Bekerja sebagai frontliner di KAI nyatanya tidak mudah. Seorang petugas frontliner KRL Solo-Jogja ini bercerita, meski gajinya sekitar Rp3 juta lebih per bulan, tapi tugasnya menguras fisik dan mental.
***
Kehilangan barang berharga tentu bikin kita kesal dan kecewa. Seorang penumpang commuter line (KRL) yang kehilangan tumbler Tuku miliknya bahkan pernah viral dan meminta pertanggungjawaban petugas KCA untuk mengganti tumbler tersebut.
Penumpang itu bernama Anita Dewi. Mulanya ia bercerita tentang kehilangan botol minuman tersebut di utas Threads pribadinya. Ia mengaku tumblernya tertinggal di KRL rute Tanah Abang-Rangkasbitung pada Senin (17/11/2025) malam.
Singkatnya, ia menyebut kalau kejadian itu merupakan tanggung jawab petugas KAI, sehingga beredar rumor bahwa pegawai tersebut akhirnya dipecat. Sontak, hal itu menuai sorotan publik. Setelah diusut, ternyata kejadian itu berujung salah paham semata. Anita pun akhirnya meminta maaf.
Drama hilangnya tumbler Tuku yang mengancam profesi petugas KRL mengingatkan Abdi Nastiar (22) saat bekerja sebagai frontliner di KAI dulu. Meski terlihat mudah dan tak sementereng pekerjaan lain seperti masinis, pekerjaan frontliner sebenarnya terbilang krusial.
“Kejadian seperti penumpang kemarin itu (kehilangan tumbler) benar-benar nyata sih tegangnya. Karena walaupun kami udah sesuai SOP, tapi kalau barangnya tetap hilang dan nggak kami salurkan ada saja penumpang yang masih marah,” ujar Abdi, Jumat (2/1/2026).
Lelah di jalan, boncos di Jakarta
Abdi pernah bekerja sebagai front liner KAI selama dua tahun. Tepatnya sebagai pramugara yang bertugas memastikan kenyamanan, keselamatan, dan pelayanan maksimal bagi penumpang.
“Aku melamar sebagai pramugara setelah lulus SMK, karena nggak tahu harus ngapain. Mau lanjut kuliah juga nggak ada biaya dan bingung mau melanjutkan ke jurusan apa,” kata Abdi.
Oleh karena itu, di antara teman-temannya yang memutuskan untuk kuliah, Abdi memilih melamar kerja sebagai frontliner di KAI sebelum pindah ke KRL. Setelah mengirim berkas, mengikuti wawancara, dan tes kesehatan, Abdi akhirnya diterima kerja pada tahun 2021.
“Cuma aku ditempatkan di Blitar. Jadi relasinya Blitar, Bandung, Jakarta, sementara aku sebetulnya tinggal di Solo. Tapi tetap aku terima konsekuensinya,” ujar Abdi.
Sehari-hari, Abdi bertugas menjual makan dan minuman di atas kereta. Ia sering mendapat insentif dari tiap produk yang berhasil ia jual. Hari-harinya melayani pelanggan tak terlalu sulit karena saat SMK ia sudah terbiasa sebagai frontliner.
“Aku pernah part time di FNB. Aku belajar pakai nampan sebagai waiter, cook helper, sampai sales,” kata Abdi.
Setelah menjalani tugas selama dua tahun, Abdi akhirnya memilih resign karena kelelahan. Ia tak sanggup harus bolak-balik dari Solo ke Jakarta. Terlebih, ia sempat menjadi leader di timnya sehingga tak jarang harus begadang seharian.
“Walaupun gajinya lumayan sekitar Rp3 juta-Rp5 juta lebih tapi capeknya bukan main. Belum lagi waktu aku tinggal di Jakarta, ternyata biayanya nggak murah. Sering kali tabunganku minus dan harus nombok,” kata Abdi.
Resign jadi petugas KRL, pilih kejar mimpi yang tertunda
Sebelum benar-benar resign dari frontliner KAI, Abdi sudah mempersiapkan diri untuk mencari kerja selainnya. Tak jauh berbeda dengan tugas pramugara dulu, ia pun melamar sebagai passenger service di commuter line (KRL) dan diterima di jalur Solo-Jogja.
“Tugasku berdiri di gate masuk atau pintu keluar KRL Solo-Jogja. Ketika ada penumpang prioritas seperti disabilitas, ibu hamil, hingga lansia, itu aku bantu cariin tempat duduk,” kata Abdi.
Bak customer service pula, Abdi juga harus bisa menjawab berbagai pertanyaan dari penumpang. Sialnya, jika ia harus bertemu dengan penumpang yang komplain dan suka marah-marah.
“Sebagai passenger service kami nggak terlepas dari banyak komplain penumpang, contohnya ya seperti penumpang yang kehilangan tumbler Tuku tadi. Aku tahu banget rasanya jadi petugas itu. Di awal-awal aku juga harus belajar menerima dan menangani berbagai macam komplain dari penumpang yang seperti itu,” kata Abdi.
Beruntungnya, Abdi tak sampai kena pecat. Dibanding penumpang yang komplain pun masih banyak orang baik yang berterima kasih atas jasanya. Bahkan Abdi pernah akrab dengan seorang penumpang yang sering menggunakan KRL Solo-Jogja.
“Aku pernah ketemu ibu-ibu yang langganan naik KRL. Dia sering bawain makanan aku. Kita sering mengobrol dan menyapa karena setiap jam 07.00 WIB kita selalu papasan. Saking ramahnya, aku jadi tahu ibu itu kerja di mana dan dia juga ingat aku,” tutur Abdi.
Namun, pekerjaan Abdi sebagai passenger service di KRL tak bertahan lama. Setahun setelah bekerja, Abdi memutuskan resign lagi karena kelelahan secara mental.
“Aku merasa jenuh dan nggak berkembang. Aku ingin kejar impianku yang lama kupendam.” Ujar pemuda yang kini kerja sebagai fotografer di Bali itu.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Pengalaman Pertama Orang Klaten Naik KRL Jogja-Solo, Sok-sokan Berujung Malu karena Tak Paham Kursi Prioritas dan Salah Turun Stasiun atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan













