Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sosok

Keajaiban dari Segelas Jamu Legendaris Bu Tari, Rujukan bagi Mereka yang Mulai Putus Asa dalam Hidup

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
22 Maret 2025
A A
Jamu legendaris milik Tari di Wirobrajan, Jogja. MOJOK.CO

Peracik jamu di Jogja yang punya kios laris manis. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Kios Jamu Bu Tari sudah melegenda di Wirobrajan, Kota Jogja. Berdiri sejak tahun 1977. Resep jamunya diracik langsung oleh abdi dalem kraton untuk keluarga Ratu Hamengku Buwana IX. Sepak terjang Tari (71) dalam mempelajari resep tersebut tidaklah mudah, sampai ia bisa menularkan “nilai kehidupan” ke pelanggannya sendiri. Mulai dari usia tua hingga anak-anak.

***

Iklan

Lokasi Kios Jamu Bu Tari ada di Jalan RE Martadinata Nomor 17, Wirobrajan, Jogja. Berada pas di depan rumah keluarganya. Saat saya tiba di sana, ia masih memakai pakaian baby doll terusan sambil memasak sayur di dapur. Tampilannya masih tampak bugar dan sederhana di usia 71 tahun.

Mengetahui kedatangan saya, ia langsung mempersilakan duduk di sofa ruang tamu. Lalu, menyuruh saya menunggu. Beberapa kali, seorang pekerjanya menawari saya jamuan, tapi saya menolaknya dengan sopan karena sedang berpuasa.

Hampir 15 menit menunggu, Tari kemudian keluar dengan pakaian rapi. Ia mengenakan kebaya bak seragam kebesaran ala mbok jamu. Kami pun berbincang di ruang tamu. Sebelum pukul 17.00 WIB, Tari sudah harus bergegas membuka kiosnya.

Kios itu hampir tak pernah sepi pelanggan. Antreannya makin panjang menjelang malam, mulai dari anak-anak hingga orang tua. Bahkan yang berasal dari luar daerah atau luar negeri. Misalnya, dari Jepang dan Belanda.

Oleh karena itu, saya membuat waktu khusus untuk berbincang lebih lama dengannya. Sebab, saat malam hari ia pasti sibuk bekerja. Melayani pelanggannya satu-persatu. Sebab, bagi Tari, setiap pembeli adalah raja. 

Hampir setengah abad meracik jamu di Wirobrajan, Jogja

Tak ada pelatihan khusus bagi Tari untuk meracik jamu. Ia hanya mempelajari resep dari keluarganya secara turun-temurun. Mulanya, bude Tari yang merupakan seorang abdi dalem Kraton Jogja sering diminta membuatkan jamu untuk keluarga Ratu Hamengku Buwana IX.

Peracik jamu legendaris di Wirobrajan, Jogja. MOJOK.CO
Tari (71), peracik jamu asal Wirobrajan, Jogja saat ditemui di rumahnya. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Ilmu itu kemudian diturunkan ke ibu Tari yang akrab dipanggil Mbok Mangun Sudarmu. Ibunya merupakan bakul jamu legendaris Kadipiro. Ia sering menjual jamu keliling sejak remaja. Namun, sempat berhenti setelah menikah. 

Tak lama kemudian, ayah Tari meninggal. Ibunya pun kembali berjualan demi mencukupi kebutuhan lima orang anaknya. Saat itu, Tari masih duduk di bangku sekolah dasar kelas tiga. Tak kuasa melihat ibunya yang banting tulang sendirian, hati Tari pun tergerak membantu.

“Saya nggak tega melihat ibu bekerja sendiri,” kata Tari di Wirobrajan, Jogja kepada Mojok, Jumat (21/3/2025).

Anak ketiga dari lima bersaudara itu pun terbiasa mengamati aktivitas ibunya sehari-hari. Seiring berjalannya waktu, Tari jadi terbiasa belanja bahan di pasar, mengeringkan bahan, menggoreng, menggiling, meracik, hingga menjualnya. Tangannya yang sudah keriput dan berwarna kuning adalah bukti betapa ia tak pernah berhenti meracik jamu barang sehari. 

