Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sosok

Selepas Kehilangan Kedua Orang Tua, Berlabuh ke Surabaya dan Meraih Gelar Sarjana

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
4 Maret 2025
A A
Perantau asal Tulungagung lulus sarjana di Universitas Muhammadiyah Surabaya. MOJOK.CO

Azmi Izuddin lulus wisuda di Universitas Muhammadiyah Surabaya. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Azmi Izuddin (25) kehilangan kedua orang tuanya saat remaja. Laki-laki asal Tulungagung itu kemudian pindah ke Surabaya untuk menyambung hidup dan tinggal di salah satu panti asuhan Muhammadiyah. Dari sana, ia mulai mendapat kebermaknaan hidup.

***

Saat duduk di bangku kelas 6 SD, Azmi hanya bisa termenung ketika keluarganya mendapat informasi jika ayahnya tiada. Ketika itu ia belum paham betul tentang kematian, tapi menginjak dewasa ia jadi tahu jika ayahnya mengidap sakit yang parah seperti darah rendah. Karena kelelahan, ayahnya mengalami gejala struk ringan hingga meninggal.

Setelah itu, ibu Azmi harus berjuang sendirian menghidupi keluarganya. Bagi ibu tunggal yang memiliki tiga orang anak, kondisi tersebut tentu tak mudah. Mau tak mau, ibu Azmi harus merelakan anak bungsunya, yakni Azmi untuk merantau ke Surabaya dan tinggal di panti asuhan. 

“Ayahku sempat komunikasi dengan salah satu panti asuhan yang ada di Surabaya, tapi nggak sampai satu bulan, ayahku wafat. Sepertinya beliau memang punya firasat,” kata Azmi saat dihubungi Mojok, Selasa (4/3/2025).

Jujur saja, sebagai anak bungsu ia pernah mendapatkan momen dimanja dan dihujani kasih sayang. Oleh karena itu, ia sedikit terkejut saat mendengar pilihan orang tuanya yang ingin Azmi merantau diusianya yang masih belia. Mulanya, Azmi memang terpaksa, tapi ia pun tak bisa mengelak. Namun, setelah menjalaninya, ia mengaku tak menyesal tinggal di Surabaya karena bisa menempa diri di sana.

Sendiri dari Tulungagung ke Surabaya saat belia

Azmi berangkat ke Surabaya tahun 2012 dan langsung merujuk ke Panti Asuhan Muhammadiyah, Genteng, pilihan ayahnya. Kemudian, ia mendaftar sebagai siswa SMP. 

Panti Asuhan Muhammadiyah, Genteng, Surabaya. MOJOK.CO
Azmi bersama anak-anak panti asuhan Muhammadiyah. (Dok.Pribadi)

Pertama kali tiba di Surabaya, Azmi tak terbiasa dengan cuaca panasnya. Berbanding terbalik dengan suasana di desanya, Tulungagung. Belum lagi soal perbedaan bahasa. Walaupun sama-sama menggunakan bahasa Jawa Timur, Azmi merasa bahasa di Surabaya lebih kasar. 

Selain itu, masa remaja membuat hatinya berkecamuk. Banyak hal yang harus ia hadapi setelah ayahnya meninggal. Azmi merasa terpaksa keluar dari daerah asalnya dan harus berpisah dengan ibu serta dua orang kakaknya.

“Awal-awalnya memang tidak kerasan, tapi ketika hidup di Surabaya ternyata banyak yang welcome. Aku menyadari harus berjuang lebih daripada teman-teman yang lain,” ujar Azmi.

Lambat laun, Azmi mulai bangkit berkat dukungan dari orang-orang sekitarnya, khususnya di Panti Asuhan Muhammadiyah Genteng. Ia sudah terbiasa dengan logat bicara orang Surabaya, termasuk cuacanya yang panas. Sebab, kata dia, masih banyak ruang publik seperti taman-taman yang sejuk dan ramah di kantong.

