Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sekolahan

WNI Pilih Jadi Guru di Luar Negeri dengan Gaji 2 Digit daripada Jadi Guru Kontrak di Indonesia yang Hidupnya Nggak Sejahtera

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
21 April 2026
A A
Guru CLC di Malaysia sejahtera daripada guru kontrak. MOJOK.CO

ilustrasi - hidup guru CLC di Malaysia lebih sejahtera. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Perempuan kelahiran Aceh ini pilih mengajar di Sabah, Malaysia. Sebelumnya, ia kerja sebagai guru kontrak dengan gaji “imut”. Namun, kondisi ekonomi memaksanya untuk merantau dan menjadi guru Community Learning Centre (CLC).

Guru kontrak vs guru CLC di Malaysia

Awalnya, Ainul Mardhiah (34) adalah guru kontrak di salah satu sekolah wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T) di Provinsi Aceh, sekaligus program dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) tahun 2014.

Sebagai guru kontrak yang menjadi tulang punggung keluarga, Ainul berujar upahnya masih kurang untuk memenuhi biaya hidup. Apalagi, adik bungsunya juga sedang menjalani kuliah. Walaupun adiknya mendapat beasiswa, tapi Ainul tetap merasa perlu untuk mengirimkan keluarganya uang.

“Fisik bapak juga sudah nggak sehat, jadi jarang kerja. Makanya, saya harus tetap mengirim uang ke kampung,” kata Ainul saat dihubungi Mojok, Selasa (21/4/2026).

Jujur saja, gaji sebesar Rp2,2 juta tak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Boro-boro membayari kuliah adiknya, guna membayar kos dan biaya hidup sehari-hari saja, Ainul sudah kelimpungan.

Mau mencari kerja sampingan pun, ia sudah pesimis duluan karena jam kerjanya baru selesai pukul 16.00 WIB. Belum lagi tugas-tugas sekolah yang tidak ada habisnya. Namun, di tengah kesibukannya mengajar sebagai guru kontrak, Ainul tak berhenti untuk mencari informasi. 

Sampai akhirnya ada seorang kawan yang ternyata bekerja sebagai guru Community Learning Centre (CLC). Guru CLC merupakan pengajar di sekolah bagi anak-anak Pekerja Migran Indonesia (PMI), khususnya mereka yang lahir di Sabah, Malaysia. Materi pembelajaran yang diberikan berkutat pada jenjang Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Guru CLC dibentuk khusus untuk membantu pelayanan pendidikan bagi anak-anak PMI yang tinggal bersama orang tuanya yang bekerja di berbagai ladang sawit di seluruh Sabah. Ainul pun tak segan untuk bertanya soal budaya kerja, beban tugas, sampai gaji ke temannya. Setelah mempertimbangkannya secara matang, Ainul akhirnya mantap untuk mendaftar.

Meninggalkan kerja sebagai guru kontrak

Di tahun 2019, Ainul harus datang ke Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) penyelenggara. Masalahnya, di Aceh pada saat itu belum ada LPTK penyelenggara yang buka. Alhasil, Ainul harus pergi ke Medan untuk melaksanakan tes psikotes, akademik, sampai tes mengajar. 

Baca Halaman Selanjutnya

Gaji naik 10 kali lipat belum termasuk insentif

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 22 April 2026 oleh

Tags: gaji guruguru CLCguru di luar negeriguru kontrakkerja di luar negerikuliah s2malaysia
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Derita guru CLC di Malaysia. MOJOK.CO
Sekolahan

Ironi WNI Jadi Guru di Luar Negeri: Dapat Gaji 2 Digit demi Mengajari Anak PMI, Pulang ke Indonesia Tak Dihargai dan Sulit Sejahtera

23 April 2026
Guru PPPK Paruh Waktu, honorer.MOJOK.CO
Sekolahan

Guru, Profesi yang Dihormati di Desa tapi Hidupnya Sengsara di Kota: Dimuliakan Seperti Nabi, Digaji Lebih Kecil dari Kuli

23 April 2026
Mahasiswa berkuliah S2 UGM. PTN terbaik, tapi pakai AI
Sekolahan

Mahasiswa S2 UGM Nggak Menjamin Mutu, Kuliahnya Malas Mikir dan Ketergantungan AI

15 April 2026
Derita S2 karena Dipaksa Ibu, kini Bahagia Menanam Cabai Rawit MOJOK.CO
Pojokan

Menyesal Kuliah S2 karena Dipaksa Ibu, kini Lebih Bahagia Menanam Cabai Rawit dan Berkebun

15 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Sebagian pengguna WiFi IndiHome beralih ke Biznet. MOJOK.CO

Ujian Terberat Pengguna IndiHome yang Dikhianati Tawaran Palsu hingga Menggadaikan Kesetiaan ke WiFi yang Lebih “Gacor”

23 April 2026
Tapak Suci Unair. MOJOK.CO

Saat Pencak Silat Dianggap Biang Kerok, Saya Bersyukur Jadi Bagian Tapak Suci Unair yang Anti Tawuran

21 April 2026
Ezra, alumnus UGM umur 25 tahun, yang lanjut kuliah S2 dan ikut ekspedisi ke Antartika, nggak peduli quarter-life crisis

Umur 25 Tahun Nggak “Level” dengan Quarter-Life Crisis, Alumnus UGM Kuliah S2 di Australia dan Ekspedisi Ilmiah di Antartika

17 April 2026
4 jenis pengendara motor di pantura seperti Rembang yang harus dilarang nyetir motor di jalan raya MOJOK.CO

4 Jenis Pengendara Motor di Pantura yang Harus Diwaspadai di Jalan Raya: Top Level Ngawur dan Tak Tahu Aturan!

23 April 2026
Solo date lebih asik daripada nongkrong bareng teman. MOJOK.CO

“Solo Date” Menjelang Usia 25: Meski Tampak Menyedihkan, Nyatanya Lebih Bermanfaat daripada Nongkrong Bersama

23 April 2026
Mahasiswa gen Z kuliah malas baca jadi brain rot

Mahasiswa Gen Z Bukan Tak Bisa Membaca, tapi “Brain Rot” karena Sering Disuapi dan Kecanduan AI

23 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.