Sandwich Generation di masanya

Bisa dibilang, Tari sudah ketagihan membuat jamu. Bahkan, di usianya yang masih belia, Tari terpaksa ikut bekerja ketimbang bermain dengan teman sebayanya. Karena itu, fisiknya melemah. Saat kecil, ia jadi sering sakit-sakitan, bahkan harus diopname beberapa kali di rumah sakit. Alhasil, ia tak bisa menuntaskan pendidikannya di bangku sekolah dasar.

Suatu hari, Tari yang sudah remaja rupanya punya ketertarikan untuk menjahit. Ia pun mengikuti kursus di sekitar rumahnya. Ibunya sempat mendukung bahkan membelikan Tari sebuah mesin jahit di Malioboro seharga Rp12 ribu. Di era tersebut, harga segitu termasuk mahal.

Iklan

“Setelah bantu ibu, aku biasanya potong-potong kain untuk bikin baju. Terus jahit di malam hari. Kalau sudah jadi, aku langsung pakai ke jagong manten,” tutur Tari yang tampak berbinar-binar saat menceritakan hobinya.

Namun, menjelang ujian tiba, Tari batal mengikuti uji kompetensi menjahit. Lagi-lagi, ia tak tega melihat ibunya yang masih harus bekerja keras menopang ekonomi keluarga. Saat itu, kakak-kakak Tari sudah menikah, tapi kedua adik laki-lakinya masih butuh biaya sekolah. Alhasil, Tari kembali ke kegiatannya sehari-hari: meracik dan menjual jamu bersama ibunya.

Kios Jamu Tari di Jogja. MOJOK.CO
Kios jamu milik Tari yang sudah berdiri dari tahun 1977 di Jogja. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Menginjak dewasa, Tari mulai membuat kios di depan rumahnya, yang sejatinya milik mertuanya pada saat itu. Ia tak lagi menenteng dua botol jamu, dagangan milik ibunya. Sebab, ia sudah punya kios di Wirobrajan, Jogja yang dibangun sejak tahun 1977.

Di sana, Tari menjual Jamu Kunir Asem, Jamu Beras Kencur, Jamu Pegel Linu, Jamu Uyub-uyub, Jamu Anyepan, hingga Jamu Galian Singset, tergantung dari khasiat yang diinginkan.

Ia juga menjual Jamu Sehat Lelaki, Watukan, Sawan Kikir, Kolesterol, Cekok atau nafsu makan, Keputihan, hingga Sari Rapet. Harga setiap jenis jamu berbeda, mulai dari Rp10 ribu hingga Rp20 ribu.

Khasiat jamu dari peracik asal Wirobrajan, Jogja

Hampir setengah abad berdiri, kios jamu Tari di Wirobrajan, Jogja tak pernah sepi. Selain karena pelayanannya yang ramah, khasiat jamu buatan Tari dinilai mampu menyembuhkan keluhan pelanggan. Suatu hari, kata Tari bercerita, ada seorang pelanggan perempuan yang resah karena mengalami keputihan selama tiga tahun.

Pelanggan yang berusia sekitar 40 tahunan itu mengaku sudah berobat ke dokter tapi tak kunjung sembuh. Ia mulai risih karena kesakitan saat kencing. Perempuan itu kemudian mengunjungi kios jamu Tari. Dari mulut ke mulut, pelanggan itu tahu kalau jamu buatan Tari terkenal ampuh.

Setelah meneguk jamu buatan Tari sebanyak lima kali, perempuan itu lantas mengaku sembuh. Penyakitnya yang sudah bertahun-tahun itu akhirnya hilang. Ia sudah tidak lagi mengeluh sakit. Malah berterima kasih kepada Tari karena jamu buatannya.

“Tapi saya ini kan cuman perantara. Sambil meracik, batin saya selalu meminta penyembuhan kepada yang kuasa agar mereka bisa sembuh,” kata pemilik kios jamu di Wirobrajan tersebut.

