Jutaan penelitian dari kampus terbit setiap tahun, tapi dampaknya seolah tak terlihat. Bukan tak mungkin, riset kampus di Indonesia kini cuma jadi sampah ilmiah. Hal ini pun mendorong rektor Universitas Padjajaran (Unpad) untuk menciptakan ekosistem riset yang berorientasi pada pemecahan masalah.
Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDikti) mencatat Indonesia meluluskan sekitar 1,3 juta mahasiswa program sarjana setiap tahun. Sebelum mendapat gelar tersebut, hampir seluruh lulusannya setidaknya wajib menghasilkan satu naskah skripsi atau penelitian sebagai syarat kelulusan.
Secara tidak langsung, jutaan karya ilmiah pun dicetak, disimpan di rak-rak perpustakaan hingga berdebu, atau dimasukkan repositori kampus dengan akses yang dibatasi.
Angka itu, belum termasuk jurnal-jurnal ilmiah yang diwajibkan kampus kepada profesor atau para pengajar dengan harapan bisa menaikkan rangking kampus.
Alih-alih mengejar kuantitas, Rektor Universitas Padjajaran (Unpad), Arief Sjamsulaksan Kartasasmita berharap mahasiswanya dapat memperkuat substansi riset mereka agar berdampak di kehidupan.
Riset kampus harus berdampak
“Penelitian tidak boleh hanya untuk lulus saja, tapi bagaimana penelitian (riset kampus) itu bisa memberikan solusi bagi permasalahan di masyarakat,” tegas Rektor Unpad, Arief Sjamsulaksan Kartasasmita dikutip dari laman resmi Unpad, Kamis (13/8/2026).
Dalam sambutannya di acara “Rektor Menyapa: Dari Tugas Akhir ke Dampak” itu, dia menegaskan Unpad harus mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat, sekaligus menjunjung tinggi etika akademik.
“Ini terlihat mudah, tapi bukan sesuatu yang sederhana untuk dilakukan,” ucapnya kepada mahasiswa baru pascasarjana di Aula Graha Sanusi Hardjadinata, Bandung pada Selasa (11/8/2026).
Lebih dari sekadar berfokus pada teori atau menerapkan metode deep learning, Arief berharap riset kampus dapat memenuhi unsur etis dan berdampak.
Dua prinsip tersebut, kata dia, harus menjadi fokus pengembangan ekosistem riset di Unpad. Dengan begitu, lahirnya riset kampus tidak hanya menghasilkan publikasi ilmiah, tetapi juga mampu menjawab kebutuhan dan tantangan nyata di masyarakat.
Tantangan dalam menghasilkan riset kampus berdampak
Di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat seperti kecerdasan buatan (AI), Arief tak menampik akan muncul godaan kepada mahasiswa untuk mengabaikan etika penelitian.
Sebab dengan teknologi tersebut, mahasiswa dapat lebih mudah mengakses informasi maupun data. Belum lagi tuntutan waktu yang relatif singkat, membuat mahasiswa menghasilkan skripsi atau riset kampus yang ala kadarnya.
Oleh karena itu, Arief mengembangkan ekosistem riset di Unpad yang berorientasi pada penyelesaian permasalahan masyarakat, agar penelitian yang dihasilkan tetap berdampak dan beretika.
“Ekosistem ini didukung oleh kebijakan dan regulasi, sistem pendanaan, sistem pembimbingan dan mentoring, serta sistem publikasi bertanggung jawab yang mengedepankan etik,” ujar Arief.
Fasilitas penunjang di Unpad
Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Riset, Kerja Sama, dan Pemasaran Unpad, Rizky Abdulah mengatakan mahasiswa berperan penting dalam pengembangan riset kampus di Unpad.
Setiap tahun Unpad menghasilkan sekitar 2.500 publikasi terindeks Scopus, dengan sekitar setengahnya terbit pada jurnal kuartil pertama (Q1). Pada tahun lalu, sebanyak 936 publikasi di antaranya menempatkan mahasiswa sebagai penulis pertama.
“Unpad ingin menciptakan ekosistem di mana mahasiswa hanya berfokus pada risetnya. Untuk itu kami menyiapkan fasilitas sebagai privilege yang dapat dimanfaatkan, tapi privilege ini datang dengan kewajiban untuk bertanggung jawab,” kata Rizky.
Rizky menjelaskan bahwa Unpad menyediakan berbagai fasilitas untuk mendukung kegiatan riset kampus mahasiswa, mulai dari akses jurnal dan basis data penelitian berbayar, layanan pengurusan ethical clearance, pelatihan dan lokakarya nasional maupun internasional, hibah riset, beasiswa, hingga kerja sama penelitian.
Selain itu, mahasiswa juga mendapatkan akses ke platform pemeriksa plagiarisme, bantuan article processing charge (APC), layanan proofreading dan penerjemahan, serta pendampingan pengurusan hak kekayaan intelektual (HKI) dan paten.
Kunci menghasilkan riset kampus berdampak
Peraih beasiswa Habibie Award, Rovina Ruslami berujar membuat penelitian yang berkualitas, berintegritas, dan berdampak sejatinya memang tidak mudah. Namun, sebagai sivitas akademika, mahasiswa harus melakukan yang terbaik.
“Butuh komitmen untuk melaksanakannya,” ucap Guru Besar Farmakologi Unpad sekaligus Kepala Unit Riset Klinis (Clinical Research Unit atau CRU) Unpad tersebut.
Mahasiswa Magister Manajemen Unpad, M. Rezky Achyana turut menyarankan agar mahasiswa lebih peka terhadap berbagai persoalan di lapangan. Dengan begitu, ide dan solusi bagi masyarakat akan muncul.
“Riset kampus yang berkelanjutan jangan sampai hanya selesai di tulisan saja, tetapi bagaimana bisa menghasilkan dampak,” kata Founder dan CEO Parakerja itu yang namanya sempat masuk ke daftar Forbes 30 Under 30 Asia itu.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Riset Kampus di Indonesia Cuma Jadi Sampah Ilmiah, Alarm Serius buat Binus hingga Unair yang Masuk Daftar Red Flag atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














