Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Seni

Merayakan Manifesto Jenny

Purnawan Setyo Adi oleh Purnawan Setyo Adi
26 Juli 2025
A A
Merayakan Manifesto band Jenny, band legendaris dari ISI Yogyakarta MOJOK.CO

Farid Stevy dan Jenny saat Tampil di “Manifesto Jenny di ASRI” (Wildan Naufal)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

“Hingar bingar hampa. Dalam tempo yang semakin melambat. Sepekan tertukar dengan lari paksa rutinitas”.

Paduan suara penonton di penghujung pementasan Jenny malam itu, Kamis (24/7/2025), membalikkan ingatan saya 20 tahun yang lalu. Samar-samar terbayang aksi Jenny, band dari kampus ISI Yogyakarta yang kala itu tampil di Plaza Bawah Fisipol UGM.

Farid Stevy, Roby Setiawan, Arjuna Bangsawan, dan Anis Setiaji mungkin saat itu baru saja merintis kariernya. Mereka membawakan beberapa nomor asing yang salah satunya—kalau saya tak salah ingat—dari The Rolling Stones.

Fisipol UGM: awal mula

Saya baru saja masuk sebagai mahasiswa pada tahun 2005. Lagi senang-senangnya bergaul ke sana-ke mari. Suka mendengarkan musik, tapi juga jarang melihat konser. Namun, kampus saya saat itu rutin membuat konser skala kecil atau kini populer disebut gigs.

Acara ini kebanyakan diinisiasi oleh Forum Musik Fisipol (FMF). Jadilah saya sering dapat tontonan musik gratis di kampus.

Malam itu penampilan Farid begitu ciamik. Nuansa gitar yang crunchy bercampur dengan lantunan suara yang nyaring begitu mempesona. Pas! band ini asyik. Setelah peristiwa itu, saya kemudian malah lebih sering menemukan Jenny di mana-mana.

Pada tahun-tahun tersebut, Jenny hampir setiap pekan mengisi acara-acara di Jogja. Mulai dari acara kampus, distro, pembukaan pameran, dan lainnya, wajah Farid dkk seperti tak pernah absen.

Karier band ini melesat. Apalagi setelah mereka merilis single “Mati Muda”. Boom! penggemarnya tambah berkali-kali lipat. Bahkan menamakan dirinya “Klub Mati Muda”.

Pada masa ini anak-anak muda di Indonesia memang sedang gandrung dengan musik-musik non-mainstream. Salah satu penandanya adalah hadirnya album kompilasi JKT:SKR yang dirilis Aksara Records pada tahun 2004.

Merayakan Manifesto band Jenny, band legendaris dari ISI Yogyakarta MOJOK.CO
Jenny menyatu dengan penonton. (Wildan Naufal)

Manifesto: “… Tak ada yang baru di bawah matahari.”

Tahun 2009, enam tahun setelah kemunculannya, Jenny meluncurkan Manifesto. Ya, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Manifesto adalah pernyataan terbuka tentang tujuan dan pandangan seseorang atau suatu kelompok. Biasanya bersifat politis.

Manifesto yang dikeluarkan Jenny bentuknya album. Isinya tembang-tembang yang sering band ini bawakan saat manggung. Manifesto berisi 10 lagu. “Mati Muda”, “Monster Karaoke”, “Maha Oke”, “Manifesto Postmodernisme”, “Menangisi Akhir Pekan”, “The Only Way”, “120”, “Resistance is Futile”, “Look with Whom Im Talking To”, dan “Dance Song”.

Manifesto Jenny tampil dengan balutan sound garage rock yang khas dengan lirik dari Farid yang lugas. Musiknya mengingatkan kita pada band semacam The Strokes, The Hives, The Libertines, dll. Dari album ini saya mulai menyukai tulisan-tulisan milik Farid yang hari ini sering kita temui juga di karya-karya seni grafisnya. Statement-nya bold dan terkadang satire. Menertawakan diri sendiri atau orang lain.

Seperti manifestonya; “segalanya sudah di temukan, semuanya telah didefinisikan..tak ada yang baru di bawah matahari.”

Merayakan Manifesto band Jenny, band legendaris dari ISI Yogyakarta MOJOK.CO
Farid Stevy memeluk penonton. (Wildan Naufal)

Merayakan Jenny

Malam itu, di panggung Artjog, Jenny kembali tampil. Acaranya bertajuk “Manifesto Jenny di ASRI” (ASRI merupakan nama lama ISI Yogyakarta yang lokasi gedungnya tepat di JNM). Acara ini lahir atas kerja sama Artjog, Cherrypop, dan Bojakrama Press.

Iklan

Bicara soal Jenny manggung, sebetulnya band ini mulai aktif kembali sejak tiga tahun belakangan dengan format reuni. Jenny sejatinya sudah menghilang pada tahun 2011 setelah Arjuna Bangsawan dan Anis Setiaji undur diri. Farid dan Roby kemudian lanjut dengan moniker FSTVLST.

Penampilan Jenny di Artjog seperti sebuah perayaan. Mereka merilis kembali album Manifesto dalam format vinyl. Gading Paksi, program director Artjog, membuka acara dengan orasi budaya.

