Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Kampus

Profesi Bidan Membuat Saya Berpikir bahwa Hidup Tidak Adil, tapi Selalu Ada Alasan di Baliknya

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
14 Maret 2025
A A
Jurusan Kebidanan Unair. MOJOK.CO

ilustrasi - mahasiswa kebidanan Unair. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Rahma Ananda (24) tak pernah menyangka kuliah di Jurusan Kebidanan Universitas Ailrangga (Unair) membuatnya lebih bermakna dalam menjalani hidup. Mulanya, ia mengira jurusan tersebut hanya belajar seputar kehamilan, proses melahirkan, dan program Keluarga Bencana (KB). Namun, lebih dari itu, selalu ada kondisi yang membuatnya terenyuh dari profesi bidan.

***

Iklan

Sejak kecil, Rahma punya keinginan menjadi dokter. Maka, saat duduk di bangku SMP hingga SMA ia aktif mengikuti ekstrakurikuler Palang Merah Remaja (PMR). Namun, semakin mendalami ilmu kesehatan, ia justru tidak percaya diri dengan kemampuannya.

Belum lagi, tekanan ekonomi membuat keinginannya menjadi dokter perlahan-lahan memudar. Alih-alih menyerah, Rahma nekat mendaftar SBMPTN di jurusan tersebut. Sayangnya, ia gagal karena nilainya tidak mencukupi. 

“Dari sana, aku makin nggak percaya diri. Bingung mau pilih jurusan apa,” kata Rahma saat dihubungi Mojok, Kamis (13/3/2025).

Setelah gagal SBMPTN, pilihannya hanya ada dua yakni ikut jalur Mandiri atau gapyear sembari bekerja. Akhirnya, ia memilih mengikuti jalur Mandiri di Unair dan berhasil diterima.

“Kebetulan waktu itu Mandiri yang ditawarkan masih bisa ikut bidikmisi, tapi penawaran jurusannya lebih sedikit,” kata dia.

Rahma kemudian mendapat penawaran Jurusan Keperawatan atau Kebidanan di Fakultas Kedokteran Unair, karena waktu daftar bidikmisi ia mencantumkan banyak sertifikat hasil dari lomba-lomba PMR. Akhirnya, ia pun memilih Jurusan Kebidanan dengan pertimbangan bisa membuka praktik mandiri setelah lulus.

Kuliah Kebidanan Unair jadwalnya padat

Tahun pertama memasuki kuliah tahun 2019, Rahma tak langsung belajar tentang kehamilan hingga persalinan. Namun, ia harus mempelajari anatomi, fisiologi, biokimia, mikrobiologi, farmakologi, dan sebagainya.

Tak lama kemudian, Covid-19 melanda dunia yang akhirnya membuat Rahma dan mahasiswa lainnya lebih banyak belajar secara online. Padahal, ada banyak praktik yang harus ia lakukan, seperti praktik langsung dengan pasien. 

Pada akhirnya, mereka baru bisa melakukan praktik di awal semester 6. Itu pun masih tergolong praktik dasar, seperti infus, kateter, dan melahirkan. 

“Praktik pertama kerasa kagok banget. Aku pun sempat susah adaptasi di tempat praktik tapi untungnya tenaga kesehatan di sana dan para dosen kami tuh memaklumi. Jadi lebih banyak dibimbing,” tuturnya.

Iklan

Namun, yang lebih berat dari itu sebetulnya saat ia menjalani pendidikan profesi. Mengingat profesi konsepnya kerja tak dibayar dan harus masuk sesuai shift, Rahma mengaku jadi kesulitan mengatur waktu.

Ia harus menyesuaikan jam kerja serta praktik ke pasien. Jika senggang, ia harus menyelesaikan laporan kasus sebab Unair sendiri punya target per kompetensi. Rahma harus membuat makalah individu maupun kelompok, hingga mengikuti penyuluhan di puskesmas.

“Sehari-hari tuh repeat, kayak jaga, pulang, kerjain laporan, tidur. Jadi waktu istirahat tuh minim, jam tidur pun nggak karuan karena kerja sesuai shift,” ujarnya.

Bidan merupakan profesi mulia

Suatu hari, Rahma akhirnya ikut terlibat langsung membantu proses persalinan seorang ibu yang akan melahirkan di salah satu puskesmas, tempat ia menjalani pendidikan profesi. Di momen itu, ia melihat langsung perjuangan seorang ibu melahirkan bayinya. Ia tak bisa membayangkan kesulitan dan kekhawatiran yang dihadapi keduanya saat berada di ambang hidup dan mati.

“Belum lagi kalau habis melahirkan, ibunya ada pendarahan. Kalau nggak cepat ditanganin, taruhannya nyawa,” kata Rahma.

Perasaan lega baru muncul ketika Rahma berhasil menolong ibu dan bayinya. Tak sampai di situ, Rahma juga pernah praktik langsung di ruang Neonatal Intensive Care Unit (NICU). Sebuah ruangan perawatan intensif untuk bayi baru lahir yang memerlukan penanganan khusus.

“Di sana aku melihat banyak bayi yang prematur, lebih kecil dari bayi lainnya. Lalu bayi tanpa tempurung kepala, hingga bayi yang kesulitan bernafas,” kata dia.

Tak ayal, momen itu menguras emosinya sebab ada perasaan sedih yang berkecamuk. Setelah melihat perjuangan seorang ibu dalam proses persalinan, ia harus melihat perjuangan bayi yang bertahan dan berusaha hidup dengan melawan penyakit. 

“Selama praktik di sana aku sering merasa dunia tuh nggak adil sama bayi-bayi ini. Mereka barusan banget lahir, tapi kenapa kudu berjuang sekeras itu bahkan lebih keras daripada orang dewasa,” ujar mahasiswa Unair tersebut.

