasih’ dengan tulus. Hal-hal berat yang saya alami baik saat bekerja maupun menjadi relawan rasanya seketika hilang.” kata Putra. 

Jika dulu Putra pernah bersedih karena gagal menjadi dokter dan harus kuliah di Jurusan Keperawatan, kini ia malah bersyukur karena masih bisa membantu orang lain. Setidaknya, ia masih bisa memberikan manfaat untuk orang-orang di sekitarnya.

Penulisan: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Profesi Bidan Membuat Saya Berpikir bahwa Hidup Tidak Adil, tapi Selalu Ada Alasan di Baliknya atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan.

Terakhir diperbarui pada 21 Juli 2025 oleh

Tags: 112call centerJurusan KeperawatanPMIrelawanSurabaya
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Salah kaprah pada orang yang kerja di Surabaya. Dikira gaji besar dan biaya hidup murah MOJOK.CO
Urban

Salah Kaprah tentang Kerja di Surabaya, “Tipuan” Gaji Tinggi dan Kenyamanan padahal Harus Tahan-tahan dengan Penderitaan

4 Februari 2026
Ribuan istri di Surabaya minta cerai. MOJOK.CO
Ragam

Perempuan Surabaya Beramai-ramai Ceraikan Suami, karena Cinta Tak Lagi Cukup Membayar Tagihan Hidup

30 Januari 2026
Kesedihan perantau yang merantau lama di Surabaya dan Jakarta. Perantauan terasa sia-sia karena gagal menghidupi orang tua MOJOK.CO
Ragam

Rasa Gagal dan Bersalah Para Perantau: Merantau Lama tapi Tak Ada Hasilnya, Tak Sanggup Bantu Ortu Malah Biarkan Mereka Bekerja di Usia Tua

29 Januari 2026
Orang Madura sudah banyak kena stigma buruk di Surabaya dan Jogja. Terselamatkan berkat dua hal MOJOK.CO
Ragam

2 Hal Sederhana yang Selamatkan Wajah Madura Kami dari Stigma Buruk Maling Besi, Penadah Motor Curian, hingga Tukang Pungli

28 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jogja City Mall, Sleman bikin orang nyasar. MOJOK.CO

Megahnya Jogja City Mall Bergaya Romawi dengan Filosofi Keberuntungan, Nyatanya Makin Menyesatkan Orang “Buta Arah” Seperti Saya

3 Februari 2026
Tak Mau Jadi Beban Orang Tua, Mahasiswa Psikologi UGM Pilih Kuliah Sambil Ngojol untuk Bayar UKT MOJOK.CO

Tak Mau Jadi Beban Orang Tua, Mahasiswa Psikologi UGM Pilih Kuliah Sambil Ngojol untuk Bayar UKT

2 Februari 2026
Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

31 Januari 2026
FOMO Finansial: Akhir Bulan yang Cemas Karena Gaji Tak Cukup dan Rayuan Berinvestasi MOJOK.CO

FOMO Finansial: Akhir Bulan yang Cemas karena Gaji Tak Cukup dan Rayuan Berinvestasi

2 Februari 2026
Salah kaprah pada orang yang kerja di Surabaya. Dikira gaji besar dan biaya hidup murah MOJOK.CO

Salah Kaprah tentang Kerja di Surabaya, “Tipuan” Gaji Tinggi dan Kenyamanan padahal Harus Tahan-tahan dengan Penderitaan

4 Februari 2026
Sarjana pegasuh anak, panti asuhan Muhammadiyah di Surabaya. MOJOK.CO

Lulusan Sarjana Nekat Jadi Pengasuh Anak karena Susah Dapat Kerja, Kini Malah Dapat Upah 450 Ribu per Jam

5 Februari 2026

Video Terbaru

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

4 Februari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

3 Februari 2026
Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

31 Januari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.