Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sosok

Sate Kere Merbung di Klaten: Warisan Terakhir Ibu yang Menyelamatkan Saya dan Keluarga dari Jurang PHK

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
16 Maret 2026
A A
Pedagang sate kere di Kampung Ramadan Masjid Mlinjon Klaten. MOJOK.CO

ilustrasi - pedagang sate kere Misinem (Purnomo). (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

“Ojo ngeluh, sing penting jujur,” kata salah satu pedagang Sate Kere Bu Misinem Merbung di Kampung Ramadan Masjid Mlinjon, Klaten.

***

Pedagang Sate Kere Bu Misinem Merbung itu bernama Purnomo Santoso (43), sedangkan Misinem adalah nama ibunya yang telah meninggal 3 tahun yang lalu. Kalimat ‘ojo ngeluh, sing penting jujur’ yang artinya, jangan mengeluh yang penting jujur, merupakan pesan ibunya yang bakal terus Purnomo kenang dan ia terapkan di kehidupan sehari-hari.

Purnomo adalah satu dari ratusan pelaku UMKM di Pasar Ramadan Masjid Mlinjon, Klaten. Berbeda dengan pedagang lainnya yang kebanyakan menjual jajanan Korea, Purnomo justru eksis dengan kuliner sate kere-nya. 

Laki-laki asal Klaten ini mengaku, baru 3 tahun ini ikut meramaikan Kampung Ramadan Masjid Mlinjon, padahal acara itu sendiri sudah digelar sejak tahun 2010 di sekitar jalan area masjid sepanjang 400 meter. 

Sedangkan satu tahun sebelumnya, yakni 2009, Misinem baru berjualan sate kere di sekitar rumah. Sebuah kuliner khas Jawa Tengah yang terbuat dari tempe gembus (ampas tahu) dan jeroan sapi.

“Saya sama adik saya ini menggantikan ibu yang baru meninggal tahun 2022 kemarin,” kata Purnomo sembari membolak-balikkan sate di bakaran, sementara adik perempuannya sibuk membumbui.

“Sate Kere Bu Misinem Merbung” kesukaan warga Klaten

Sejak pukul 16.30 WIB, pelanggan Purnomo di Kampung Ramadan Masjid Mlinjon, Klaten tak pernah sepi. Beberapa pembeli tampak mengantre mulai dari yang tua hingga anak-anak. Bahkan ada yang pesan lebih dulu dan meninggalkan lapak Purnomo untuk melihat-lihat kuliner lainnya, sembari menunggu pesanannya jadi.

Purnomo mengaku tidak punya resep macam-macam agar sate kere-nya disukai banyak orang. Semua itu berasal dari resep bumbu yang diracik oleh almarhum ibunya. Perlahan-lahan, Purnomo pun mempelajari usaha tersebut bersama adik bungsunya.

“Saya sejak SMP itu sudah ikut ibu jualan jadi nggak terlalu susah buat meneruskan jualan ibu,” kata Purnomo.

Sate kere. MOJOK.CO
Sate seafood bakar. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Selain sate kere, Purnomo juga menambahkan aneka seafood frozen seperti dumpling cheese, chikuwa, maupun sosis, tahu, dan bakso. 

“Biar variasi. Soalnya kan kadang ada yang nggak suka jeroan, terutama anak-anak,” jelas Purnomo.

Satu porsi satenya dia patok harga Rp10 ribu berisi 8 tusuk. Untuk sate kere per tusuknya ia beri harga Rp2.500. Purnomo mengaku angka ini tidak pernah berubah setelah ibunya meninggal maupun saat harga daging naik.

“Saya nggak tega sama pelanggan ibu kalau dinaikkan,” kata Purnomo.

Iklan

Baca Halaman Selanjutnya

Motor warisan dan meninggalnya Misinem…

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 17 Maret 2026 oleh

Tags: berburu takjilkampung ramadankampung ramadan klatenklatenkuliner jawa tengahmasjid mlinjonsate kere
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Petani di Delanggu, Klaten maju berkat sistem permakultur. MOJOK.CO
Lipsus

Belajar Bertani dari Dasar, Akhirnya Hidupkan Ketahanan Pangan dari Lahan Kosong di Delanggu Klaten

6 Mei 2026
Klaten International Cycling Festival (KLIC Fest) 2026 undang pecinta sepeda dari seluruh negeri hingga internasional MOJOK.CO
Kilas

Klaten International Cycling Festival 2026: Gowes Asyik Sepeda Klasik di Klaten bareng Pencinta Sepeda Mancanegara

28 April 2026
Merawat Nilai Luhur di Dalam Candi Plaosan agar Tak Memudar Seiring Zaman Mojok.co
Lipsus

Merawat Nilai Luhur di Dalam Candi Plaosan agar Tak Memudar Seiring Zaman

27 April 2026
Menikmati Kenyamanan di Candi Plaosan, Hidden Gem Klaten dengan Nuansa Magis nan Elok untuk Healing Mojok.co
Lipsus

Menikmati Kenyamanan di Candi Plaosan, Hidden Gem Klaten dengan Nuansa Magis nan Elok untuk Healing

24 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Catatan Lulusan S2 yang Jadi Driver Maxim: Mempraktikkan Ilmu Pemerintahan Tanpa Birokrasi MOJOK.CO

Catatan Lulusan S2 yang Jadi Driver Maxim: Mempraktikkan Ilmu Pemerintahan Tanpa Birokrasi

13 Mei 2026
Efek rutin olahraga gym, dulu dihina gendut dan jelek kini banyak yang mendekat MOJOK.CO

Efek Gym: Dari Dihina “Babi” karena Gendut dan Jelek bikin Lawan Jenis Gampang Mendekat, Tapi Tetap Sulit Nemu yang Tulus

11 Mei 2026
Tongkrongan bapak-bapak, nongkrong.MOJOK.CO

Tongkrongan Bapak-Bapak di Desa: Obrolan Sering Ngawur, Kadang Nggak Berfaedah, tapi Saya Harus Gabung demi “Harga Diri” Keluarga

11 Mei 2026
Ironi jadi orang tunawicara (bisu) di desa, disamakan seperti orang gila MOJOK.CO

Ironi Orang Tunawicara (Bisu) di Desa: Dianggap Gila, Punya Otak Cerdas Tetap Dianggap Tak Bisa Mikir Hanya karena Sulit Bicara

15 Mei 2026
bapak-bapak nongkrong.MOJOK.CO

Setelah Punya Anak Sadar “Nongkrong Basi-Basi” Itu Nggak Guna: Rela Dicap Suami Takut Istri, karena Urusan Keluarga Memang di Atas Segalanya

11 Mei 2026
Kopi starling dan kopi keliling: cuma Rp5 ribu tapi beri suntikan kekuatan pekerja kantoran di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan (Jaksel) untuk survive kerja tanpa Work Life Balance MOJOK.CO

Kopi Starling Cuma 5 Ribu tapi Beri Kekuatan Pekerja Jaksel Survive Tanpa Work Life Balance, Ketimbang 50 Ribu di Coffee Shop Elite

14 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.