Selain itu, setelah melihat sekolah-sekolah di Surabaya ia jadi tahu alasan orang tuanya memutuskan Azmi merantau. Barangkali, ayah ibunya ingin memberikan pendidikan yang lebih bagus, mengingat fasilitas sekolah yang ada di Surabaya.

 “Aku melihat beberapa bangunan dan fasilitas SMP begitu mewah, yang nggak ada di desa. Aku jadi merasa bangga sekolah di Surabaya,” kata Azmi.

Kabar buruk datang lagi

Baca Halaman Selanjutnya

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 5 Maret 2025 oleh

Tags: hidup merantaukehidupan Surabayamahasiswa merantautinggal di panti asuhanuniversitas muhammadiyah surabaya
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Rasyiid, mahasiswa penerima Beasiswa KIP Kuliah UMSURA yang sisihkan uang untuk modal usaha MOJOK.CO
Sekolahan

Sisihkan Uang Beasiswa KIP Kuliah buat Modal Usaha, Kuliah Sambil Topang Ekonomi Keluarga hingga bikin Ibu Bangga

2 Juni 2026
Sirilus Siko (24). Jadi kurir JNE di Surabaya, dapat beasiswa kuliah kampus swasta, dan mengejar mimpi menjadi pemain sepak bola amputasi MOJOK.CO
Sosok

Hanya Punya 1 Kaki, Jadi Kurir JNE untuk Hidup Mandiri hingga Bisa Kuliah dan Jadi Atlet Berprestasi

16 Desember 2025
Kisah mahassiwa beasiswa KIP Kuliah Aliya Eka Lestiyanti, ibu meninggal kala ia masih berjuang, sampai akhirnya jadi harapan keluarga usai jadi sarjana cumlaude MOJOK.CO
Kampus

Ibu Meninggal kala Saya Masih Berjuang, Jadi Titik Terendah Hidup tapi Bangkit demi Jadi Sarjana Pertama Keluarga

3 November 2025
Beasiswa KIP Kuliah di Tangan yang Tepat: Jadi 2 Bisnis Berkembang meski Dikhianati-Diremehkan, Malah Tak Lupa Kasih “Bantuan” MOJOK.CO
Kampus

Beasiswa KIP Kuliah di Tangan yang Tepat: Jadi 2 Bisnis Berkembang meski Dikhianati-Diremehkan, Malah Tak Lupa Kasih “Bantuan”

27 Oktober 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Koperasi di Yogyakarta. MOJOK.CO

Hari Koperasi Nasional ke-79 di DIY: Sudah Saatnya Koperasi sebagai Sakaguru Perekonomian Nasional Nggak Lagi Gaptek

23 Juli 2026
Dalang cilik perempuan asal Klaten yang menyukai wayang. MOJOK.CO

Jadi Perempuan Satu-satunya di Lomba Dalang Anak Klaten, Bocah 13 Tahun Ini Buktikan Wayang Tak Kenal Gender

22 Juli 2026
Lulus SMA nekat kerja ke Jakarta untuk jadi cleaning service. MOJOK.CO

Modal Ijazah SMA Kerja Jadi Cleaning Service di Jakarta demi Lulus Sarjana, Kini Pilih Resign untuk Keliling Indonesia

22 Juli 2026
Ilustrasi - Cerita bapak dulu bungah antar anak wisuda sarjana dari PTS Jogja, kini nelangsa antar anak susah cari kerja meski modal ijazah S1 MOJOK.CO

Cerita Bapak Dulu Bahagia Antar Anak Wisuda Sarjana, Kini Nelangsa Antar Cari Kerja Pakai Ijazah SMA karena S1 Tak Guna

19 Juli 2026
Akhiri Kemitraan Semu, Saatnya Lindungi Hak Ojol melalui Kategori Pekerja Ketiga MOJOK.CO

Akhiri Kemitraan Semu, Saatnya Lindungi Hak Ojol melalui Kategori Pekerja Ketiga

25 Juli 2026
Mahasiswa KKN di desa

Serba Salah KKN di Desa: Terlalu Pendiam Dianggap Nggak Guna, Banyak Omong Dicap Sok Tahu

24 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.