Prospek kerja Jurusan Kebidanan Unair

Meski melelahkan dan rasanya hampir menyerah, Rahma tetap ingin menjadi bidan. Selain karena memang sudah 6 tahun berada di bidang tersebut, ia merasa perjalanannya jadi penuh makna.

“Bidan kan mempelajari perempuan jadi kayak mempelajari aku sendiri. Kedepannya, aku juga ingin mengajak perempuan lebih peduli dengan dirinya, menghargai dirinya, dan mendapatkan haknya,” ucap Rahma. 

Selain itu, profesi bidan membuatnya jadi lebih belajar banyak hal seputar bayi baru lahir, balita, prasekolah, hingga remaja. Bahkan, calon pengantin, hamil, melahirkan, nifas, menyusui, KB hingga fase menopause. Semua itu seperti siklus kehidupan yang patut disyukuri.

Selain itu, seorang bidan juga wajib belajar dari cara mencegah sampai tata laksana. Walaupun mereka tidak boleh memberikan obat, tapi tetap harus tahu keluhan yang dialami oleh pasien. Apakah keluhan pasien tersebut normal atau sudah termasuk gawat dan butuh dirujuk.

“Kita juga belajar bagaimana cara berkomunikasi ke pasien hingga budaya atau kepercayaan tentang kesehatan di masyarakat,” ucap mahasiswa Unair tersebut.

Oleh karena itu, seorang lulusan bidan bisa menjadi care provider, communicator, manager, decision maker, dan community leader. 

Kalaupun tak jadi bidan di puskesmas atau rumah sakit, mereka bisa jadi konselor, membuka tempat praktik mandiri bidan (TPMB), atau jadi penasihat kesehatan di suatu wilayah, lalu kerja di pemerintahan, menjadi dosen, peneliti, membuka spa bayi, content creator, dan sebagainya.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Jurusan Pengobat Tradisional di Unair, Kuliahnya Nggak Hanya Bikin Jamu atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan.

Terakhir diperbarui pada 25 November 2025 oleh

Tags: FK Unairjurusan paling diminatijurusan paling susah di UNAIRKebidanankedokteran
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Susahnya cari kerja sebagai fresh graduate Unair. MOJOK.CO

Kuliah Kebidanan sampai “Berdarah-darah”, Lulus dari World Class University Masih Sulit Cari Kerja dan Diupah Nggak Layak

7 April 2026
Jurusan Kebidanan Unair tolong saya dari kekecewaan gagal kuliah di Kedokteran. MOJOK.CO

Tinggalkan Mimpi Jadi Dokter karena Merasa Bodoh dan Miskin, Lulus dari Jurusan Kebidanan Unair Malah Bikin Hidup Lebih Bermakna

6 April 2026
perawat.mojok.co

Perawat, “Pahlawan Kemanusiaan” yang Tak Dimanusiakan: Beban Kerja Selangit, Gaji Sulit

6 Oktober 2025
Sastra Indonesia Hanya untuk Pecundang dan Orang Gagal (Unsplash)

Kuliah Sastra Indonesia Katanya Hanya untuk Pecundang, Isinya Orang Gagal, tapi Kalau Nggak Punya Mental Jadi Orang Gagal Beneran

26 Juni 2025
Lulusan Ilmu Komunikasi.MOJOK.CO

Penyesalan Alumni Ilmu Komunikasi Unair, Kuliahnya Susah, Masih Sulit Cari Kerja

4 Desember 2024
Mereka Kuliah di Jurusan Teknik Informatika dan Kedokteran Tapi Akreditasinya C dan Menyesal! Ijazah Tak Ada Harganya.MOJOK.CO

Saya Kuliah di Jurusan Elite Tapi Akreditasinya C, dan Saya Menyesal! Ijazah Kedokteran dan TI pun Tak Ada Harganya

18 Juni 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

buku siswa sekolah.MOJOK.CO

Jangan Jadikan Pergantian Buku Pelajaran sebagai Proyek Politik Tahunan 

10 Agustus 2026
Tinggal di kos dekat kampus niat cari kemudahan di awal menjadi mahasiswa baru (maba), malah jadi pemicu konflik sosial yang merepotkan diri sendiri MOJOK.CO

Kos Dekat Kampus Memang Beri Kemudahan, Tapi Jadi Pemicu Rangkaian Konflik Sosial yang Merepotkan Diri Sendiri

10 Agustus 2026
ngaji al-qur'an.MOJOK.CO

Promosi Miras Pakai Hafalan Al-Qur’an: Diklaim Lecehkan Agama, Berpotensi Mengulang Blunder Hollywings 

11 Agustus 2026
Beban ekspektasi orang desa di Rembang yang merantau kerja di luar negeri: dipandang kalau bisa menggelar dangdutan setiap tahun MOJOK.CO

Beban Pemuda Desa Kerja di Luar Negeri: Demi Dipandang Harus Gelar Dangdutan Tiap Tahun buat Hibur Warga

12 Agustus 2026
Tinggal di Belanda 21 tahun, akhirnya menyerah jadi WNI dengan jalur naturalisasi kewarganegaraan. MOJOK.CO

Menyesal Jadi WNI Setelah 21 Tahun Tinggal di Belanda, Ternyata Pindah Kewarganegaraan Itu Mudah

14 Agustus 2026
Apem ya qowiyyu: kue apem khas Jatinom Klaten berusia 400 tahun. Bukan sekadar warisan kuliner tradisional tapi simbol kesalehan sosial MOJOK.CO

Apem Ya Qowiyyu: Kue Khas Jatinom Klaten Berusia 400 Tahun, Bukan Semata Warisan Kuliner tapi Kesalehan Sosial

10 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.