Pelanggan di kios jamu Tari. MOJOK.CO
Cucu Widya yang sedang meminum jamu di kios milik Tari di Jogja. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Kadang-kadang, Tari akan menolak jika keluhan yang dialami pelanggannya tergolong parah. Misalnya, tumor dan kista. Menurut dia, jamu bisa meredakan penyakit tersebut tapi tidak benar-benar menyembuhkan. Oleh karena itu, dalam beberapa kasus, ia menyarankan pelanggannya agar berobat langsung ke dokter.

Dari perjalanan hidup Tari, saya jadi paham, jiwa dan pikirannya selalu didedikasikan agar bermanfaat untuk orang lain, khususnya keluarga. Bahkan, ia tak pernah membeli barang-barang mewah atau sekadar keluar untuk berwisata. Baginya, meracik jamu untuk orang-orang di sekitarnya sudah membuatnya senang. Sebuah bentuk kebahagiaan sederhana.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Jurusan Pengobat Tradisional di Unair, Kuliahnya Nggak Hanya Bikin Jamu atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan.

Terakhir diperbarui pada 26 Maret 2025 oleh

Tags: jamu di Jogjajamu legendarisJogjamanfaat jamuwirobrajan
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Kerajinan lokal Yogyakarta di INACRAFT. MOJOK.CO
Kabar

INACRAFT Jogja: Jembatan bagi Perajin Lokal Menembus Pasar Global Lewat Karya yang Tak Biasa

15 Juli 2026
Senjakala Lapangan Sepak Bola di Jogja yang Makin Berjarak dengan Warganya.MOJOK.CO
Suara Bawah Tanah

Senjakala Lapangan Bola di Kota Jogja yang Makin Berjarak dengan Warganya

9 Juli 2026
kebun sayur di kota jogja.MOJOK.CO
Kabar

Cara Warga Wirobrajan Hadapi Keterbatasan Lahan: Mengubah Tembok Kampung Menjadi Kebun Sayur

8 Juli 2026
Lapangan Bola di Kauman, Jogja. MOJOK.CO
Suara Bawah Tanah

Lapangan Paving: Kemewahan yang Tersisa bagi Anak-anak Kota Jogja untuk Bermain Bola

7 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Orang tua, ibu.MOJOK.CO

Sulitnya Menjadi Ibu Muda Tanpa Cela di Ibu Kota: Parenting Dituntut Sempurna, tapi Sudah Digempur Stres Kerja

10 Juli 2026
manfaat program WiFi gratis bagi pedagang sekaligus warga Klaten. MOJOK.CO

Memanfaatkan WiFi Gratis di Sejumlah Titik Klaten: Meski Harus Berebut, Tetap Jadi Solusi Alternatif saat Paket Data Habis

10 Juli 2026
Impact of Asia Limited (IOA) Global Pte Ltd Singapura jajaki kerja sama jangka panjang dengan Jawa Tengah lewat investasi manufaktur hingga pengembangan SDM MOJOK.CO

Peluang Investasi dan Kesempatan Pelatihan di China bagi Anak Muda Jateng

14 Juli 2026
Derita Orang Rembang, Makan Mie Gacoan Harus ke Tuban MOJOK.CO

Makan Mie Gacoan adalah Kemewahan bagi Anak Muda Desa, Rela Motoran 2 Jam Demi Makanan yang “Menyiksa” Mulut Mereka

14 Juli 2026
Truk sampah di TPA Troketon, Klaten. MOJOK.CO

Mengais Asa di TPA Troketon, Benteng Terakhir Penghidupan Warga Klaten

10 Juli 2026
Suzuki S-Presso memang mobil aneh karena jelek tapi keren MOJOK.CO

Ibarat kata, Suzuki S-Presso adalah “Crocs KW” yang jelek tapi keren dan kini menjadi benteng pertahanan terakhir melawan kegilaan dunia yang serba mahal ini

14 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.