Sebagai orang tua yang baru saja memiliki anak di Kabupaten Bogor, Britania Sari mencoba berbagai kegiatan untuk melatih tumbuh kembang anaknya di masa golden age. Setelah mencoba berbagai hal, perempuan lulusan Universitas Negeri Jakarta (UNJ) itu mantap mengajak anaknya berkebun guna perkembangan motorik sang anak.
“Karena dia kan mengambil benih yang kecil-kecil, terus menaruh sampai mencampur ke tanah,” ujar lulusan Sarjana Pendidikan Bahasa Perancis UNJ itu.
Sari berujar itu adalah pengalaman pertamanya bertani, memanfaatkan lahan yang ada di halaman rumahnya. Pikirnya dulu, bertani harus dilakukan di lahan yang besar. Namun setelah mengikuti kelas Akademi Berkebun yang diinisiasi oleh komunitas Indonesia Berkebun, Sari sadar, banyak ilmu baru yang ia terima termasuk mempelajari alam semesta.
“Kami belajar prosesnya, bagaimana benih yang ditanam lama-lama bisa mati tapi ada juga yang hidup,” kata Sari, “jadi yang tadinya cari aktivitas untuk anak, lama-lama ibunya yang kesenangan.”
Sejak itulah, Sari belajar soal vertikal gardening, tanaman buah dalam pot (tabulapot), aquaponik, kompos, permakultur, hingga mengajak masyarakat sekitar untuk membuat kebun sayur di halaman rumah, Posyandu, sampai sekolah.
Lulusan UNJ belajar berkebun secara mandiri
Awalnya, Sari menerapkan kebun dapur untuk pemenuhan kebutuhan pangan bagi keluarganya pribadi. Tahun 2020 setelah lulus dari UNJ, ia dibantu suami untuk belajar mengenai permakultur karena jam ajarnya sebagai dosen selalu bentrok dengan jadwal Akademi Berkebun. Siapa sangka, suaminya jadi tertarik sampai mendapat sertifikat permakultur di Australia.
“Lahan yang kami garap pertama kali untuk kebun sayur itu awalnya cuma 100 meter, terus ada salah satu tetangga yang nawarin lahan kosongnya seluas 200 meter,” kata Sari.
Sari pun langsung menerima tawaran lahan yang sudah menjadi semak belukar tersebut. Setelah diberi izin, lahan seluas 200 meter itu ia garap sebagai kebun sayuran sedangkan 100 meter lahan miliknya ia jadikan tempat ternak ayam, rumah jamur, sampai kolam ikan.
“Dari kebun itu akhirnya kami bisa menyuplai kebutuhan rumah tangga, walaupun nggak 100 persen tapi setidaknya kami sudah membuat sayur secara mandiri,” ucapnya.
Alumnus UNJ ajak warga sekitar untuk berkebun
Alih-alih senang bisa mencukupi kebutuhan pangan sendiri, Sari malah tertampar oleh realita pahit di sekelilingnya. Saat tinggal di Kabupaten Bogor, Sari melihat banyak tetangganya yang hidup dalam kesusahan dan kekurangan secara ekonomi, sehingga sulit untuk memenuhi kebutuhan harian.
Puncaknya, ada satu momen yang membuat Sari seolah tertampar, yakni ketika anak tetangganya yang tinggal di seberang rumahnya persis mengalami gizi buruk dan berakhir meninggal.
“Ketika saya melihat langsung kejadian itu, saya sedih sekali. Anak berusia 9 tahun itu selama hidupnya hanya bisa tidur di stroller. Tidak bisa berdiri. Makannya harus pelan-pelan. Tidak bisa bicara. Beratnya hanya 8 kilogram,” tutur Sari.
“Rasanya seperti dosa. Maksud saya, kemana saja kami selama ini?” kata alumnus UNJ tersebut.
Sejak saat itu, tujuan Sari ikut berubah. Ia ingin mengedukasi masyarakat sekitar, terutama kelompok marginal bahwa anak bisa sehat dengan harga pangan murah, asal berbasis pangan lokal.
Sari kemudian mengajak keluarga prasejahtera yang tertarik untuk membuat kebun sayur seperti dirinya, persis di depan halaman rumah mereka. Secara sukarela, Sari juga membantu warga membuat kebun komunal atas izin RT setempat.
“Akhirnya tahun 2024, kami kolaborasi sama Posyandu. Saya minta izin untuk membuat kebun sayur di halaman depan Posyandu, nanti hasilnya bakal dibagikan ke balita maupun ibu hamil yang periksa setiap satu bulan sekali,” kata Sari.
Dari Kabupaten Bogor hingga bantu sekolah di Solo
Tak berhenti sampai di situ, Sari juga membuat program anak asuh. Saban Minggu, rumahnya terbuka bagi anak-anak dari keluarga petani. Di sana, mereka bebas menikmati fasilitas ruang baca, menonton film edukasi, hingga berkebun bersama.
“Kami nggak hanya kasih ongkos jajan, tapi ilmu soal kehidupan yang barangkali tidak mereka dapatkan di sekolah seperti gotong royong, kemandirian, adab, kelas bahasa, sampai kelas mengedit,” kata Sari.
Siapa sangka, segala upayanya itu membuat nama Sari sebagai lulusan UNJ tenar. Sampai-sampai, ada satu sekolah dasar di Solo yang menghubunginya secara pribadi di akhir Desember 2025. Sekolah tersebut meminta bantuan Sari untuk memanfaatkan lahan sekolah mereka yang sudah lama terbengkalai.
“Waktu saya ke sana, halamannya sangat luas tapi hanya dipakai sebagai tempat meletakkan bongkahan puing-puing tembok sekolah. Kami pun diminta merincikan biaya yang diperlukan untuk menyulap lahan tersebut jadi kebun sayur,” kata Sari.
Kepala sekolah itu pun berpesan agar hasil panennya bisa dijual untuk membayar SPP para siswa. Ia berharap siswa-siswi di sekolahnya punya memori baik setelah lulus. Dalam prosesnya, Sari pun tak hanya mengajari murid tapi melatih guru untuk ikut kelas berkebun.
Sari berharap kebun sayur tersebut nantinya dapat berguna untuk siswa dan guru. Anak-anak, kata dia, harus mendapat hak pendidikan secara merata, alih-alih hanya untuk orang berada.
“Jika pendidikan penting untuk anak-anak, mestinya pendidikan yang berkualitas dan terjangkau adalah hak semua anak,” ujar Sari yang kini tinggal di Klaten.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Belajar Bertani dari Dasar, Akhirnya Hidupkan Ketahanan Pangan dari Lahan Kosong di Delanggu Klaten atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