Gading dulu aktif pula di Forum Musik Fisipol (FMF). Dia banyak bersaksi tentang pesta perilisan album Manifesto di JNM 17 tahun yang lalu. Jenny yang berasal dari kampus ISI Yogyakarta memang punya hubungan yang unik dengan Fisipol UGM.

Layar panggung kemudian menampilkan logo Jenny berukuran raksasa dengan gaya desain lawas. Logo ini bersejarah karena dulu jadi stiker yang sering kita lihat tertempel di helm muda-mudi Jogja medio 2000-an. “Ini dulu kita desainnya pakai Corel Draw 9,” kata Farid.

Lebih dari dua dekade sejak awal kemunculannya, lagu-lagu Jenny ternyata masih hidup. Anak-anak muda generasi hari ini masih menikmati. Jenny dan FSTVLST bahkan menjadi influence bagi beberapa band yang sedang naik daun. Sebut saja The Jeblogs, The Kick, dan The Skit.

Sejak lagu pertama hingga lagu terakhir koor massal tak putus-putus. Jenny membuktikan lebih dari dua dekade masih setia sebagai teman pencerita. “Saatnya tumpahkan keluh kesahku. Bingarkan panggung. Rendah luas terang tanpa barikade…”

Penulis: Purnawan Setyo Adi
Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Sederet Alasan Mengapa Peterpan Lebih Memengaruhi Selera Pendengar Musik Indonesia Dibanding Band Papan Atas Lain, Salah Satunya Sheila on 7 atau liputan lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 26 Juli 2025 oleh

Tags: band isi jogjaband isi yogyakartaband jennyband jogjafarid stevyFISIPOL UGMISI Yogyakartajennypilihan redaksi
Purnawan Setyo Adi

Purnawan Setyo Adi

Redaktur Liputan Mojok.co

Artikel Terkait

Pandeglang, Mati-matian Bertahan di Jogja Buat Apa? MOJOK.CO
Urban

5 Tahun Merantau, Sadar Kalau Pandeglang dan Jogja Itu Mirip: Tak Ramah Buat Cari Duit, Masyarakatnya pun Pasrah sama Nasib 

17 Mei 2026
buku remy sylado.MOJOK.CO
Seni

Mendobrak Fiksi Sejarah Jawa-sentris lewat Inani Keke dan Trabar Batalla, Harta Karun yang Sempat dianggap “Budaya Rendah”

15 Mei 2026
Kicau Mania Rp2 Triliun: Bukti “Ora Gantang Ora Mangan” Bukan Hobi Iseng MOJOK.CO
Esai

Kicau Mania Rp2 Triliun: Bukti “Ora Gantang Ora Mangan” Bukan Hobi Iseng

15 Mei 2026
KIP Kuliah.MOJOK.CO
Sekolahan

Mahasiswa Pura-Pura Miskin demi Dapat KIP Kuliah Memang Ada, Uang Beasiswa Habis buat Hedon agar Diakui di Tongkrongan

14 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Guru Besar Fakultas Farmasi UGM bidang fitoterapi, Nanang Fakhrudin sebut usaha madu sangat potensial. Tapi ada masalah utama yang rugikan pelaku usaha madu sendiri MOJOK.CO

Usaha Madu Jadi Ceruk Bisnis Potensial, Tapi Salah Praktik Tanpa Sadar Justru Bisa Rugikan Diri Sendiri

12 Mei 2026
Kopi starling dan kopi keliling: cuma Rp5 ribu tapi beri suntikan kekuatan pekerja kantoran di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan (Jaksel) untuk survive kerja tanpa Work Life Balance MOJOK.CO

Kopi Starling Cuma 5 Ribu tapi Beri Kekuatan Pekerja Jaksel Survive Tanpa Work Life Balance, Ketimbang 50 Ribu di Coffee Shop Elite

14 Mei 2026
Nasihat rezeki dan keuangan dari ibu-ibu penjual angkringan di Jogja yang bisa haji 2 kali MOJOK.CO

Wejangan Rezeki dan Uang dari Ibu Penjual Angkringan, Membalik Logika Ekonomi Anak Muda yang Anxiety in this Economy

11 Mei 2026
Tips hadapi teman toxic dalam pertemanan: tidak akrab tapi selalu datang kalau ada butuhnya MOJOK.CO

Lepas dari Teman Tak Akrab yang Selalu Merepotkan pas Ada Butuhnya, Dibenci tapi Perasaan Tidak Enakan Lebih bikin Rugi!

13 Mei 2026
buku remy sylado.MOJOK.CO

Mendobrak Fiksi Sejarah Jawa-sentris lewat Inani Keke dan Trabar Batalla, Harta Karun yang Sempat dianggap “Budaya Rendah”

15 Mei 2026
Tongkrongan bapak-bapak, nongkrong.MOJOK.CO

Tongkrongan Bapak-Bapak di Desa: Obrolan Sering Ngawur, Kadang Nggak Berfaedah, tapi Saya Harus Gabung demi “Harga Diri” Keluarga

11 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.